Malam ini aku
merenungkan banyak hal, tidak tidur karenanya.. Memang benar yang orang
katakan, kasih ibu akan selalu melimpah bagi anaknya, mulai dari dalam
kandungan hingga anaknya dewasa dan kembali pada Sang empunya kehidupan. Cinta kasihnya
begitu murni, hingga sulit untuk dirasionalkan. Cinta kasihnya tulus, tanpa
alasan.
Satu lagi yang
disebut cinta (mungkin), cinta pada pasangan. Masa ini aku melihat, ada seorang
perempuan yang tegar (kelihatannya) namun ternyata menyimpan segudang masalah
di benaknya. Tak seorang pun dibiarkannya tahu apa yang sedang digumulkannya,
dia hanya berprinsip “cukup aku yang tahu dan mengalaminya”. Sekian lama ia
tidak peduli dengan lawan jenisnya, dia selalu merasa bahwa dia mampu, padahal
banyak yang bilang dia kesepian, namun dia tak peduli.
Hidup
perempuan ini “terlihat” baik-baik saja memang, yah tapi semua orang punya
cerita (kata kawanku). Aku diijinkan
melihat seluruh kehidupannya dan dia berkata, “biar jangan ada lagi yang
sepertiku”. Dia terlahir atas perjuangan ibunya (ya, hanya ibunya sendiri),
banyak yang tidak mengharapkan kelahirannya. Perjuangan ibunya sendiri selama
14 semester. Tanpa banyak yang tahu bahwa ayahnya sendiri awalnya tak
menginginkannya. Apa hendak dikata, dia terlahir ke dunia, tanpa didampingi
ayahnya, bahkan ayahnya pergi bersama wanita lain yang lebih dulu dinikahinya
tanpa ibunya ketahui. Sang ayah kembali dan menjalani kehidupan seperti biasa,
siapa duga sang ayah perlahan-lahan mulai menyayangi anaknya dan menutupi kenyataan
untuk melindunginya (mungkin).
Sang anak
menjalani kehidupannya dengan baik, selalu meraih prestasi di sekolahnya,
bahkan saat tingkat menengah pertama, dia berada di puncak prestasinya sampai
ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan membahagiakan keluarga yang telah
menyayanginya dengan prestasi-prestasinya. Lomba-lomba debat, cerdas-cermat,
sepak terjangnya di OSIS sungguh mencengangkan, hingga akhirnya nilai UANnya
mendapat juara umum. Dia bahagia sekali melihat orangtuanya memperoleh piagam
penghargaan atas prestasinya. Ya… ia bahagia sekali hari itu, senyum selalu
terlontar dari bibirnya, teman-temannya menjulukinya si wajah senyum karena
memang dia selalu tertawa renyah, menghibur kawan-kawannya.
Malam itu, ya
dia pulang malam setelah bermain dengan kawan-kawannya karena siangnya baru
saja mendapat kabar ia diterima di salah satu sekolah menengah umum favorit di
kotanya. Apa yang ia dapati di rumah? Rumahnya, istananya, berantakan, beberapa
barang pecah, ia melihat ayahnya duduk dengan wajah kaku di kursi meja makan,
ia bertanya namun ayahnya diam saja. Ia berlari ke kamar ibunya, ia mendapati
ibunya menangis sambil mengepak barang-barang, kembali ia bertanya, namun
ibunya hanya bilang, cepat bereskan barang-barangmu! Ia terlonjak kaget dan
mundur, berlari ke kamarnya dan yang ia dapati adalah boneka-boneka
kesayangannya sudah digeletakkan di lantai, lemarinya terbuka, ia bingung,
benar-benar bingung, ada apa ini?
Ia menangis
tanpa tahu apa sebabnya, mengurung diri di kamarnya seharian, hingga ibunya menggedor
pintunya dengan keras namun ia tak peduli, akhirnya sang ayah, orang yang amat
disayanginya karena tidak pernah memukulnya bahkan selalu memeluknya penuh
kasih mengetuk dengan halus dan memintanya keluar. Ia akhirnya keluar, memeluk
ayahnya dan kembali bertanya, “kenapa”. Sang ayah melepas pelukannya, menyusun
kembali boneka-bonekanya dalam diam, merapikan kamar putrinya dalam diam. Sang
ibu menarik tangannya dan menceritakan hal yang telah disembunyikan ayahnya
selama bertahun-tahun. Anak perempuan itu terdiam, air matanya mengalir, ia tak
percaya apa yang baru saja didengar. Orang yang paling disayanginya, tanpa ia
tahu ternyata membohonginya bertahun-tahun, berhari-hari ia tak bicara, diam
seperti mayat berjalan, duduk dengan tatapan kosong. Ya, ternyata sang ayah
sudah menikah sebelum dengan ibunya. Ibunya dijadikan istri kedua. Dengan istri
sebelumnya , sang ayah sudah memiliki lima anak, hal inilah yang menyebabkan
kelahirannya dulu tak diinginkan.
Kegoncangan
mentalnya menggugah orang tuanya untuk rujuk, membantunya untuk bangkit, namun
memang sulit. Kehidupannya sungguh berbalik, ia yang juara umum nilai UAN,
untuk naik tingkat saja hampir tak sampai, dia yang dulu ceria, kini berubah
menjadi pendiam dan pemurung. Untunglah dia memiliki sepupu yang selalu
menopangnya, perlahan ia bangkit, mulai kembali aktif dalam setiap kegiatan
ekskul sekolahnya, ia mendapatkan lagi kawan-kawannya namun luka itu tetap
membekas, tak pernah pulih seperti dulu lagi keceriaannya. Tetap saja dalam
satu waktu sepupunya menemukannya sedang melamun.
Ia terus
menjalani hidupnya, hingga tak didengarnya lagi kabar dari sepupunya. Ia
mencari dan terus mencari namun tak satupun menjawabnya. Ia masih ingat janji
sepupunya untuk mengunjunginya pada lebaran saat itu, namun sepupunya tak
kunjung muncul, ia kembali kecewa, orang yang disayanginya tak menepati
janjinya, meninggalkannya. Ia mengurung diri lagi di kamarnya. Sang ayah
mengetuk pintu kamarnya, masuk dan duduk di samping putrinya yang meringkuk di
sudut kamar. Sang ayah akhirnya bercerita bahwa sepupu yang disayanginya itu
telah meninggalkannya selamanya. Ya, sang sepupu itu telah pulang ke rumah
Bapa, karena…. bunuh diri. Ya, “bunuh diri”. Itulah yang ia dengar dari
keluarganya. Dari media surat kabar dia mendapat berita bahwa sepupu
kesayangannya bunuh diri karena ditinggal oleh pacarnya. Pacar?? Ia tahu bahwa
saat itu sepupunya tak punya pacar. Jadi apa sebenarnya penyebabnya? Ya, sampai
detik ini, bertahun-tahun, ia sama sekali tak tahu kebenarannya. Kebenaran tak pernah
berpihak padanya, selalu bersembunyi darinya, hingga ia tidak tahu bagaimana
wujud kebenaran itu. Ia ingin mengejar kebenarannya, namun tak tahu harus
bertanya pada siapa. Bertanya pada sepupunya langsung mungkin? Perempuan ini
memacu motornya sekencang mungkin, berharap dia dapat menemukan di mana
kebenaran yang ia cari. Sapa sangka, ia membawa motornya dalam lamunan, ya
lamunan yang menghantarnya ke IGD sebuah rumah sakit karena kecelakaan dan
harus rela menghampiri ICU selama 1 minggu. Cedera tulang belakang membuatnya
tidak dapat berjalan selama dua minggu, bahkan sempat koma dua hari. Hal yang
paling diingatnya ketika sadar adalah wajah ibunya dalam tangisan, sakit lagi
yang ia rasakan, bukan fisiknya tapi hatinya. Berkali-kali hatinya terus menerus
tersakiti, mungkin benar pepatah bilang, “hati adalah bagian tubuh yang terkuat
namun juga paling lembut, makanya ia tetap mampu bertahan walau berkali-kali
disakiti, lembut karena sebenarnya ia paling sensitif”.
Kali ini ia
tak sendiri, ia memiliki sahabat, sahabat sejak sekolah dasar, bermusuhan dua
tahun karena keegoisannya (lucu memang), dan kembali bersahabat. Sahabatnya
selalu mendengarkannya, saling mendengarkan. Tiap hari sahabatnya selalu
menjemputnya, mengajaknya melihat sisi lain pergaulan. Ya sahabatnya seorang
wanita perokok, tukang minum minuman keras, pemakai narkotik juga, namun
sahabatnya menyayanginya. Sekalipun sahabatnya begitu, ia selalu menjaga
sahabatnya. Tak sekalipun diperbolehkannya sahabatnya untuk mencoba
barang-barang itu, ya ia begitu melindunginya. Sahabatnya berkata, “ini supaya
kamu tahu dan tak terjebak di dalamnya”. Dengan polosnya perempuan itu
mengangguk dan sejak saat itu tak pernah lepas dari sahabatnya, ia tergantung
dengan sahabatnya, kemana-mana selalu bersama sahabatnya, hingga mereka
dijuluki pasangan homoseksual. Tapi mereka tak pernah peduli, karena mereka
pikir cuma mereka yang tahu seperti apa mereka.
Pagi ini hasil
kelulusan diumumkan, dua sahabat tadi sama-sama lulus, mereka bergembira
bersama. Perempuan ini ingin melanjutkan studinya, menggapai cita-citanya,
mengikuti test perguruan tinggi. Ayahnya ingin putrinya tidak jauh darinya.
Hingga hasil test perguruan tinggi itu diumumkan, ya perempuan ini diterima di
fakultas kedokteran salah satu universitas swasta di Ibukota. Ya, cita-citanya
memang dokter. Namun masa lalu menghantuinya, Ibukota? Bukankah itu kota tempat
istri pertama ayahnya tinggal bersama kelima anak-anaknya? Langsung ia merobek
surat dari perguruan tinggi itu. Ayahnya sungguh marah dan tak mengijinkannya
kuliah keluar dari kota tempat lahirnya. Perempuan ini tak habis akal, ia
mendaftar di salah satu perguruan tinggi di kota yang asri (pikirnya saat itu),
jauh dari hiruk pikuk. Ia menguras tabungannya, membayar registrasi dan
mengurus semuanya sendiri. Ya untung sang ibu selalu mengajarkannya mandiri.
Ayahnya
kewalahan, ibunya pun sudah putus asa untuk membujuknya, ya keinginannya sudah
bulat untuk keluar dari rumah itu. Ia ingin bernafas lega sejenak dari
kebelitannya selama ini. Kekerasan hati dan keras kepalanya mengalahkan
orangtuanya, ya mereka mengijinkan putrinya untuk pergi. Perempuan ini lega
sekaligus takut. Lega karena ia boleh bebas namun ia akan menginjak tempat yang
benar-benar baru, tanpa seorang pun tempat ia dapat bergantung. Bermodalkan
kenekatan lah ia berangkat dan memulai hidup barunya. Berusaha keras untuk
mendapat pengakuan, bekerja keras hingga mendapat kepercayaan.
Hidupnya
selalu dipenuhi dengan kegiatan. Perkuliahan, organisasi ekstra maupun intra
kampusnya. Ia tak membiarkan waktunya terbuang percuma dengan menganggur. Tanpa
pernah dipikirkannya masalah tetek bengek pacaran seperti yang kawan-kawannya
lakukan, karena yang ia lihat adalah kawan-kawannya kebanyakan ditinggalkan.
Ya, ia terlalu takut untuk ditinggalkan, ia sudah tahu rasanya dan tak ingin
mengulanginya lagi. Ia pernah menyukai orang, 2,5 tahun lamanya, tapi ia tak
pernah bergeming, karena ia tidak ingin terluka lagi. Jadilah ia, hanya
memfokuskan hidupnya untuk berkuliah karena ia bersumpah akan menyelesaikan
studinya TEPAT WAKTU, ia ingin membuktikan pada saudara-saudara tirinya yang
tidak becus kuliah itu bahwa ia lah yang layak dan terbaik dari anak-anak
ayahnya. Ia fokus juga pada organisasinya karena ia sadar harus membangun
relasinya, bersosialisasi. Akhirnya ia dapat menyelesaikan kuliahnya tepat
waktu, ia amat bangga, bangga pada dirinya sendiri, ia berhasil membuktikan.
Semua hal
memang diijinkan terjadi, kekerasan hatinya dapat juga luluh ternyata. Ada saja
pria yang mendekatinya, mungkin memperhatikannya. Yah, itulah kelemahannya,
selama ini ia tidak pernah merasa diperhatikan, namun kali ini…..
Ia memaksa menepis segala egonya,
menekan akal sehatnya untuk menyayangi pria itu. Dari waktu ke waktu, proses
itu berjalan, ia mulai terus menyayangi pria itu, terus dan terus tumbuh. Ia
rela memberikan segalanya saat ia tau bahwa pria itu butuh. Terasa indah memang
saat itu.
Siapa yang dapat menyangka, suatu
saat pria itu berkata, “hatiku bukan lagi milikku”. Perempuan ini terdiam,
merenung berhari-hari, bingung, bayangan masa lalunya akan ditinggalkan muncul
lagi. Walau berkali-kali pria itu berkata tidak akan meninggalkannya, namun ia
takut, sangat takut. Ia ingin berusaha membenci pria itu, siapa tahu dapat
meringankan perasaannya, namun ternyata ia tidak bisa, ya ia terlalu sayang
pada pria itu.
Siapa sangka, suatu hari
perempuan ini mendapati dirinya mengandung. Ia bingung, bingung sekali, tak
tahu harus berbuat apa. Ia melihat si pria sedang sakit, ia tak tega menambah
beban pikirannya. Ia memilih bungkam, dan menanggung semuanya sendiri. Benarlah
teori yang berkata bahwa perempuan yang sedang mengandung tidak akan dapat
berpikir secara optimal karena ia sudah mulai berbagi nutrisi dengan anak yang
dikandungnya. Ia bertindak di luar akal sehat, menutupi kebenaran atau apalah
itu namanya.
Namun ia tak dapat menutupinya
dengan baik memang, si pria itu tahu dan menangis bersamanya, mengatakan
ketidaksiapannya, hingga diputuskan untuk menggugurkan anak yang dikandung.
Malam itu adalah malam terberat yang dilaluinya, mendapati kenyataan bahwa si
pria tak sanggup lagi bila ia mengubah keputusannya. Ia merasa kacau, bingung,
dan terlebih takut untuk berbicara lagi dengan pria itu.
Perempuan
itu memilih untuk pergi sejenak melepas kepenatan pikirannya, bertemu
kawan-kawannya dan menyusun rencana pengguguran itu. Dalam perjalanan itu ia
termenung, ia mencoba mengenyahkan pikirannya dengan menonton film, pas sekali,
film itu bercerita mengenai, perjuangan seorang calon ibu yang mempertahankan
anaknya walau anak itu sudah mengancam jiwanya. Selama menonton, ia tak henti
mengeluarkan air matanya, padahal sudah berkali-kali ia menonton film itu dan
tak pernah sekalipun ia menangis sebelumnya. Ia mengelus perutnya dan mencoba
untuk mempertahankan kandungannya. Alasannya mempertahankan? Mungkinkah sudah
muncul rasa cinta kasih itu, tumbuh seiring berkembangnya janin itu? Mungkin…..
Kadang
apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan kan, sapa duga malam itu si
perempuan mengalami pendarahan yang menyebabkan ia harus dirujuk ke rumah sakit
dan kenyataan yang ia dapat adalah ia keguguran. Ia terdiam lagi, kembali lagi
ia ditinggalkan, ditinggalkan anaknya sendiri.
Apa memang ini takdirnya? Takdir
untuk selalu ditinggalkan… atau ia
masih percaya takdir? Entahlah,.. aku rasa perempuan inipun sampai detik ini
tak tahu jawabnya.