http://mruhulessin.wordpress.com/2013/04/08/a-letter-for-the-birthday-girl/
Kadang ada yang tak dapat terungkapkan lewat kata namun terlukis dalam goresan pena
Selasa, 27 Mei 2014
Beautiful Gift for my Birthday
Hai
Fit,
Aku akan memulai tulisan ini dengan sebuah penggalan puisi yang kutulis dengan seorang teman, saat ulang tahun kami berdua, tahun lalu.
Aku akan memulai tulisan ini dengan sebuah penggalan puisi yang kutulis dengan seorang teman, saat ulang tahun kami berdua, tahun lalu.
"Waktu adalah penjara dimana semua yang ada telah
terjerumus dan tidak pernah bisa lolos hidup-hidup."
Bagaimana hari2mu setelah bertambah umur Fit? Semoga
tetap bahagia walau sebenarnya waktu kita hidup semakin berkurang. :)
Well, sebenarnya setelah diminta membuat tulisan aku ingin sekali menyelesaikannya. Tapi kebiasaan buruk menghampiriku, yaitu menunda-nunda. Ah, sungguh buruk. Semoga kamu disana tidak sedang menunda mengerjakan sesuatu Fit. Semakin kita menunda, semakin banyak waktu untuk membuat alasan mengapa kita menunda. Misalnya saja, dalam dunia tulis menulis populer istilah "writers block" yang diartikan hambatan menulis. Alasannya, ya tidak mood, tidak punya waktu, lupa (ah pantas ini disebut alasan?) dan sebagainya dan sebagainya. Padahal sebenarnya kita bisa menyelesaikannya kalau mau. Tapi kadang waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab dan komitmen terasa sangat berat ketimbang waktu untuk leyeh-leyeh dan bersosialisasi gak penting. Setelah kupikir-pikir tak ada yg namanya writer block, yang ada hanya malas. haha.
Well, sebenarnya setelah diminta membuat tulisan aku ingin sekali menyelesaikannya. Tapi kebiasaan buruk menghampiriku, yaitu menunda-nunda. Ah, sungguh buruk. Semoga kamu disana tidak sedang menunda mengerjakan sesuatu Fit. Semakin kita menunda, semakin banyak waktu untuk membuat alasan mengapa kita menunda. Misalnya saja, dalam dunia tulis menulis populer istilah "writers block" yang diartikan hambatan menulis. Alasannya, ya tidak mood, tidak punya waktu, lupa (ah pantas ini disebut alasan?) dan sebagainya dan sebagainya. Padahal sebenarnya kita bisa menyelesaikannya kalau mau. Tapi kadang waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab dan komitmen terasa sangat berat ketimbang waktu untuk leyeh-leyeh dan bersosialisasi gak penting. Setelah kupikir-pikir tak ada yg namanya writer block, yang ada hanya malas. haha.
Bagaimana kabar diusia yang baru? Kabar hati, kepala,
kaki, jiwa? Kaki tidak kepala dan kepala di kaki kan Fit??? Kita semua sedang
berperang Fit. Berperang melawan penjara abadi yang namanya waktu. Seperti
halnya semua peperangan, kita butuh berjuang, butuh pengorbanan untk mencapai
garis finish. Pertanyaankah sudah siapkah kita berkorban lebih banyak dari yang
sekarang? Mampukah kita pada akhirnya bertahan dalam perang yang sepertinya tak
pernah berkahir ini? Jawabannya kita masing-masing yang tahu. Menyerah kadang
adalah baik, kadang juga tidak. Dan untuk lebih baik, bukan kah kita harus
berani berjuang lebih?
Aku sengaja tak ingin mempublishnya diblog karena ini
adalah hadiah pribadi yang harus kamu nikmati sendiri awalnya. Ya kalau mau
dibagi-bagikan setelah ini ya gpp. It's yours.
Ah, tulisan ini terlalu serius ya? Haha. Padahal aku
menulisnya sambil minum teh hangat yang manis lalu tersenyum juga manis.
Dalam peperangan hidup ini, jangan lupa selipkan tawa ya. ANGGAPLAH patah hati
dan terluka juga sebagai humor. Sungguh kita tak akan terlalu terluka.
Seperti tahun lalu, tahun inipun aku tak bisa memeluk
langsung dan mengucap selamat ultah. Tapi pelukan lewat doa jauh lebih berarti
kan? Semoga ada kesempatan dan kita bisa segera berjumpa Fit. Arungilah
peperangan hidup ini dengan berani. JANGAN takut, apalagi sama pak F****. haha.
Putuskanlah segala sesuatu dengan kepala dingin. Jangan terburu-buru, jangan
juga terlalu lama. Tenang saja, ada Tuhan yang selalu menjaga dimanapun kita
berada. :D
Selamat ulang tahun ade manis. Nikmatilah hidup
sepenuh-penuhnya. Menulislah selagi bisa. Membacalah selagi ada kesempataan.
Maaf jika tulisan ini baru bisa kamu baca sekarang. Kata orang-orang, sesuatu
ada waktunya. Tapi bukankah semua waktu selalu tepat? Waktu tidak pernah
menunggu sejatinya.
Peluk Cium dari Jauh
K" Acha
Minggu, 18 Mei 2014
Wanna be a doctor?
Setelah
beberapa terakhir dapet “promosi” dari teman satu laboratorium tentang sebuah
film yang katanya dia sih seru, akhirnya saya mengcopy film tersebut dalam
flash disk saya. Judulnya Off The Map. Film ini bercerita tentang kehidupan
para dokter yang bertugas di pedalaman Amerika Selatan. Ternyata film ini oke
juga, saya benar-benar tertarik dengan dedikasi para dokter yang bertugas,
mereka menempuh segala medan berat, bahkan dari film ini saya pikir seorang
dokter yang bertugas di pedalaman kayak mereka kudu bisa menyelam, manjat pohon
(minimal pohon kelapa lah), trus juga kudu bisa bawa motor trail, nyetir mobil
jeep di medan berat, trus yang paling penting mereka benar-benar harus bisa
memanfaatkan bahan alam di sekitar mereka sebagai obat, jadi kudu kreatif dan
cerdas. Dalam setiap episodenya, para dokter selalu diperhadapkan dengan
masalah-masalah sulit, tapi tak sedikitpun semangat mereka kendor, ini nih yang
disebut jiwa kemanusiaan. Padahal yang mereka tolong ini bukan orang-orang
“mampu” loh (maksudnya dalam hal materi) dan juga untuk menolong, terkadang si
dokter bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Otomatis saya langsung
membanding-bandingkan dengan keadaan sebagian besar dokter-dokter kita. Coba
dokter seideal yang kayak dalam film itu bener-bener terwujud dalam dunia
nyata, dunia kedokteran Indonesia, wah indahnya. Jadi pas lagi butuh
pertolongan dokter, yang ditanya tuh, “sakitnya bagian mana? Apa yang anda
rasakan?” bukannya “oke, untuk tindakan pertolongan, silakan mengisi formulir
dan membayar uang admistrasi terlebih dahulu ya”, gubraakkkk…. Nyawa orang
padahal udah di ujung tanduk -_-
Keinget
cita-cita masa kecil, saya betul-betul berambisi menjadi seorang dokter. Waktu
itu bagi saya, dokter itu keren. Dalam lingkungan keluarga saya kagum dengan
ayah saya, dia itu bagaikan dokter di mata saya. Waktu saya masih kecil dan
bandelnya gak ketulungan, membuat ayah saya selalu siaga pulang kantor tiap
sore bawa perban dan peralatan P3K. sebagai anak tunggal yang gak punya temen
di rumah, otomatis saya mencari teman main di luar rumah. Rumah saya terletak
di daerah perkotaan yang padat, gak ada tama kota dekat rumah, jadi kalo main
ya kadang ke lokasi rumah yang sedang di bangun, jadi kalo kecelakaan gak
tanggung-tanggung, pernah suatu kali kaki saya terkena seng trus areal atas
mata kaki saya robek dengan daging tertinggal di seng, darahnya naujubile
banyaknya, dengan kaki berdarah saya dengan pede menyetop becak dan minta
diantar pulang. Sampai di depan rumah, nyali saya ciut ketika melihat ibu saya
sedang duduk di depan rumah menunggu saya pulang, haduh saya berusaha masuk
rumah sambil mencoba menyembunyika luka di kaki saya, tapi apa daya darahnya
merembes terlalu banyak. Ibu saya otomatis teriak-teriak sambil ngomel-ngomel trus
nelpon ayah saya. Pulang dari kantor ayah saya membawa perban yang banyak dan
mengobati luka saya. Karena kalo waktu itu saya dibawa ke rumah sakit pasti
kaki saya dijahit, nah ayah saya takut bekas jahitannya itu gak bisa hilang,
akhirnya beliau sendiri yang merawat luka saya. Jadilah setelah itu saya absen
sebulan gak bisa main di luar rumah dan setiap ayah saya pulang kantor, saya
pasti keringat dingin karena itu jadwalnya ganti perban. Nah kalo ganti perban
tuh nyerinya minta ampunnnnn, apalagi kalo pas ayah saya ngorek-ngorek bersihin
lukanya dan ngasih obat, ya ampun rasanya saya pengen lompat-lompat, apalagi
obatnya Tieh Ta Yao Gin (kalo pengen tau rasanya coba aja deh kalo luka yang
kecil aja ditetesin obat ini). Tapi walau perih, lukanya cepet kering dan
bekasnya gak terlalu nampak sekarang. Pokoknya bagi saya, ayah saya itu keren,
dia paling tau asupan makanan saya, apalagi waktu SMP dan SMA saya jadi junior
atlet basket, makanan saya semua diatur oleh ayah saya, berkat itu juga saya
paling jarang ke rumah sakit kecuali untuk check up rutin dan rutin ke dokter
gigi 6 bulan sekali. Saya pernah bilang pada ayah saya, “Pah, Lia pengen jadi
dokter, mereka keren, trus bisa nolongin orang yang kayak di tv itu, pasiennya
tu uda mau meninggal pah tapi bisa terus idup, keren deh pah” hahahha…. Ayah
saya waktu itu cuma bilang, terserah dah kamu mau jadi apa, yang penting
sekarang belajar yang bener, sekolah yang rajin.
Lulus
SMA, dengan berbekal nilai raport dan bukti prestasi rangking serta rekomendasi
dari sekolah, saya berangkat tes untuk masuk Fakultas Kedokteran. Nah tempat
tes saya ini jaraknya 40 km dari rumah saya karena Fakultas Kedokteran ini
terletak di Banjarbaru, KalSel sedangkan rumah saya di Banjarmasin. Ayah saya
rela cuti selama tiga hari buat nganter saya bolak balik pergi tes. Dan hasil
akhirnya adalah saya gak diterima karena kalah jumlah uang sumbangan
pembangunan dengan teman saya dank arena saya dari sekolah katolik jadi kami
cuma dijatahi 1 kursi saja, beda dengan siswa yang dari SMA negeri, jatah
mereka hampir 80% untuk jalur prestasi yang saya tempuh ini. Jalan lainnya saya
mencoba jalur SPMB dan gak keterima juga. Nah pas ngedaftar di Universitas
swasta dan ikutan tesnya, saya malah diterima dengan rank ketiga, tapi saya
menyerah dengan biaya sumbangan pembangunan dan biaya per semesternya, gilaaa
mahal bingittttt….. bayangkan saja itu untuk tahun 2008, uang sumbangan
pembangunannya dengan jalur prestasi yang saya tempuh, dimintai 110 juta dengan
berbagai diskon karena saya rank ketiga, nah biaya per semesternya donk, 25
juta booooo, belum termasuk praktek, prakteknya bisa nyampe 10-15 juta, kudu
beli mayat kering dan sebagainya. Trus kuliahnya di ibu kota lagi yang biaya
hidupnya aja mahal cuy. Akhirnya jatah saya init a kasih ke temen saya yang
ternyata harus bayar hampir setengah milyar untuk sumbangan pembangunan karena
dia bukan dijalur prestasi. Huffftttt…… memang bukan jatah saya sepertinya
untuk menjadi seorang dokter. Akhirnya saya bilang ke ayah saya, “Pah, lia
nyerah deh, mahal banget”. Trus saya kubur deh itu mimpi saya sedalem-dalemnya.
Trus kuliah di jurusan lain yang biayanya terjangkau hahaha…. Tahun pertama
kuliah, sama sekali kagak niat, tahun kedua mulai tertarik, tahun ketiga dan
seterusnya niat ngelarin kuliah supaya dapet gelar sarjana.
Nah
kebetulan nih saya ngambil kuliahnya gak jauh-jauh amat lah dari kedokteran,
jadi tau dikit-dikit. Awal tahun 2014 ini, keponakan saya didiagnosis menderita
meningitis, jadilah saya setiap hari kudu di rumah sakit karena kondisi keponakan
saya sudah parah dan gak sadar lagi. Waktu di UGD, saya melihat kinerja para
dokter-dokter muda bagian anak itu, ya ampun bikin emosi deh. Akhirnya saya
iseng ke mereka, pas dokter spesialisnya uda selesai memeriksa keponakan saya,
saya cerca mereka yang dokter muda dengan berbagai pertanyaan. Alhasil mereka
ngejawabnya dengan gelagapan dan segera pamit keluar dari ruangan, lha
suster-susternya ditinggalin nih. Memang ya, kalo mau jadi dokter tu selain
persiapan materi yang banyak, kudunya punya hati melayani. Lha wajar sih,
mereka sekolahnya aja mahal, nah kebanyakan dari mereka mesti balikin modal
dulu baru mikir pelayanan. Dan itu terjadi dengan teman saya dan dia sendiri
mengakui itu. Sewaktu saya mahasiswa, saya sering mengantar teman saya masuk
rumah sakit, nah hal pertama yang ditanyain tuh pasti mengenai biaya, alesannya
sih administrasi getooo… pernah nih waktu saya nganter temen saya ke IGD, ada
pasien di kamar sebelah juga dalam keadaan gawat tergeletak di atas ranjang tanpa
ada yang memberi pertolongan pertama, trus saya tanya ke susternya, lha katanya
lagi nunggu istrinya datang lagi dalem perjalanan, trus saya bilang, “kenapa
gak ditindak dulu aja sus pasiennya?” tau gak jawabannya apah, “kami tidak bisa
bertindak selama administrasinya belum diselesaikan mbak”. Alhasil saya hampir
jambak susternya tapi ga jadi sih, gak lucu saya bikin perkara yang sebenarnya
bukan urusan saya (urusan kemanusiaan sih sebenarnya). Tapi si suster juga gak
bisa disalahin sepenuhnya juga, kan dia hanya menjalankan prosedur yang
diterapkan rumah sakit itu kali yak. Yah gak semua dokter sih begitu, saya
punya teman yang sekarang jadi dokter dan bertugas di pedalaman Kalimatan Timur
sana dan saya acungi jempol. Dia sama sekali tidak meminta bayaran atas jasanya.
Kebanyakan peralatan dan obat-obatan yang ada di kiliniknya itu berasal dari
kocek pribadi dan dia pure pelayanan. Dia juga sering mencari sponsor donator
dari kolega-koleganya maupun kolega ayahnya, secara ayahnya juga dokter.
Setidaknya masih ada “surga” di dunia ini.
Jadi
dokter memang gak mudah, selain berkutat dengan masalah materi, bahan
belajarnya juga bukan main susahnya. Saya pernah diundang oleh teman saya dalam
sebuah open house Fakultas Kedokteran, saya diajak melihat-lihat seluruh
laboratorium mereka dan diceritain tentang apa aja yang mereka pelajari untuk
jadi dokter umum. Wah, it’s no joke! Yah itulah konsekuensi logis dari sebuah
pilihan dan tuntutan profesionalitas.
Kembali
ke film Off The Map tadi, semoga banyak orang bisa terinspirasi dari kisah
mereka, bayangin aja si dokter harus membawa pasien yang terlilit anaconda ke
klinik karena kalo anacondanya lepas maka bisa terjadi pendarahan, trus
melakukan amputasi di dalam laut karena kaki si pasien terjepit coral, dan
banyak hal-hal ekstrim lainnya, termasuk menolong pasien tanpa pandang bulu
karena ternyata yang mereka tolong merupakan seorang tentara NAZI yang
bersembunyi di pedalaman tersebut selama 30 tahun. Inilah kemanusiaan,
manusiawi itu ketika memanusiakan manusia.
#ngomong-ngomong
gegara film ini, masih pengen jadi dokter deh hahaha… J
By. Rachel Fitria
18 Mei 2014, 01.19 AM
Salatiga,
Jawa Tengah
Twenty-three
7 April 2014, pagi-pagi
sekali mama menelpon saya, ya hari ini saya berulang tahun, saya beruntung
memiliki orang–orang yang mengingat hari kelahiran saya. 5 April 2014, saya
bahkan lupa kalau saya akan berulang tahun, kami naik gunung tanggal 5 itu,
namun seorang kakak yang mengingatkan saya, “Yee, Fitri kan sebentar lagi ulang
tahun”. Ketika perjalanan pulang saya merenung, saya takut menghadapi tanggal
itu, saya takut kecewa ketika seseorang yang saya harapkan mengucapkan selamat,
pasti dia tidak dapat lagi menelpon saya seperti biasanya. Ya, dia adalah papah
saya. Beliau adalah orang pertama yang selalu mengucapkan hal itu kepada saya
setiap saya berulang tahun. Bahkan setelah mama saya menelpon pagi itu, saya
memandang handphone saya, berharap ada satu panggilan lagi, yang dari papah
saya, walau itu tidak mungkin. Akhirnya saya menekan kontak papa saya dan
menelponnya, “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar
jangkauan”. Ya, papa sudah berada di luar jangkauan, seluler manapun tidak akan
mampu menjangkaunya lagi. Lia kangen sekali pah, kangen pelukan hangat papah.
Ulang tahun identik dengan
ucapan syukur, ya Bapa saya mengucap syukur atas usia yang diberikan dan
kontrak saya di dunia semakin berkurang. Biar di usia yang baru ini, masih
diberi kekuatan bahkan lebih untuk menggapai segala keinginan yang positif.
#setiap tahun tulisan
tentang ulang tahun semakin pendek yak hahahhaha…. J
Kehilangan
Seorang teman saya
pernah berkata kepada saya, “Fit, kehilangan itu sudah pasti, tapi harapan
jangan sampai mati”. Ya, kehilangan, satu kata yang tidak saya suka, saya tidak
suka kehilangan! Hal ini membuat saya cukup protektif dalam segala hal dan
beruntung saya tidak pernah merasa kehilangan. Hingga suatu saat, saya berkata
kepada Tuhan, “Tuhan, saya bosan, ingin rasanya merasakan kehilangan, saya
merasa lemah, saya ingin dikuatkan, challenge
saya ya Tuhan”. Lama sekali rasanya waktu berlalu ketika saya mengucapkan
itu pada Tuhan, namun beberapa waktu terakhir ini, Tuhan betul-betul menguji
saya, memperkuat saya. Ya kehilangan seseorang yang dikasihi itu benar-benar
menguras emosi saya, saya percaya padanya, saya mengasihi dia, saya berusaha
semaksimal mungkin untuk tetap memilikinya, namun dia tidak ingin saya miliki,
dia memilih menghilang dari hati saya. Sakit sekali, bahkan butuh waktu lebih
dari setahun untuk benar-benar rela melepaskannya, rela menerima kehilangan
dirinya. Saya marah pada Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali? Saya benar-benar
tidak suka rasa sakitnya. Namun saya teringat permintaan saya pada Tuhan waktu
dulu, ya saya yang meminta ini, yang saya lakukan hanya dapat mengucap syukur
bahwa Tuhan ternyata mendengar saya dan bahkan mengabulkannya serta diberikan
solusinya. Saya harus bangkit dan menjadi lebih kuat lagi.
Baru saja bangkit dari
rasa sakit kehilangan, saya kembali harus kehilangan lagi. Ya seorang yang saya
anggap sebagai kekasih, sahabat, kakak saya, kembali meninggalkan saya, tidak
tanggung-tanggung, dia meninggalkan saya selamanya. Saya kehilangan dia untuk
selamanya, sakit? Banget!! Namun saya bersyukur pernah merasakan kehilangan
sebelumnya, sehingga saya menjadi lebih kuat ketika menghadapinya. Dengan tegar
saya dapat mengucapkan di nisan salibnya, “selamat jalan ko, pasti tempatmu
lebih baik bersama Bapa di Surga”. Saya kembali merenung dan terus mengucap
syukur, terima kasih Bapa, saya telah menjadi lebih kuat. Namun Tuhan ingin
menjadikan saya lebih kuat lagi.
21
Januari 2014, ketika masih berkutat dengan kerjaan di tempat kerja, sebuah
telpon dari ibu saya benar-benar mengagetkan saya, beliau mengatakan bahwa ayah
saya baru saja dipanggil yang Maha Kuasa. Saya shock, terdiam beberapa saat,
bahkan tidak setetespun air mata saya mengalir. Saya langsung menutup telpon
dan berpikir serta bertanya pada Tuhan, apakah kali ini Dia menguji saya lagi?
Menginginkan saya lebih kuat lagi? Tapi kenapa harus ayah saya? Saya
benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa, selain terdiam dan bersyukur bahwa
saya punya teman-teman yang luar biasa, mereka menolong saya dengan maksimal,
mencarikan saya tiket bahkan menghibur serta mengantar saya sampai ke airport.
22 Januari 2014, saya tiba di airport Jakarta, om saya menunggu saya dengan
tatapan yang tidak dapat saya mengerti. Sepanjang perjalanan dari airport
menuju rumah duka, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut saya, bahkan om
serta ibu saya tidak berani menanyakan apapun kepada saya. Tiba di halaman
rumah duka, saya terdiam sesaat, berdiri dengan tatapan kosong, kemudian
melihat sekeliling halaman rumah duka, saya terpekur melihat banyak karangan
bunga dengan nama ayah saya tercantum di sana. Lantas saya melangkahkan kaki ke
lantai 2 rumah duka, tempat ayah saya disemayamkan, dari pintu depan saya
melihat peti putih itu, saya berjalan perlahan masuk dan mendapati ayah saya
sudah tertidur dengan damai untuk selamanya. Saya benar-benar tidak sanggup
lagi membendung air mata saya, saya menangis sejadi-jadinya di samping ayah
saya dan berkata, “pah, Lia belum siap ditinggalin, kenapa secepat ini?” tangis
keluarga saya pecah seketika, semuanya meminta maaf kepada ayah saya. Kemudian
saya bertanya-tanya pada Tuhan, inikah caraMu untuk menjadikan saya lebih kuat
dan lebih kuat lagi Bapa? Saya memandang ibu saya yang terisak dan mulai
berfikir, ya saya lah yang sekarang berkewajiban menjaga ibu saya dan
bertanggung jawab menjaga keluarga besar saya, karena ayah saya merupakan anak
pertama dari 8 bersaudara. Saya duduk dipojok ruang kamar duka sambil merenung,
ya Bapa, saya tahu tidak ada yang lebih indah dibandingkan rencanaMu, saya
yakin ada banyak hal yang dapat saya terima dari segala peristiwa yang terjadi
dalam kehidupan saya. Selama 3 hari ayah saya disemayamkan di rumah duka, para
keluarga dan sahabat terus memberi dukungan dan penghiburan, dan di sini saya
belajar bahwa apa yang kita tuai itulah yang kita tabur, saya belajar dari papa
untuk hidup jujur dan menuai kepercayaan orang banyak. 25 Januari 2014, kami
keluarga dan para sahabat mengantar papa ke krematorium di Marunda, Bekasi.
Setelah abu papa ditabur di laut, entah mengapa ada perasaan lega di hati saya,
ya setelah berhari-hari saya merenung, inilah mungkin yang terbaik buat ayah
saya. Melepaskan rasa sakitnya. Ayah saya menghilangkan rasa sakitnya ketika di
dunia. Mungkin papa sudah lelah dengan sakitnya, pasti dia ingin melepaskannya,
dan dia cukup yakin saya mampu menghadapi segala yang ada di depan saya.
Terima
kasih Ar, ko En, papa, kalian mengajarkan aku untuk menjadi lebih kuat dan lebih
kuat lagi. Khususnya bagi Tuhan Yesus, terima kasih sudah mendengar setiap
permintaan anakMu ini bahkan mengabulkannya dan memberi solusi serta
penghiburan sekaligus. Tuhan, boleh Lia minta istirahat sejenak? kehilangan
bertubi-tubi ternyata melelahkan juga. Ajar juga agar Lia tetap selalu mengucap
syukur ya Bapa J
Kamu
Tak pernah
kubayangkan sebelumnya, aku berada dalam kondisi seperti ini, Salmonella typhii yang merajai tubuh
disertai dengan kerinduanku padamu. Dalam kondisi terbaring, aku mengenang
kembali kebersamaan kita dulu. Pelukan hangatmu yang selalu kurindukan,
kejutan-kejutan kecil yang selalu kau implementasikan dalam bentuk muncul
tiba-tiba di hadapanku, aku merindukan kejutan kecil itu, karena aku pasti
langsung melompat ke dalam pelukanmu dengan tawa lepasku.
Tak ada yang
pasti dan tak akan yang pernah tahu akan masa depan, ya inilah kalimat rasional
yang akhirnya aku amini. Siapa yang menduga kita akan seperti ini? kita seperti
orang yang tak pernah saling mengenal bila berjumpa. Hanya sebatas
keprofesionalan pekerjaan saja yang membuat kita tetap berkomunikasi walau
jarang. Dulu aku selalu gelisah bila dirimu tak ada, namun sekarang aku sudah
terbiasa dengan ketiadaanmu, bahkan menikmati nyilunya kesendirian. Begitu
banyak yang datang dan memintaku untuk melunakkan dan menghangatkan hati, namun
tak ada satupun yang mampu membujukku.
Di
tengah kesibukan yang padat, mungkin inilah kesempatanku untuk merenung,
merenung tentang kita. Apakah sudah ada kata “tidak mungkin” di antara kita?
Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati harum tubuhmu, bahkan aku hampir
lupa bagaimana hangatnya pelukanmu. Dulu duniaku hanya ada kamu dan studiku,
dalam duniamu mungkin aku tidak ada. Mungkinkah kita dapat bersama lagi?
Bercengkerama tanpa ada luka, tertawa lepas seperti dulu, menangis dalam
pelukanmu, serta kembali menyusun mimpi? Aku tak tahu, tak lagi tahu. Kau jauh
sekali, aku kesulitan menggapaimu. Apa kusudahi saja sampai di sini? Tetap
tenggelam dalam kesendirianku, karena sekarang hanya kaulah yang mampu
meluluhkanku. Maaf untuk semua kesalahan, aku sudah memaafkanmu, aku selalu
mengingatmu, dan sekali lagi maaf untuk rasa ini.
Cicak di Dinding
Nada dan puisi datang dan
pergi menghampirimu
Tiada yang mampu merengkuh
arti dan isi hati
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Atau hewan kecil yang luput
dari pandanganmu
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Berbahagia dengan satu impian
Dan satu kejujuranku
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Hanya suara dan tatapku
menemanimu
Dan ku menyadari tanganku
Dan ku menyadari tanganku
Tak kan mampu meraihmu
Walau cinta katanya tak kan
lelah memberi
ku lepas engkau ombak hatiku
ku lepas engkau ombak hatiku
Percikmu abadi menyegarkanku
Namun biarlah kini... Kuingin
jadi cicak
S'perti cicak di dindingmu
S'perti cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu...
Cicak di dindingmu
Melekat,
menemani, membelai dinding jiwamu...
Pagi ini dengan tubuh yang masih remuk redam, tiba-tiba
aku kangen, kangen dengan suara Dewi Lestari. Kucari kasetnya dan kuputar,
meresapi setiap lirik lagunya. Hingga tiba pada lagu yang berjudul “Cicak di
Dinding”. Kuresapi setiap detil liriknya, tak terasa air mata ini mengalir. Ya
mungkin lirik lagu itu benar, sudah saatnya aku berserah dalam ketakberdayaan.
Karena seharusnya aku sudah menyadari bahwa tanganku takkan mampu meraihmu,
juga seharusnya aku melepasmu ombak hatiku.
Mungkin ini
maksud hujan semalam yang turun tanpa henti hingga pagi ini, alam pun
mengajakku untuk membasuh hati ini, melarutkan setiap detil kenangan bersamamu
ke muara yang aku tak perlu tahu di mana ujungnya. Dan kudapati pagi ini aku
baik-baik saja, hatiku baik-baik saja. Kulihat terang gunung di depan sana yang
menunggu untuk kugapai puncaknya, ya gunung tinggi itu mengijinkanku menggapai
puncaknya. Kusadari aku sudah terlalu lama berjalan, kini kudapati diriku telah
mulai berlari, berlari dan berlari. Berlari menggapai puncak gunung itu.
Kutinggalkan semua isi hatiku tentangmu di lereng gunung itu dan aku mendaki
gunung itu tanpa beban apapun. Selamat tinggal, aku takkan kembali lagi ke
lereng gunung ini, aku akan tetap menggapai puncak dan akan tetap berlari
menggapai puncak yang lain tanpa menoleh lagi.
Kini
ku harap dimengerti, tiada yang tersembunyi, rasa sakitku, tiada alasan, inilah
kejujuran, perih namun ini jawabnya, lepaskan dengan segenap jiwa tanpa harus
berdusta karena kau tak layak didera. Inilah adanya, cinta yang tak lagi sama.
Langganan:
Postingan (Atom)