Selasa, 20 September 2011

Kebetulan kah???

          Aku tidak bisa berhenti tertawa malam ini. Berawal janji untuk makan malam bareng dengan seorang kakak, pulangnya kami menggosip dan membicarakan orang. Mengingat jalan yang sepi, maka kami tanpa segan berbicara nyaring-nyaring dan tertawa sekeras-kerasnya. ketika melewati sebuah tikungan jalan, kami masih membicarakan seseorang sambil tertawa, tak dinyana ada beberapa orang berjalan berlawanan arah dengan kami, mataku tidak dapat melihat jelas karena lampu yang remang dan aku langsung terkejut ketika menyadari siluet tubuh orang-orang berjalan di depan kami ini ku kenali dengan jelas dan orang-orang itulah yang sedang kami bicarakan hahahaha......
          Akhirnya dengan wajah sok elegan menyapa dan mengajak bicara sebentar, yak ampun setelah berpisah, aku tak henti-hentinya tertawa, orang yang dibicarakan malah muncul di depan mata, memang mulut itu punya gaya tarik bumi hahahahah............

Sabtu, 17 September 2011

Renungan Kekonyolan


Siang hari ini aku merenung sendiri, listrik di kost sedang error, jadilah kamarku gelap, baterai laptop habis, baterai handphone low nyaris tewas juga, sehingga aku bingung pengen ngapain. Jalan ke luar, hmm… rasa malas melanda lagipula cuaca mendung disertai gerimis. Jadilah aku duduk di lantai kamar, bersandar pada dinding kamar yang dingin, kaki berselonjor bebas, kupejamkan mata dan aku jadi teringat sesuatu dan aku mulai kembali ke kejadian itu dalam imajinasiku.
Pagi-pagi sambil menatap terbitnya matahari, eyang dan kakak perempuan menasihatiku. Nasihat yang diberikan sambil bercanda itu tak dinyana jadi renunganku jua haha…. Eyang bilang, “Fit, kamu itu sudah masuk dalam masa breeding, jadi kapan punya teman special?” aku langsung tertawa dan kakak menimpalinya, “iyo fit, rasanya beda kalo punya”. Dua lawan satu, akhirnya aku menjawab sambil sesekali tertawa, “saya kebanyakan kerjaan eyang, jadi ga mau nambah kerjaan lagi haha…”, eyang langsung menjawab, “lha yo cari yang bisa ngasih spirit tho”, aku menjawabnya hanya dengan tawa saja saat itu.
Hari ini 17 September 2011, hmmm…. Aku jadi teringat 2 tahun kurang 1 bulan yang lalu tepatnya 17 Oktober 2009, tanggal yang tak mungkin terlupa. Tepat hari itu aku pertama kali melihat sosoknya, tak ada yang special saat itu, cuma sedikit kejengkelan saja karena kelelahan saat itu. Selang beberapa bulan setelahnya aku baru mulai mengaguminya perlahan-lahan wakakakakkakakkkk…….. mungkin di mata orang-orang, dia biasa saja, tapi bagiku, hmmm gimana ya? Sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata hahay…..
Yup, ternyata bukan aku saja yang merasakan kagum padanya, kakak perempuan yang satu juga, wah jadilah aku merasa tak enak hati sendiri dan menguburnya dalam-dalam. Aku tahu dia lebih kenal duluan, aku juga tau si sosok itu has something pada seseorang, sulit lah rasanya. Cukup mengaguminya saja, itu sudah cukup. Ya, cukup itu saja sudah cukup. (lha kok jadinya ngomongin cukup-cukup terus?? hahaha)
Ya, melihat dia tersenyum saja, itu sudah cukup, melihat dia dengan wajah seriusnya, itu juga sudah cukup, semuanya cukup, aku kadang bisa berbagi cerita dengannya, itu sudah sangat-sangat cukup, benar begitu? Hahahahaha… mungkin begitu lah, aku juga tak tahu bagaimana….
Kembali lagi dengan percakapan di pagi hari bersama eyang, “hmmm… ya eyang, saya uda kagum dengan seseorang dari dua tahun lalu, tak terungkapkan, sulit dibayangkan, biar begitu saja, waktu yang menjawab, walau saya tahu itu tak mungkin hahahaha”. Kalo eyang minta saya untuk mencari, udah ada eyang tapi gak mungkin, itu masalahnya, hati saja udah mentok tok tok tok, ga bisa kagum orang lain selain dia dari 1,5 tahun lalu sampai sekarang, kalo eyang tanya mengapa, lha masalahnya saya juga tak tahu mengapa eyang hahaha……
“Tikk”, eitz lampu kamarku menyala, terasa silau, aku membuka mata, gerimis telah berhenti, matahari mulai terlihat menyinari langit siang ini, aku menatap handphone, mengetik sms…. tapi tak jadi ku kirim, aku memilih melempar handphone itu ke atas kasur dan aku berdiri, meregangkan otot sejenak, lalu berkutat depan laptop, membuka kembali photo-photo dua tahun kurang satu bulan itu sambil tersenyum-senyum sendiri layaknya orang sinting hahahahaha…….





By. Rachel Fitria
Kamar Kost, 17 September 2011, at 21.21 WIB

Nostalgila gila-gilaan


10 September 2011, hummm….. aku duduk di belakang sederet dengan teman-teman fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan. Yahhh… tidak terasa 2 tahun berlalu sejak aku jadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Biologi dulu dan ini sudah kedua kalinya aku datang ke Rapat Kerja Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Biologi dengan sebagai undangan, periode lalu aku sebagai undangan dari Senat Mahasiswa Universitas (SMU), kali aku datang sebagai undangan dari Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU).
Hari ini aku duduk paling belakang bersebelahan dengan partner kerjaku di BPMU, kak Carmen Matheis. Pertama kali masuk dalam ruangan tadi, aku langsung merasakan atmosfer yang dulu pernah kurasakan dua tahun lalu, bedanya dulu aku gugup setengah mati karena baru pertama kali ikut dalam rapat kerja sebagai penanggung jawab tertinggi pula, namun sekarang aku sangat ringan melangkahkan kakiku ke dalam ruangan karena selain kali ini aku yang mengkritisi bukan yang dikritisi, aku juga seperti merasa ini momenku, momen seperti dua tahun yang lalu.
10 Oktober 2009, aku melakukan rapat kerja LKFB bersama rekan-rekan sekerjaku. Masih terekam jelas diingatanku, ketua-ketua bidangku saat itu melakukan presentasi rencana program kerja, adapun ketua-ketua bidangku saat itu adalah Tri Kurnia Kristiani Waruwu (KaBid Humanistik Skill), Teodora Gloria Destiananda (KaBid Professional Skill), Jily Gavrila Sompie (KaBid Kesejahteraan Mahasiswa). Mempertanggungjawabkan rancangan program kerja, mempertahankan konsep dan menerima banyak kritik dan masukan, hmmm hal biasa dalam rapat kerja.
Selama periode berjalan, dinamika-dinamika terus terjadi, kekecewaan, kejengkelan, kemarahan, sukacita, duka-dukaan, aku lewati bersama rekan-rekan. Persahabatan yang akhirnya pecah karena perbedaan ideology juga terpaksa aku rasakan. Sakit? Ya jawabnya, tapi mau apa lagi, posisiku saat itu menuntutku untuk tetap maju dengan menanggung segala resiko, terberat sekalipun. Kehilangan? Ya juga jawabnya, kegagalanku adalah tidak mampu memperbaikinya. Sulit rasanya, manajemen konflik yang kuterapkan dalam organisasi sama sekali tidak mampu kuterapkan dalam pribadiku, hmmm sudahlah. Bersyukur pernah terjadi konflik besar, aku tidak pernah menyesali itu, karena lebih baik seperti itu daripada melihat orang-orang datang dengan bercucuran air mata. Walau banyak yang mencaci, menyesali perbuatan yang kulakukan, aku tidak menjawab mereka, aku punya jawabannya sendiri yang toh akhirnya mereka rasakan juga, ya aku tidak pernah lupa akan nasihat, “Jangan pernah marah/ kecewa pada orang yang tidak tahu/ mengerti”.
10 September 2011, kini aku sebagai Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas, hadir kembali dalam rapat kerja LKFB sebagai undangan, Jily sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Biologi, memimpin rapat kerja ini bersama Tri sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Biologi, dan tidak lupa Teodora sebagai Ketua Komisi Program BPMFB sekaligus Koordinator Satgas rapat kerja ini. Hmmm…. Bertemu dalam momen yang sama namun berbeda posisi, benar-benar mencampuradukkan perasaanku saat itu. Tahun lalu ketika Titon yang menjadi ketua senat, aku sama sekali tidak merasakan atmosfer ini. Ya periode seakan de javu gitu deh hahahahaha……….
11 September 2011, pagi ini aku ke gereja, duduk di tengah-tengah jemaat, terpaku dengan tema yang diangkat pendeta adalah tentang persahabatan. Dua kakakku di samping sudah tertawa cekikik, sedangkan aku terdiam terpaku sambil termangu, tambah lagi si pendeta menyanyikan lagu yang sering digunakan kakak-kakakku ini untuk meledekku seperti biasa, “Persahabatan bagai kepompong……..” pulang dari gereja pun, kakak-kakak tiada henti-hentinya meledekku, huffftttt….. kadang ada yang tidak bisa aku ungkapkan para kakak, nasihat papi DNA juga tak mampu menembus ketebalan dinding hatiku, sulit sekali God, aku tidak tahu harus bagaimana, aku perlu waktu, bila ada yang bertanya, “berapa lama lagi fit?”, tidak tahu jawabku pasti. Bila ada yang berkata, “mumpung masih ada kesempatan fit”, “biar saja apa adanya”, itu pasti jawabku. “Biar waktu yang menjawabnya, Tuhan pasti menyediakan moment itu kelak, dan aku yakin itu”


By. Rachel Fitria
11 September 2011, 09.50 WIB

Kamis, 01 September 2011

Satu Bulan Penuh Makna


Genap satu bulan sudah aku terlibat dalam management pembinaan adek-adek SMA yang akan mengikuti Olimpiade Sains Biologi, banyak sekali hal yang aku dapat dalam keterlibatanku ini. Yah, satu bulan penuh makna, bukan hanya kawan-kawan muslim yang memaknai bulan Agustus ini sebagai bulan penuh makna karena bulan ramadhan, aku pun juga memaknainya :).
Tanggal 2 Agustus 2011, siang hari bertempat di Bina Dharma, aku dan rekan-rekan se-team pertama kali bertemu dengan adek-adek SMA se-Jawa Tengah yang saat itu dimataku mereka pendiam, lugu, tertunduk malu-malu. Perkenalan singkat dilakukan, aku mendapat dua orang anak bimbingan. Pada malam harinya, kembali kami berkumpul bersama adek-adek ini dan juga Papi-papi kami hahaha…. Malam itu, banyak kalimat-kalimat motivasi terlontar, adek-adek ini juga terlihat bersemangat, kami juga termotivasi walau malam itu kami harus bergadang untuk membuat soal test. Ya.. malam itu tidak mungkin dapat terlupa, duduk di depan laptop berjam-jam, harus surfing di internet juga membaca buku-buku tebal berbahasa Inggris yang disodorkan oleh papi-papi, wow… great night….

Sudah lelah begadang pada malam harinya, mentari pagi memaksa kami harus bangun, stand by menunggu adek-adek yang akan mengikuti test, menjaga mereka test sambil terkantuk-kantuk, namun aku pun juga harus melaksanakan tugasku sebagai pimpinan di BPMU, sehingga membuatku bolak-balik Kantor BPMU dan PSKTI. Yop, menjelang siang mereka sudah menyelesaikan soal-soal test dan mereka mulai menjalankan kewajiban ibadah sholat mereka. Sambil menunggu mereka sholat, kami mulai memilah-milah lembar jawaban dan memeriksanya serta langsung melakukan scoring. Mereka kembali dari sholat dan mulai belajar lagi dan kami masih berkutat melakukan scoring. Menjelang sore, mereka kembali ke markas mereka di BinDar, kami tetap tinggal untuk menyusun jadwal dan menyusun rank. Aku juga ke kantor BPMU untuk mengikuti rapat pleno BPMU dan keluar sebelum rapat selesai karena melihat kakak-kakak angkatanku melambai dari luar jendela ruang rapat untuk mengajak segera ke BinDar. Malam hari itu setelah selesai menunggu mereka melaksanakan sholat taraweh, kami mulai mempresentasikan hasil scoring mereka dan ranking-ranking mereka, hmmm.. malam itu ada yang menangis pula melihat scorenya, yup no problem, lagipula ini baru awal.
Yah, kukira malam itu aku bisa tidur nyenyak setelah malam sebelumnya kurang tidur, namun dugaanku salah, kami harus membuat soal lagi untuk test terfokus dan ditargetkan 50 soal dalam malam itu dan bukan main-main, harus objective test. Yup, kami nyaris tidak tidur lagi malam itu hahahaha :). Walau dengan badan lelah puolll, akhirnya tetap berkutat di depan laptop dan berkubang di lautan buku-buku tebal berbahasa Inggris, membaca dengan dahi berkerut-kerut dan mata berairan karena radiasi cahaya dari laptop hahay.
Pagi harinya, memaksakan diri untuk bangun pagi-pagi lagi, mereka test lagi, dan aku harus berkutat di kantor BPMU dengan seabrek kerjaan yang menumpuk. Jenuh dengan kerjaan di BPMU, aku kembali ke tempat adek-adek test, ternyata mereka telah selesai dan kami kembali harus memeriksanya. Malam harinya kami kembali harus stand by di BinDar dan mengagihkan waktu untuk content expert memberikan materi serta kembali mempresentasikan hasil test mereka. Setelah adek-adek kembali beristirahat, kami harus kembali berdiskusi untuk rencana pembinaan selanjutnya. Satu hal yang patut disyukuri malam itu, aku dapat pulang dengan diantar serta dengan suksesnya terkapar tidur tanpa sempat mengganti baju, cuci kaki atau melepas kaus kaki, tergeletak begitu saja di ranjang sampai pageee saking capeknya huahahahahha….
Begitu terus tiap hari rutinitas yang kami lakukan, setiap malam berdiskusi dengan para papi, sembari curhat melepas penat dan beban, semua terasa ringan kala itu walau telah lelah beraktivitas seharian. Tidak pernah kulupa juga, tekanan yang kami dapat dari pihak-pihak tertentu yang aku tidak mengerti mengapa mereka harus marah dan jealous kami terlibat dalam pembinaan ini. Sms di subuh hari serta email di pagi hari yang tidak mengenakkan terpaksa aku dapatkan dengan hati miris dan tertekan membacanya, membuat down, jadi merasa underestimate gak jelas, juga merasa tidak dipercaya, yah perasaan campur aduk saat itu, ingin nangis, tapi buat apa? Toh itu tidak menyelesaikan masalah juga. Entah ini sudah yang ke berapa kali kami dikerjain seperti ini, aku sendiri nyaris merasa kebal dan sudah tidak peduli, yang ku tahu aku lelah berhadapan dengan orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri namun aku tetap tidak ingin putus asa menghadapi ketidakadilan yang kadang mereka lakukan.
Aku dan teman-teman memang telah memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan ini, maka kami yang harus mempertanggungjawabkan pilihan kami dan menanggung segala resikonya bukan mereka! Kadang aku ingin berkata pada mereka, “hai kawan, kerjakanlah bagianmu dan tidak usah melihat rumput tetangga, Tuhan sudah membagi porsi kita masing-masing, ngapain kalian harus ribut-ribut dengan kepemilikan dan kepercayan orang lain?”. Enough kawan, aku lelah melihat tingkah laku kalian, kasian juga tapi aku tak tahu harus bagaimana. Ingin bersikap tidak peduli namun aku pun tak bisa, aku terlanjur sayang pada kalian, kalian semua orang-orang yang menempati posisi masing-masing dalam hatiku, aku sayang kalian semua, walau kadang sumpah serapah keluar dari bibirku untuk pelampiasan emosiku, tapi kalian tidak dapat melihat kan kalo dalam hati aku sayang kalian. Aku tidak lupa kalian juga memiliki arti dalam hidupku ketika aku jauh dari orang tua, aku menganggap kalian pelindungku, senyum kalian walau sinis sekalipun selalu tersimpan dalam benakku sebagai tanda kalian tetap memperhatikanku walau konteksnya tidak seperti yang aku harapkan sekalipun.
Biar sudah semua yang terjadi, kita tetap harus melangkah maju, bersyukur untuk para papi yang setiap hari selalu ada untuk memberi support sehingga kami lebih kuat untuk menjalani hari-hari berikutnya. Tidak lupa juga kami mendapat kawan baru, yang satu sedang menempuh studi di UGM dan yang satunya lagi sedang menempuh studi di Turki. Kami berkesempatan bekerja sama dengan kawan-kawan yang keren ini dalam pembinaan, kami dapat belajar banyak hal. Tidak pernah lupa berkeliling kampus bersama Yunita (UGM) untuk mencari tanaman yang diperlukan untuk praktikum, sharing bersama tentang ketertarikan kawan satu ini untuk meneliti perilaku primata di lereng Merapi, suatu spirit luar biasa darinya untuk meneliti hal tersebut, saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman metafisiknya selagi berada di hutan gunung, menemaninya sahur dan beraktifitas sama-sama tiap hari :). Tidak terlupa juga dengan kawan dari Purwokerto yang sedang studi di Turki, suatu keberuntungan dia sedang pulang ke Indonesia setelah tiga tahun tidak pulang, thanks berat karena sudah mengorbankan waktu bersama keluarga dan memilih berkumpul dengan kami untuk share ilmu dan gokil-gokilan bareng :). Yanuar namanya, sewaktu SMA juga pernah mengikuti Olimpiade Sains bahkan sampai ke tingkat Internasional di India waktu itu, juga mendapat beasiswa studi ke luar negeri berkat kepandaiannya dalam cabang ilmu Biologi. Pekerja keras dan tekun, hal ini yang dapat kulihat dari keduanya, dan walau sepandai itu mereka ternyata juga sama gokilnya haha…. Satu hal yang terekam jelas diingatanku, ketika di suatu pagi harus mengantarkan Yanuar sampai ke Bawen untuk mengejar mobil travel yang akan mengantarkannya ke Purwokerto. Sudah pagi-pagi, belum mandi, belum sikat gigi pula, ga bawa duit, dengan pedenya berangkat ke Bawen naek bus, untung dibayarin pula (ga lucu kan kalo kita balik  ke Salatiga kudu jalan kaki?! Haha…). Thanks Yanuar and Yunita, lanjutkan perjuangan kalian juga ya untuk terus berkarya dalam bidang yang kalian geluti, met berjumpa lagi suatu saat nanti, apalagi Yanuar yang bulan September ini harus kembali ke Turki lagi :).
Malam terakhir pembinaan tidak lagi dalam kondisi belajar serius namun sambil sharing dan evaluasi. Ya, malam itu kami semua berkumpul di rumah papi kami, semua dapat berbagi rasa dan cerita, juga ada yang bercucuran air mata. Satu bulan bersama memberi kesan tersendiri bagi adek-adek ini juga kami pastinya. Kami saling belajar, menerapkan metode sparing partner dalam pembelajaran membuat kami cukup dekat dengan mereka. Satu kalimat lucu terlontar malam itu, “Thanks buat para tutor yang mendampingi kami, karena kalian telah mengenalkan tentang ke’gokil’an dunia Biologi pada kami” hahahaha… malam yang luar biasa juga, satu bulan bersama ternyata juga membangun suatu hubungan emosional di antara mereka, ada yang jadian juga hahaha (congratz for Syuga and Sutarto J). Selamat berjuang adek-adekku (Lilo, Ferias, Syuga, Nafia, Intan, Tarto, Javier, Husni, Pratiwi), jalan di depan masih panjang, semangat buat olimpiade di Manado nanti, ingat janji kalian bahwa kalian akan memberikan yang terbaik untuk Jawa Tengah (dulu). Juga selamat berjuang untuk adek-adekku yang belum sempat ke Manado, tahun depan semoga kita bertemu lagi dalam kesempatan yang sama untuk belajar bareng mengantar kalian sebagai peserta Olimpiade Sains Nasional tahun depan, for Yusuf, Anis, Agis, Firman, Enggar, Mega dan Surya, tetap semangat yak :).

Tidak lupa special thanks buat Papi Jub, papi Fer, Bunda Silvi, Papi Bud, Bu Ryanti, Bu Pur, Kak Kris, Mbak Echa, Mbak Dias, Kak Eche, Kak Sur, Jil, Tri, Kak Ulhin, juga buat Eyang Narto, aku benar-benar belajar banyak hal, Wow….. satu bulan yang luar biasa, ada di lingkup orang-orang seperti kalian, aku merasa berkembang secara positif. Dapat orangtua baru, kakak-kakak yang gokil, hmmm hari-hariku jadi sangat berwarna akibat kehadiran kalian semua hahaha J. Thanks all…. Kusimpan history ini dalam memoryku baik-baik.



By. Rachel Fitria
Kamar Kost, 2 September 2011 at 12.14 AM
Ngetik sambil ngopi-ngopi :)

Pintar itu apa sih?


Pintar itu relatif (menurut saya lho). Seseorang bisa disebut pintar itu kalo apa? Kalau seandainya, dia pintar memainkan biola tapi tidak bisa memainkan piano, apakah dia bisa disebut bodoh? Dia bisa tetap disebut pintar (dalam bidang tertentu kan). Nah sekarang, dia bisa disebut pintar dalam hal memainkan biola, tapi apa tidak boleh dia belajar memainkan piano? Tentu dia SANGAT boleh belajar memainkan piano, memberi dia kesempatan untuk belajar, mengapa kita tidak mensupportnya? Toh dia telah dipercayai dan cukup percaya diri untuk belajar. Lagipula tidak ada ruginya bagi orang lain kalo dia belajar, toh yang mengajari juga tidak protes dan mengeluh untuk mengajari yang bersangkutan. Gitu aja kok repot dan ribut-ribut.