Sabtu, 10 Agustus 2013

Setiap Perjalanan Pasti Punya Cerita (2) – Kali Pancur

Berawal dari persiapan untuk mendaki Gunung Andong tanggal 2-3 Agustus 2012, maka saya bersama teman-teman (kak Dika, kak Ventry, Damar dan James) melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kali Pancur dipilih karena selain memiliki Air Terjun yang indah, rutenya pun cukup menguras energi dan undakan tangga-tangganya cukup membuat kaki “gempor” haha…
ini kami :) 
30 Juli 2013 pukul 06.30 WIB, meeting point kami di perempatan Pasar Jetis, menumpang minibus ke arah Pasar Sapi, kemudian dilanjutkan dengan minibus lagi ke arah Salaran. Tiba di Salaran, kami mulai berjalan kaki ke arah Air Terjun Kali Pancur. Perjalanan ke arah air terjun Kali Pancur, kami isi dengan bercerita sambil bercanda tawa. Di tengah perjalanan kami melihat ada 2 ekor angsa jantan, 1 ekor angsa betina dengan 2 ekor anak angsa. Si angsa jantan terlihat sangat protektif, mereka melindungi angsa betina dan anak-anaknya, maka ketika kami lewat, mereka memberikan sinyal supaya kami tidak mengganggu mereka. Si angsa jantan menurunkan lehernya dan menyurukkan paruhnya ke arah kami. Saya yang memiliki trauma dengan angsa, memilih menyeberang jalan untuk menjauhi angsa, beberapa teman mengikuti langkah saya menyeberang, namun teman kami si Damar, malah menyurukkan tangannya ke arah angsa sehingga angsa jantan tersebut mulai menyerang kami, Damar malah lari meninggalkan kami, saya sendiri memilih menaiki undakan di pinggir jalan memanjat beranda rumah warga yang tinggi diikuti kak Ventry dan kak Dika, James lah yang akhirnya melindungi kami satu persatu untuk berlari dari tempat itu. Tak dinyana, keributan kami dengan angsa tersebut malah menarik perhatian warga sekitar sehingga kami menjadi tontonan warga (kalau tidak mau disebut hiburan bagi warga). Kami ditertawakan oleh warga desa setempat, agak memalukan siy L.
Perjalanan dilanjutkan, memasuki undakan menurun awal, terlihat Rawa Pening di kejauhan dan puncak air terjun, teman-teman yang baru pertama kali ke sana, melonjak-lonjak kegirangan dan semua berkata ingin segera sampai di bawah. Kami mulai menuruni undakan tangga-tangga dan akhirnya sampai juga di bawah. Jujur, saya cukup kaget, air terjunnya berwarna kehijauan dan mengeluarkan bau busuk seperti kotoran ternak. Saya piker air ini tercemari kotoran ternak yang di areal puncak air terjun ini terdapat peternakan babi >.<.
Airnya menghijau
Kecewa, itu gambaran perasaan saya saat itu. Kali Pancur yang merupakan objek wisata malah tercemar airnya oleh kotoran ternak yang membuatnya sama sekali tidak menarik kalau tidak mau dibilang menjijikkan. Kesadaran warga untuk mengolah dan membuang limbah bagi saya sangat minim. Yah, saya tidak berminat membahas ini terlalu detail. Kami segera naik, tentu beberapa teman dengan susah payah naiknya secara undakan tangganya sesuatu banget banyaknya.

Tiba di atas, saya mencari warga yang memberikan kami tiket masuk tadi, namun tidak saya temukan. Padahal saya ingin menanyakan serta mengajukan protes, mengapa kawasan wisata ini menjadi tidak terkontrol begini. Akhirnya terus berjalan pulang, sambil tetap waspada di tempat bertemu angsa tadi, hingga sampai di pertigaan salaran, kami menunggu minibus yang akan mengantar kami sampai di Salatiga. Lelah dan kecewa itu yang saya rasakan, saya berencana untuk menelusuri peternakan yang terdapat di areal atas puncak air terjun tersebut, siapa yang mau ikut silakan saja J.
Buat kak Dika, ayo terus berjalan, pusing dan mual itu hal yang biasa hahaha….. Damar, James dan kak Ventry, masih sudi menemaniku berjalan kan? Hehe…. Nikmati saja matahari terik yang membakar kulit, keringat yang membasahi tubuh, nafas yang tersengal serta kaki yang pegal sesudah berjalan. Thanks buat semua, you’re rock guys J.



#Thanks to Jesus Christ (buat segala pertolonganMu), Damar (lain kali harus lebih peduli pada teman-teman yang lain), James (asah terus kepedulianmu bro wakakkakak), Kak Dika (ayo terus berjalan, jangan terlalu ngandelin ayang Toto lagi kalo cuman ke kampus doank), dan kak Ventry (mari sama-sama terus berjalan dan mendengarkan keluhan teman-teman yang lain sepanjang perjalanan hahahaha J)

Jumat, 09 Agustus 2013

Kita Pernah Bersama

Hai kau yang berada di surga sana, bagaimana kabarmu? Pasti berbahagia ya, karena kau sudah berada di keabadian, ya keabadian, satu hal yang tidak ada di dunia ini. Kemarin aku menyusuri kota Jakarta lho, tempat kenangan kita. Masih ingat kegilaan kita di Bundaran HI? Atau kekaguman pada menara Monas? Aku juga menyusuri kota tua Jakarta lho, tempat yang selalu kita bicarakan untuk dikunjungi, namun belum kesampaian kita berdua kunjungi hingga akhir hayatmu. Masih ingat sajian kerak telor yang kita nikmati berdua di pinggiran pagar luar Monas? Aku kemarin makan siang dengan kerak telor lho di Kota tua Jakarta. Waktu itu aku teringat dirimu, apa di surga sana ada kerak telor juga ya?
Penjual kerak telor di Kota Tua Jakarta
Adik perempuanmu selalu memintaku untuk berkunjung ke rumahmu, namun aku belum bisa. Aku belum mampu menatap frame wajahmu tergantung di dinding dengan kalungan bunga. Aku juga belum mampu bertemu buah kasihmu, aku tak ingin melihat air matanya, aku pasti belum mampu. Kemarin aku juga melalui kawasan Menteng, daerah rumahmu, namun kakiku belum mau dan mampu beranjak menuju rumahmu, maaf ya, aku minta waktu sebentar saja untuk menata perasaanku.
Bolehkah hari ini aku mengenangmu? Mengenang 3 tahun kebersamaan kita. Relasi kita selama 3 tahun itu sungguh bermakna untukku, sekaligus memberikan pelajaran yang amat berharga. Aku bangga dapat membawamu keluar dari lembah kecanduan narkotik, tentu juga dengan usaha dan keinginanmu. Aku bangga dapat menemanimu selama 3 tahun itu, melalui suka dan duka bersama, disakiti dan tersakiti, membahagiakan dan dibahagiakan, terima kasih untuk setiap surprise yang selalu kau suguhkan, kau memang paling tahu kalau aku suka kejutan J. Berpisah setelah 3 tahun kebersamaan kita itu sulit untukku, hingga aku memutuskan untuk menenangkan diri ke kota kecil di kaki Gunung yang sejuk, hanya untuk menghindarimu. Empat tahun waktu yang harus kuhabiskan untuk bangkit dari kesakitanku. Aku menyayangi buah kasihmu, ya karena dia adalah bagian dari dirimu. Setiap kutatap wajahnya, selalu mengingatkanku padamu, wajah kalian mirip sekali, dia memiliki matamu, rona matanya persis seperti kepunyaanmu.
Memang tidak ada yang tak mungkin dan memang tidak ada yang pernah tahu akan masa depan, karena itu adalah rahasiaNya. Siapa duga 3 bulan yang lalu kita kembali bersama, setelah hampir 5 tahun kita berpisah. Setelah 2 tahun kau merongrongku, setelah perpisahanmu dengan dia, setelah penolakanku yang bertubi-tubi, kita akhirnya dapat bersama lagi. Kau tau alasanku kembali? Aku mengasihimu dan terharu dengan tulisan di wall facebook itu. Aku masih ingat dengan jelas yang kau tulis itu, “Hai Aling, aku tahu mungkin kita tak dapat bersama lagi, cuma aku pengen bilang bahwa aku selalu ada untukmu, apapun keadaanmu aku selalu ada untukmu, sedih ataupun senang aku ingin selalu ada untukmu. Aku ingin menjadi kakak sekaligus sahabatmu”. Aku tak mampu membalas tulisan itu, aku termenung panjang setelah membacanya, ya kaulah yang mengerti aku. Inginku sederhana saja, seseorang yang selalu ada untukku, tak perlu fisik, namun selalu ada dalam bentuk apapun, memperdulikanku dengan caramu, itu yang aku perlu.
Handphoneku bordering malam itu, dari nomor yang tak kukenal, ternyata itu kamu, menelponku jauh dari negara tetangga, Singapura. Kalimatmu amat sederhana memintaku kembali, “Aku duda beranak satu, sangat tak sempurna sekarang, namun aku yakin kalo bersamamu hidupku akan disempurnakan, maukah kau terlibat dalam penyempurnaan itu?”. Terdiam dan akhirnya tertawa, itu responku yang sontak terjadi. Aku hanya menyebutmu lebay dan alay sambil bercanda berkata, “yo oloh elo itu dari kasta brahmana, lha gue? Gue dari kasta sudra bos, ntar raden kian santang bakal ngeluarkan ilmu-ilmu gaibnya mengirimkan air untuk memadamkan api cinta kita, trus ada angling darma dengan naganya menyemburkan api untuk menewaskan kita berdua hahahaa…..”, namun tak sekalipun kau balas dengan tertawa, membuatku sadar bahwa kau berbicara serius. Aku terdiam sesaat dan akhirnya berkata, “eh loe marah ya? Kok diem aja gue ajak bercandaan?” kau akhirnya menjawab, “sebelum raden kian santang mengirimkan air dengan ilmu gaibnya untuk memadamkan cinta kita, gue bakal siapin bensin banyak-banyak, walau di Indonesia BBM mahal, gue kan dari kasta brahmana yang kaya raya jadi bisa dengan mudah beli bensin, trus ketika angling darma datang dengan naganya menyemburkan api, gue bakal lebih dulu nyiapin truk pemadam kebakaran dengan tangki yang penuh dengan air untuk melawan semburan api naga itu, apalagi yang kurang untuk gue persiapkan?”. Terdiam, hanya itu yang kulakukan, sehingga kaupun berkata, “eh loe masih idup kan? Jadi gimana? Apa lagi yang kurang? Gue cuma butuh lu ada buat gue dalam bentuk apapun itu terserah loe, gue gak peduli masa lalu loe, karena masa lalu gue juga ancur, tapi masa depan itu masih suci dan kita berhak menyongsongnya”. Oke, memang dasar wanita, cuma bisa terbang ke langit ke tujuh sambil berasa ada ribuan kupu-kupu menari di perut trus menggelitiki hati hahahha…. Dan akhirnya menjawab, “oke, kita jalani dulu saja ya”. Pembicaraan malam itu diakhiri dengan kesepakatan pertemuan pada pertengahan Agustus di kota tua Jakarta.
31 Juli 2013 pukul 03.07 WIB, handphoneku kembali berdering, nomer handphone yang tak asing, nomer handphone adik perempuanmu, mengabarkan kecelakaan yang kau alami di negeri Singa. Sesaat aku menyesali diri, menyangka kecelakaan itu, akulah penyebabnya, pertengkaran kita tadi malam itu penyebabnya, mencoba mengendalikan diri dan meminta untuk memastikan kabar itu. Satu setengah jam kemudian, muncul kabar kepastian bahwa kau sudah ada di Surga, terpukul? Itu yang kurasakan, juga sakit dan air mata yang tak tertahan lagi mengucur deras. Mencoba berpikir jernih dan menerima keadaan. Kuputuskan untuk packing sebentar dan mendaki gunung Telomoyo itu pagi-pagi, menangis sepuasnya di puncak, menikmati kesendirianku mengenangmu, mencoba menerima segala keadaan dan kembali turun dengan keadaan yang lebih baik.
Tidak ada kata lain lagi yang mampu terucap selain maaf dan terima kasih. Terima kasih untuk kebersamaan kita, terima kasih karena kau selalu ada untukku dengan caramu. Maaf aku belum mampu bertemu dengan mereka bahkan dengan buah kasihmu, maaf ya… berbahagialah di keabadian, kelak pasti dapat bertemu, berbahagialah Endy J.

#Janji kita bertemu di kota tua Jakarta mungkin sudah terlaksana, mungkin kau ada di sana ketika aku berkunjung kemarin, kau juga lihat atraksi anak-anak di depan museum itu kan J
By. Rachel Fitria

Pukul 13.07 WIB di Taman Cimanggu, Bogor

Rabu, 07 Agustus 2013

Setiap Perjalanan Pasti Punya Cerita (3) – Gunung Andong

Setiap tahun, saya selalu mengagihkan waktu traveling pada bulan Juli-Agustus, entah traveling antar kota antar provinsi atau mendaki gunung dan menyusuri pantai. Tahun 2013 ini mungkin merupakan tahun “berat” yang harus dilalui, mulai dari permasalahan studi, hati, keluarga, pertemanan, semuanya tumplek blek pada tahun ini. Namun selalu bersyukur bahwa saya punya Allah yang luar biasa, Dia selalu menopang saya dan membantu saya bangkit dari segala keterpurukan. Oke, back to the point, tahun ini saya mengagihkan tema traveling saya kali ini yaitu “ketinggian”, pikiran saya mengawang ingin melihat sunrise dan sunset dari ketinggian, menghirup udara segar pegunungan, merasakan dinginnya hawa malam gunung, menatap kabut dan menggapai puncak yang tinggi.
Untuk mempersiapkan perjalanan kali ini, saya memilih untuk melatih fisik saya terlebih dahulu, jogging, pemanasan bolak balik lereng gunung, dan memperbanyak jalan kaki. Para sahabat yang ingin join, juga saya beritahu untuk melakukan persiapan fisik terlebih dahulu karena hampir semuanya tidak pernah mendaki gunung. Pilihan mendaki kali ini jatuh pada gunung Andong, cukup relevan bagi pemula. Gunung Andong memiliki ketinggian 1736 mdpl dan saya rasa cukup pantas bagi kami yang semuanya pemula. Persiapan dilakukan, mulai dari peralatan dan logistik. Perjalanan kali ini saya akan ditemani oleh para kakak saya yaitu kak Dika, kak Ventry, kak Ulhin, kak Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing peliharaan kak Ian).
2 Agustus 2013 pukul 15.30 WIB, meeting point kami di belakang kampus UKSW. Menumpang minibus menuju Pasar Sapi. Dari Pasar Sapi, kami menumpang minibus lagi untuk menuju Pasar Ngablak. Sedikit kejadian di Pasar Sapi cukup membuat mood saya agak jelek, berawal dari kami yang berjumlah 9 orang dengan masing-masing membawa tas besar dan seekor anjing, kernet mengarahkan kami pada minibus kosong, namun setelah kami sudah duduk santai dan menata tas dalam minibus, tiba-tiba kernet itu meminta kami untuk pindah, sontak saya merasa kesal karena barang bawaan kami yang banyak jadi cukup merepotkan bila harus berpindah-pindah, terjadi perdebatan antara kak Sammy dan kernet, maka kami memutuskan untuk pindah ke minibus yang lain. Pukul 16.50 WIB, kami telah tiba di Pasar Ngablak (walau saya hampir saja tidak menyadari kalo sudah tiba karena saya sedang melamun sambil makan coklat dan duduk paling belakang).
Dari pasar Ngablak, kami berjalan kaki menuju Dusun Sawit, Desa Girirejo karena dusun ini terletak persis di kaki Gunung Andong. Dari pasar sebenarnya ada ojek untuk menuju dusun tersebut, namun karena niat kami memang ingin berjalan kaki, maka kami terus berjalan menyapa aspal sambil menikmati pemandangan di kiri-kanan jalan yang banyak terdapat tempat pembibitan juga kebun sayur.
Di kebun warga di kaki Gunung Andong, kami sempat terpisah karena saya bersama kak Dika, James, kak Ulhin dan jily berjalan duluan, di pertigaan menuju pintu jalan masuk Gunung Andong, kami memilih jalan yang membelok ke kanan. Sedangkan kak Sammy, kak Ian, Damar dan kak Ventry serta si pupi mengambil jalan belok ke kiri. 15 menit saya menunggu namun mereka masih tak terlihat, feeling saya mengatakan mereka tersesat dan saya berlari kembali ke pertigaan, bersyukur masih ada signal dan terus mencoba menghubungi mereka untuk berjalan balik. Setelah bertemu, mereka mengatakan tidak melihat ada jalan berbelok ke kanan bahkan tidak menyadari kalo itu merupakan jalan pertigaan, oke fain! Kami kemudian mulai melewati kebun-kebun warga, lalu mulai mendaki (awalnya nyasar >.<). Jalur yang dilalui cukup nyaman karena tidak terlalu curam dan sudah ada undak-undaknya. Kami terus mendaki sambil sesekali beristirahat dan saya akui sepanjang perjalanan ini kami cukup ribut. Rute awal kami melalui pepohonan pinus yang cukup teduh. Nyasar di areal pinus terjadi, mulai dari saya yang melihat bayangan putih di bawah pohon besar, SB yang jatuh ke arah jurang, hingga akhirnya bertemu dengan sepasang pendaki yang “menyelamatkan” kami haha…. Dalam tengah perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa orang tua yang juga mendaki tanpa senter dan menuju ke puncak pertama yang notabene terdapat kuburan di sana.
Akhirnya sampai juga di Puncak Gunung Andong, saya mulai mendirikan tenda dan memasak air. Kawan-kawan yang lain sudah mulai kedinginan memilih untuk masuk ke dalam tenda. Saya dan kak Ventry serta kak Sammy berinisiatif untuk memasak bagi semuanya, porsi untuk 9 orang plus si pupi. Apa daya, semuanya memilih untuk tidur, akhirnya daripada mubajir, kami bertiga memilih menghabiskan makanan dengan porsi 9 orang tadi haha…. Kami bertiga memilih untuk tidak tidur karena 6 orang lainnya mendominasi tenda, SB maupun selimut. Sambil menunggu matahari terbit kami bercerita mengenai pengalaman perjalanan mendaki tadi serta pengalaman bila masuk hutan di Papua, Ambon maupun Kalimantan, dan kearifan lokal daerah masing-masing. Bersamaan dengan itu, beberapa orang tua yang dari kuburan di puncak pertama tadi mengadakan tirakat di puncak tertinggi Andong, yah saat mereka bertirakat, suasana jadi agak-agak menyeramkan, selain mereka berteriak-teriak histeris, mereka bergelap-gelapan ria. Ah tapi begitulah indahnya kearifan lokal.
            Tidak lupa sepasang pendaki yang juga membangun tenda di sebelah kami, cukup banyak kami bercerita mengenai tirakat-tirakat yang warga sekitar lakukan di Gunung Andong ini. Mereka sendiri memang sering mendaki bila weekend karena mereka menjalani Long Distance Relationship getoo, jadi malmingnya di gunung. Aduh jadi mupeng, pengen juga pacaran di gunung hahahahha…..
            Matahari mulai terbit, kawan-kawan sudah bangun untuk menunggu, para magifo (mahasiswa gila foto) mulai menjalankan aksinya, berfoto-foto ria. Ah indahnya matahari terbit, menggambarkan harapan baru, janji dan pertolonganNya yang tak pernah terlambat. Thanks God boleh melihat ciptaanMu yang begitu luar biasa. Pukul 07.30 WIB, saya mulai membereskan barang-barang untuk turun, yang cewek membereskan peralatan memasak dan peralatan tidur serta tas-tas kecil.

            Kami mulai menyusuri jalan untuk untuk turun dan pada beberapa titik ada jalan yang langsung menghadap jurang, kak Ventry yang agak fobia pada ketinggian tentu memilih melipir menjauhi jurang, dan tasnya dibawa oleh seorang teman, yah toleransi. Pada saat-saat naik gununglah, saya melihat sejauh mana toleransi masing-masing pribadi haha…. Tiba di desa, kami memilih untuk menggunakan jasa ojek karena teman-teman yang lain sudah sangat kelelahan. Tiba di Pasar Ngablak, kami sarapan dan menaiki minibus untuk kembali ke Salatiga. Perjalanan yang cukup melelahkan karena saya juga ikut tertidur dalam perjalanan.
Perjalanan yang bermakna bagi saya, ketika ada orang-orang yang meremehkan sahabatmu dan mengatakan ia tak mampu, tugasmu lah yang berusaha memampukan dia, ketika sahabatmu memiliki keinginan untuk mematahkan persepsi orang yang meremehkan dia, tugasmu lah yang memberikan dia semangat dan harapan. Tidak ada kesombongan apalagi mementingkan diri sendiri dalam perjalanan ini, toleransi dan kebersamaan lah yang ingin saya dapatkan dalam perjalanan ini dan itu boleh tercapai. Terima kasih buat kak Dika, semangatmu luar biasa kak, orang-orang yang bilang kau tak mampu adalah orang yang berpemikiran sempit dan tidak tahu siapa dirimu, buat kak Ventry, ayo fobia ketinggiannya harus di challenge! Haha….. harus sering-sering dolan di ketinggian thuuu, buat kak Ulhin, ayo kita bikin body sexy wakakkakakakakk….. buat Jily, jadi inget waktu kita di Merbabu gak sih? Yang pake acara nyasar di kebun orang plus ada acara kabut pula, ternyata lama banget kita udah gak mendaki gunung bareng. Buat kak Ian, widih baru kali ini kak akuh naik gunung bareng anjing, jadi seru-seruan ama pupi di jalan, semangat terus kak, kata kak Sammy mari kita ke Gedong Songo dan Telomoyo. Buat kak Sammy, terima kasih yak kak buat bantuan membawa segala tetek bengek perlengkapan naek gunung dan kesabarannya serta bantuannya dalam membangun dan beres-beres tenda, bakal ribet deh kalau gak ada kakak haha… buat James, terima kasih buat setiap toleransimu ya bro, peduli terhadap sesama dan perhatianmu buat semua terutama kak Dika, dan thanks untuk selalu mengingatkanku untuk tidak terlalu cepat berjalan hehe… buat Damar, jangan pernah meremehkan sesuatu, akhirnya kedinginan kan jadinya dan thanks buat segala usahanya bersama james untuk menghidupkan kompor gas manisho ituh. Dan yang paling utama adalah special thanks to our God, Jesus Christ, luar biasa pertolonganMu Tuhan, tak pernah terlambat segala pertolonganMu, kasihMu sungguh luar biasa melingkupi kami semua anak-anakMu. Mohon ampun Bapa atas segala dosa dan kesalahan, ampuni segala keegoisan kami, ajarkan kami selalu untuk terus peduli terhadap sesama dan saling mengasihi.
Oke terima kasih buat semua, seperti kalimat yang sering saya ucapkan dalam episode pertama perjalanan kita, “You’re rock guys!!!” tanpa kalian, perjalanan ini tak akan berwarna seperti ini, tanpa kalian perjalanan ini tak akan seseru ini. Mumpung masih bulan Agustus, aku masih berpikir untuk mendaki nih, sesegera mungkin pulang Salatiga dan kembali mendaki. Dimana ya tempat selanjutnya??? J

#Thanks to Jesus Christ (tanpaMU, we are nothing, Engkaulah pertolongan kami yang selalu ada dan tak pernah meninggalkan kami dalam situasi apapun), kak Dika, kak Ventry, kak Ulhin, kak Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing peliharaan kak Ian).

By. Rachel Fitria

7 Agustus 2013, pukul 08.43 WIB di Taman Cimanggu, Bogor

Kamis, 25 Juli 2013

Tak ingin berjanji


Pagi ini aku terbangun karena bunyi ringtone hpku menandakan sms masuk. Hmmm… ternyata sms dari seseorang yang mengisi hatiku beberapa minggu terakhir ini. Sms itu cukup membuatku merenung sesaat, begini smsnya, “Hai pagi Liaaaaa, I want to say that I love you so much….. Apakah kita akan terus begini? Saling mengasihi dan kau tak kan meninggalkanku?”. Akhirnya hanya ku balas, “Hai pagi juga, aku ingin bilang bahwa aku menyukai kepastian namun aku selalu kecewa akan itu hingga akhirnya aku selalu juga tiba pada suatu solusi bahwa jalani saja semuanya dengan segala usaha. Oleh karena itu aku selalu tidak berani berjanji yang muluk-muluk, untuk sekarang aku hanya dapat berkata, aku mengasihimu saat ini”.
Hmmmm…. Pagi ini aku jadi agak sedikit melankolis sepertinya. Pernah menjalin hubungan 3 tahun lamanya namun harus kandas itu sangat menyakitkan, apalagi bila kandasnya dengan cara yang tidak baik-baik, akhirnya harus menghabiskan waktu 4 tahun untuk move on! Hahahaha….. Pernah juga menjalin hubungan hanya 3 bulan, namun ternyata kandas lagi dengan cara yang tidak enak pula, akhirnya butuh waktu hampir 1 tahun untuk move on! Wakakakakka….. Yah, hubungan yang dimulai dengan bahagia seperti rasanya ada kupu-kupu yang menari di perut, akhirnya kupu-kupu tadi seakan-akan bermetamorfosis jadi rayap yang menggerogoti. Menyakitkan namun harus dijalani. Jatuh namun tetap harus bangkit lagi, seperti siklus bianglala, kadang kau ada di puncak kebahagiaan namun terkadang harus sakit, sedih dan menangis.
Terkadang ada yang teman yang curhat ketika dia patah hati, dia menyesal sudah bertemu dengan mantan pacarnya. Hmmm tapi aku lebih memilih untuk bersyukur karena pernah bertemu dengan mereka, pernah belajar bersama, berbagi, dan saling mengasihi. Aku diijinkan bertemu dengan mereka dan punya pengalaman tersendiri dengan mereka membuat hidup ini lebih berwarna dan memperkaya kita. Setelah melewati masa-masa tidak enak, aku selalu mendapat kebahagiaan setelahnya, itu yang membuatku tak pernah jera untuk ‘sakit’ hahaha….. Bahkan sekarang bila kangen, sambil tersenyum sendiri dan hati yang ringan aku dapat bertanya, “apa kabarnya yahmereka?” hahahhaa…. Hanya berharap mereka baik-baik saja dan didampingi seseorang yang membahagiakan sekaligus menyakiti mereka, karena inilah hidup, kadang katanya harus disakiti supaya lebih baik dan yang sudah diikat dalam tali pernikahan semoga langgeng dan bertumbuh bersama.

Jadi untuk sekarang, aku tak ingin menjanjikan apa-apa untukmu, aku belum meninggalkanmu, masih mengasihimu dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tak ada ikatan apa-apa dan kita masih bebas melakukan keinginan masing-masing, so just enjoy with our life J

Selasa, 25 Juni 2013

Ketidakmungkinan

Hai mentari pagi, boleh aku minta padamu? Tolong sinari hatiku yang sedang mendung. Aku merasa lelah sekali pagi ini wahai mentari, lelah akan kehadirannya dan menari-nari dalam benakku. Sudah hampir selusin bulan kalender aku dipermainkan oleh hatiku sendiri, tanpa dapat kukendalikan. Aku lelah sekali mentari, lelah sekali.
Bapa, bolehkah anakMu ini pada pagi ini meragukan kekuasaanMU? Kau selalu bilang padaku bahwa tidak ada yang tak mungkin. Namun pada pagi ini, aku mendapati ada sesuatu yang sama sekali tak mungkin kugapai lagi. Hatinya Bapa, aku tak dapat menggapainya, tak mungkin. Bolehkah aku membuat permohonan untukMu Bapa? Aku mau terpisah jauh darinya, aku ingin berjuta-juta kilometer jauhnya. Aku selalu meminta padaMu untuk memulihkan hatiku, namun Kau terus mengujinya Bapa, aku lelah Bapa, lelah sekali. Hari ini kudapati diriku hancur Bapa, apakah permintaanku supaya Kau memulihkan hatiku itu salah? Pagi ini aku tersadar ketika mendapati firmanMu berkata, “Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk”, mungkin seharusnya aku meminta Engkau tidak hanya memulihkan hatiku Bapa, namun aku juga seharusnya meminta Engkau menganugerahkan hati yang tangguh Bapa, benarkah begitu?
Hatiku rapuh Bapa, rapuh tanpaMu. Bolehkah aku dijauhkan darinya Bapa? Aku ingin mengikisnya dari hatiku perlahan untuk selamanya Bapa. Aku tidak ingin lagi melihatnya Bapa, please Bapa. Aku merasa seperti anak kecil yang merengek padaMu Bapa, aku ingin lepas dariNya Bapa.
Biar pelukan itu menjadi yang terakhir bagi kami Bapa, pelukan yang kurindukan selusin bulan itu, Kau kabulkan Bapa, aku dapat memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak mengingkari rasa sakitku padanya Bapa. Perih sekali kejujuran itu Bapa, ternyata ini mungkin jawaban bagi kami Bapa. Dia dan aku tak layak lagi didera Bapa. Karena kami boleh disadarkan Bapa, tak ada artinya bila bersama namun hanya semu semata. Aku tak ingin lagi memaksakan Bapa, mungkin ini Bapa, cinta kami tak lagi sama.

Topang aku Bapa, topang hatiku. Aku berharap dimengerti kali ini Bapa. Aku ingin bersamaMu saja Bapa, aku hanya ingin berdiam dalam rumahMu, bangkitkan aku Bapa, tegakkan kepalaku Bapa.

Minggu, 16 Juni 2013

Cicak di Dinding

Nada dan puisi datang dan pergi menghampirimu
Tiada yang mampu merengkuh arti dan isi hati
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Berbahagia dengan satu impian
Dan satu kejujuranku
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Hanya suara dan tatapku menemanimu
Dan ku menyadari tanganku
Tak kan mampu meraihmu
Walau cinta katanya tak kan lelah memberi
ku lepas engkau ombak hatiku
Percikmu abadi menyegarkanku
Namun biarlah kini... Kuingin jadi cicak
S'perti cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu... Cicak di dindingmu
Melekat, menemani, membelai dinding jiwamu...
Pagi ini dengan tubuh yang masih remuk redam, tiba-tiba aku kangen, kangen dengan suara Dewi Lestari. Kucari kasetnya dan kuputar, meresapi setiap lirik lagunya. Hingga tiba pada lagu yang berjudul “Cicak di Dinding”. Kuresapi setiap detil liriknya, tak terasa air mata ini mengalir. Ya mungkin lirik lagu itu benar, sudah saatnya aku berserah dalam ketakberdayaan. Karena seharusnya aku sudah menyadari bahwa tanganku takkan mampu meraihmu, juga seharusnya aku melepasmu ombak hatiku.
Mungkin ini maksud hujan semalam yang turun tanpa henti hingga pagi ini, alam pun mengajakku untuk membasuh hati ini, melarutkan setiap detil kenangan bersamamu ke muara yang aku tak perlu tahu di mana ujungnya. Dan kudapati pagi ini aku baik-baik saja, hatiku baik-baik saja. Kulihat terang gunung Fuji di depan sana yang menunggu untuk kugapai puncaknya, ya gunung tinggi itu mengijinkanku menggapai puncaknya. Kusadari aku sudah terlalu lama berjalan, kini kudapati diriku telah mulai berlari, berlari dan berlari. Berlari menggapai puncak gunung itu. Kutinggalkan semua isi hatiku tentangmu di lereng gunung itu dan aku mendaki gunung itu tanpa beban apapun. Selamat tinggal, aku takkan kembali lagi ke lereng gunung ini, aku akan tetap menggapai puncak dan akan tetap berlari menggapai puncak yang lain tanpa menoleh lagi.

Kini ku harap dimengerti, tiada yang tersembunyi, rasa sakitku, tiada alasan, inilah kejujuran, perih namun ini jawabnya, lepaskan dengan segenap jiwa tanpa harus berdusta karena kau tak layak didera. Inilah adanya, cinta yang tak lagi sama.

Sabtu, 15 Juni 2013

Kamu

Tak pernah kubayangkan sebelumnya, aku berada dalam kondisi seperti ini, Salmonella typhii yang merajai tubuh disertai dengan kerinduanku padamu. Dalam kondisi terbaring, aku mengenang kembali kebersamaan kita dulu. Pelukan hangatmu yang selalu kurindukan, kejutan-kejutan kecil yang selalu kau implementasikan dalam bentuk muncul tiba-tiba di hadapanku, aku merindukan kejutan kecil itu, karena aku pasti langsung melompat ke dalam pelukanmu dengan tawa lepasku.
Tak ada yang pasti dan tak akan yang pernah tahu akan masa depan, ya inilah kalimat rasional yang akhirnya aku amini. Siapa yang menduga kita akan seperti ini? kita seperti orang yang tak pernah saling mengenal bila berjumpa. Hanya sebatas keprofesionalan pekerjaan saja yang membuat kita tetap berkomunikasi walau jarang. Dulu aku selalu gelisah bila dirimu tak ada, namun sekarang aku sudah terbiasa dengan ketiadaanmu, bahkan menikmati nyilunya kesendirian. Begitu banyak yang datang dan memintaku untuk melunakkan dan menghangatkan hati, namun tak ada satupun yang mampu membujukku.

Di tengah kesibukan yang padat, mungkin inilah kesempatanku untuk merenung, merenung tentang kita. Apakah sudah ada kata “tidak mungkin” di antara kita? Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati harum tubuhmu, bahkan aku hampir lupa bagaimana hangatnya pelukanmu. Dulu duniaku hanya ada kamu dan studiku, dalam duniamu mungkin aku tidak ada. Mungkinkah kita dapat bersama lagi? Bercengkerama tanpa ada luka, tertawa lepas seperti dulu, menangis dalam pelukanmu, serta kembali menyusun mimpi? Aku tak tahu, tak lagi tahu. Kau jauh sekali, aku kesulitan menggapaimu. Apa kusudahi saja sampai di sini? Tetap tenggelam dalam kesendirianku, karena sekarang hanya kaulah yang mampu meluluhkanku. Maaf untuk semua kesalahan, aku sudah memaafkanmu, aku selalu mengingatmu, dan sekali lagi maaf untuk rasa ini.

Kamis, 06 Juni 2013

Welcome Seven!!!

        Terbangun pagi hari ini dengan kenangan satu tahun lalu. Teringat pada 7 Juni  tahun 2012 lalu, persis aku mengalami ujian skripsi. Pagi-pagi yang mendebarkan saat itu, membayangkan duduk di antara penguji dan dibantai membuat mual pagi itu. Pagi itu juga pembimbing saya mengirim sebuah pesasn singkat yang isinya untuk memberi support, tapi sama sekali tak berpengaruh bagiku, tetap saja rasanya grogi setengah mati! Pagi-pagi sudah berjalan ke kampus untuk persiapan ujian, namun apa daya saking gugupnya catatan untuk ujian tertinggal, akhirnya harus kembali lagi ke kost.
Tak lupa untuk dia yang memberiku semangat di pagi hari itu, terima kasih yaa... terima kasih buat rosario yang kau berikan, terima kasih buat tanda salib yang kau ukir di keningku pagi itu. Semua yang kau lakukan pagi itulah yang menenangkanku. Sepanjang ujian skripsi, segala pertanyaan terlontar, kugenggam erat-erat rosario pemberianmu. Ujian yang akhirnya berakhir dengan kita berdua di meja makan J. Thank’s berat buat semua itu haha.....
Sudah satu tahun berlalu, rosariomu masih menggantung rapi, pagi ini tersenyum lagi mengingat kejadian dulu itu. Sekarang aku masih menjadi mahasiswa dengan strata yang berbeda, thank’s God buat anugerahMu J. Terima kasih boleh melalui segala ujian, ujian studi maupun ujian kehidupan. Thank’s buat dia juga yang sudah entah berada dimana dan sedang apa, pasti dia baik-baik saja dengan pilihan hidupnya J. Cerah sekali pagi ini, mengukir lagi harapan baru, melanjutkan asa yang tertunda, meninggalkan segala kenangan yang meninggalkan luka, menghadapi kejutan-kejutan yang Tuhan sediakan.
#ngetik sambil ditemani keheningan dan secangkir white coffee panas serta hidung mampet karena flu berat J

Senin, 15 April 2013

Bunda, Aku kangen.....


Pagi ini terlalu sentimentil untukku... cerah dan birunya langit tak kuasa mengubah perasaanku. Ya, tadi malam seorang anak perempuan itu datang lagi, memelukku hangat dengan tubuh mungilnya dan menyebutku Bunda. Hai Alexa, setelah sekian lama kau tak datang, malam ini kau datang dengan senyum manismu dan berkata kangen. Banyak perubahan terjadi, rambutmu yang semakin panjang, tubuhmu yang meninggi, jemarimu yang semakin lentik, namun harum tubuhmu tak pernah berubah, seperti harum tubuhnya yang selalu bunda ingat dan rindukan.
Terima kasih untuk kunjunganmu nak, bunda juga selalu kangen. Kemarin bunda bertemu dengan anak perempuan, senyumnya mirip denganmu, matanya juga sama lebarnya dengan matamu, dia bahkan mencium bunda seakan-akan bunda ini bundanya. Bunda teringat padamu saat itu nak, teringat pertemuan terakhir kita di padang rumput yang sejuk itu. Kembalilah ke peraduanmu nak, bunda selalu baik-baik saja dan menyayangimu.

#Jaga adikmu baik-baik :)

Rabu, 10 April 2013

Radarku


Radarku tak lagi kuat
Kau seakan perlahan-lahan menjauh
Menjauh sampai terlalu jauh dari jangkauan radarku
Aku tak lagi mampu menangkap signal
Ya, terlebih signal darimu
Kau menjauh kemana?
Apa hati kita sudah terpisah amat jauh?
Namun aku masih merasa memilikimu
Cinta itu harus memiliki kan?
Itu kesepakatan kita dulu
Mungkin caramu dan caraku memiliki itu berbeda?
Ya, mungkin begitu....
Radarku perlahan mulai berkarat
Ibarat tower operator seluler yang menjulang,
Namun tak terpakai
Tower besi itu perlahan berkarat dan rapuh
Ya, itulah keadaanku sekarang
Rapuh......
Dan radarku nyaris tak lagi berfungsi....


Rabu, 27 Maret 2013

Happy Birthday Guys.....


(We came to this world with nothing, but to God we are something. He wants to share with us everything, because He love us more than anything)

Pagi-pagi ini aku pengen nyanyi kenceng-kenceng sambil nari-nari ditemenin suara jangkrik peliharaanku.

Happy birthday to you..... Happy birthday to you...
Happy birthday.... Happy birthday.... Happy birthday to you.... :) 

Hai jiliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.............................. My girl, Jily Gavrila Sompie..... Selamat ulang tahun sayang..... Twenty two years old!! Gila uda semakin tua hahaha....
Terima kasih buat 4,5 tahun kebersamaan kita, walau banyak cekcok dan ketidakcocokan, tapi waktu sudah menempa dan membuktikan bahwa kita tak terpisahkan #loh? Hahaha.....
Sukses buat studi masternya, gila! gak nyangka kita bisa bareng nyampe ke jenjang ini :)
Sukses juga buat relationshipnya, dengan tulus didoakan, semoga yang terbaik dan kehendakNya saja yang jadi.
Bertahun-tahun bersama, banyak perubahan yang terjadi, tambah dewasa tentunya, tambah cantik juga, lebih bijak pula.....
Tapi yang gak berubah adalah NGOMONG DULU NON BARU KETAWA!! Hahahha..... Dirimu itu dalam kondisi apapun masih sempat selalu ketawa dengan volume yang luar biasa.....kencengnya...
Terus berjuang sayang, perjalanan masih panjang, banyak yang harus dicapai, dan ingat “Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan dan tetap berpegang teguh pada pengharapan” ya.... Tuhan selalu berkati, itu pasti :)

Heloooo Damarrrrrrr...... aku panggil Paus aja (PA-ul-US) hohoho....
Haiii Paulus Damar Bayu Murti Selamat menempuh usia baru yaaa....
Twenty four years old, gilee uda tuirr yah hahaha..... uda nyaris seperempat abad tuh...
Sukses buat studi masternya....
Mari berjuang lirik-lirik ke negara sebelah hahahha.... Pengen mendaki gunung Fuji gak? Maka berjuanglah! Hahaha :)
Semoga mimpi-mimpi yang baik dan sesuai kehendak Allah segera terwujud. Wish you all the best!
Jangan lupa janjimu buat ngajarin aku berenang, pengen ke Raja Ampat nih, gak afdol kalo gak nyemplung hahaha.....
For the last (but not least), semoga kalian semua segera lulus, dapat jodoh yang tepat dan sepadan, sukses dalam karir di masa depan, punya anak yang lucu-lucu, selalu bahagia dalam kasih Tuhan :)


Tulis rencanamu dengan pensil. Tapi, berikan penghapusnya pada Tuhan. Ia akan menghapus rencana kita yang salah. Percayalah kepadaNya, Ia selalu beri yang terbaik bagi kita. Percaya juga Tuhan pasti bakal menuliskan hal yang terlupa atau kita abaikan namun baik bagi kita

Kamis, 21 Maret 2013

Ijinkan aku


Ramalanku benar kali ini
Dua hari sudah tak turun hujan
Langit begitu cerah dengan bintang yang bertaburan juga bulan sabit yang tersenyum
Malam ini aku meramal lagi
Langit sudah tak terlalu cerah, awan membumbung melingkupi langit malam ini
Yah, aku teringat, malam ini adalah malam terakhir bagi kita
Malam terakhir puncak kesabaranku untuk menunggumu
Malam ini aku merapal mantra untuk hatiku
Aku merapal mantra Harry Potter untuk hatiku “reparo....reparo....reparo
Berharap mantra itu dapat menyembuhkan hatiku
Ah akhirnya.....
Hatiku sudah sembuh rupanya, tak ada lagi rasa sakit itu, nyeri secuil pun tidak
Ku tengadahkan kepalaku melihat langit
Tiba-tiba awan yang tadi melingkupi langit sirna
Langit amat cerah malam ini
Aku tahu alam ini juga turut bersuka cita atasku
Aku sudah bebas sebebas-bebasnya
Aku menyatu lagi dengan alamku, tegar berdiri dan berlari
Ijinkan aku malam ini, sejenak mengenangmu
Hanya malam ini
Mengenang segala tentang kita
Karena malam ini terakhir bagi kita pinguinku
Mereka berdua yang berada di antara bintang-bintang itu juga tersenyum untukku
Mereka juga bergembira atasku
Mereka sudah tenang di sana, aku berjanji tidak akan berusaha menemui mereka dan kau lagi
Pagi sudah menjelang sayang, segera kututup buku kenangan kita dan mereka
Kututup dan kukubur selamanya
Biar semua tak lagi menghantui
Pagi ini cerah sekali menyambutku
Aku juga menyambut hari indahku
Aku lahir baru


Senin, 18 Maret 2013

Andai mereka tahu….


Malam ini aku merenungkan banyak hal, tidak tidur karenanya.. Memang benar yang orang katakan, kasih ibu akan selalu melimpah bagi anaknya, mulai dari dalam kandungan hingga anaknya dewasa dan kembali pada Sang empunya kehidupan. Cinta kasihnya begitu murni, hingga sulit untuk dirasionalkan. Cinta kasihnya tulus, tanpa alasan.
Satu lagi yang disebut cinta (mungkin), cinta pada pasangan. Masa ini aku melihat, ada seorang perempuan yang tegar (kelihatannya) namun ternyata menyimpan segudang masalah di benaknya. Tak seorang pun dibiarkannya tahu apa yang sedang digumulkannya, dia hanya berprinsip “cukup aku yang tahu dan mengalaminya”. Sekian lama ia tidak peduli dengan lawan jenisnya, dia selalu merasa bahwa dia mampu, padahal banyak yang bilang dia kesepian, namun dia tak peduli.
Hidup perempuan ini “terlihat” baik-baik saja memang, yah tapi semua orang punya cerita (kata kawanku). Aku diijinkan melihat seluruh kehidupannya dan dia berkata, “biar jangan ada lagi yang sepertiku”. Dia terlahir atas perjuangan ibunya (ya, hanya ibunya sendiri), banyak yang tidak mengharapkan kelahirannya. Perjuangan ibunya sendiri selama 14 semester. Tanpa banyak yang tahu bahwa ayahnya sendiri awalnya tak menginginkannya. Apa hendak dikata, dia terlahir ke dunia, tanpa didampingi ayahnya, bahkan ayahnya pergi bersama wanita lain yang lebih dulu dinikahinya tanpa ibunya ketahui. Sang ayah kembali dan menjalani kehidupan seperti biasa, siapa duga sang ayah perlahan-lahan mulai menyayangi anaknya dan menutupi kenyataan untuk melindunginya (mungkin).
Sang anak menjalani kehidupannya dengan baik, selalu meraih prestasi di sekolahnya, bahkan saat tingkat menengah pertama, dia berada di puncak prestasinya sampai ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan membahagiakan keluarga yang telah menyayanginya dengan prestasi-prestasinya. Lomba-lomba debat, cerdas-cermat, sepak terjangnya di OSIS sungguh mencengangkan, hingga akhirnya nilai UANnya mendapat juara umum. Dia bahagia sekali melihat orangtuanya memperoleh piagam penghargaan atas prestasinya. Ya… ia bahagia sekali hari itu, senyum selalu terlontar dari bibirnya, teman-temannya menjulukinya si wajah senyum karena memang dia selalu tertawa renyah, menghibur kawan-kawannya.
Malam itu, ya dia pulang malam setelah bermain dengan kawan-kawannya karena siangnya baru saja mendapat kabar ia diterima di salah satu sekolah menengah umum favorit di kotanya. Apa yang ia dapati di rumah? Rumahnya, istananya, berantakan, beberapa barang pecah, ia melihat ayahnya duduk dengan wajah kaku di kursi meja makan, ia bertanya namun ayahnya diam saja. Ia berlari ke kamar ibunya, ia mendapati ibunya menangis sambil mengepak barang-barang, kembali ia bertanya, namun ibunya hanya bilang, cepat bereskan barang-barangmu! Ia terlonjak kaget dan mundur, berlari ke kamarnya dan yang ia dapati adalah boneka-boneka kesayangannya sudah digeletakkan di lantai, lemarinya terbuka, ia bingung, benar-benar bingung, ada apa ini?
Ia menangis tanpa tahu apa sebabnya, mengurung diri di kamarnya seharian, hingga ibunya menggedor pintunya dengan keras namun ia tak peduli, akhirnya sang ayah, orang yang amat disayanginya karena tidak pernah memukulnya bahkan selalu memeluknya penuh kasih mengetuk dengan halus dan memintanya keluar. Ia akhirnya keluar, memeluk ayahnya dan kembali bertanya, “kenapa”. Sang ayah melepas pelukannya, menyusun kembali boneka-bonekanya dalam diam, merapikan kamar putrinya dalam diam. Sang ibu menarik tangannya dan menceritakan hal yang telah disembunyikan ayahnya selama bertahun-tahun. Anak perempuan itu terdiam, air matanya mengalir, ia tak percaya apa yang baru saja didengar. Orang yang paling disayanginya, tanpa ia tahu ternyata membohonginya bertahun-tahun, berhari-hari ia tak bicara, diam seperti mayat berjalan, duduk dengan tatapan kosong. Ya, ternyata sang ayah sudah menikah sebelum dengan ibunya. Ibunya dijadikan istri kedua. Dengan istri sebelumnya , sang ayah sudah memiliki lima anak, hal inilah yang menyebabkan kelahirannya dulu tak diinginkan.
Kegoncangan mentalnya menggugah orang tuanya untuk rujuk, membantunya untuk bangkit, namun memang sulit. Kehidupannya sungguh berbalik, ia yang juara umum nilai UAN, untuk naik tingkat saja hampir tak sampai, dia yang dulu ceria, kini berubah menjadi pendiam dan pemurung. Untunglah dia memiliki sepupu yang selalu menopangnya, perlahan ia bangkit, mulai kembali aktif dalam setiap kegiatan ekskul sekolahnya, ia mendapatkan lagi kawan-kawannya namun luka itu tetap membekas, tak pernah pulih seperti dulu lagi keceriaannya. Tetap saja dalam satu waktu sepupunya menemukannya sedang melamun.
Ia terus menjalani hidupnya, hingga tak didengarnya lagi kabar dari sepupunya. Ia mencari dan terus mencari namun tak satupun menjawabnya. Ia masih ingat janji sepupunya untuk mengunjunginya pada lebaran saat itu, namun sepupunya tak kunjung muncul, ia kembali kecewa, orang yang disayanginya tak menepati janjinya, meninggalkannya. Ia mengurung diri lagi di kamarnya. Sang ayah mengetuk pintu kamarnya, masuk dan duduk di samping putrinya yang meringkuk di sudut kamar. Sang ayah akhirnya bercerita bahwa sepupu yang disayanginya itu telah meninggalkannya selamanya. Ya, sang sepupu itu telah pulang ke rumah Bapa, karena…. bunuh diri. Ya, “bunuh diri”. Itulah yang ia dengar dari keluarganya. Dari media surat kabar dia mendapat berita bahwa sepupu kesayangannya bunuh diri karena ditinggal oleh pacarnya. Pacar?? Ia tahu bahwa saat itu sepupunya tak punya pacar. Jadi apa sebenarnya penyebabnya? Ya, sampai detik ini, bertahun-tahun, ia sama sekali tak tahu kebenarannya. Kebenaran tak pernah berpihak padanya, selalu bersembunyi darinya, hingga ia tidak tahu bagaimana wujud kebenaran itu. Ia ingin mengejar kebenarannya, namun tak tahu harus bertanya pada siapa. Bertanya pada sepupunya langsung mungkin? Perempuan ini memacu motornya sekencang mungkin, berharap dia dapat menemukan di mana kebenaran yang ia cari. Sapa sangka, ia membawa motornya dalam lamunan, ya lamunan yang menghantarnya ke IGD sebuah rumah sakit karena kecelakaan dan harus rela menghampiri ICU selama 1 minggu. Cedera tulang belakang membuatnya tidak dapat berjalan selama dua minggu, bahkan sempat koma dua hari. Hal yang paling diingatnya ketika sadar adalah wajah ibunya dalam tangisan, sakit lagi yang ia rasakan, bukan fisiknya tapi hatinya. Berkali-kali hatinya terus menerus tersakiti, mungkin benar pepatah bilang, “hati adalah bagian tubuh yang terkuat namun juga paling lembut, makanya ia tetap mampu bertahan walau berkali-kali disakiti, lembut karena sebenarnya ia paling sensitif”.
Kali ini ia tak sendiri, ia memiliki sahabat, sahabat sejak sekolah dasar, bermusuhan dua tahun karena keegoisannya (lucu memang), dan kembali bersahabat. Sahabatnya selalu mendengarkannya, saling mendengarkan. Tiap hari sahabatnya selalu menjemputnya, mengajaknya melihat sisi lain pergaulan. Ya sahabatnya seorang wanita perokok, tukang minum minuman keras, pemakai narkotik juga, namun sahabatnya menyayanginya. Sekalipun sahabatnya begitu, ia selalu menjaga sahabatnya. Tak sekalipun diperbolehkannya sahabatnya untuk mencoba barang-barang itu, ya ia begitu melindunginya. Sahabatnya berkata, “ini supaya kamu tahu dan tak terjebak di dalamnya”. Dengan polosnya perempuan itu mengangguk dan sejak saat itu tak pernah lepas dari sahabatnya, ia tergantung dengan sahabatnya, kemana-mana selalu bersama sahabatnya, hingga mereka dijuluki pasangan homoseksual. Tapi mereka tak pernah peduli, karena mereka pikir cuma mereka yang tahu seperti apa mereka.
Pagi ini hasil kelulusan diumumkan, dua sahabat tadi sama-sama lulus, mereka bergembira bersama. Perempuan ini ingin melanjutkan studinya, menggapai cita-citanya, mengikuti test perguruan tinggi. Ayahnya ingin putrinya tidak jauh darinya. Hingga hasil test perguruan tinggi itu diumumkan, ya perempuan ini diterima di fakultas kedokteran salah satu universitas swasta di Ibukota. Ya, cita-citanya memang dokter. Namun masa lalu menghantuinya, Ibukota? Bukankah itu kota tempat istri pertama ayahnya tinggal bersama kelima anak-anaknya? Langsung ia merobek surat dari perguruan tinggi itu. Ayahnya sungguh marah dan tak mengijinkannya kuliah keluar dari kota tempat lahirnya. Perempuan ini tak habis akal, ia mendaftar di salah satu perguruan tinggi di kota yang asri (pikirnya saat itu), jauh dari hiruk pikuk. Ia menguras tabungannya, membayar registrasi dan mengurus semuanya sendiri. Ya untung sang ibu selalu mengajarkannya mandiri.
Ayahnya kewalahan, ibunya pun sudah putus asa untuk membujuknya, ya keinginannya sudah bulat untuk keluar dari rumah itu. Ia ingin bernafas lega sejenak dari kebelitannya selama ini. Kekerasan hati dan keras kepalanya mengalahkan orangtuanya, ya mereka mengijinkan putrinya untuk pergi. Perempuan ini lega sekaligus takut. Lega karena ia boleh bebas namun ia akan menginjak tempat yang benar-benar baru, tanpa seorang pun tempat ia dapat bergantung. Bermodalkan kenekatan lah ia berangkat dan memulai hidup barunya. Berusaha keras untuk mendapat pengakuan, bekerja keras hingga mendapat kepercayaan.
Hidupnya selalu dipenuhi dengan kegiatan. Perkuliahan, organisasi ekstra maupun intra kampusnya. Ia tak membiarkan waktunya terbuang percuma dengan menganggur. Tanpa pernah dipikirkannya masalah tetek bengek pacaran seperti yang kawan-kawannya lakukan, karena yang ia lihat adalah kawan-kawannya kebanyakan ditinggalkan. Ya, ia terlalu takut untuk ditinggalkan, ia sudah tahu rasanya dan tak ingin mengulanginya lagi. Ia pernah menyukai orang, 2,5 tahun lamanya, tapi ia tak pernah bergeming, karena ia tidak ingin terluka lagi. Jadilah ia, hanya memfokuskan hidupnya untuk berkuliah karena ia bersumpah akan menyelesaikan studinya TEPAT WAKTU, ia ingin membuktikan pada saudara-saudara tirinya yang tidak becus kuliah itu bahwa ia lah yang layak dan terbaik dari anak-anak ayahnya. Ia fokus juga pada organisasinya karena ia sadar harus membangun relasinya, bersosialisasi. Akhirnya ia dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, ia amat bangga, bangga pada dirinya sendiri, ia berhasil membuktikan.
Semua hal memang diijinkan terjadi, kekerasan hatinya dapat juga luluh ternyata. Ada saja pria yang mendekatinya, mungkin memperhatikannya. Yah, itulah kelemahannya, selama ini ia tidak pernah merasa diperhatikan, namun kali ini…..
Ia memaksa menepis segala egonya, menekan akal sehatnya untuk menyayangi pria itu. Dari waktu ke waktu, proses itu berjalan, ia mulai terus menyayangi pria itu, terus dan terus tumbuh. Ia rela memberikan segalanya saat ia tau bahwa pria itu butuh. Terasa indah memang saat itu.
Siapa yang dapat menyangka, suatu saat pria itu berkata, “hatiku bukan lagi milikku”. Perempuan ini terdiam, merenung berhari-hari, bingung, bayangan masa lalunya akan ditinggalkan muncul lagi. Walau berkali-kali pria itu berkata tidak akan meninggalkannya, namun ia takut, sangat takut. Ia ingin berusaha membenci pria itu, siapa tahu dapat meringankan perasaannya, namun ternyata ia tidak bisa, ya ia terlalu sayang pada pria itu.
Siapa sangka, suatu hari perempuan ini mendapati dirinya mengandung. Ia bingung, bingung sekali, tak tahu harus berbuat apa. Ia melihat si pria sedang sakit, ia tak tega menambah beban pikirannya. Ia memilih bungkam, dan menanggung semuanya sendiri. Benarlah teori yang berkata bahwa perempuan yang sedang mengandung tidak akan dapat berpikir secara optimal karena ia sudah mulai berbagi nutrisi dengan anak yang dikandungnya. Ia bertindak di luar akal sehat, menutupi kebenaran atau apalah itu namanya.
Namun ia tak dapat menutupinya dengan baik memang, si pria itu tahu dan menangis bersamanya, mengatakan ketidaksiapannya, hingga diputuskan untuk menggugurkan anak yang dikandung. Malam itu adalah malam terberat yang dilaluinya, mendapati kenyataan bahwa si pria tak sanggup lagi bila ia mengubah keputusannya. Ia merasa kacau, bingung, dan terlebih takut untuk berbicara lagi dengan pria itu.
            Perempuan itu memilih untuk pergi sejenak melepas kepenatan pikirannya, bertemu kawan-kawannya dan menyusun rencana pengguguran itu. Dalam perjalanan itu ia termenung, ia mencoba mengenyahkan pikirannya dengan menonton film, pas sekali, film itu bercerita mengenai, perjuangan seorang calon ibu yang mempertahankan anaknya walau anak itu sudah mengancam jiwanya. Selama menonton, ia tak henti mengeluarkan air matanya, padahal sudah berkali-kali ia menonton film itu dan tak pernah sekalipun ia menangis sebelumnya. Ia mengelus perutnya dan mencoba untuk mempertahankan kandungannya. Alasannya mempertahankan? Mungkinkah sudah muncul rasa cinta kasih itu, tumbuh seiring berkembangnya janin itu? Mungkin…..
            Kadang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan kan, sapa duga malam itu si perempuan mengalami pendarahan yang menyebabkan ia harus dirujuk ke rumah sakit dan kenyataan yang ia dapat adalah ia keguguran. Ia terdiam lagi, kembali lagi ia ditinggalkan, ditinggalkan anaknya sendiri.
Apa memang ini takdirnya? Takdir untuk selalu ditinggalkan… atau ia masih percaya takdir? Entahlah,.. aku rasa perempuan inipun sampai detik ini tak tahu jawabnya.