Gunung
Kendil namanya, tingginya pun hanya 1305 mdpl. Di gunung Kendil pula saya
pertama kali belajar mendaki. Sekilas bila melihat ketinggiannya, orang akan
berpikir, “ah gunung pendek segitu”, namun coba deh mendaki gunung Kendil ini,
dijamin kaki bakal ketar-ketir.
3
oktober 2009, saya pertama kali mendaki Gunung Kendil, berlima kami mendaki,
saya, kak Dwi, kak Dia, Andre, Lia dan Eyang Narto, mendaki melalui jalur Desa
Sepakung. Kami berjalan menelusuri desa, menumpang minta air minum di rumah
warga desa sampai diberi seplastik buah-buahan oleh warga yang mungkin tak tega
melihat kami berjalan dari stand ojek
sampai desa. Padahal warga biasanya menggunakan motor atau mobil untuk
transportasinya. Ya itulah, eyang Narto mengajarkan kami “kesederhanaan” sekaligus
melatih otot kaki. Saat mendaki itu juga, saya hampir saja menyerah di tengah
jalan. Maklum saya ini dari kota seribu sungai, Banjarmasin, tak terbiasa
mendaki gunung. Namun hari itu saya menggapai puncak walaupun harus “ngesot”
dan kelelahan.
Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2009
3
Oktober 2015, saya mendaki Gunung Kendil, kali ini ceritanya tentu berbeda.
Saya mendaki kembali Gunung ini setelah 6 tahun untuk mengikuti acara ulang
tahun Balano yang ke-41, kelompok mahasiswa peduli lingkungan, tempat saya dulu
sewaktu bermahasiswa aktif. Kami berlima belas yang mendaki. Saya tentu saja
tertinggal di belakang sewaktu mendaki karena keadaan fisik yang tak terlalu
prima, saya bergadang beberapa hari sebelum pendakian. Kali ini di belakang,
saya ditemani kak Dwi, Novi, dan Eyang Narto. Baru 200 meter dari basecamp, saya merasa pusing dan mual.
Saya pikir mungkin rasa pusing ini akan berlangsung sebentar saja, eh malah
semakin hebat rasa pusingnya, tambah berkunang-kunang dan mual. Saya secara
refleks bersandar di punggung eyang Narto karena tak sanggup lagi mengangkat
kepala. Eyang yang melihat keadaan saya semakin pucat dan suhu tubuh saya
semakin turun, langsung menyarankan saya untuk berbaring dan seketika itu juga
eyang memijat punggung, kepala, dan kaki saya. Kak Dwi dan Novi kebagian jatah
memijat tangan kanan dan kiri saya. Hampir satu jam saya dipijat dan
beristirahat. Setelah dipijat, keadaan saya membaik, saya disuruh istirahat
sesaat sambil ngobrol. Tetiba eyang
nyeletuk, lha ini yang dimaksud, ada tukang pijat di gunung! Eh iya juga, dulu
kapanpun dan dimanapun mendaki bersama eyang Narto, pasti eyang selalu
mengiming-imingi kalau ada tukang pijat di gunung, saya bersama teman-teman sih
tidak terlalu menggubris dan hanya menganggap itu bercandaan ala eyang. Lha
setelah saya mengalami mountain sickness pertama
kalinya ini, baru saya memahami maksud eyang tentang tukang pijat di Gunung! Ah
eyang ada benarnya juga J.
Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2015
Gegara
saya yang semaput, kami ber-4
terlambat sampai di lokasi kemping dan harus rela berteduh dengan MMT bekas
dipinggir jalur pendakian akibat hujan. Sambil berteduh, eyang nyeletuk,
“suasana kehujanan, kedinginan di gunung begini kok ya selalu dirindukan”.
Haha... iya juga. Saya baru kali ini mendaki setelah satu tahun tak mendaki.
Pas kehujanan sambil menghirup aroma petrichor,
saya bernostalgia bersama eyang Narto. Sampai kami tiba di tenda dan tidur
pun saya dan eyang Narto terus bernostalgia. Ya, saya ingin sekali dekat dengan
eyang Narto sebelum saya pergi jauh bertugas mengajar di pelosok negeri selama
satu tahun nanti. Saya termasuk beruntung bertemu sosok Eyang Narto, saya
banyak belajar dari beliau. Saya belajar tentang kesederhanaan, ketulusan,
rendah hati dan yang paling seru, saya belajar “menulis dengan baik dan benar”
dari eyang Narto. Beliau tidak pelit membagikan ilmunya, walau beliau dijuluki
ahli taksonomi tumbuhan, tak pernah sekalipun beliau menunjukkan keangkuhannya,
malah mengajak kami mahasiswanya untuk belajar bersama.
Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2015
Ah
tidak terasa, 6 tahun terasa cepat sekali berlalu. Gunung Kendil punya tempat
istimewa di hati saya. Dua kali saya mendaki gunung yang katanya “pendek” ini,
saya selalu saja hampir menyerah, tapi selalu saja ada Eyang Narto yang memberi
semangat hingga saya mampu menggapai puncak. Saya juga bersyukur sekaligus jadi
pelajaran berharga bagi saya untuk selalu menjaga kondisi tubuh tetap prima
saat mendaki agar tak tepar selama
perjalanan pendakian dan saya akhirnya memahami istilah “tukang pijat di
gunung” yang sering disebut Eyang Narto. Ah saya beruntung mengalami semua
proses ini. Ya, saya beruntung.
Eyang Narto