Tiga tahun sudah berlalu, semenjak persiapan ujian akhir Sekolah Menengah atasku, tak pernah kuinjakkan lagi kakiku ke tanah hulu ini, tanah Kutai Kertanegara, tempat kelahiran mama tercinta. Dulu, sejak kecil, setiap tahun aku selalu mengunjungi kota ini, sehingga walaupun kecil, aku tau perkembangan kota ini.
Akhir tahun 2010, genap 3 tahun sudah. Aku kembali menginjakkan kaki di tanah Provinsi yang terluas di Pulau Kalimantan, Kalimantan Timur. Kota yang dapat dicapai dengan perjalanan darat, laut maupun udara.
Mencoba bernostalgia, sepanjang jalan Samarinda - Muara Kaman banyak terlihat pepohonan rindang, hutan, kesan teduh kental sekali terasa. Samarinda merupakan kota yang panas dan terik menurutku serta malam harinya, suhu kota ini dapat menurun drastic menjadi dingin sekali. Masyarakat di Muara Kaman saat itu banyak yang menggunakan sepeda atau jalan kaki bila kemana-mana dan menggunakan angkutan umum untuk bepergian jauh. Kebersamaan amat terasa saat itu, jalan kaki ramai-ramai ke pasar, ngumpul-ngumpul di beranda rumah sambil ngobrol ngalor ngidul.
Oke, liat keadaan sekarang, banyak penebangan pohon terjadi, penambangan, dan yang paling luar biasa adalah pembukaan lahan besar-besaran untuk kebun kelapa sawit. Seketika pemandangan berubah, tidak ada lagi kesan teduh, melainkan debu beterbangan karena lahan terbuka, kering dan keluar masuknya kendaraan proyek. Satu hal yang “agak” positif, perekonomian warga menjadi berkembang pesat. Perkembangan perekonomian ini membuat warga tidak ingin lagi bersusah payah berjalan kaki ataupun menumpang kendaraan umum, sebagian besar warga di Muara Kaman sekarang memiliki kendaraan pribadi (sepeda motor maupun mobil). Jarak yang dekat saja ditempuh dengan bersepeda motor, tidak ada lagi pemandangan orang beramai-ramai jalan kaki ke pasar, yang terlihat adalah orang masing-masing pergi ke pasar dengan motornya, anak sekolah pun sama, jarak yang tidak seberapa ditempuh dengan sepeda motor.
Tidak tahu harus berbuat apa, berbicara pun seakan tak mampu. Aku tidak mengerti tentang pembagian tata wilayah yang baik dan benar, pengetahuanku tentang Amdal pun tidak terlalu memadai bila ingin mencoba mengkritisi atau sekedar memberi saran. Merasa sedih dan bodoh karena sebagai anak daerah tidak mampu berbuat apa-apa. Apa yang harus kulakukan Borneoku??
By. Rachel Fitria
Ngetik sambil ngantuk karena bergadang
1 Januari 2011 di Rumah Banjarbaru
