Rabu, 09 Maret 2011

Mencoba Berdamai dengan Masa Lalu

Hari minggu pagi, yang aku lupa itu tanggal berapa, saya pergi ke sebuah gereja untuk beribadah. Yang saya suka dari gereja ini adalah khotbah para pendetanya yang enerjik dan interaktif, membuat aku tidak ngantuk di suasana pagi itu. Minggu pagi itu tema khotbahnya adalah Perencanaan Untuk Masa Depan, tema yang cukup menarik menurutku.
Dalam khotbahnya, pendeta tersebut mengungkapkan bahwa perencanaan untuk masa depan harus dimulai di usia kita yang masih sangat muda, agar hidup kita punya target dan tujuan yang jelas. Ya, pernyataan yang cukup umum dan sering kudengar. Nah, pada tengah khotbahnya, pendeta tersebut mengungkapkan bahwa kita tidak boleh melihat masa lalu karena itu akan menjadi batu sandungan. Ibarat kita sedang berlari, maka kita jangan menoleh lagi ke belakang, karena kita akan tersandung dan terjatuh bila menoleh ke belakang. Bila kita sedang berlari menyongsong masa depan, tetaplah fokus pada apa yang ada di depan agar tujuanmu tercapai. Aku hanya manggut-manggut saja saat itu.
Khotbah selesai dan dilanjutkan dengan puji-pujian, persembahan, pengutusan dan berkat lalu ibadah selesai dan para jemaat pulang ke rumah masing-masing. Kebetulan saya selalu jalan kaki bila pulang atau pergi ke gereja dan kebetulan pula hari itu saya hanya berjalan seorang diri karena teman-teman dikost lebih memilih untuk ke gereja sore. Sepanjang perjalanan pulang, saya kembali merenungkan apa yang dinyatakan oleh perndeta tadi, “harus fokus sehingga tidak perlu menoleh ke belakang lagi??” apa iya??? Pernah aku membaca suatu buku dari seorang aktivis mahasiswa dan dia pun mengutip kata-kata dari Ir. Soekarno yang berkata bahwa, Negara yang besar itu adalah Negara yang tidak lupa akan sejarah, dan bung aktivis ini mengatakan bahwa “Mereka yang melupakan sejarah akan dikutuk hukum untuk mengulanginya kembali”, inti yang bisa aku ambil dari buku karangan aktivis tersebut adalah supaya kita tidak mengulangi hal yang salah di masa lalu, kita tetap harus sesekali (jangan sering-sering juga lah) menengok ke belakang untuk memastikan langkah kita sudah benar. Seperti pepatah yang berkata, “hanya orang bodoh yang mau jatuh ke dalam yang sama dua kali”, nah supaya kita tidak terjerumus kembali ke dalam lubang yang sama, mau tidak mau kita harus merefleksikan masa lalu bukan?
Tapi tak bisa juga kita melihat dari satu sisi saja, saya tahu bahwa maksud pendeta itu amatlah baik. Jangan terpaku dengan masa lalu bila ingin maju, maka jalan yang dapat ditempuh adalah berdamai dengan masa lalu, seburuk apapun masa lalu itu, cobalah tetap untuk bersyukur karena itu merupakan alat penguji kehidupan kita……

Reportase Perjalanan ke Kelurahan Noborejo, Salatiga


Sabtu, 5 Maret 2011, pagi yang cerah, dengan matahari yang jingga kekuningan muncul dari peraduannya. Perencanaan keberangkatan pukul 5 pagi harus tertunda karena kekalahan yang dialami melawan rasa kantuk. Enam orang mahasiswa S1 yang tergabung dalam satu organisasi kemahasiswaan (yang satu dianggap keluarga dalam organisasi ini juga karena merupakan maitua dari salah satu anggota organisasi ini), berencana mensurvey suatu daerah bernama Noborejo untuk keperluan kegiatan organisasi.
Akhirnya pukul 06.30 pagi itu baru dapat berkumpul bersama di salah satu perempatan kota Salatiga dekat kampus UKSW tercinta, terlihat wajah-wajah belum mandi yang sudah siap untuk melakukan perjalanan hari itu dengan jalan kaki. Start dari perempatan pukul 06.30 WIB, mulai meniti perjalanan dengan canda tawa sambil saling mengejek untuk menghidupkan suasana. Sampai di Pasar Raya, salah satu pusat keramaian di kota Salatiga, terlihat banyak orang lalu lalang yang baru pulang dari pasar. Di kiri kanan jalan banyak terdapat penjual bubur ayam yang wanginya menggoda hahay…. Singgah sebentar untuk mencicipi bubur ayam sekalian mengisi perut yang kelaparan, sarapan agar energy untuk berjalan kaki dapat mencukupi mengingat jarak yang ditempuh cukup jauh.
Selesai sarapan, kembali berjalan dengan semangat ’45. Tak terasa pukul 08.30 WIB sudah mencapai terminal Tingkir dan kembali singgah ke Indomaret untuk membeli air  minum dan beberapa jenis snack, lalu duduk santai di depan Indomaret sambil menunggu teman yang sedang menyusul. 30 menit menunggu, teman yang ditunggu-tunggu tak kunjung sampai, padahal katanya naik motor (motornya di dorong ya mbak?? huahahahhahaa). Memulai berjalan kembali, sampai depan ring road, teman yang satu ini baru sampai. Suasana tambah rame dan mulai memasuki kawasan Noborejo, sambil bertanya-tanya pada warga sekitar tentang lokasi utama yang akan dituju, yaitu Nobokulon.
Nobokulon merupakan salah satu daerah kecamatan di kelurahan Noborejo. Terus-menerus bertanya pada warga sepanjang perjalanan, belok kanan, kiri, kanan lagi lalu kiri lagi, terus dan terus. Hingga kelelahan melanda dan mencoba beristirahat di salah satu warung yang ternyata sudah memasuki kawasan Nobokulon. Sambil beristirahat, kembali memantau daerah sekitar, dan segera bersiap-siap untuk kembali pulang karena hari sudah mendung. Setelah puas melihat-lihat, segera bergegas jalan kaki untuk pulang, di tengah jalan naik angkot karena sudah tak kuat lagi berjalan jauh hahay…… di dalam angkot, banyak teman-teman tertidur kelelahan, ketika sampai semua serentak bangun dan bergegas turun untuk kembali ke peraduan masing-masing J
Oke teman-teman semua, ditunggu ajakan berikutnya untuk jalan-jalan kembali (dengan kaki tentunya)…… Mencoba copas dari blog seseorang yang saya kasihi, berbunyi seperti ini, “Untuk apa melumpuhkan kakimu, maka berjalanlah, selagi kakimu dapat digunakan” haghaghag……….

Kekaguman yang Tidak Bisa Kupungkiri


Entah sejak kapan persisnya aku selalu memperhatikannya, mengikuti perkembangannya, dan mencari tahu segala sesuatu tentangnya. Tak terhitung berapa waktu dan tenaga yang terbuang karena terus memikirkan tanpa bisa mengungkapkannya. Lelah?? Jawabannya “tidak”, aku sungguh menikmati setiap detik ketika memikirkannya, melihat wujudnya, memperhatikan apa yang sedang dilakukan olehnya adalah suatu seni tersendiri bagiku.
Ya, sudah 1,5 tahun ini aku mengenalnya, dengan segala kelakuan dan kompleksitasnya, aku sangat mengaguminya. Senyumnya, ekspresi kecewanya, kemarahannya, keceriaannya, cemberutnya, tertawa lepasnya, hmmm….. suatu pemandangan yang tidak pernah hilang dari benakku. Tak bisa melupakannya begitu saja………………..
Segala tutur tulisannya selalu menjadi panutanku, membuatku belajar cara memandang sesuatu dari sudut pandang berbeda daripada umumnya. Suatu anugerah dari Tuhan dapat mengenalnya. Walau tak bisa selalu dekat dengannya, tapi aku tetap dapat mengucap syukur, ia memiliki suatu tempat khusus di hatiku. Kawan, selamat berjuang menghadapi segala gejolak kehidupanmu, siapa tahu kita dapat bertemu di ujung jalan suatu saat nanti, walau aku tak tahu sampai kapan harus menunggu. Takkan pernah ada penyesalan bila kita tidak dapat bertemu lagi, namun satu yang pasti aku bersyukur pernah jalan beriringan bersamamu…..

Jumat, 04 Maret 2011

Perasaan yang Terpendam

Inilah sekarang lembaga tempatku bernaung, sebuah nama lembaga yang tidak asing di telinga bagi para mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana. Tak terasa sudah genap 8 bulan aku berada dalam lembaga ini. Begitu banyak dinamika dan pergolakan di dalam lembaga ini. Intrik-intrik organisasi, kebersamaan, dan masih banyak lagi hal yang ada dalam lembaga ini. Melihat banyaknya sifat dan sikap orang dari segi organisasi, melihat cara pembawaan mereka dalam memimpin rapat, berbicara di depan umum, gaya/ pola berfikir mereka dan sudut pandang mereka, sungguh hal yang menarik untuk kuamati dalam kelembagaan ini. Belajar akan sesuatu yang berbeda daripada hanya sekedar duduk berkuliah di dalam kelas, tapi dapat melihat Universitas ini dari sudut pandang yang berbeda, bukan hanya dari segi keilmuannya saja, tapi juga dari dinamika segi lain di dalamnya.
Nama lembaga itu adalah Lembaga Kemahasiswaan aras Universitas. Suatu kesempatan yang sangat berharga aku dapat belajar sesuatu dari lembaga ini. Kepemimpinan itu yang utama. Mendapat kesempatan sebagai Kepala Bidang Humanistik membuatku cukup bangga atas kepercayaan teman-teman, walau dengan segala pergolakan yang ada.
Satu hal yang tak dapat kulupa adalah peristiwa mundurnya sekretaris umum kami dengan segala macam alasannya. Membuat lembaga ini agak sedikit timpang dan ketua umum segera menambalnya dengan mencari sekum baru. Ya, aku diminta untuk dapat menjadi Sekum saat itu, dengan pertimbangan atas segala kinerjaku selama ini. Sungguh merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagiku, karena diberi kepercayaan sebegitu besar untuk sebuah posisi strategis dalam lembaga ini. Tetapi ternyata sungguh tak kusangka, begitu banyak penolakan yang diungkapkan oleh teman-teman dari intern lembaga ini sendiri. Tak mampu aku menjawab setiap pertanyaan mereka, padahal saat itu aku sedang bimbang apakah mau atau tidak. Begitu melihat begitu banyak penolakan, pertimbangan dan prioritas pribadiku, akhirnya aku tidak menerima tawaran itu, sungguh kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali, dan aku melewatkannya atas dasar meredam keegoisan pribadiku. Tak terhitung sudah berapa mimpiku untuk lembaga ini bila ada diposisi strategis itu, yang akhirnya aku pendam sendiri tanpa mampu mesharekannya kepada siapapun dari bibirku.
Ya, mereka hanya melihat aku tetap merasa nyaman karena mereka merasa nyaman, tapi tidakkah mereka tau apa yang kurasakan? Tapi, suatu hal naïf bila aku berkata baik-baik saja. Ya, aku sakit teman-teman, kekecewaan yang bertumpuk dalam hatiku tak pernah kalian tahu dan sadari, kalian hanya melihat saya sebagai orang yang kurang bertanggung jawab, bolos rapat panitia, kurang mengontrol segala sesuatu yang seharusnya memang tanggung jawabku……
Teman, tahukah kalian? Aku lelah, dengan segala komplain kalian, tidakkah pernah kalian berfikir bagaimana perasaan kalian bila ada di posisiku. aku memang manusia yang tak sempurna, aku pun kadang tidak memikirkan perasaan kalian, tapi aku selalu dan selalu berusaha, sampai tak tahu lagi harus berbuat apa. Selalu mencoba bertahan, walau luka itu semakin lama semakin pedih, hingga aku tak tahu lagi akan mampu bertahan sampai kapan.
Kalau aku tak salah melihat, kalian mempunyai keluarga yang luar biasa dengan segala kompleksitasnya, dan ketika kalian mengungkapkan ada masalah dalam keluarga atau harus pulang untuk urusan keluarga, hingga mengesampingkan tugas organisasi, aku tidak pernah komplain karena aku sadar itu masalah keluarga, yang kasihnya tak terelakkan. Tapi aku bukan orang yang dapat mengungkap segala masalah pribadiku apalagi masalah keluargaku pada siapapun, karena aku bukan orang yang mudah percaya pada orang lain walau sedekat apapun. Ada sisi negatifnya memang, sangat lelah mengangkat gelas yang penuh dengan air dengan hanya sebelah tangan saja, yang suatu saat dapat tumpah karena tanganmu sudah tak kuat lagi menanggungnya seorang diri dan airnya akan membasahi tubuhmu sendiri.
Teman, tahukah kalian? Masalah keluarga yang kuhadapi sekarang adalah masalah terberat sepanjang hidupku. Aku cukup lelah bergumul dengan masalah itu, tapi entah mengapa kalian malah menjauh, tak mau merangkulku, separah itukah aku di mata kalian? Kalian seakan meninggalkanku seorang diri dan hanya datang ketika kalian ada masalah dan menuntutku harus membantu menyelesaikannya sampai kalian harus menggebrak meja di depanku. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa, selain berusaha semampuku untuk membantu walau banyak kekurangan di sana-sini dan hati yang sakit walau tidak terungkapkan.
Satu hal yang kusadari, semua orang memiliki persoalannya masing-masing dan tetap kupercaya setiap orang juga pasti punya cara untuk menyelesaikannya. Tapi semua tak bisa lepas dari yang namanya waktu, ya proseslah yang menentukan segalanya, bagaimana mengelola proses itu sendiri. Seperti yang kualami, aku hanya butuh waktu teman, tolong beri aku tempat untuk lega bernafas sejenak dan tak menghimpitku hingga sesak seperti ini.