Rabu, 27 Maret 2013

Happy Birthday Guys.....


(We came to this world with nothing, but to God we are something. He wants to share with us everything, because He love us more than anything)

Pagi-pagi ini aku pengen nyanyi kenceng-kenceng sambil nari-nari ditemenin suara jangkrik peliharaanku.

Happy birthday to you..... Happy birthday to you...
Happy birthday.... Happy birthday.... Happy birthday to you.... :) 

Hai jiliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.............................. My girl, Jily Gavrila Sompie..... Selamat ulang tahun sayang..... Twenty two years old!! Gila uda semakin tua hahaha....
Terima kasih buat 4,5 tahun kebersamaan kita, walau banyak cekcok dan ketidakcocokan, tapi waktu sudah menempa dan membuktikan bahwa kita tak terpisahkan #loh? Hahaha.....
Sukses buat studi masternya, gila! gak nyangka kita bisa bareng nyampe ke jenjang ini :)
Sukses juga buat relationshipnya, dengan tulus didoakan, semoga yang terbaik dan kehendakNya saja yang jadi.
Bertahun-tahun bersama, banyak perubahan yang terjadi, tambah dewasa tentunya, tambah cantik juga, lebih bijak pula.....
Tapi yang gak berubah adalah NGOMONG DULU NON BARU KETAWA!! Hahahha..... Dirimu itu dalam kondisi apapun masih sempat selalu ketawa dengan volume yang luar biasa.....kencengnya...
Terus berjuang sayang, perjalanan masih panjang, banyak yang harus dicapai, dan ingat “Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan dan tetap berpegang teguh pada pengharapan” ya.... Tuhan selalu berkati, itu pasti :)

Heloooo Damarrrrrrr...... aku panggil Paus aja (PA-ul-US) hohoho....
Haiii Paulus Damar Bayu Murti Selamat menempuh usia baru yaaa....
Twenty four years old, gilee uda tuirr yah hahaha..... uda nyaris seperempat abad tuh...
Sukses buat studi masternya....
Mari berjuang lirik-lirik ke negara sebelah hahahha.... Pengen mendaki gunung Fuji gak? Maka berjuanglah! Hahaha :)
Semoga mimpi-mimpi yang baik dan sesuai kehendak Allah segera terwujud. Wish you all the best!
Jangan lupa janjimu buat ngajarin aku berenang, pengen ke Raja Ampat nih, gak afdol kalo gak nyemplung hahaha.....
For the last (but not least), semoga kalian semua segera lulus, dapat jodoh yang tepat dan sepadan, sukses dalam karir di masa depan, punya anak yang lucu-lucu, selalu bahagia dalam kasih Tuhan :)


Tulis rencanamu dengan pensil. Tapi, berikan penghapusnya pada Tuhan. Ia akan menghapus rencana kita yang salah. Percayalah kepadaNya, Ia selalu beri yang terbaik bagi kita. Percaya juga Tuhan pasti bakal menuliskan hal yang terlupa atau kita abaikan namun baik bagi kita

Kamis, 21 Maret 2013

Ijinkan aku


Ramalanku benar kali ini
Dua hari sudah tak turun hujan
Langit begitu cerah dengan bintang yang bertaburan juga bulan sabit yang tersenyum
Malam ini aku meramal lagi
Langit sudah tak terlalu cerah, awan membumbung melingkupi langit malam ini
Yah, aku teringat, malam ini adalah malam terakhir bagi kita
Malam terakhir puncak kesabaranku untuk menunggumu
Malam ini aku merapal mantra untuk hatiku
Aku merapal mantra Harry Potter untuk hatiku “reparo....reparo....reparo
Berharap mantra itu dapat menyembuhkan hatiku
Ah akhirnya.....
Hatiku sudah sembuh rupanya, tak ada lagi rasa sakit itu, nyeri secuil pun tidak
Ku tengadahkan kepalaku melihat langit
Tiba-tiba awan yang tadi melingkupi langit sirna
Langit amat cerah malam ini
Aku tahu alam ini juga turut bersuka cita atasku
Aku sudah bebas sebebas-bebasnya
Aku menyatu lagi dengan alamku, tegar berdiri dan berlari
Ijinkan aku malam ini, sejenak mengenangmu
Hanya malam ini
Mengenang segala tentang kita
Karena malam ini terakhir bagi kita pinguinku
Mereka berdua yang berada di antara bintang-bintang itu juga tersenyum untukku
Mereka juga bergembira atasku
Mereka sudah tenang di sana, aku berjanji tidak akan berusaha menemui mereka dan kau lagi
Pagi sudah menjelang sayang, segera kututup buku kenangan kita dan mereka
Kututup dan kukubur selamanya
Biar semua tak lagi menghantui
Pagi ini cerah sekali menyambutku
Aku juga menyambut hari indahku
Aku lahir baru


Senin, 18 Maret 2013

Andai mereka tahu….


Malam ini aku merenungkan banyak hal, tidak tidur karenanya.. Memang benar yang orang katakan, kasih ibu akan selalu melimpah bagi anaknya, mulai dari dalam kandungan hingga anaknya dewasa dan kembali pada Sang empunya kehidupan. Cinta kasihnya begitu murni, hingga sulit untuk dirasionalkan. Cinta kasihnya tulus, tanpa alasan.
Satu lagi yang disebut cinta (mungkin), cinta pada pasangan. Masa ini aku melihat, ada seorang perempuan yang tegar (kelihatannya) namun ternyata menyimpan segudang masalah di benaknya. Tak seorang pun dibiarkannya tahu apa yang sedang digumulkannya, dia hanya berprinsip “cukup aku yang tahu dan mengalaminya”. Sekian lama ia tidak peduli dengan lawan jenisnya, dia selalu merasa bahwa dia mampu, padahal banyak yang bilang dia kesepian, namun dia tak peduli.
Hidup perempuan ini “terlihat” baik-baik saja memang, yah tapi semua orang punya cerita (kata kawanku). Aku diijinkan melihat seluruh kehidupannya dan dia berkata, “biar jangan ada lagi yang sepertiku”. Dia terlahir atas perjuangan ibunya (ya, hanya ibunya sendiri), banyak yang tidak mengharapkan kelahirannya. Perjuangan ibunya sendiri selama 14 semester. Tanpa banyak yang tahu bahwa ayahnya sendiri awalnya tak menginginkannya. Apa hendak dikata, dia terlahir ke dunia, tanpa didampingi ayahnya, bahkan ayahnya pergi bersama wanita lain yang lebih dulu dinikahinya tanpa ibunya ketahui. Sang ayah kembali dan menjalani kehidupan seperti biasa, siapa duga sang ayah perlahan-lahan mulai menyayangi anaknya dan menutupi kenyataan untuk melindunginya (mungkin).
Sang anak menjalani kehidupannya dengan baik, selalu meraih prestasi di sekolahnya, bahkan saat tingkat menengah pertama, dia berada di puncak prestasinya sampai ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan membahagiakan keluarga yang telah menyayanginya dengan prestasi-prestasinya. Lomba-lomba debat, cerdas-cermat, sepak terjangnya di OSIS sungguh mencengangkan, hingga akhirnya nilai UANnya mendapat juara umum. Dia bahagia sekali melihat orangtuanya memperoleh piagam penghargaan atas prestasinya. Ya… ia bahagia sekali hari itu, senyum selalu terlontar dari bibirnya, teman-temannya menjulukinya si wajah senyum karena memang dia selalu tertawa renyah, menghibur kawan-kawannya.
Malam itu, ya dia pulang malam setelah bermain dengan kawan-kawannya karena siangnya baru saja mendapat kabar ia diterima di salah satu sekolah menengah umum favorit di kotanya. Apa yang ia dapati di rumah? Rumahnya, istananya, berantakan, beberapa barang pecah, ia melihat ayahnya duduk dengan wajah kaku di kursi meja makan, ia bertanya namun ayahnya diam saja. Ia berlari ke kamar ibunya, ia mendapati ibunya menangis sambil mengepak barang-barang, kembali ia bertanya, namun ibunya hanya bilang, cepat bereskan barang-barangmu! Ia terlonjak kaget dan mundur, berlari ke kamarnya dan yang ia dapati adalah boneka-boneka kesayangannya sudah digeletakkan di lantai, lemarinya terbuka, ia bingung, benar-benar bingung, ada apa ini?
Ia menangis tanpa tahu apa sebabnya, mengurung diri di kamarnya seharian, hingga ibunya menggedor pintunya dengan keras namun ia tak peduli, akhirnya sang ayah, orang yang amat disayanginya karena tidak pernah memukulnya bahkan selalu memeluknya penuh kasih mengetuk dengan halus dan memintanya keluar. Ia akhirnya keluar, memeluk ayahnya dan kembali bertanya, “kenapa”. Sang ayah melepas pelukannya, menyusun kembali boneka-bonekanya dalam diam, merapikan kamar putrinya dalam diam. Sang ibu menarik tangannya dan menceritakan hal yang telah disembunyikan ayahnya selama bertahun-tahun. Anak perempuan itu terdiam, air matanya mengalir, ia tak percaya apa yang baru saja didengar. Orang yang paling disayanginya, tanpa ia tahu ternyata membohonginya bertahun-tahun, berhari-hari ia tak bicara, diam seperti mayat berjalan, duduk dengan tatapan kosong. Ya, ternyata sang ayah sudah menikah sebelum dengan ibunya. Ibunya dijadikan istri kedua. Dengan istri sebelumnya , sang ayah sudah memiliki lima anak, hal inilah yang menyebabkan kelahirannya dulu tak diinginkan.
Kegoncangan mentalnya menggugah orang tuanya untuk rujuk, membantunya untuk bangkit, namun memang sulit. Kehidupannya sungguh berbalik, ia yang juara umum nilai UAN, untuk naik tingkat saja hampir tak sampai, dia yang dulu ceria, kini berubah menjadi pendiam dan pemurung. Untunglah dia memiliki sepupu yang selalu menopangnya, perlahan ia bangkit, mulai kembali aktif dalam setiap kegiatan ekskul sekolahnya, ia mendapatkan lagi kawan-kawannya namun luka itu tetap membekas, tak pernah pulih seperti dulu lagi keceriaannya. Tetap saja dalam satu waktu sepupunya menemukannya sedang melamun.
Ia terus menjalani hidupnya, hingga tak didengarnya lagi kabar dari sepupunya. Ia mencari dan terus mencari namun tak satupun menjawabnya. Ia masih ingat janji sepupunya untuk mengunjunginya pada lebaran saat itu, namun sepupunya tak kunjung muncul, ia kembali kecewa, orang yang disayanginya tak menepati janjinya, meninggalkannya. Ia mengurung diri lagi di kamarnya. Sang ayah mengetuk pintu kamarnya, masuk dan duduk di samping putrinya yang meringkuk di sudut kamar. Sang ayah akhirnya bercerita bahwa sepupu yang disayanginya itu telah meninggalkannya selamanya. Ya, sang sepupu itu telah pulang ke rumah Bapa, karena…. bunuh diri. Ya, “bunuh diri”. Itulah yang ia dengar dari keluarganya. Dari media surat kabar dia mendapat berita bahwa sepupu kesayangannya bunuh diri karena ditinggal oleh pacarnya. Pacar?? Ia tahu bahwa saat itu sepupunya tak punya pacar. Jadi apa sebenarnya penyebabnya? Ya, sampai detik ini, bertahun-tahun, ia sama sekali tak tahu kebenarannya. Kebenaran tak pernah berpihak padanya, selalu bersembunyi darinya, hingga ia tidak tahu bagaimana wujud kebenaran itu. Ia ingin mengejar kebenarannya, namun tak tahu harus bertanya pada siapa. Bertanya pada sepupunya langsung mungkin? Perempuan ini memacu motornya sekencang mungkin, berharap dia dapat menemukan di mana kebenaran yang ia cari. Sapa sangka, ia membawa motornya dalam lamunan, ya lamunan yang menghantarnya ke IGD sebuah rumah sakit karena kecelakaan dan harus rela menghampiri ICU selama 1 minggu. Cedera tulang belakang membuatnya tidak dapat berjalan selama dua minggu, bahkan sempat koma dua hari. Hal yang paling diingatnya ketika sadar adalah wajah ibunya dalam tangisan, sakit lagi yang ia rasakan, bukan fisiknya tapi hatinya. Berkali-kali hatinya terus menerus tersakiti, mungkin benar pepatah bilang, “hati adalah bagian tubuh yang terkuat namun juga paling lembut, makanya ia tetap mampu bertahan walau berkali-kali disakiti, lembut karena sebenarnya ia paling sensitif”.
Kali ini ia tak sendiri, ia memiliki sahabat, sahabat sejak sekolah dasar, bermusuhan dua tahun karena keegoisannya (lucu memang), dan kembali bersahabat. Sahabatnya selalu mendengarkannya, saling mendengarkan. Tiap hari sahabatnya selalu menjemputnya, mengajaknya melihat sisi lain pergaulan. Ya sahabatnya seorang wanita perokok, tukang minum minuman keras, pemakai narkotik juga, namun sahabatnya menyayanginya. Sekalipun sahabatnya begitu, ia selalu menjaga sahabatnya. Tak sekalipun diperbolehkannya sahabatnya untuk mencoba barang-barang itu, ya ia begitu melindunginya. Sahabatnya berkata, “ini supaya kamu tahu dan tak terjebak di dalamnya”. Dengan polosnya perempuan itu mengangguk dan sejak saat itu tak pernah lepas dari sahabatnya, ia tergantung dengan sahabatnya, kemana-mana selalu bersama sahabatnya, hingga mereka dijuluki pasangan homoseksual. Tapi mereka tak pernah peduli, karena mereka pikir cuma mereka yang tahu seperti apa mereka.
Pagi ini hasil kelulusan diumumkan, dua sahabat tadi sama-sama lulus, mereka bergembira bersama. Perempuan ini ingin melanjutkan studinya, menggapai cita-citanya, mengikuti test perguruan tinggi. Ayahnya ingin putrinya tidak jauh darinya. Hingga hasil test perguruan tinggi itu diumumkan, ya perempuan ini diterima di fakultas kedokteran salah satu universitas swasta di Ibukota. Ya, cita-citanya memang dokter. Namun masa lalu menghantuinya, Ibukota? Bukankah itu kota tempat istri pertama ayahnya tinggal bersama kelima anak-anaknya? Langsung ia merobek surat dari perguruan tinggi itu. Ayahnya sungguh marah dan tak mengijinkannya kuliah keluar dari kota tempat lahirnya. Perempuan ini tak habis akal, ia mendaftar di salah satu perguruan tinggi di kota yang asri (pikirnya saat itu), jauh dari hiruk pikuk. Ia menguras tabungannya, membayar registrasi dan mengurus semuanya sendiri. Ya untung sang ibu selalu mengajarkannya mandiri.
Ayahnya kewalahan, ibunya pun sudah putus asa untuk membujuknya, ya keinginannya sudah bulat untuk keluar dari rumah itu. Ia ingin bernafas lega sejenak dari kebelitannya selama ini. Kekerasan hati dan keras kepalanya mengalahkan orangtuanya, ya mereka mengijinkan putrinya untuk pergi. Perempuan ini lega sekaligus takut. Lega karena ia boleh bebas namun ia akan menginjak tempat yang benar-benar baru, tanpa seorang pun tempat ia dapat bergantung. Bermodalkan kenekatan lah ia berangkat dan memulai hidup barunya. Berusaha keras untuk mendapat pengakuan, bekerja keras hingga mendapat kepercayaan.
Hidupnya selalu dipenuhi dengan kegiatan. Perkuliahan, organisasi ekstra maupun intra kampusnya. Ia tak membiarkan waktunya terbuang percuma dengan menganggur. Tanpa pernah dipikirkannya masalah tetek bengek pacaran seperti yang kawan-kawannya lakukan, karena yang ia lihat adalah kawan-kawannya kebanyakan ditinggalkan. Ya, ia terlalu takut untuk ditinggalkan, ia sudah tahu rasanya dan tak ingin mengulanginya lagi. Ia pernah menyukai orang, 2,5 tahun lamanya, tapi ia tak pernah bergeming, karena ia tidak ingin terluka lagi. Jadilah ia, hanya memfokuskan hidupnya untuk berkuliah karena ia bersumpah akan menyelesaikan studinya TEPAT WAKTU, ia ingin membuktikan pada saudara-saudara tirinya yang tidak becus kuliah itu bahwa ia lah yang layak dan terbaik dari anak-anak ayahnya. Ia fokus juga pada organisasinya karena ia sadar harus membangun relasinya, bersosialisasi. Akhirnya ia dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, ia amat bangga, bangga pada dirinya sendiri, ia berhasil membuktikan.
Semua hal memang diijinkan terjadi, kekerasan hatinya dapat juga luluh ternyata. Ada saja pria yang mendekatinya, mungkin memperhatikannya. Yah, itulah kelemahannya, selama ini ia tidak pernah merasa diperhatikan, namun kali ini…..
Ia memaksa menepis segala egonya, menekan akal sehatnya untuk menyayangi pria itu. Dari waktu ke waktu, proses itu berjalan, ia mulai terus menyayangi pria itu, terus dan terus tumbuh. Ia rela memberikan segalanya saat ia tau bahwa pria itu butuh. Terasa indah memang saat itu.
Siapa yang dapat menyangka, suatu saat pria itu berkata, “hatiku bukan lagi milikku”. Perempuan ini terdiam, merenung berhari-hari, bingung, bayangan masa lalunya akan ditinggalkan muncul lagi. Walau berkali-kali pria itu berkata tidak akan meninggalkannya, namun ia takut, sangat takut. Ia ingin berusaha membenci pria itu, siapa tahu dapat meringankan perasaannya, namun ternyata ia tidak bisa, ya ia terlalu sayang pada pria itu.
Siapa sangka, suatu hari perempuan ini mendapati dirinya mengandung. Ia bingung, bingung sekali, tak tahu harus berbuat apa. Ia melihat si pria sedang sakit, ia tak tega menambah beban pikirannya. Ia memilih bungkam, dan menanggung semuanya sendiri. Benarlah teori yang berkata bahwa perempuan yang sedang mengandung tidak akan dapat berpikir secara optimal karena ia sudah mulai berbagi nutrisi dengan anak yang dikandungnya. Ia bertindak di luar akal sehat, menutupi kebenaran atau apalah itu namanya.
Namun ia tak dapat menutupinya dengan baik memang, si pria itu tahu dan menangis bersamanya, mengatakan ketidaksiapannya, hingga diputuskan untuk menggugurkan anak yang dikandung. Malam itu adalah malam terberat yang dilaluinya, mendapati kenyataan bahwa si pria tak sanggup lagi bila ia mengubah keputusannya. Ia merasa kacau, bingung, dan terlebih takut untuk berbicara lagi dengan pria itu.
            Perempuan itu memilih untuk pergi sejenak melepas kepenatan pikirannya, bertemu kawan-kawannya dan menyusun rencana pengguguran itu. Dalam perjalanan itu ia termenung, ia mencoba mengenyahkan pikirannya dengan menonton film, pas sekali, film itu bercerita mengenai, perjuangan seorang calon ibu yang mempertahankan anaknya walau anak itu sudah mengancam jiwanya. Selama menonton, ia tak henti mengeluarkan air matanya, padahal sudah berkali-kali ia menonton film itu dan tak pernah sekalipun ia menangis sebelumnya. Ia mengelus perutnya dan mencoba untuk mempertahankan kandungannya. Alasannya mempertahankan? Mungkinkah sudah muncul rasa cinta kasih itu, tumbuh seiring berkembangnya janin itu? Mungkin…..
            Kadang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan kan, sapa duga malam itu si perempuan mengalami pendarahan yang menyebabkan ia harus dirujuk ke rumah sakit dan kenyataan yang ia dapat adalah ia keguguran. Ia terdiam lagi, kembali lagi ia ditinggalkan, ditinggalkan anaknya sendiri.
Apa memang ini takdirnya? Takdir untuk selalu ditinggalkan… atau ia masih percaya takdir? Entahlah,.. aku rasa perempuan inipun sampai detik ini tak tahu jawabnya.

Senin, 11 Maret 2013

Setiap Perjalanan Pasti Punya Cerita


Setiap perjalanan pasti punya cerita, termasuk perjalanan saya kali ini bersama para sahabat yang sudah saya anggap keluarga sendiri. Berawal dari kejenuhan kegiatan perkuliahan dan rencana thesis, kami bersepakat memerlukan refreshing sejenak. Setelah rapat angkatan, maka diputuskan untuk memilih Pantai Sundak dan beberapa lokasi wisata di Yogyakarta. Persiapan dimulai, hunting belanjaan, transport, dan perlengkapan lainnya.
Sabtu, 9 Maret 2013 pukul 06.00 WIB bersama-sama berangkat ke Pasar Kota Salatiga untuk berbelanja perlengkapan logistik, kemudian mulai mengolah beberapa makanan untuk dijadikan bekal selama perjalanan nanti. Ada beberapa kejadian lucu selama persiapan ini, mulai dari perdebatan menu sampai tragedi api yang menjulang tinggi hampir mencapai plafon ketika menggoreng ikan. Sayangnya tidak ada dokumentasi saat itu karena kejadian yang begitu cepat saking shocknya.


Kira-kira beginilah ilustrasinya
       Saat kejadian pun, ada kak Ventry yang sedang membuat sambel di sebelah dan ada dua sahabat lagi (Damar dan James) yang datang dan berdiri tepat di belakang saya, ketika api menjulang tinggi, saya sontak mundur dengan kedua tangan memegang peralatan memasak, berharap penuh agar dua orang sahabat saya itu berinisiatif untuk mematikan kompor, namun apa daya mereka malah seolah berdecak kagum serta berteriak “wow...wow...wow... keren.. masterchef... masterchef...”. yak ampun, padahal jantung saya sudah hampir mau pindah dari tempatnya, sumpah shock setengah mati (#untung gak jadi pindah ini jantung).
         Persiapan logistik sudah, pulang ke tempat masing-masing untuk mempersiapkan diri. Pukul 14.00 WIB, perjalanan dimulai, sepanjang perjalanan di mobil diisi dengan cerita-cerita seru. Pukul 16.00 WIB kami sudah memasuki kota Yogyakarta. Mulai meraba jalanan ke Wonosari, karena semua penumpang mobil belum ada yang pernah ke Pantai Sundak ini. Perjalanan berhenti sebentar untuk makan sambil beristirahat sejenak, yah sebelum singgah ke tempat makan, perdebatan kembali terjadi untuk memilih tempat makan (bayangkan saja, ada 10 orang dengan daerah asal yang beragam (Papua, Kalimantan, Tobelo, Minahasa, Ambon, Kupang, Semarang, Ambarawa), dengan selera yang berbeda-beda pula, semuanya berdebat untuk memilih mau makan apa -__-). Akhirnya diputuskan, kita semua makan Mie Ayam Baso saja hahahahhaa.....
         Perjalanan dilanjutkan, melalui Bukit Bintang, lalu memasuki kawasan Kota Wonosari, ternyata ada pasar malam yang tempat parkirnya menggunakan badan jalan, singgah sebentar untuk membeli “Arum Manis” yang begitu menggoda di pinggir jalan.
Arum Manis yang begitu menggoda J

Perjalanan jauh sambil melewati beberapa pepohonan yang sepi membuat kak Noni cukup takut dengan perjalanan ini, akhirnya diputuskan untuk bertanya dengan warga agar lebih meyakinkan. Dalam beberapa kali bertanya dengan warga, ada kejadian konyol lagi, kak Dika yang notabene duduk di depan mendampingi Damar yang menyetir mobil, bertugas untuk bertanya pada warga, dalam satu kesempatan, Kak Dika dengan gaya superhero melompat keluar mobil untuk bertanya, tiba-tiba saja kembali masuk ke dalam mobil dengan wajah memelas. Kami tentu saja kaget dan khawatir serta bertanya-tanya, kekagetan kami terjawab ketika kak Dika bilang, “Ada anjing besar sekali, pas liat kak Dika langsung berdiri dan mendekat, kak Dika takutttt.....”. Gubrakkk, sontak kami semua tertawa hahahhaha..... perjalanan terus berlanjut hingga memasuki Pantai Sundak, hal konyol lagi terjadi ketika dengan polosnya kak Dika bertanya pada penjaga parkir di pantai, “pak, ini Pantai Sundak satu-satunya kan? Gak ada pantai Sundak yang lain?”. Pak penjaga parkir tersebut menjawab dengan meyakinkan sambil tersenyum-senyum.
          Tiba di pantai, langsung menggelar tikar dan mulai memasak. Kejadian konyol kembali terjadi. Kompor yang digunakan memasak adalah kompor yang sering digunakan untuk kegiatan outdoor sehingga ukurannya kecil dan menggunakan tabung gas butane yang kecil pula, ketika angin datang, nyala api sedikit tidak stabil dan hampir mengenai tabung, kak Dika yang memasak menggunakan kompor tersebut sontak kaget karena takut tabung meledak memutuskan untuk berbalik badan mencoba berlari menghindar (padahal kami semua terdiam terpaku menunggu stabilnya nyala api, hanya kak Dika yang bereaksi). Kak Dika yang panik, mencoba bangkit untuk menghindar, namun karena pasir yang diinjak, beliau jadi agak sulit untuk bergerak cepat alhasil tersungkur dan menindih arum manis yang diletakkan di belakang kak Dika, seketika bunyi meletus membahana, kami semua terpaku pada kompor karena mengira bunyi berasal dari kompor, namun kompor baik-baik saja, akhirnya kami menyadari suara itu berasal dari kemasan arum manis yang ditindih kak Dika. Sebenarnya kami semua ingin tertawa melihat kekonyolan ini, namun melihat wajah kak Dika yang cemas serta bercucuran keringat, kami mengendalikan diri untuk tertawa, cuma memang ada satu orang atas nama James yang tidak dapat mengendalikan diri, beliau tertawa terbahak-bahak tanpa henti, langsung saja beliau dimaki-maki kak Dika, kami yang lain pura-pura sibuk ketika James dimaki, saya dan Jil pura-pura fokus memasak, Kak Ventry dan Damar seketika fokus memanggang ikan, Pak Pieter dan Mas Rumbi fokus membuat perapian, kak Noni dan Mbak Iqna tiba-tiba sibuk bersih-bersih tikar (dalam hati tertawa karena kejadian barusan dan bersyukur karena James dimaki-maki wakakkakakakak #peace mbak bro hoho).
Masak dulu... J
Buat api unggun... J
            Alam memang berpihak pada kami, langit sangat cerah, bintang bertaburan di langit, sahabat-sahabat bermain di pantai yang airnya sudah surut dan mulai mengamati rumput laut serta hewan-hewan laut. Bertukar cerita sambil menikmati kudapan dan langit yang indah, hmmm nikmatnya hidup ini J. Malam kian larut, saya memilih masuk ke dalam tenda untuk beristirahat, beberapa memilih untuk masuk ke mobil dan beberapa lainnya memilih untuk tidur beralaskan pasir pantai dan beratapkan langit berbintang. Ada beberapa kejadian konyol lagi (menurut beberapa sahabat) namun saya tidak menyaksikan karena sudah terlanjur masuk ke alam lain.
          Saya terbangun pagi-pagi dan segera keluar dari tenda untuk menunggu matahari terbit dan melukis langit dalam dunia digital, namun kenarsisan para sahabat memang tak dapat terbendung, akhirnya kamera saya lebih banyak Homo sapiens nya daripada landscape nya hahaha.... Tidak lupa saya menyaksikan teman-teman dari tenda sebelah sholat subuh berjamaah di pinggir pantai, ah indahnya pagi ini, dapat menyaksikan cara masing-masing individu menikmati alam ciptaanNya, thanks God, You are rock!!!! Setelah puas menikmati pagi, mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.
Sholat subuh berjamaah....
           Perjalanan kali ini menuju kontrakan teman untuk membersihkan diri, kemudian mulai berwisata kuliner di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Saya dan Jily yang doyan berwisata kuliner tentu memilih menikmati pecel di areal Beringharjo, menyantap es Dawet, juga es Durian serta sate di areal depan Museum Benteng Vredeburg.
Pecel di areal depan Pasar Beringharjo, Malioboro, Yogyakarta
Es Dawet......
Es Durian, yummy....J
Makan Sate di depan Museum Benteng Vredeburg....
          10 Maret pukul 13.30 WIB, kami mulai meninggalkan kota Yogyakarta dengan sejuta cerita di benak masing-masing. Sampai di kota Salatiga, pekerjaan sudah menanti, tidak lupa rencana untuk trip selanjutnya. Thank’s guys buat pengalaman seru kali ini. Besok-besok kemana lagi ya? Hahahahha....

# Thank’s to Jesus Christ (You are my savior), Damar, Ka Dika, Ka Noni, Mbak Iqna, Ka Ventry, Jily, James, Mas Rumbi, Pak Pit (you all rock guys!!!!)  J