Tiga tahun satu bulan,
waktu yang tidak terlalu singkat memang rasanya. Aku menyukainya, tanpa syarat,
tanpa berharap lebih, menikmati rasa ini. Menikmati setiap senyum dan tawa
khasnya, menikmati setiap fragmen kebersamaan dengannya. Melihat wajah
seriusnya, wajah gusarnya, merasakan kebahagiaan dengan celetukan –
celetukannya untukku. Aku menikmati semuanya, pertengkaran dengannya, curhat
dengannya, aku menikmatinya, sungguh!
Entah mengapa rasaku padanya sama sekali
tak egois, aku tak berniat sedikitpun untuk memilikinya secara fisik, aku
selalu merasa penuh, selalu merasa puas, selalu tak ingin ini – itu, rasanya
ini cukup, eksistensiku untuk meminta lebih padanya tak ada sedikitpun. Dia
selalu memuaskanku.
Begitu banyak dinamika
yang kami lewati, hingga suatu saat dia bersama yang lain, aku bersama yang
lain, namun lagi – lagi tak sedikitpun ada yang berkurang, rasaku tak pernah
berkurang untuknya, waktu dan kondisi tak pernah menggerusnya. Hingga saat aku
tak lagi bersama yang lain dan akhirnya aku tahu rasanya juga, aku juga tak
ingin meminta lebih. Aku tetap menikmatinya. Rasaku terus bertambah, namun
keegoisanku terus menurun dan tiada untuknya.
Dia yang ternyata
selalu melindungiku tanpa kusadari, di saat ku letih dialah yang ada, bertahun
– tahun ternyata dialah yang selalu ada dan hadir. Saat ku dalam keletihan yang
luar biasa, tak kan ku lupa, teh hangat yang kau sodorkan itu, kemudian
menemani dan menggantikan tugasku. Tak juga ku lupa, bagaimana kau marah karena
pernah ku bilang kau tak menyayangi. Takkan ku lupa caramu menyayangi, caramu
berbeda, dan bodohnya aku baru menyadarinya setelah bertahun – tahun ini.
Benar juga yang orang
bilang, “indah dan tepat pada waktuNya”, juga yang David Cook bilang, “it’s
only matter of time”. Waktulah yang membuktikan dan menjawabnya. Kau begitu
tulus, aku pun begitu. Tak ada keegoisan di antara kita. Cinta itu memiliki,
dengan caranya sendiri. Kita saling memiliki, dengan cara kita, tanpa syarat.
Kadang ku bertanya pada
diri sendiri, mengapa aku begini? Tanpa beban, aku benar – benar menikmatinya.
Akhirnya aku memilih berefleksi di pagi ini. Semoga tidak salah, aku merasa
pintu hatiku terbuka untukmu, tanpa syarat, tanpa pandang bulu, cinta kasih
yang mengalir bebas. Dan yang paling penting cinta kasihku padamu sama besarnya
kepada diriku sendiri. Pengalaman masa laluku membuatku belajar mencintai diri
sendiri yang aku sebut pemaafan. Aku memilih melangkah keluar dari rasa
bersalah, berdamai dengan diri sendiri. Dan aku memiliki nyali untuk
mengatakan, dengan sejujurnya, dari relung hati yang terdalam, aku akan
menyongsong ke depan, bukannya mundur, untuk menemukan cinta kasih yang luhur,
aku katakan dengan sejujurnya, bukan hanya main – main. Aku tak perlu menjadi
sempurna terlebih dahulu, tanpa kesalahan, untuk memberikan cinta. Jika aku
harus menunggu kesempurnaan, itu tidak akan tiba.
Konselorku bilang,
cinta sejati itu langka. Ia tak mementingkan diri sendiri. Kita hanya peduli
kepada orang lain. Kita berkata kepada mereka, “Pintu hatiku akan selalu
terbuka untukmu, apa pun yang kamu lakukan”, dan kita bersungguh – sungguh
dengan perkataan itu. Kita hanya ingin mereka bahagia. Bukankah kebahagiaannya
adalah hal terpenting dalam cinta sejati ini? Mungkin inilah yang aku rasakan, aku
menyayangimu tanpa beban, tanpa keegoisan, tanpa intervensi, tak ada sedikit
pun tendensi di dalamnya.
Ingin
sekali ku ucap, terima kasih untuk selama ini. Mari kita menyongsong masa
depan, yang lalu biarlah berlalu, jangan lagi ada penyesalan, berdamai dengan
masa lalu dan diri sendiri, menikmati setiap fragmen – fragmen yang akan kita
lalui. Inilah saatnya, marilah kita berbahagia… ya, berbahagia J