Selasa, 20 November 2012

Mungkin Aku Rindu


Pagi hari ini aku bangun dengan suasana hati yang “aneh”. Aku tak tahu bagaimana mendefinisikan perasaanku pagi ini. Ada kekosongan, namun ada terselip sedikit kebahagiaan, ada juga selipan perasaan sedih, serta ada pula selipan kerinduan. Mungkin ini karena tadi malam aku melihat dia lagi, berlari dan menari di antara ilalang yang lembut itu. Dia bahagia sekali, tawanya renyah, dia menyambutku dengan tangan kecilnya yang terhentang seakan ingin memelukku. Aku bergeming, mengamatinya seakan terhipnotis dengan senyum manisnya yang menenangkan. Sesaat kemudian aku terhenyak dan berlari ke arahnya, kuangkat tubuhnya ke udara, membalas sambutan pelukannya,. Ketika dia berada dalam pelukanku, seketika perasaan hangat mengalir ke sekujur tubuhku, tenang sekali rasanya, aku rindu memeluk tubuh mungilnya, rindu kecupannya di pipiku, rindu harum rambutnya yang lembut.
Inginku terus bersamanya, menikmati taman itu, taman ilalang namun ada tumbuhan berbunga, hawanya sejuk sekali, cerah namun tak terik, ah betapa nyamannya, aku ingin berada di sana... apalagi bersama dia yang selalu menghapus laraku, memukauku dengan senyum manisnya, pelukannya yang menenangkan, tubuh mungilnya hangat sekali.
Namun rasanya kenapa sulit sekali, kau selalu datang menjemputku. Menjemputku untuk keluar dari tempat itu, tempat yang membuatku nyaman. Kau selalu mengecup pipi mungilnya dan menarik tanganku keluar dari tempat itu. Pelukanmu memang tak kalah hangat dengan pelukan tubuh mungilnya, kau selalu mengucap kalimat yang sama ketika menjemputku. Kalimat yang selalu meluluhkanku dan memilih ikut bersamamu. “Ayo lawan dunia bersamaku”, begitulah yang selalu kau ucapkan.
Ouch... rasa – rasanya pagi terlalu cepat datang, akhirnya aku kembali menghadapi dunia ini lagi, tapi hei.... kenapa di sini aku sendiri?

Minggu, 18 November 2012

Terima Kasih



Terima kasih…. Mungkin hanya itu kata yang pantas dapat kuucapkan…. Terima kasih untuk kebahagiaan yang pernah kau beri, kebahagiaan yang membuatku merasa seakan-akan ada jutaan kupu-kupu menari dalam perutku, jenis kebahagiaan yang lama sudah tak kurasakan sejak bertahun-tahun lalu. Kebahagiaan ketika menatap wajahmu, sapaan pagimu, panggilan sayangmu, pelukan hangatmu yang menenangkan, gelitikan canda kita itu, terima kasih yaa….
Bila ada rasa marah, kecewa, sakit, mungkin kata maaf juga harus terlontar. “Maaf itu gratis”, itu yang sering kau bilang. Aku juga ingin begitu. Terima kasih lagi untuk melawan dunia bersamaku. Terima kasih telah memenangkan hati ini. Terima kasih…..
Bulan mengajarkanku rindu, aku juga sering rindu, tapi ego harus dihilangkan. Kita kan pernah sepakat bahwa “gak ada tempat buat orang egois di dunia ini”.
Terima kasih juga buat luka yang kau beri, luka yang betul-betul menyakitkan namun tak pernah kusesali. Rasa sayangku itu melebihi dan menutup rasa sakit itu. Sakit sekali rasanya, sakit sekali, sungguh sakit. Aku memilih berhenti lagi sejenak, bukan karena terlalu lelah, namun untuk mengumpulkan kekuatan, aku harus bangkit. Dengan sisa – sisa tenagaku, ku beranikan diri menantang arus itu, aku keluar dari zona nyamanku. Rasaku tak pernah berkurang untukmu, sungguh. Biar begitu banyak luka yang kau beri, tak pernah ingin ku sesali semua itu. Rasaku tak pernah sedikitpun berkurang, selalu ada dan tetap sama. Aku tetap memilikimu dengan caraku sendiri. Berbahagialah dengan caramu, berbahagialah…. Dan terima kasih…..

Jumat, 16 November 2012

Sampai Menutup Mata



Embun di pagi buta, menebarkan bau basah
Detik demi detik kuhitung
Inikah saat ku pergi
Oh Tuhan ku cinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan ku sakiti dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta sumpah kucinta
cintaku sampaiku menutup mata
(Acha Septriasa)

Senin, 12 November 2012

It’s only matter of time


Tiga tahun satu bulan, waktu yang tidak terlalu singkat memang rasanya. Aku menyukainya, tanpa syarat, tanpa berharap lebih, menikmati rasa ini. Menikmati setiap senyum dan tawa khasnya, menikmati setiap fragmen kebersamaan dengannya. Melihat wajah seriusnya, wajah gusarnya, merasakan kebahagiaan dengan celetukan – celetukannya untukku. Aku menikmati semuanya, pertengkaran dengannya, curhat dengannya, aku menikmatinya, sungguh!
Entah mengapa rasaku padanya sama sekali tak egois, aku tak berniat sedikitpun untuk memilikinya secara fisik, aku selalu merasa penuh, selalu merasa puas, selalu tak ingin ini – itu, rasanya ini cukup, eksistensiku untuk meminta lebih padanya tak ada sedikitpun. Dia selalu memuaskanku.
Begitu banyak dinamika yang kami lewati, hingga suatu saat dia bersama yang lain, aku bersama yang lain, namun lagi – lagi tak sedikitpun ada yang berkurang, rasaku tak pernah berkurang untuknya, waktu dan kondisi tak pernah menggerusnya. Hingga saat aku tak lagi bersama yang lain dan akhirnya aku tahu rasanya juga, aku juga tak ingin meminta lebih. Aku tetap menikmatinya. Rasaku terus bertambah, namun keegoisanku terus menurun dan tiada untuknya.
Dia yang ternyata selalu melindungiku tanpa kusadari, di saat ku letih dialah yang ada, bertahun – tahun ternyata dialah yang selalu ada dan hadir. Saat ku dalam keletihan yang luar biasa, tak kan ku lupa, teh hangat yang kau sodorkan itu, kemudian menemani dan menggantikan tugasku. Tak juga ku lupa, bagaimana kau marah karena pernah ku bilang kau tak menyayangi. Takkan ku lupa caramu menyayangi, caramu berbeda, dan bodohnya aku baru menyadarinya setelah bertahun – tahun ini.
Benar juga yang orang bilang, “indah dan tepat pada waktuNya”, juga yang David Cook bilang, “it’s only matter of time”. Waktulah yang membuktikan dan menjawabnya. Kau begitu tulus, aku pun begitu. Tak ada keegoisan di antara kita. Cinta itu memiliki, dengan caranya sendiri. Kita saling memiliki, dengan cara kita, tanpa syarat.
Kadang ku bertanya pada diri sendiri, mengapa aku begini? Tanpa beban, aku benar – benar menikmatinya. Akhirnya aku memilih berefleksi di pagi ini. Semoga tidak salah, aku merasa pintu hatiku terbuka untukmu, tanpa syarat, tanpa pandang bulu, cinta kasih yang mengalir bebas. Dan yang paling penting cinta kasihku padamu sama besarnya kepada diriku sendiri. Pengalaman masa laluku membuatku belajar mencintai diri sendiri yang aku sebut pemaafan. Aku memilih melangkah keluar dari rasa bersalah, berdamai dengan diri sendiri. Dan aku memiliki nyali untuk mengatakan, dengan sejujurnya, dari relung hati yang terdalam, aku akan menyongsong ke depan, bukannya mundur, untuk menemukan cinta kasih yang luhur, aku katakan dengan sejujurnya, bukan hanya main – main. Aku tak perlu menjadi sempurna terlebih dahulu, tanpa kesalahan, untuk memberikan cinta. Jika aku harus menunggu kesempurnaan, itu tidak akan tiba.
Konselorku bilang, cinta sejati itu langka. Ia tak mementingkan diri sendiri. Kita hanya peduli kepada orang lain. Kita berkata kepada mereka, “Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apa pun yang kamu lakukan”, dan kita bersungguh – sungguh dengan perkataan itu. Kita hanya ingin mereka bahagia. Bukankah kebahagiaannya adalah hal terpenting dalam cinta sejati ini? Mungkin inilah yang aku rasakan, aku menyayangimu tanpa beban, tanpa keegoisan, tanpa intervensi, tak ada sedikit pun tendensi di dalamnya.
Ingin sekali ku ucap, terima kasih untuk selama ini. Mari kita menyongsong masa depan, yang lalu biarlah berlalu, jangan lagi ada penyesalan, berdamai dengan masa lalu dan diri sendiri, menikmati setiap fragmen – fragmen yang akan kita lalui. Inilah saatnya, marilah kita berbahagia… ya, berbahagia J

Apa sakit itu salah?


Hei… sudah hampir 5 tahun rasa sakit itu berlalu ya J. Hampir 5 tahun juga aku menyimpannya dalam memoriku rapat – rapat. Hingga saat ini, kau yang memilih untuk membukanya, membuka untuknya. Membuka lagi kisah kita, kisah yang hmmm… entahlah hendak seperti apa kisah itu dapat dinilai.
Mengenalmu 8 tahun yang lalu, anak berandal, pemakai narkotik, disukai banyak cewek. Tiba – tiba datang, mengucap hal yang kupikir kau sedang meracau karena sakau. Kau menangkan bukan karena memamerkan kelebihan – kelebihanmu namun menuturkan kekurangan – kekuranganmu dan inginmu keluar dari lembah addictedmu. Aku hanya tahu kau butuh aku, itu saja, sederhana sekali.
Hampir 1,5 tahun aku mendampingimu hingga kau terlepas dari jerat addictedmu. Masa – masa berat namun sangat kunikmati. Kukubur mimpiku untuk menjadi pebasket, semua untukmu. Tak ku lupa, malam hujan itu, kau menghubungiku karena sakitmu akibat sakau, ku perjuangkan kau padahal suasana berduka akibat saudaraku pergi meninggalkanku selamanya masih meliputi saat itu. Dengan resah kubawa motor itu di tengah hujan, hingga kecelakaan itu tak terelakkan lagi. Aku orang yang susah mati katanya, koma dua hari tak menghentikan hidupku. Cedera tulang punggung yang kualami mengakibatkan ku harus rela ditopang kursi roda selama 2 minggu, fisiotherapy yang harus rutin ku lakukan, padahal saat itu karirku sebagai pebasket di DBL sedang pada puncaknya, sebagai point maker, play maker , ah indah sekali masa itu, namun harus rela kukubur karena cedera parah itu. Dengan segera aku bangkit dan terus mendampingimu kembali.
Aku percaya segala sesuatu diijinkan terjadi, tiga tahun bersama tak menjamin segala yang kita inginkan. Kau memilihnya, sahabatku sendiri, khilaf katamu, menghilang, kutanggung dan kutemani sahabatku, kutanggung buah cinta kalian. Sembilan bulan aku mendampingi sahabatku, menguras semua yang kupunya untuknya, karena rasa sayangku padanya jauh lebih besar menutupi sakit yang dia torehkan. Setelah buah cinta kalian boleh lihat dunia, kalian menghilang, kutanggung dia, karena aku sadar dia belum tau apa-apa dan tak pantas menerima perlakuan seperti ini. Aku rangkul dia, kutanggung dia dengan segala resiko dan konsekuensinya. Enam bulan lamanya. Kalian kembali, mengambilnya dari pelukanku, kurelakan lagi karena kalianlah yang lebih berhak dan pantas. Aku gendong dia ketika kalian ucap sumpah itu bahkan aku yang menjadi saksi. Aku rela itu karena apa? Karena aku sungguh mencintaimu.
Sakit sekali rasanya, sakit sekali, sungguh sakit. Aku memilih berhenti sejenak, bukan karena terlalu lelah, namun untuk mengumpulkan kekuatan, aku harus bangkit. Dengan sisa – sisa tenagaku, ku beranikan diri menantang arus itu, aku keluar dari zona nyamanku, memilih keluar dari kota yang mempertemukan kita itu. Rasaku tak pernah berkurang untukmu, sungguh. Biar begitu banyak luka yang kau beri, tak pernah ingin ku sesali semua itu. Rasaku tak pernah sedikitpun berkurang, selalu ada dan tetap sama seperti dulu. Aku tetap memilikimu dengan  caraku sendiri. Berbahagialah dengan caramu, berbahagialah…. Bila kali ini kau datang lagi, meminta ku kembali, aku kembali, tapi dengan cara yang berbeda. Jangan lagi kau sesali, hadapilah dan please, berbahagialah….. karena rasa sakit tak pernah salah, karena dia kita dapat mengerti arti kebahagiaan.