Sabtu, 29 Desember 2012

Matamu


Aku tak tahu mengapa akhir-akhir ini terasa ada yang aneh di diri
Tiap malam kau selalu datang menghias mimpi
Padahal tak ingin ku mengingatmu
Sore ini aku berjalan di tengah derasnya hujan
Tak sedetik pun aku berpikir tentangmu
Tapi mengapa aku melihat matamu
Ya! Aku melihat matamu di tengah hujan deras itu
Aku mendengar kau memanggil namaku
Ya! Kau memanggil namaku sampai dua kali
Aku tak berani menoleh untuk menatap mata itu
Sungguh aku tak berani, aku tak sanggup
Maaf..... maaf MUNGKIN aku mencintaimu dengan terlalu
Membuatku tak tahu cara untuk merelakanmu



# Dalam kungkungan dinding putih yang dingin, sambil menyaksikan seorang Ibu memperjuangkan anak dalam kandungannya

Rabu, 26 Desember 2012

Waktu


Waktu memang selalu membawa manusia kepada gerbang paling menakutkan. Kerentaan. Sebuah ketidakabadian umum yang menjadi rahasia Tuhan karena siklusnya selalu berputar seperti kincir air pada dam, sumber yang terinjak justru menghasilkan energi. Waktu adalah musuh masa dan menjadi teman terbaik sekaligus. Ketidakabadian yang abadi. Karenanya orang-orang takut sendiri. Waktu adalah gambaran kerentaan bumi seperti pemintal yang menyebarkan benangnya lalu menggulung dan menjalin pada tiap lembarnya. Pengorbanan ulat sutra demi keindahan. Bumi ini telah tua, wajahnya telah berkerut. Seperti halnya wanita yang merenta, maka cakar ayam di ujung matanya dan flek hitam di pipinya. Sebuah kematangan yang tak lagi mangkal.
            Aku mencintaimu seperti kalangan mencintai rembulan serta kembang sedap malam yang tersapa embun tengah turun, dari uap sejati menjadi titik-titik tanpa tepi sebab pada kelopaknya ia bersandar hingga pagi membawa sinar lalu kering tertelan hangat matahari. Ia jadi uap lagi. Hatiku padamu jadi uap lagi. Aku tak pernah bisa mengungkapkannya padamu, aku menyesalinya dan aku tak akan mengulangi kesalahan ini. Aku telah belajar.
            Aku kini tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku.


What we are right now, is a product of our past
If we don’t like what we see today, we change it
We make it happen
It may not be for the benefit of our own, but by God, it will be for the benefit of our children’s children
-R.K-

Menerbitkan Matahari


Aku duduk di depan jendela kamar rawatku
Menatap langit yang beranjak kelabu
Senja yang tak biasa, tak ada jingga senja kali ini
Jingga yang biasa redup, namun memancarkan semangat
Hari ini kelabu saja, seperti berduka, seolah tak ada fajar esok hari
Ah, bukan tak ada, ia ada!!
Hanya awan-awan itu terlalu bandel menyembunyikannya
Seolah ia sedang merayuku, lalu berkata “berduka saja fitri, teteskan air matamu”
Keluarkan desakan dalam dadamu sampai surut dukamu
Lalu tegakkan kepalamu!
Hapus air mata yang tersisa di pipimu!
Lalu, lihatlah langit, lihat dengan cermat
Lihat! Ada seberkas cahaya yang menyiramimu dengan harapan
Untuk melanjutkan hari
Sampai senja nanti menyisakan jingga
Tanda matahari esok pagi bersinar cemerlang
Menyemai hidup yang akan terus berlanjut


Lorong Putih


“Kehilangan itu sudah pasti tapi harapan jangan sampai mati”
Subuh ini aku terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh, punggung yang nyeri, dan perut yang tidak keruan rasanya. Kutatap tembok putih tinggi yang mengkungkungku, mereka membisu dan menatapku dalam keheningan. Kuambil remote televisi dan kuhidupkan tv itu, ternyata ulasan tentang lagu-lagu Ada Band, waktu itu yang dibahas adalah lagu “Yang Terbaik Bagimu”. Hmmm... lagu ini begitu penuh kenangan. Bagiku tak hanya makna seorang ayah di balik lagu ini, namun ada pengalaman lain di baliknya.
Kupejamkan mata, kuresapi lagu ini, tak terasa ada butiran hangat mengalir di pipi. Ya, aku mengingatmu sahabat, aku merindukanmu “Yohannes Alfa”. Beberapa waktu lalu, siapa sangka aku berjumpa denganmu di lorong itu. Kau berdiri di ujung lorong itu, tersenyum manis, mengenakan serba putih, namun mengapa aku tak bisa menujumu? Langkahku terasa berat dan tak sampai-sampai, kau begitu jauh di ujung lorong itu. Akhirnya aku menyerah alfa, aku hanya melambaikan tanganku tanda membalas sapaan dan senyumanmu. Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kau membalikkan tubuhmu dan pergi menghilang ditelan cahaya putih terang di ujung lorong itu, namun hatiku terasa lega, kau bahagia di “sana” J
Hai Alfa, aku teringat 7 tahun lalu, saat kau masih bisa main ke rumah, bercerita banyak, mendengarkan curhatku. Kau pendiam, banyak mendengarkan. Padahal ku juga tahu, begitu banyak dan berat masalahmu, namun kau tegar menghadapinya. Kau sahabat yang kuat alfa. Tak terlalu pantas rasanya aku mengorek masalah keluargamu. Namun yang kutahu pasti, dengan keluarnya kau dari rumah keluargamu, tak lantas menghilangkan rasa sayangmu pada ayahmu. Aku tahu kamu terlalu mencintai ayahmu, tapi mungkin ego membuatmu bertindak begitu. Aku tahu pasti itu, kamu menyayangi ayahmu, sangat mencintainya. Bila tidak, mengapa setiap saat kamu selalu membicarakan ayahmu. Bahkan di penghujung usiamu, kamu masih sempat menyanyikan lagu untuk ayahmu, ya lagu itu, “Yang Terbaik Bagimu”.
Kamu terlalu cepat pergi Alfa, setidaknya untukku saat itu, terlalu cepat. Perjumpaan kita baru seumur jagung, hanya 1 tahun. Tapi hanya dalam waktu 1 tahun, kau begitu banyak meninggalkan kenangan indah sahabatku. Terima kasih untuk kebersamaan singkat namun berarti itu. Aku menyayangimu sahabat. Tulus menyayangimu sebagai seorang sahabat J
Kuingat lagi tubuhmu yang kaku, berselimut kain putih, terbaring tenang di rumah duka itu. Banyak yang menangisimu, bahkan ada yang histeris jatuh di pangkuanku karena menangisimu. Kuingat dengan jelas, aku sama sekali tak meneteskan air mata saat itu, aku diam, duduk terpaku di salah satu sudut dalam ruang di rumah duka itu. Menatap tubuhmu, mengingat kembali seluruh kenangan kita. Aku tak mampu meneteskan air mata itu, wajahmu begitu tenang, mungkin kau lebih bahagia begitu, lalu mengapa aku harus menangisinya?
Sudah 7 tahun itu berlalu Alfa, aku tak pernah melupakanmu, aku mengasihimu sahabat. Terima kasih untuk perjumpaan yang indah di lorong putih itu, aku tahu kamu bahagia di sana. Bahagia bersama Bapa di Surga.

Kematian


Kematian adalah apa yang paling titik. ‘Apa’ dan bukan ‘alpa’ sebab ia sangat berisi dan tidak kosong atau akhir. Ia hanya salah satu tanda baca, titik yang paling titik. Jeda. Kematian adalah pintu dari segala sendiri dan jalan dari awalnya akhir. Kematian adalah antara. Kematian warnanya abu-abu, lalu hitam, lalu ungu. Kematian warnanya temaram. Berbau kembang Kamboja dan sedap malam. Berbau hio yang dibakar. Bersuara tangis basah pada wajah-wajah sedih dan menghitam, suram kala mereka mulai menangis lagi karena mengingat akan kematian dan ia yang mati. Kematian adalah penantian dari pertemuan. Kematian hanya antara. Kematian adalah rezeki bagi tukang peti mati yang mengaryakan profesinya pada yang tak lagi hidup, bagi mbok penjual kembang yang segarnya ditaburi di jalan dan di atas nisan, bagi sang pewaris yang ditinggalkan harta bahkan mungkin keris, bagi belatung yang menyantap kenyang daging membusuk, bagi krematorium yang mengabukan tubuh tak bernyawa. Tapi kematian merupakan kesialan bagi cacing pita dalam raga tak bernyawa sebab oksigen tak lagi diembus, sari makanan tak lagi terserap, organ tak lagi bekerja, matilah si cacing pita.

Jiwaku adalah jiwa bebas
Merdeka tanpa jeruji
Bahkan tanpa nama yang mengikat diri
Sedari lahir hingga mati

Kamar Rindu


“‘Rindu itu adalah seonggok pisau. Ketika kau menggenggamnya, sisi tajamnya akan mengiris. Serpihan yang tertinggal kala ia menghujaniku dengan kata-kata sederhana, menoreh-noreh hatiku”

Ruang-ruang kian redup dengan perlahan
Gelap merayap dan serangga-serangga berpesta
Aku berlari mencari terang
Namun kutukan ini menghempaskanku dalam lorong sunyi
Masihkah rinduku bersarang pada kamar putih itu?
Ini adalah mimpi
Untuk yang beranjak lapuk dimakan waktu



Derai Hujan dan Sedekat Hati


Senja melepuh dalam hening, seperti juga aku yang membisu dalam percikan bara dirinya yang menghujaniku
Ada kedalaman dalam bola matanya, yang terus menyeretku masuk
Dan selalu setiap ia ada, arus itu akan menari-nari menggodaku untuk bermain-main dan tiba-tiba aku sudah tenggelam dalam pusaran yang diciptakannya
Apakah ini pusaran yang tak kukenali?
Udara selalu menepuk wajahku berpaling ke arahnya
Lalu saat berikutnya, imaji senyumnya terus terpampang menggantikan rumus-rumus kimia di papan tulis, atau suaranya selalu mengalir dari bibir para pengajar di depan kelas
Ini harus dihentikan!

Hujan di luar jendela itu menjadi pelampiasanku
Mungkin derai hujan itu mampu menghapusnya
Alam semesta pun sepertinya telah bekerjasama untuk mencurahkan perhatian pada segala yang ada padanya
Segala yang kutemukan pada dirinya, tiba-tiba menjadi begitu penting
Aku terjebak dalam kelam awan dan dinginnya hujan
Namun untunglah aku masih ingat, masih ada harap akan indah pelangi dan hangat mentari
Malam menjelang, semakin lelah dan suntuk
Ia menelanku perlahan-lahan bersama diriku yang tenggelam dalam pendar senyumnya menata celah pada pekat malam dengan tarian cahaya
Apakah aku sampai pada saat harus mengakhiri kegamangan ini?
Ya, Ini harus dihentikan!

Cinta yang Tak Mungkin


“....Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu”

Ku pejamkan mata ini
Ku tertidur tanpa lelap
Tapi ku bermimpi kau jadi milikku
Suaramu tetap bernyanyi
Walau sadar ku kian tak ada
Namun ku bahagia lagumu milikku
Indah senyumanmu takkan bisa pudar
Makin indah di hatiku
Walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi
Apapun yang kau ciptakan
Ku akan berjuang dapatkan
Jika kau bahagia aku semakin bahagia
Indahnya wajahmu takkan pernah sirna
Makin terang di hatiku
Walau ku sadari cinta yang tak mungkin jadi
Indah senyumanmu takkan bisa pudar
Makin indah di hatiku
Walau ku sadari itu cinta yang tak mungkin jadi
Meski ku tak bisa memiliki dirimu
Takkan ku berpaling pergi (berpaling pergi)
Makin ku mencintai ku lepas kau kekasih
Biar terbang tinggi cinta yang tak mungkin
Terbang tinggi

Cinta Tak Mudah Berubah Jadi Benci


Aduh Fitri! Kamu tu lho galau terus, ngomongnya cinta terus, sudahlah, galau tu gak usah dipelihara! Itu tuh kalimat yang sering singgah di telinga saya beberapa bulan terakhir. Ya memang diakui, saya memang galau! Banyak banget hal yang membuat saya galau, jadi ketua angkatan di Magister Biologi itu selalu membuat saya galau, dosen-dosen saya itu orang-orang sibuk tingkat internasional! Jadi banyak banget jadwal kuliah yang harus di make up. Bukan cuma masalah nyari jadwal, tapi juga nyari ruang kuliah, belum lagi harus nyocokin jam ama jadwal teman-teman yang lain karena mahasiswa Master itu juga ada yang kerja. Terus tambah lagi satu kegalauan, ada aja dosen yang suka ngegodain, sms aneh-aneh, manggil dengan panggilan aneh pula, ini maksudnya apa??!!! Kemudian rencana thesis juga, ini yang paling bikin galau, topik thesis ini juga harus berkaitan dan mendukung untuk 4 publikasi sebagai syarat jadi M.Si. wow...!!!(#sambil.koprol) Nah tambah lagi urusan asmara, galaunya dikit tapi, namun bisa jadi pelampiasan. Kemudian tugas-tugas yang menggunung ibarat Mount Everest hahahaha.... Lalu tambah kerjaan sebagai consultant juga sedikit kerjaan di Lembaga Kemahasiswaan, bikin galau juga. Yah, tapi saudara-saudara di balik itu semua, ada hikmahnya, saya jadi gak kesepian karena selalu sibuk tingkat internasional (pengen nandingin dosen-dosen saya itu -.-“), ditemanin sesama manusia galau (a.k.a. Ruben Wicaksono/ adek kesayangan gue yang rada ‘bego’ juga kak Itin yang selalu jaga batas kebrutalan kita di tempat umum hahaha), nambah pengalaman juga (pengalaman berdebat (kadang debat kusir -.-“)) serta nambah inspirasi buat blog karena banyaknya pengalaman ‘gila’ yang saya alami.
Ditemanin sesama manusia galau, khususnya yang bernama Ruben Wicaksono thu sesuatu banget, bisa jadi segila-gilanya. Untung masih ada kak Itin yang jagain dan ngingetin tentang kebrutalan kita yang harus dikendalikan apalagi di tempat umum. Minum wine jadi menu sehari-hari, topik pembicaraan ‘maksiat’ juga jadi hobi, makan gila-gilaan sampai ‘hamil’. Gak lupa juga ada kak Acha, yang jadi tempat curhat sampai nangis-nangis hahahaha. Kakak-kakak cowok di Lab (a.k.a. kak Dany “Jepang”, Kak Dhanang “cumi”, Kak Yafet “kelassss”, dll) yang selalu ngece (oke baiklah, silakan saja panggil saya “SIPITri”). Yah dengan adanya kalian sewaktu galau, minimal saya gak bunuh diri atau pindah agama lah #ngomong.apa.sih? Hahahaha (kidding J)
Di balik semua kesibukan itu, saya jadi teringat ada seorang kakak yang dulu pernah menyindir saya sewaktu masih aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas dulu, “Fit, kamu itu lho, diperbudak oleh kesibukan! (a.k.a. William M. Alfons)” hahahha... ya memang saat itu saya agak kelewatan sih, sudah jadi salah satu pimpinan di BPMU, ngurus skripsi, PKMP yang saya ajukan ke DIKTI didanai lagi, masih ngurus Balanophora juga, sempet-sempetnya naek gunung tiap weekend karena kejenuhan kerjaan yang menumpuk, dan akhirnya saya pingsan lalu disuruh istirahat total, tapi lagi-lagi kebandelan saya muncul, bersibuk-sibuk ria mah teteup. Istirahat total itu ngebosenin, masa disuruh tiduran seharian, punggung saya pegel atuh dok! Akhirnya nonton film korea dah ama anak-anak kost (Annyeong Haseyo J).
Begitulah saudara-saudara yang beriman dan berbudi luhur, saya benar-benar amat sangat (#lebay.mode.on) mencintai pekerjaan saya. Saya menikmati pekerjaan saya sebagai mahasiswa master (yah gak semua orang bisa kuliah master GRATIS kayak saya), jadi ketua angkatan juga not bad (jadi terkenal di se-antero gedung pascasarjana), jadi consultant juga dapet duit, kerjaan di Lembaga Kemahasiswaan juga cukup menyenangkan (sekalian nostalgia karena dulu pernah berkecimpung di dalamnya). Ya, saya benar-benar menikmati kesibukan saya, walau kadang tetangga protes, saya pergi pagi-pagi dan pulangnya kadang nyaris pagi lagi hahahaha, tapi thank’s buat pengertiannya my neighbours J
Lha fit, trus apa hubungannya “Cinta Tak Mudah Berubah Jadi Benci” yang elo jadiin judul tulisan dengan cerita kesibukan elo?? Yah begini saudara-saudara yang beriman dan berbudi luhur, saya benar-benar menyukai, mencintai dan menikmati pekerjaan/ kesibukan saya. Saya menikmati berjam-jam di Laboratorium (bahkan pernah 20 jam on seharian di Lab), saya menikmati tugas-tugas yang mengharuskan membaca setumpuk jurnal-jurnal berbahasa inggris, saya menikmati kuliah dari pagi sampai malam, rapat-rapat organisasi yang saya ikuti, memutar otak sebagai consultant, semua pekerjaan yang saya lakukan, saya mencintainya! Namun bayangkan saja, pekerjaan-pekerjaan itu selalu membuat saya lelah, jenuh, jengkel, pokoknya fisik dan psikis teruji lah. Kadang nyaris meneteskan air mata, karena deadline tugas sudah mencekik leher namun masih belum selesai dan kadang belum mengerti, seringkali jengkel dengan teman-teman organisasi yang kurang berkomitmen. Kalau membaca novel, komik, majalah bertumpuk sekalipun tak jabanin dah, lha ini yang kudu dibaca adalah setumpuk jurnal-jurnal berbahasa inggris yang menggunakan istilah-istilah dari planet antah berantah, otak saya langsung galau maksimal. Meminjam istilah dari teman-teman Ambon saya “MEMANG PALING COBAAN SEKALI E” hahaha... betul, semua pekerjaan yang saya cintai itu selalu mencobai saya -.-“. Namun hal itu tak serta merta membuat saya membenci hal ini kemudian. Benci itu gak keren! Gak serta merta bikin masalah bisa selesai, malah mungkin nambah-nambahin kerjaan. Yah, semua tergantung pilihan masing-masing sih, mau tetap cinta atau merubahnya jadi benci. Kalo saya, lebih memilih untuk tetap cinta, karena ada gift yang bakal saya dapetin atas semua kerja keras melawan rasa benci itu.
Ada sebuah lagu yang saya suka, liriknya menarik bila dihayati. Namun sekali lagi, semua itu tergantung persepsi, ingin melihat lirik lagu ini dari sudut pandang yang mana (yang cerdas pasti mengerti maksud saya J). Judulnya “Cinta Tak Mungkin Berhenti” yang dinyanyikan oleh Tangga. Bila berkenan, download aja dan berikut liriknya.
Cinta Tak Mungkin Berhenti
Tak ada kisah tentang cinta
Yang bisa terhindar dari air mata
Namun ku coba menerima, hatiku membuka
Siap untuk terluka
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar
Dari pahitnya cinta
Namun ku pilih begini, biar ku terima
Sakit demi jalani cinta (cinta)
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga (sehingga) hidupku (hidupku) pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Hanya kamu yang bisa (…)
Bisa membuatku rela (rela menjalani segalanya)
Rela menangis karenamu (ku rela ku rela …)
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti (cinta tak mungkin berhenti)
Tak mudah berganti jadi benci (tak mudah untuk berganti)
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Biar ku pergi sembuhkan hati
Seperti pada kalimat “Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti”, dalam konteks tadi, jatuhkan hatimu pada kerjaan/ kesibukanmu sehingga hidupmu lebih berarti. Setiap kerja keras yang positif pasti menghasilkan hal yang baik pula. “Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati”, ya, setiap kerjaan/ kesibukan pasti akan menimbulkan suatu kejenuhan, pergilah untuk menyembuhkan hati alias refreshing. Refreshing itu perlu guys J. Jadi selamat diperbudak kesibukan dan mencinta J

#di kungkungan dinding putih tinggi

Bulan dan Bintang


Kami selalu bertegur sapa dalam kesenyapan malam
Mengakrabi kenyinyiran angin yang mengganggu kemesraan kami dengan embusan nakalnya
Kadang ia membisikkan kegelisahan yang mengecupku sampai aku menelusup di balik selimut
Aku tahu, diriku bukanlah tentang segalanya ketika dia membakarku dengan sinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa
Wahai, siapakah pemilik muslihat penuh dusta ini hingga menghilangkan kedirianku, mengusikku saat mencari kedalaman kelam pada langit malam
Aku hanya rinai hujan yang tak akan pernah sampai padanya, pada bulan, pada bintang
Hanya kembali pada Bumi