Sabtu, 10 Agustus 2013

Setiap Perjalanan Pasti Punya Cerita (2) – Kali Pancur

Berawal dari persiapan untuk mendaki Gunung Andong tanggal 2-3 Agustus 2012, maka saya bersama teman-teman (kak Dika, kak Ventry, Damar dan James) melakukan pemanasan terlebih dahulu. Kali Pancur dipilih karena selain memiliki Air Terjun yang indah, rutenya pun cukup menguras energi dan undakan tangga-tangganya cukup membuat kaki “gempor” haha…
ini kami :) 
30 Juli 2013 pukul 06.30 WIB, meeting point kami di perempatan Pasar Jetis, menumpang minibus ke arah Pasar Sapi, kemudian dilanjutkan dengan minibus lagi ke arah Salaran. Tiba di Salaran, kami mulai berjalan kaki ke arah Air Terjun Kali Pancur. Perjalanan ke arah air terjun Kali Pancur, kami isi dengan bercerita sambil bercanda tawa. Di tengah perjalanan kami melihat ada 2 ekor angsa jantan, 1 ekor angsa betina dengan 2 ekor anak angsa. Si angsa jantan terlihat sangat protektif, mereka melindungi angsa betina dan anak-anaknya, maka ketika kami lewat, mereka memberikan sinyal supaya kami tidak mengganggu mereka. Si angsa jantan menurunkan lehernya dan menyurukkan paruhnya ke arah kami. Saya yang memiliki trauma dengan angsa, memilih menyeberang jalan untuk menjauhi angsa, beberapa teman mengikuti langkah saya menyeberang, namun teman kami si Damar, malah menyurukkan tangannya ke arah angsa sehingga angsa jantan tersebut mulai menyerang kami, Damar malah lari meninggalkan kami, saya sendiri memilih menaiki undakan di pinggir jalan memanjat beranda rumah warga yang tinggi diikuti kak Ventry dan kak Dika, James lah yang akhirnya melindungi kami satu persatu untuk berlari dari tempat itu. Tak dinyana, keributan kami dengan angsa tersebut malah menarik perhatian warga sekitar sehingga kami menjadi tontonan warga (kalau tidak mau disebut hiburan bagi warga). Kami ditertawakan oleh warga desa setempat, agak memalukan siy L.
Perjalanan dilanjutkan, memasuki undakan menurun awal, terlihat Rawa Pening di kejauhan dan puncak air terjun, teman-teman yang baru pertama kali ke sana, melonjak-lonjak kegirangan dan semua berkata ingin segera sampai di bawah. Kami mulai menuruni undakan tangga-tangga dan akhirnya sampai juga di bawah. Jujur, saya cukup kaget, air terjunnya berwarna kehijauan dan mengeluarkan bau busuk seperti kotoran ternak. Saya piker air ini tercemari kotoran ternak yang di areal puncak air terjun ini terdapat peternakan babi >.<.
Airnya menghijau
Kecewa, itu gambaran perasaan saya saat itu. Kali Pancur yang merupakan objek wisata malah tercemar airnya oleh kotoran ternak yang membuatnya sama sekali tidak menarik kalau tidak mau dibilang menjijikkan. Kesadaran warga untuk mengolah dan membuang limbah bagi saya sangat minim. Yah, saya tidak berminat membahas ini terlalu detail. Kami segera naik, tentu beberapa teman dengan susah payah naiknya secara undakan tangganya sesuatu banget banyaknya.

Tiba di atas, saya mencari warga yang memberikan kami tiket masuk tadi, namun tidak saya temukan. Padahal saya ingin menanyakan serta mengajukan protes, mengapa kawasan wisata ini menjadi tidak terkontrol begini. Akhirnya terus berjalan pulang, sambil tetap waspada di tempat bertemu angsa tadi, hingga sampai di pertigaan salaran, kami menunggu minibus yang akan mengantar kami sampai di Salatiga. Lelah dan kecewa itu yang saya rasakan, saya berencana untuk menelusuri peternakan yang terdapat di areal atas puncak air terjun tersebut, siapa yang mau ikut silakan saja J.
Buat kak Dika, ayo terus berjalan, pusing dan mual itu hal yang biasa hahaha….. Damar, James dan kak Ventry, masih sudi menemaniku berjalan kan? Hehe…. Nikmati saja matahari terik yang membakar kulit, keringat yang membasahi tubuh, nafas yang tersengal serta kaki yang pegal sesudah berjalan. Thanks buat semua, you’re rock guys J.



#Thanks to Jesus Christ (buat segala pertolonganMu), Damar (lain kali harus lebih peduli pada teman-teman yang lain), James (asah terus kepedulianmu bro wakakkakak), Kak Dika (ayo terus berjalan, jangan terlalu ngandelin ayang Toto lagi kalo cuman ke kampus doank), dan kak Ventry (mari sama-sama terus berjalan dan mendengarkan keluhan teman-teman yang lain sepanjang perjalanan hahahaha J)

Jumat, 09 Agustus 2013

Kita Pernah Bersama

Hai kau yang berada di surga sana, bagaimana kabarmu? Pasti berbahagia ya, karena kau sudah berada di keabadian, ya keabadian, satu hal yang tidak ada di dunia ini. Kemarin aku menyusuri kota Jakarta lho, tempat kenangan kita. Masih ingat kegilaan kita di Bundaran HI? Atau kekaguman pada menara Monas? Aku juga menyusuri kota tua Jakarta lho, tempat yang selalu kita bicarakan untuk dikunjungi, namun belum kesampaian kita berdua kunjungi hingga akhir hayatmu. Masih ingat sajian kerak telor yang kita nikmati berdua di pinggiran pagar luar Monas? Aku kemarin makan siang dengan kerak telor lho di Kota tua Jakarta. Waktu itu aku teringat dirimu, apa di surga sana ada kerak telor juga ya?
Penjual kerak telor di Kota Tua Jakarta
Adik perempuanmu selalu memintaku untuk berkunjung ke rumahmu, namun aku belum bisa. Aku belum mampu menatap frame wajahmu tergantung di dinding dengan kalungan bunga. Aku juga belum mampu bertemu buah kasihmu, aku tak ingin melihat air matanya, aku pasti belum mampu. Kemarin aku juga melalui kawasan Menteng, daerah rumahmu, namun kakiku belum mau dan mampu beranjak menuju rumahmu, maaf ya, aku minta waktu sebentar saja untuk menata perasaanku.
Bolehkah hari ini aku mengenangmu? Mengenang 3 tahun kebersamaan kita. Relasi kita selama 3 tahun itu sungguh bermakna untukku, sekaligus memberikan pelajaran yang amat berharga. Aku bangga dapat membawamu keluar dari lembah kecanduan narkotik, tentu juga dengan usaha dan keinginanmu. Aku bangga dapat menemanimu selama 3 tahun itu, melalui suka dan duka bersama, disakiti dan tersakiti, membahagiakan dan dibahagiakan, terima kasih untuk setiap surprise yang selalu kau suguhkan, kau memang paling tahu kalau aku suka kejutan J. Berpisah setelah 3 tahun kebersamaan kita itu sulit untukku, hingga aku memutuskan untuk menenangkan diri ke kota kecil di kaki Gunung yang sejuk, hanya untuk menghindarimu. Empat tahun waktu yang harus kuhabiskan untuk bangkit dari kesakitanku. Aku menyayangi buah kasihmu, ya karena dia adalah bagian dari dirimu. Setiap kutatap wajahnya, selalu mengingatkanku padamu, wajah kalian mirip sekali, dia memiliki matamu, rona matanya persis seperti kepunyaanmu.
Memang tidak ada yang tak mungkin dan memang tidak ada yang pernah tahu akan masa depan, karena itu adalah rahasiaNya. Siapa duga 3 bulan yang lalu kita kembali bersama, setelah hampir 5 tahun kita berpisah. Setelah 2 tahun kau merongrongku, setelah perpisahanmu dengan dia, setelah penolakanku yang bertubi-tubi, kita akhirnya dapat bersama lagi. Kau tau alasanku kembali? Aku mengasihimu dan terharu dengan tulisan di wall facebook itu. Aku masih ingat dengan jelas yang kau tulis itu, “Hai Aling, aku tahu mungkin kita tak dapat bersama lagi, cuma aku pengen bilang bahwa aku selalu ada untukmu, apapun keadaanmu aku selalu ada untukmu, sedih ataupun senang aku ingin selalu ada untukmu. Aku ingin menjadi kakak sekaligus sahabatmu”. Aku tak mampu membalas tulisan itu, aku termenung panjang setelah membacanya, ya kaulah yang mengerti aku. Inginku sederhana saja, seseorang yang selalu ada untukku, tak perlu fisik, namun selalu ada dalam bentuk apapun, memperdulikanku dengan caramu, itu yang aku perlu.
Handphoneku bordering malam itu, dari nomor yang tak kukenal, ternyata itu kamu, menelponku jauh dari negara tetangga, Singapura. Kalimatmu amat sederhana memintaku kembali, “Aku duda beranak satu, sangat tak sempurna sekarang, namun aku yakin kalo bersamamu hidupku akan disempurnakan, maukah kau terlibat dalam penyempurnaan itu?”. Terdiam dan akhirnya tertawa, itu responku yang sontak terjadi. Aku hanya menyebutmu lebay dan alay sambil bercanda berkata, “yo oloh elo itu dari kasta brahmana, lha gue? Gue dari kasta sudra bos, ntar raden kian santang bakal ngeluarkan ilmu-ilmu gaibnya mengirimkan air untuk memadamkan api cinta kita, trus ada angling darma dengan naganya menyemburkan api untuk menewaskan kita berdua hahahaa…..”, namun tak sekalipun kau balas dengan tertawa, membuatku sadar bahwa kau berbicara serius. Aku terdiam sesaat dan akhirnya berkata, “eh loe marah ya? Kok diem aja gue ajak bercandaan?” kau akhirnya menjawab, “sebelum raden kian santang mengirimkan air dengan ilmu gaibnya untuk memadamkan cinta kita, gue bakal siapin bensin banyak-banyak, walau di Indonesia BBM mahal, gue kan dari kasta brahmana yang kaya raya jadi bisa dengan mudah beli bensin, trus ketika angling darma datang dengan naganya menyemburkan api, gue bakal lebih dulu nyiapin truk pemadam kebakaran dengan tangki yang penuh dengan air untuk melawan semburan api naga itu, apalagi yang kurang untuk gue persiapkan?”. Terdiam, hanya itu yang kulakukan, sehingga kaupun berkata, “eh loe masih idup kan? Jadi gimana? Apa lagi yang kurang? Gue cuma butuh lu ada buat gue dalam bentuk apapun itu terserah loe, gue gak peduli masa lalu loe, karena masa lalu gue juga ancur, tapi masa depan itu masih suci dan kita berhak menyongsongnya”. Oke, memang dasar wanita, cuma bisa terbang ke langit ke tujuh sambil berasa ada ribuan kupu-kupu menari di perut trus menggelitiki hati hahahha…. Dan akhirnya menjawab, “oke, kita jalani dulu saja ya”. Pembicaraan malam itu diakhiri dengan kesepakatan pertemuan pada pertengahan Agustus di kota tua Jakarta.
31 Juli 2013 pukul 03.07 WIB, handphoneku kembali berdering, nomer handphone yang tak asing, nomer handphone adik perempuanmu, mengabarkan kecelakaan yang kau alami di negeri Singa. Sesaat aku menyesali diri, menyangka kecelakaan itu, akulah penyebabnya, pertengkaran kita tadi malam itu penyebabnya, mencoba mengendalikan diri dan meminta untuk memastikan kabar itu. Satu setengah jam kemudian, muncul kabar kepastian bahwa kau sudah ada di Surga, terpukul? Itu yang kurasakan, juga sakit dan air mata yang tak tertahan lagi mengucur deras. Mencoba berpikir jernih dan menerima keadaan. Kuputuskan untuk packing sebentar dan mendaki gunung Telomoyo itu pagi-pagi, menangis sepuasnya di puncak, menikmati kesendirianku mengenangmu, mencoba menerima segala keadaan dan kembali turun dengan keadaan yang lebih baik.
Tidak ada kata lain lagi yang mampu terucap selain maaf dan terima kasih. Terima kasih untuk kebersamaan kita, terima kasih karena kau selalu ada untukku dengan caramu. Maaf aku belum mampu bertemu dengan mereka bahkan dengan buah kasihmu, maaf ya… berbahagialah di keabadian, kelak pasti dapat bertemu, berbahagialah Endy J.

#Janji kita bertemu di kota tua Jakarta mungkin sudah terlaksana, mungkin kau ada di sana ketika aku berkunjung kemarin, kau juga lihat atraksi anak-anak di depan museum itu kan J
By. Rachel Fitria

Pukul 13.07 WIB di Taman Cimanggu, Bogor

Rabu, 07 Agustus 2013

Setiap Perjalanan Pasti Punya Cerita (3) – Gunung Andong

Setiap tahun, saya selalu mengagihkan waktu traveling pada bulan Juli-Agustus, entah traveling antar kota antar provinsi atau mendaki gunung dan menyusuri pantai. Tahun 2013 ini mungkin merupakan tahun “berat” yang harus dilalui, mulai dari permasalahan studi, hati, keluarga, pertemanan, semuanya tumplek blek pada tahun ini. Namun selalu bersyukur bahwa saya punya Allah yang luar biasa, Dia selalu menopang saya dan membantu saya bangkit dari segala keterpurukan. Oke, back to the point, tahun ini saya mengagihkan tema traveling saya kali ini yaitu “ketinggian”, pikiran saya mengawang ingin melihat sunrise dan sunset dari ketinggian, menghirup udara segar pegunungan, merasakan dinginnya hawa malam gunung, menatap kabut dan menggapai puncak yang tinggi.
Untuk mempersiapkan perjalanan kali ini, saya memilih untuk melatih fisik saya terlebih dahulu, jogging, pemanasan bolak balik lereng gunung, dan memperbanyak jalan kaki. Para sahabat yang ingin join, juga saya beritahu untuk melakukan persiapan fisik terlebih dahulu karena hampir semuanya tidak pernah mendaki gunung. Pilihan mendaki kali ini jatuh pada gunung Andong, cukup relevan bagi pemula. Gunung Andong memiliki ketinggian 1736 mdpl dan saya rasa cukup pantas bagi kami yang semuanya pemula. Persiapan dilakukan, mulai dari peralatan dan logistik. Perjalanan kali ini saya akan ditemani oleh para kakak saya yaitu kak Dika, kak Ventry, kak Ulhin, kak Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing peliharaan kak Ian).
2 Agustus 2013 pukul 15.30 WIB, meeting point kami di belakang kampus UKSW. Menumpang minibus menuju Pasar Sapi. Dari Pasar Sapi, kami menumpang minibus lagi untuk menuju Pasar Ngablak. Sedikit kejadian di Pasar Sapi cukup membuat mood saya agak jelek, berawal dari kami yang berjumlah 9 orang dengan masing-masing membawa tas besar dan seekor anjing, kernet mengarahkan kami pada minibus kosong, namun setelah kami sudah duduk santai dan menata tas dalam minibus, tiba-tiba kernet itu meminta kami untuk pindah, sontak saya merasa kesal karena barang bawaan kami yang banyak jadi cukup merepotkan bila harus berpindah-pindah, terjadi perdebatan antara kak Sammy dan kernet, maka kami memutuskan untuk pindah ke minibus yang lain. Pukul 16.50 WIB, kami telah tiba di Pasar Ngablak (walau saya hampir saja tidak menyadari kalo sudah tiba karena saya sedang melamun sambil makan coklat dan duduk paling belakang).
Dari pasar Ngablak, kami berjalan kaki menuju Dusun Sawit, Desa Girirejo karena dusun ini terletak persis di kaki Gunung Andong. Dari pasar sebenarnya ada ojek untuk menuju dusun tersebut, namun karena niat kami memang ingin berjalan kaki, maka kami terus berjalan menyapa aspal sambil menikmati pemandangan di kiri-kanan jalan yang banyak terdapat tempat pembibitan juga kebun sayur.
Di kebun warga di kaki Gunung Andong, kami sempat terpisah karena saya bersama kak Dika, James, kak Ulhin dan jily berjalan duluan, di pertigaan menuju pintu jalan masuk Gunung Andong, kami memilih jalan yang membelok ke kanan. Sedangkan kak Sammy, kak Ian, Damar dan kak Ventry serta si pupi mengambil jalan belok ke kiri. 15 menit saya menunggu namun mereka masih tak terlihat, feeling saya mengatakan mereka tersesat dan saya berlari kembali ke pertigaan, bersyukur masih ada signal dan terus mencoba menghubungi mereka untuk berjalan balik. Setelah bertemu, mereka mengatakan tidak melihat ada jalan berbelok ke kanan bahkan tidak menyadari kalo itu merupakan jalan pertigaan, oke fain! Kami kemudian mulai melewati kebun-kebun warga, lalu mulai mendaki (awalnya nyasar >.<). Jalur yang dilalui cukup nyaman karena tidak terlalu curam dan sudah ada undak-undaknya. Kami terus mendaki sambil sesekali beristirahat dan saya akui sepanjang perjalanan ini kami cukup ribut. Rute awal kami melalui pepohonan pinus yang cukup teduh. Nyasar di areal pinus terjadi, mulai dari saya yang melihat bayangan putih di bawah pohon besar, SB yang jatuh ke arah jurang, hingga akhirnya bertemu dengan sepasang pendaki yang “menyelamatkan” kami haha…. Dalam tengah perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa orang tua yang juga mendaki tanpa senter dan menuju ke puncak pertama yang notabene terdapat kuburan di sana.
Akhirnya sampai juga di Puncak Gunung Andong, saya mulai mendirikan tenda dan memasak air. Kawan-kawan yang lain sudah mulai kedinginan memilih untuk masuk ke dalam tenda. Saya dan kak Ventry serta kak Sammy berinisiatif untuk memasak bagi semuanya, porsi untuk 9 orang plus si pupi. Apa daya, semuanya memilih untuk tidur, akhirnya daripada mubajir, kami bertiga memilih menghabiskan makanan dengan porsi 9 orang tadi haha…. Kami bertiga memilih untuk tidak tidur karena 6 orang lainnya mendominasi tenda, SB maupun selimut. Sambil menunggu matahari terbit kami bercerita mengenai pengalaman perjalanan mendaki tadi serta pengalaman bila masuk hutan di Papua, Ambon maupun Kalimantan, dan kearifan lokal daerah masing-masing. Bersamaan dengan itu, beberapa orang tua yang dari kuburan di puncak pertama tadi mengadakan tirakat di puncak tertinggi Andong, yah saat mereka bertirakat, suasana jadi agak-agak menyeramkan, selain mereka berteriak-teriak histeris, mereka bergelap-gelapan ria. Ah tapi begitulah indahnya kearifan lokal.
            Tidak lupa sepasang pendaki yang juga membangun tenda di sebelah kami, cukup banyak kami bercerita mengenai tirakat-tirakat yang warga sekitar lakukan di Gunung Andong ini. Mereka sendiri memang sering mendaki bila weekend karena mereka menjalani Long Distance Relationship getoo, jadi malmingnya di gunung. Aduh jadi mupeng, pengen juga pacaran di gunung hahahahha…..
            Matahari mulai terbit, kawan-kawan sudah bangun untuk menunggu, para magifo (mahasiswa gila foto) mulai menjalankan aksinya, berfoto-foto ria. Ah indahnya matahari terbit, menggambarkan harapan baru, janji dan pertolonganNya yang tak pernah terlambat. Thanks God boleh melihat ciptaanMu yang begitu luar biasa. Pukul 07.30 WIB, saya mulai membereskan barang-barang untuk turun, yang cewek membereskan peralatan memasak dan peralatan tidur serta tas-tas kecil.

            Kami mulai menyusuri jalan untuk untuk turun dan pada beberapa titik ada jalan yang langsung menghadap jurang, kak Ventry yang agak fobia pada ketinggian tentu memilih melipir menjauhi jurang, dan tasnya dibawa oleh seorang teman, yah toleransi. Pada saat-saat naik gununglah, saya melihat sejauh mana toleransi masing-masing pribadi haha…. Tiba di desa, kami memilih untuk menggunakan jasa ojek karena teman-teman yang lain sudah sangat kelelahan. Tiba di Pasar Ngablak, kami sarapan dan menaiki minibus untuk kembali ke Salatiga. Perjalanan yang cukup melelahkan karena saya juga ikut tertidur dalam perjalanan.
Perjalanan yang bermakna bagi saya, ketika ada orang-orang yang meremehkan sahabatmu dan mengatakan ia tak mampu, tugasmu lah yang berusaha memampukan dia, ketika sahabatmu memiliki keinginan untuk mematahkan persepsi orang yang meremehkan dia, tugasmu lah yang memberikan dia semangat dan harapan. Tidak ada kesombongan apalagi mementingkan diri sendiri dalam perjalanan ini, toleransi dan kebersamaan lah yang ingin saya dapatkan dalam perjalanan ini dan itu boleh tercapai. Terima kasih buat kak Dika, semangatmu luar biasa kak, orang-orang yang bilang kau tak mampu adalah orang yang berpemikiran sempit dan tidak tahu siapa dirimu, buat kak Ventry, ayo fobia ketinggiannya harus di challenge! Haha….. harus sering-sering dolan di ketinggian thuuu, buat kak Ulhin, ayo kita bikin body sexy wakakkakakakakk….. buat Jily, jadi inget waktu kita di Merbabu gak sih? Yang pake acara nyasar di kebun orang plus ada acara kabut pula, ternyata lama banget kita udah gak mendaki gunung bareng. Buat kak Ian, widih baru kali ini kak akuh naik gunung bareng anjing, jadi seru-seruan ama pupi di jalan, semangat terus kak, kata kak Sammy mari kita ke Gedong Songo dan Telomoyo. Buat kak Sammy, terima kasih yak kak buat bantuan membawa segala tetek bengek perlengkapan naek gunung dan kesabarannya serta bantuannya dalam membangun dan beres-beres tenda, bakal ribet deh kalau gak ada kakak haha… buat James, terima kasih buat setiap toleransimu ya bro, peduli terhadap sesama dan perhatianmu buat semua terutama kak Dika, dan thanks untuk selalu mengingatkanku untuk tidak terlalu cepat berjalan hehe… buat Damar, jangan pernah meremehkan sesuatu, akhirnya kedinginan kan jadinya dan thanks buat segala usahanya bersama james untuk menghidupkan kompor gas manisho ituh. Dan yang paling utama adalah special thanks to our God, Jesus Christ, luar biasa pertolonganMu Tuhan, tak pernah terlambat segala pertolonganMu, kasihMu sungguh luar biasa melingkupi kami semua anak-anakMu. Mohon ampun Bapa atas segala dosa dan kesalahan, ampuni segala keegoisan kami, ajarkan kami selalu untuk terus peduli terhadap sesama dan saling mengasihi.
Oke terima kasih buat semua, seperti kalimat yang sering saya ucapkan dalam episode pertama perjalanan kita, “You’re rock guys!!!” tanpa kalian, perjalanan ini tak akan berwarna seperti ini, tanpa kalian perjalanan ini tak akan seseru ini. Mumpung masih bulan Agustus, aku masih berpikir untuk mendaki nih, sesegera mungkin pulang Salatiga dan kembali mendaki. Dimana ya tempat selanjutnya??? J

#Thanks to Jesus Christ (tanpaMU, we are nothing, Engkaulah pertolongan kami yang selalu ada dan tak pernah meninggalkan kami dalam situasi apapun), kak Dika, kak Ventry, kak Ulhin, kak Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing peliharaan kak Ian).

By. Rachel Fitria

7 Agustus 2013, pukul 08.43 WIB di Taman Cimanggu, Bogor