Genap satu bulan sudah aku terlibat dalam management pembinaan adek-adek SMA yang akan mengikuti Olimpiade Sains Biologi, banyak sekali hal yang aku dapat dalam keterlibatanku ini. Yah, satu bulan penuh makna, bukan hanya kawan-kawan muslim yang memaknai bulan Agustus ini sebagai bulan penuh makna karena bulan ramadhan, aku pun juga memaknainya :).
Tanggal 2 Agustus 2011, siang hari bertempat di Bina Dharma, aku dan rekan-rekan se-team pertama kali bertemu dengan adek-adek SMA se-Jawa Tengah yang saat itu dimataku mereka pendiam, lugu, tertunduk malu-malu. Perkenalan singkat dilakukan, aku mendapat dua orang anak bimbingan. Pada malam harinya, kembali kami berkumpul bersama adek-adek ini dan juga Papi-papi kami hahaha…. Malam itu, banyak kalimat-kalimat motivasi terlontar, adek-adek ini juga terlihat bersemangat, kami juga termotivasi walau malam itu kami harus bergadang untuk membuat soal test. Ya.. malam itu tidak mungkin dapat terlupa, duduk di depan laptop berjam-jam, harus surfing di internet juga membaca buku-buku tebal berbahasa Inggris yang disodorkan oleh papi-papi, wow… great night….

Sudah lelah begadang pada malam harinya, mentari pagi memaksa kami harus bangun, stand by menunggu adek-adek yang akan mengikuti test, menjaga mereka test sambil terkantuk-kantuk, namun aku pun juga harus melaksanakan tugasku sebagai pimpinan di BPMU, sehingga membuatku bolak-balik Kantor BPMU dan PSKTI. Yop, menjelang siang mereka sudah menyelesaikan soal-soal test dan mereka mulai menjalankan kewajiban ibadah sholat mereka. Sambil menunggu mereka sholat, kami mulai memilah-milah lembar jawaban dan memeriksanya serta langsung melakukan scoring. Mereka kembali dari sholat dan mulai belajar lagi dan kami masih berkutat melakukan scoring. Menjelang sore, mereka kembali ke markas mereka di BinDar, kami tetap tinggal untuk menyusun jadwal dan menyusun rank. Aku juga ke kantor BPMU untuk mengikuti rapat pleno BPMU dan keluar sebelum rapat selesai karena melihat kakak-kakak angkatanku melambai dari luar jendela ruang rapat untuk mengajak segera ke BinDar. Malam hari itu setelah selesai menunggu mereka melaksanakan sholat taraweh, kami mulai mempresentasikan hasil scoring mereka dan ranking-ranking mereka, hmmm.. malam itu ada yang menangis pula melihat scorenya, yup no problem, lagipula ini baru awal.

Yah, kukira malam itu aku bisa tidur nyenyak setelah malam sebelumnya kurang tidur, namun dugaanku salah, kami harus membuat soal lagi untuk test terfokus dan ditargetkan 50 soal dalam malam itu dan bukan main-main, harus objective test. Yup, kami nyaris tidak tidur lagi malam itu hahahaha :). Walau dengan badan lelah puolll, akhirnya tetap berkutat di depan laptop dan berkubang di lautan buku-buku tebal berbahasa Inggris, membaca dengan dahi berkerut-kerut dan mata berairan karena radiasi cahaya dari laptop hahay.
Pagi harinya, memaksakan diri untuk bangun pagi-pagi lagi, mereka test lagi, dan aku harus berkutat di kantor BPMU dengan seabrek kerjaan yang menumpuk. Jenuh dengan kerjaan di BPMU, aku kembali ke tempat adek-adek test, ternyata mereka telah selesai dan kami kembali harus memeriksanya. Malam harinya kami kembali harus stand by di BinDar dan mengagihkan waktu untuk content expert memberikan materi serta kembali mempresentasikan hasil test mereka. Setelah adek-adek kembali beristirahat, kami harus kembali berdiskusi untuk rencana pembinaan selanjutnya. Satu hal yang patut disyukuri malam itu, aku dapat pulang dengan diantar serta dengan suksesnya terkapar tidur tanpa sempat mengganti baju, cuci kaki atau melepas kaus kaki, tergeletak begitu saja di ranjang sampai pageee saking capeknya huahahahahha….
Begitu terus tiap hari rutinitas yang kami lakukan, setiap malam berdiskusi dengan para papi, sembari curhat melepas penat dan beban, semua terasa ringan kala itu walau telah lelah beraktivitas seharian. Tidak pernah kulupa juga, tekanan yang kami dapat dari pihak-pihak tertentu yang aku tidak mengerti mengapa mereka harus marah dan jealous kami terlibat dalam pembinaan ini. Sms di subuh hari serta email di pagi hari yang tidak mengenakkan terpaksa aku dapatkan dengan hati miris dan tertekan membacanya, membuat down, jadi merasa underestimate gak jelas, juga merasa tidak dipercaya, yah perasaan campur aduk saat itu, ingin nangis, tapi buat apa? Toh itu tidak menyelesaikan masalah juga. Entah ini sudah yang ke berapa kali kami dikerjain seperti ini, aku sendiri nyaris merasa kebal dan sudah tidak peduli, yang ku tahu aku lelah berhadapan dengan orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri namun aku tetap tidak ingin putus asa menghadapi ketidakadilan yang kadang mereka lakukan.
Aku dan teman-teman memang telah memutuskan untuk terlibat dalam kegiatan ini, maka kami yang harus mempertanggungjawabkan pilihan kami dan menanggung segala resikonya bukan mereka! Kadang aku ingin berkata pada mereka, “hai kawan, kerjakanlah bagianmu dan tidak usah melihat rumput tetangga, Tuhan sudah membagi porsi kita masing-masing, ngapain kalian harus ribut-ribut dengan kepemilikan dan kepercayan orang lain?”. Enough kawan, aku lelah melihat tingkah laku kalian, kasian juga tapi aku tak tahu harus bagaimana. Ingin bersikap tidak peduli namun aku pun tak bisa, aku terlanjur sayang pada kalian, kalian semua orang-orang yang menempati posisi masing-masing dalam hatiku, aku sayang kalian semua, walau kadang sumpah serapah keluar dari bibirku untuk pelampiasan emosiku, tapi kalian tidak dapat melihat kan kalo dalam hati aku sayang kalian. Aku tidak lupa kalian juga memiliki arti dalam hidupku ketika aku jauh dari orang tua, aku menganggap kalian pelindungku, senyum kalian walau sinis sekalipun selalu tersimpan dalam benakku sebagai tanda kalian tetap memperhatikanku walau konteksnya tidak seperti yang aku harapkan sekalipun.
Biar sudah semua yang terjadi, kita tetap harus melangkah maju, bersyukur untuk para papi yang setiap hari selalu ada untuk memberi support sehingga kami lebih kuat untuk menjalani hari-hari berikutnya. Tidak lupa juga kami mendapat kawan baru, yang satu sedang menempuh studi di UGM dan yang satunya lagi sedang menempuh studi di Turki. Kami berkesempatan bekerja sama dengan kawan-kawan yang keren ini dalam pembinaan, kami dapat belajar banyak hal. Tidak pernah lupa berkeliling kampus bersama Yunita (UGM) untuk mencari tanaman yang diperlukan untuk praktikum, sharing bersama tentang ketertarikan kawan satu ini untuk meneliti perilaku primata di lereng Merapi, suatu spirit luar biasa darinya untuk meneliti hal tersebut, saling bercerita tentang pengalaman-pengalaman metafisiknya selagi berada di hutan gunung, menemaninya sahur dan beraktifitas sama-sama tiap hari :). Tidak terlupa juga dengan kawan dari Purwokerto yang sedang studi di Turki, suatu keberuntungan dia sedang pulang ke Indonesia setelah tiga tahun tidak pulang, thanks berat karena sudah mengorbankan waktu bersama keluarga dan memilih berkumpul dengan kami untuk share ilmu dan gokil-gokilan bareng :). Yanuar namanya, sewaktu SMA juga pernah mengikuti Olimpiade Sains bahkan sampai ke tingkat Internasional di India waktu itu, juga mendapat beasiswa studi ke luar negeri berkat kepandaiannya dalam cabang ilmu Biologi. Pekerja keras dan tekun, hal ini yang dapat kulihat dari keduanya, dan walau sepandai itu mereka ternyata juga sama gokilnya haha…. Satu hal yang terekam jelas diingatanku, ketika di suatu pagi harus mengantarkan Yanuar sampai ke Bawen untuk mengejar mobil travel yang akan mengantarkannya ke Purwokerto. Sudah pagi-pagi, belum mandi, belum sikat gigi pula, ga bawa duit, dengan pedenya berangkat ke Bawen naek bus, untung dibayarin pula (ga lucu kan kalo kita balik ke Salatiga kudu jalan kaki?! Haha…). Thanks Yanuar and Yunita, lanjutkan perjuangan kalian juga ya untuk terus berkarya dalam bidang yang kalian geluti, met berjumpa lagi suatu saat nanti, apalagi Yanuar yang bulan September ini harus kembali ke Turki lagi :).

Malam terakhir pembinaan tidak lagi dalam kondisi belajar serius namun sambil sharing dan evaluasi. Ya, malam itu kami semua berkumpul di rumah papi kami, semua dapat berbagi rasa dan cerita, juga ada yang bercucuran air mata. Satu bulan bersama memberi kesan tersendiri bagi adek-adek ini juga kami pastinya. Kami saling belajar, menerapkan metode sparing partner dalam pembelajaran membuat kami cukup dekat dengan mereka. Satu kalimat lucu terlontar malam itu, “Thanks buat para tutor yang mendampingi kami, karena kalian telah mengenalkan tentang ke’gokil’an dunia Biologi pada kami” hahahaha… malam yang luar biasa juga, satu bulan bersama ternyata juga membangun suatu hubungan emosional di antara mereka, ada yang jadian juga hahaha (congratz for Syuga and Sutarto J). Selamat berjuang adek-adekku (Lilo, Ferias, Syuga, Nafia, Intan, Tarto, Javier, Husni, Pratiwi), jalan di depan masih panjang, semangat buat olimpiade di Manado nanti, ingat janji kalian bahwa kalian akan memberikan yang terbaik untuk Jawa Tengah (dulu). Juga selamat berjuang untuk adek-adekku yang belum sempat ke Manado, tahun depan semoga kita bertemu lagi dalam kesempatan yang sama untuk belajar bareng mengantar kalian sebagai peserta Olimpiade Sains Nasional tahun depan, for Yusuf, Anis, Agis, Firman, Enggar, Mega dan Surya, tetap semangat yak :).

Tidak lupa special thanks buat Papi Jub, papi Fer, Bunda Silvi, Papi Bud, Bu Ryanti, Bu Pur, Kak Kris, Mbak Echa, Mbak Dias, Kak Eche, Kak Sur, Jil, Tri, Kak Ulhin, juga buat Eyang Narto, aku benar-benar belajar banyak hal, Wow….. satu bulan yang luar biasa, ada di lingkup orang-orang seperti kalian, aku merasa berkembang secara positif. Dapat orangtua baru, kakak-kakak yang gokil, hmmm hari-hariku jadi sangat berwarna akibat kehadiran kalian semua hahaha J. Thanks all…. Kusimpan history ini dalam memoryku baik-baik.
By. Rachel Fitria
Kamar Kost, 2 September 2011 at 12.14 AM
Ngetik sambil ngopi-ngopi :)