Setiap tahun, saya
selalu mengagihkan waktu traveling pada bulan Juli-Agustus, entah traveling
antar kota antar provinsi atau mendaki gunung dan menyusuri pantai. Tahun 2013
ini mungkin merupakan tahun “berat” yang harus dilalui, mulai dari permasalahan
studi, hati, keluarga, pertemanan, semuanya tumplek blek pada tahun ini. Namun
selalu bersyukur bahwa saya punya Allah yang luar biasa, Dia selalu menopang
saya dan membantu saya bangkit dari segala keterpurukan. Oke, back to the point,
tahun ini saya mengagihkan tema traveling saya kali ini yaitu “ketinggian”,
pikiran saya mengawang ingin melihat sunrise dan sunset dari ketinggian,
menghirup udara segar pegunungan, merasakan dinginnya hawa malam gunung,
menatap kabut dan menggapai puncak yang tinggi.
Untuk mempersiapkan
perjalanan kali ini, saya memilih untuk melatih fisik saya terlebih dahulu,
jogging, pemanasan bolak balik lereng gunung, dan memperbanyak jalan kaki. Para
sahabat yang ingin join, juga saya beritahu untuk melakukan persiapan fisik
terlebih dahulu karena hampir semuanya tidak pernah mendaki gunung. Pilihan mendaki
kali ini jatuh pada gunung Andong, cukup relevan bagi pemula. Gunung Andong
memiliki ketinggian 1736 mdpl dan saya rasa cukup pantas bagi kami yang
semuanya pemula. Persiapan dilakukan, mulai dari peralatan dan logistik.
Perjalanan kali ini saya akan ditemani oleh para kakak saya yaitu kak Dika, kak
Ventry, kak Ulhin, kak Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing
peliharaan kak Ian).
2 Agustus 2013 pukul
15.30 WIB, meeting point kami di belakang kampus UKSW. Menumpang minibus menuju
Pasar Sapi. Dari Pasar Sapi, kami menumpang minibus lagi untuk menuju Pasar
Ngablak. Sedikit kejadian di Pasar Sapi cukup membuat mood saya agak jelek,
berawal dari kami yang berjumlah 9 orang dengan masing-masing membawa tas besar
dan seekor anjing, kernet mengarahkan kami pada minibus kosong, namun setelah
kami sudah duduk santai dan menata tas dalam minibus, tiba-tiba kernet itu
meminta kami untuk pindah, sontak saya merasa kesal karena barang bawaan kami
yang banyak jadi cukup merepotkan bila harus berpindah-pindah, terjadi
perdebatan antara kak Sammy dan kernet, maka kami memutuskan untuk pindah ke
minibus yang lain. Pukul 16.50 WIB, kami telah tiba di Pasar Ngablak (walau
saya hampir saja tidak menyadari kalo sudah tiba karena saya sedang melamun
sambil makan coklat dan duduk paling belakang).
Dari pasar Ngablak,
kami berjalan kaki menuju Dusun Sawit, Desa Girirejo karena dusun ini terletak
persis di kaki Gunung Andong. Dari pasar sebenarnya ada ojek untuk menuju dusun
tersebut, namun karena niat kami memang ingin berjalan kaki, maka kami terus
berjalan menyapa aspal sambil menikmati pemandangan di kiri-kanan jalan yang
banyak terdapat tempat pembibitan juga kebun sayur.
Di kebun warga di
kaki Gunung Andong, kami sempat terpisah karena saya bersama kak Dika, James,
kak Ulhin dan jily berjalan duluan, di pertigaan menuju pintu jalan masuk
Gunung Andong, kami memilih jalan yang membelok ke kanan. Sedangkan kak Sammy,
kak Ian, Damar dan kak Ventry serta si pupi mengambil jalan belok ke kiri. 15
menit saya menunggu namun mereka masih tak terlihat, feeling saya mengatakan
mereka tersesat dan saya berlari kembali ke pertigaan, bersyukur masih ada
signal dan terus mencoba menghubungi mereka untuk berjalan balik. Setelah
bertemu, mereka mengatakan tidak melihat ada jalan berbelok ke kanan bahkan
tidak menyadari kalo itu merupakan jalan pertigaan, oke fain! Kami kemudian
mulai melewati kebun-kebun warga, lalu mulai mendaki (awalnya nyasar
>.<). Jalur yang dilalui cukup nyaman karena tidak terlalu curam dan
sudah ada undak-undaknya. Kami terus mendaki sambil sesekali beristirahat dan
saya akui sepanjang perjalanan ini kami cukup ribut. Rute awal kami melalui
pepohonan pinus yang cukup teduh. Nyasar di areal pinus terjadi, mulai dari
saya yang melihat bayangan putih di bawah pohon besar, SB yang jatuh ke arah
jurang, hingga akhirnya bertemu dengan sepasang pendaki yang “menyelamatkan”
kami haha…. Dalam tengah perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa orang tua
yang juga mendaki tanpa senter dan menuju ke puncak pertama yang notabene
terdapat kuburan di sana.
Akhirnya sampai juga
di Puncak Gunung Andong, saya mulai mendirikan tenda dan memasak air.
Kawan-kawan yang lain sudah mulai kedinginan memilih untuk masuk ke dalam
tenda. Saya dan kak Ventry serta kak Sammy berinisiatif untuk memasak bagi
semuanya, porsi untuk 9 orang plus si pupi. Apa daya, semuanya memilih untuk
tidur, akhirnya daripada mubajir, kami bertiga memilih menghabiskan makanan
dengan porsi 9 orang tadi haha…. Kami bertiga memilih untuk tidak tidur karena
6 orang lainnya mendominasi tenda, SB maupun selimut. Sambil menunggu matahari
terbit kami bercerita mengenai pengalaman perjalanan mendaki tadi serta
pengalaman bila masuk hutan di Papua, Ambon maupun Kalimantan, dan kearifan
lokal daerah masing-masing. Bersamaan dengan itu, beberapa orang tua yang dari
kuburan di puncak pertama tadi mengadakan tirakat di puncak tertinggi Andong,
yah saat mereka bertirakat, suasana jadi agak-agak menyeramkan, selain mereka
berteriak-teriak histeris, mereka bergelap-gelapan ria. Ah tapi begitulah
indahnya kearifan lokal.
Tidak
lupa sepasang pendaki yang juga membangun tenda di sebelah kami, cukup banyak
kami bercerita mengenai tirakat-tirakat yang warga sekitar lakukan di Gunung
Andong ini. Mereka sendiri memang sering mendaki bila weekend karena mereka
menjalani Long Distance Relationship getoo, jadi malmingnya di gunung. Aduh
jadi mupeng, pengen juga pacaran di gunung hahahahha…..
Matahari
mulai terbit, kawan-kawan sudah bangun untuk menunggu, para magifo (mahasiswa
gila foto) mulai menjalankan aksinya, berfoto-foto ria. Ah indahnya matahari
terbit, menggambarkan harapan baru, janji dan pertolonganNya yang tak pernah
terlambat. Thanks God boleh melihat ciptaanMu yang begitu luar biasa. Pukul 07.30
WIB, saya mulai membereskan barang-barang untuk turun, yang cewek membereskan
peralatan memasak dan peralatan tidur serta tas-tas kecil.

Kami
mulai menyusuri jalan untuk untuk turun dan pada beberapa titik ada jalan yang
langsung menghadap jurang, kak Ventry yang agak fobia pada ketinggian tentu
memilih melipir menjauhi jurang, dan tasnya dibawa oleh seorang teman, yah
toleransi. Pada saat-saat naik gununglah, saya melihat sejauh mana toleransi
masing-masing pribadi haha…. Tiba di desa, kami memilih untuk menggunakan jasa
ojek karena teman-teman yang lain sudah sangat kelelahan. Tiba di Pasar
Ngablak, kami sarapan dan menaiki minibus untuk kembali ke Salatiga. Perjalanan
yang cukup melelahkan karena saya juga ikut tertidur dalam perjalanan.
Perjalanan yang
bermakna bagi saya, ketika ada orang-orang yang meremehkan sahabatmu dan
mengatakan ia tak mampu, tugasmu lah yang berusaha memampukan dia, ketika
sahabatmu memiliki keinginan untuk mematahkan persepsi orang yang meremehkan
dia, tugasmu lah yang memberikan dia semangat dan harapan. Tidak ada
kesombongan apalagi mementingkan diri sendiri dalam perjalanan ini, toleransi
dan kebersamaan lah yang ingin saya dapatkan dalam perjalanan ini dan itu boleh
tercapai. Terima kasih buat kak Dika, semangatmu luar biasa kak, orang-orang
yang bilang kau tak mampu adalah orang yang berpemikiran sempit dan tidak tahu
siapa dirimu, buat kak Ventry, ayo fobia ketinggiannya harus di challenge!
Haha….. harus sering-sering dolan di ketinggian thuuu, buat kak Ulhin, ayo kita
bikin body sexy wakakkakakakakk….. buat Jily, jadi inget waktu kita di Merbabu
gak sih? Yang pake acara nyasar di kebun orang plus ada acara kabut pula,
ternyata lama banget kita udah gak mendaki gunung bareng. Buat kak Ian, widih
baru kali ini kak akuh naik gunung bareng anjing, jadi seru-seruan ama pupi di
jalan, semangat terus kak, kata kak Sammy mari kita ke Gedong Songo dan
Telomoyo. Buat kak Sammy, terima kasih yak kak buat bantuan membawa segala
tetek bengek perlengkapan naek gunung dan kesabarannya serta bantuannya dalam
membangun dan beres-beres tenda, bakal ribet deh kalau gak ada kakak haha… buat
James, terima kasih buat setiap toleransimu ya bro, peduli terhadap sesama dan
perhatianmu buat semua terutama kak Dika, dan thanks untuk selalu
mengingatkanku untuk tidak terlalu cepat berjalan hehe… buat Damar, jangan
pernah meremehkan sesuatu, akhirnya kedinginan kan jadinya dan thanks buat
segala usahanya bersama james untuk menghidupkan kompor gas manisho ituh. Dan
yang paling utama adalah special thanks to our God, Jesus Christ, luar biasa
pertolonganMu Tuhan, tak pernah terlambat segala pertolonganMu, kasihMu sungguh
luar biasa melingkupi kami semua anak-anakMu. Mohon ampun Bapa atas segala dosa
dan kesalahan, ampuni segala keegoisan kami, ajarkan kami selalu untuk terus
peduli terhadap sesama dan saling mengasihi.
Oke
terima kasih buat semua, seperti kalimat yang sering saya ucapkan dalam episode
pertama perjalanan kita, “You’re rock guys!!!” tanpa kalian, perjalanan ini tak
akan berwarna seperti ini, tanpa kalian perjalanan ini tak akan seseru ini.
Mumpung masih bulan Agustus, aku masih berpikir untuk mendaki nih, sesegera
mungkin pulang Salatiga dan kembali mendaki. Dimana ya tempat selanjutnya??? J
#Thanks to Jesus Christ (tanpaMU, we
are nothing, Engkaulah pertolongan kami yang selalu ada dan tak pernah
meninggalkan kami dalam situasi apapun), kak Dika, kak Ventry, kak Ulhin, kak
Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing peliharaan kak Ian).
By. Rachel Fitria
7
Agustus 2013, pukul 08.43 WIB di Taman Cimanggu, Bogor