Selasa, 27 Mei 2014

http://mruhulessin.wordpress.com/2013/04/08/a-letter-for-the-birthday-girl/

Beautiful Gift for my Birthday

Hai Fit, 
Aku akan memulai tulisan ini dengan sebuah penggalan puisi yang kutulis dengan seorang teman, saat ulang tahun kami berdua, tahun lalu.
"Waktu adalah penjara dimana semua yang ada telah terjerumus dan tidak pernah bisa lolos hidup-hidup."
Bagaimana hari2mu setelah bertambah umur Fit? Semoga tetap bahagia walau sebenarnya waktu kita hidup semakin berkurang. :) 
Well, sebenarnya setelah diminta membuat tulisan aku ingin sekali menyelesaikannya. Tapi kebiasaan buruk menghampiriku, yaitu menunda-nunda. Ah, sungguh buruk. Semoga kamu disana tidak sedang menunda mengerjakan sesuatu Fit. Semakin kita menunda, semakin banyak waktu untuk membuat alasan mengapa kita menunda. Misalnya saja, dalam dunia tulis menulis populer istilah "writers block" yang diartikan hambatan menulis. Alasannya, ya tidak mood, tidak punya waktu, lupa (ah pantas ini disebut alasan?) dan sebagainya dan sebagainya. Padahal sebenarnya kita bisa menyelesaikannya kalau mau. Tapi kadang waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab dan komitmen terasa sangat berat ketimbang waktu untuk leyeh-leyeh dan bersosialisasi gak penting. Setelah kupikir-pikir tak ada yg namanya writer block, yang ada hanya malas. haha.
Bagaimana kabar diusia yang baru? Kabar hati, kepala, kaki, jiwa? Kaki tidak kepala dan kepala di kaki kan Fit??? Kita semua sedang berperang Fit. Berperang melawan penjara abadi yang namanya waktu. Seperti halnya semua peperangan, kita butuh berjuang, butuh pengorbanan untk mencapai garis finish. Pertanyaankah sudah siapkah kita berkorban lebih banyak dari yang sekarang? Mampukah kita pada akhirnya bertahan dalam perang yang sepertinya tak pernah berkahir ini? Jawabannya kita masing-masing yang tahu. Menyerah kadang adalah baik, kadang juga tidak. Dan untuk lebih baik, bukan kah kita harus berani berjuang lebih?
Aku sengaja tak ingin mempublishnya diblog karena ini adalah hadiah pribadi yang harus kamu nikmati sendiri awalnya. Ya kalau mau dibagi-bagikan setelah ini ya gpp. It's yours.
Ah, tulisan ini terlalu serius ya? Haha. Padahal aku menulisnya sambil minum teh hangat yang  manis lalu tersenyum juga manis. Dalam peperangan hidup ini, jangan lupa selipkan tawa ya. ANGGAPLAH patah hati dan terluka juga sebagai humor. Sungguh kita tak akan terlalu terluka. 
Seperti tahun lalu, tahun inipun aku tak bisa memeluk langsung dan mengucap selamat ultah. Tapi pelukan lewat doa jauh lebih berarti kan? Semoga ada kesempatan dan kita bisa segera berjumpa Fit. Arungilah peperangan hidup ini dengan berani. JANGAN takut, apalagi sama pak F****. haha. Putuskanlah segala sesuatu dengan kepala dingin. Jangan terburu-buru, jangan juga terlalu lama. Tenang saja, ada Tuhan yang selalu menjaga dimanapun kita berada. :D
Selamat ulang tahun ade manis. Nikmatilah hidup sepenuh-penuhnya. Menulislah selagi bisa. Membacalah selagi ada kesempataan. Maaf jika tulisan ini baru bisa kamu baca sekarang. Kata orang-orang, sesuatu ada waktunya. Tapi bukankah semua waktu selalu tepat? Waktu tidak pernah menunggu sejatinya. 

Peluk Cium dari Jauh
K" Acha


Minggu, 18 Mei 2014

Wanna be a doctor?

Setelah beberapa terakhir dapet “promosi” dari teman satu laboratorium tentang sebuah film yang katanya dia sih seru, akhirnya saya mengcopy film tersebut dalam flash disk saya. Judulnya Off The Map. Film ini bercerita tentang kehidupan para dokter yang bertugas di pedalaman Amerika Selatan. Ternyata film ini oke juga, saya benar-benar tertarik dengan dedikasi para dokter yang bertugas, mereka menempuh segala medan berat, bahkan dari film ini saya pikir seorang dokter yang bertugas di pedalaman kayak mereka kudu bisa menyelam, manjat pohon (minimal pohon kelapa lah), trus juga kudu bisa bawa motor trail, nyetir mobil jeep di medan berat, trus yang paling penting mereka benar-benar harus bisa memanfaatkan bahan alam di sekitar mereka sebagai obat, jadi kudu kreatif dan cerdas. Dalam setiap episodenya, para dokter selalu diperhadapkan dengan masalah-masalah sulit, tapi tak sedikitpun semangat mereka kendor, ini nih yang disebut jiwa kemanusiaan. Padahal yang mereka tolong ini bukan orang-orang “mampu” loh (maksudnya dalam hal materi) dan juga untuk menolong, terkadang si dokter bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Otomatis saya langsung membanding-bandingkan dengan keadaan sebagian besar dokter-dokter kita. Coba dokter seideal yang kayak dalam film itu bener-bener terwujud dalam dunia nyata, dunia kedokteran Indonesia, wah indahnya. Jadi pas lagi butuh pertolongan dokter, yang ditanya tuh, “sakitnya bagian mana? Apa yang anda rasakan?” bukannya “oke, untuk tindakan pertolongan, silakan mengisi formulir dan membayar uang admistrasi terlebih dahulu ya”, gubraakkkk…. Nyawa orang padahal udah di ujung tanduk -_-
Keinget cita-cita masa kecil, saya betul-betul berambisi menjadi seorang dokter. Waktu itu bagi saya, dokter itu keren. Dalam lingkungan keluarga saya kagum dengan ayah saya, dia itu bagaikan dokter di mata saya. Waktu saya masih kecil dan bandelnya gak ketulungan, membuat ayah saya selalu siaga pulang kantor tiap sore bawa perban dan peralatan P3K. sebagai anak tunggal yang gak punya temen di rumah, otomatis saya mencari teman main di luar rumah. Rumah saya terletak di daerah perkotaan yang padat, gak ada tama kota dekat rumah, jadi kalo main ya kadang ke lokasi rumah yang sedang di bangun, jadi kalo kecelakaan gak tanggung-tanggung, pernah suatu kali kaki saya terkena seng trus areal atas mata kaki saya robek dengan daging tertinggal di seng, darahnya naujubile banyaknya, dengan kaki berdarah saya dengan pede menyetop becak dan minta diantar pulang. Sampai di depan rumah, nyali saya ciut ketika melihat ibu saya sedang duduk di depan rumah menunggu saya pulang, haduh saya berusaha masuk rumah sambil mencoba menyembunyika luka di kaki saya, tapi apa daya darahnya merembes terlalu banyak. Ibu saya otomatis teriak-teriak sambil ngomel-ngomel trus nelpon ayah saya. Pulang dari kantor ayah saya membawa perban yang banyak dan mengobati luka saya. Karena kalo waktu itu saya dibawa ke rumah sakit pasti kaki saya dijahit, nah ayah saya takut bekas jahitannya itu gak bisa hilang, akhirnya beliau sendiri yang merawat luka saya. Jadilah setelah itu saya absen sebulan gak bisa main di luar rumah dan setiap ayah saya pulang kantor, saya pasti keringat dingin karena itu jadwalnya ganti perban. Nah kalo ganti perban tuh nyerinya minta ampunnnnn, apalagi kalo pas ayah saya ngorek-ngorek bersihin lukanya dan ngasih obat, ya ampun rasanya saya pengen lompat-lompat, apalagi obatnya Tieh Ta Yao Gin (kalo pengen tau rasanya coba aja deh kalo luka yang kecil aja ditetesin obat ini). Tapi walau perih, lukanya cepet kering dan bekasnya gak terlalu nampak sekarang. Pokoknya bagi saya, ayah saya itu keren, dia paling tau asupan makanan saya, apalagi waktu SMP dan SMA saya jadi junior atlet basket, makanan saya semua diatur oleh ayah saya, berkat itu juga saya paling jarang ke rumah sakit kecuali untuk check up rutin dan rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali. Saya pernah bilang pada ayah saya, “Pah, Lia pengen jadi dokter, mereka keren, trus bisa nolongin orang yang kayak di tv itu, pasiennya tu uda mau meninggal pah tapi bisa terus idup, keren deh pah” hahahha…. Ayah saya waktu itu cuma bilang, terserah dah kamu mau jadi apa, yang penting sekarang belajar yang bener, sekolah yang rajin.
Lulus SMA, dengan berbekal nilai raport dan bukti prestasi rangking serta rekomendasi dari sekolah, saya berangkat tes untuk masuk Fakultas Kedokteran. Nah tempat tes saya ini jaraknya 40 km dari rumah saya karena Fakultas Kedokteran ini terletak di Banjarbaru, KalSel sedangkan rumah saya di Banjarmasin. Ayah saya rela cuti selama tiga hari buat nganter saya bolak balik pergi tes. Dan hasil akhirnya adalah saya gak diterima karena kalah jumlah uang sumbangan pembangunan dengan teman saya dank arena saya dari sekolah katolik jadi kami cuma dijatahi 1 kursi saja, beda dengan siswa yang dari SMA negeri, jatah mereka hampir 80% untuk jalur prestasi yang saya tempuh ini. Jalan lainnya saya mencoba jalur SPMB dan gak keterima juga. Nah pas ngedaftar di Universitas swasta dan ikutan tesnya, saya malah diterima dengan rank ketiga, tapi saya menyerah dengan biaya sumbangan pembangunan dan biaya per semesternya, gilaaa mahal bingittttt….. bayangkan saja itu untuk tahun 2008, uang sumbangan pembangunannya dengan jalur prestasi yang saya tempuh, dimintai 110 juta dengan berbagai diskon karena saya rank ketiga, nah biaya per semesternya donk, 25 juta booooo, belum termasuk praktek, prakteknya bisa nyampe 10-15 juta, kudu beli mayat kering dan sebagainya. Trus kuliahnya di ibu kota lagi yang biaya hidupnya aja mahal cuy. Akhirnya jatah saya init a kasih ke temen saya yang ternyata harus bayar hampir setengah milyar untuk sumbangan pembangunan karena dia bukan dijalur prestasi. Huffftttt…… memang bukan jatah saya sepertinya untuk menjadi seorang dokter. Akhirnya saya bilang ke ayah saya, “Pah, lia nyerah deh, mahal banget”. Trus saya kubur deh itu mimpi saya sedalem-dalemnya. Trus kuliah di jurusan lain yang biayanya terjangkau hahaha…. Tahun pertama kuliah, sama sekali kagak niat, tahun kedua mulai tertarik, tahun ketiga dan seterusnya niat ngelarin kuliah supaya dapet gelar sarjana.
Nah kebetulan nih saya ngambil kuliahnya gak jauh-jauh amat lah dari kedokteran, jadi tau dikit-dikit. Awal tahun 2014 ini, keponakan saya didiagnosis menderita meningitis, jadilah saya setiap hari kudu di rumah sakit karena kondisi keponakan saya sudah parah dan gak sadar lagi. Waktu di UGD, saya melihat kinerja para dokter-dokter muda bagian anak itu, ya ampun bikin emosi deh. Akhirnya saya iseng ke mereka, pas dokter spesialisnya uda selesai memeriksa keponakan saya, saya cerca mereka yang dokter muda dengan berbagai pertanyaan. Alhasil mereka ngejawabnya dengan gelagapan dan segera pamit keluar dari ruangan, lha suster-susternya ditinggalin nih. Memang ya, kalo mau jadi dokter tu selain persiapan materi yang banyak, kudunya punya hati melayani. Lha wajar sih, mereka sekolahnya aja mahal, nah kebanyakan dari mereka mesti balikin modal dulu baru mikir pelayanan. Dan itu terjadi dengan teman saya dan dia sendiri mengakui itu. Sewaktu saya mahasiswa, saya sering mengantar teman saya masuk rumah sakit, nah hal pertama yang ditanyain tuh pasti mengenai biaya, alesannya sih administrasi getooo… pernah nih waktu saya nganter temen saya ke IGD, ada pasien di kamar sebelah juga dalam keadaan gawat tergeletak di atas ranjang tanpa ada yang memberi pertolongan pertama, trus saya tanya ke susternya, lha katanya lagi nunggu istrinya datang lagi dalem perjalanan, trus saya bilang, “kenapa gak ditindak dulu aja sus pasiennya?” tau gak jawabannya apah, “kami tidak bisa bertindak selama administrasinya belum diselesaikan mbak”. Alhasil saya hampir jambak susternya tapi ga jadi sih, gak lucu saya bikin perkara yang sebenarnya bukan urusan saya (urusan kemanusiaan sih sebenarnya). Tapi si suster juga gak bisa disalahin sepenuhnya juga, kan dia hanya menjalankan prosedur yang diterapkan rumah sakit itu kali yak. Yah gak semua dokter sih begitu, saya punya teman yang sekarang jadi dokter dan bertugas di pedalaman Kalimatan Timur sana dan saya acungi jempol. Dia sama sekali tidak meminta bayaran atas jasanya. Kebanyakan peralatan dan obat-obatan yang ada di kiliniknya itu berasal dari kocek pribadi dan dia pure pelayanan. Dia juga sering mencari sponsor donator dari kolega-koleganya maupun kolega ayahnya, secara ayahnya juga dokter. Setidaknya masih ada “surga” di dunia ini.
Jadi dokter memang gak mudah, selain berkutat dengan masalah materi, bahan belajarnya juga bukan main susahnya. Saya pernah diundang oleh teman saya dalam sebuah open house Fakultas Kedokteran, saya diajak melihat-lihat seluruh laboratorium mereka dan diceritain tentang apa aja yang mereka pelajari untuk jadi dokter umum. Wah, it’s no joke! Yah itulah konsekuensi logis dari sebuah pilihan dan tuntutan profesionalitas.
Kembali ke film Off The Map tadi, semoga banyak orang bisa terinspirasi dari kisah mereka, bayangin aja si dokter harus membawa pasien yang terlilit anaconda ke klinik karena kalo anacondanya lepas maka bisa terjadi pendarahan, trus melakukan amputasi di dalam laut karena kaki si pasien terjepit coral, dan banyak hal-hal ekstrim lainnya, termasuk menolong pasien tanpa pandang bulu karena ternyata yang mereka tolong merupakan seorang tentara NAZI yang bersembunyi di pedalaman tersebut selama 30 tahun. Inilah kemanusiaan, manusiawi itu ketika memanusiakan manusia.
#ngomong-ngomong gegara film ini, masih pengen jadi dokter deh hahaha… J

By. Rachel Fitria
18 Mei 2014, 01.19 AM

Salatiga, Jawa Tengah

Twenty-three

7 April 2014, pagi-pagi sekali mama menelpon saya, ya hari ini saya berulang tahun, saya beruntung memiliki orang–orang yang mengingat hari kelahiran saya. 5 April 2014, saya bahkan lupa kalau saya akan berulang tahun, kami naik gunung tanggal 5 itu, namun seorang kakak yang mengingatkan saya, “Yee, Fitri kan sebentar lagi ulang tahun”. Ketika perjalanan pulang saya merenung, saya takut menghadapi tanggal itu, saya takut kecewa ketika seseorang yang saya harapkan mengucapkan selamat, pasti dia tidak dapat lagi menelpon saya seperti biasanya. Ya, dia adalah papah saya. Beliau adalah orang pertama yang selalu mengucapkan hal itu kepada saya setiap saya berulang tahun. Bahkan setelah mama saya menelpon pagi itu, saya memandang handphone saya, berharap ada satu panggilan lagi, yang dari papah saya, walau itu tidak mungkin. Akhirnya saya menekan kontak papa saya dan menelponnya, “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan”. Ya, papa sudah berada di luar jangkauan, seluler manapun tidak akan mampu menjangkaunya lagi. Lia kangen sekali pah, kangen pelukan hangat papah.
Ulang tahun identik dengan ucapan syukur, ya Bapa saya mengucap syukur atas usia yang diberikan dan kontrak saya di dunia semakin berkurang. Biar di usia yang baru ini, masih diberi kekuatan bahkan lebih untuk menggapai segala keinginan yang positif.


#setiap tahun tulisan tentang ulang tahun semakin pendek yak hahahhaha…. J

Kehilangan

Seorang teman saya pernah berkata kepada saya, “Fit, kehilangan itu sudah pasti, tapi harapan jangan sampai mati”. Ya, kehilangan, satu kata yang tidak saya suka, saya tidak suka kehilangan! Hal ini membuat saya cukup protektif dalam segala hal dan beruntung saya tidak pernah merasa kehilangan. Hingga suatu saat, saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya bosan, ingin rasanya merasakan kehilangan, saya merasa lemah, saya ingin dikuatkan, challenge saya ya Tuhan”. Lama sekali rasanya waktu berlalu ketika saya mengucapkan itu pada Tuhan, namun beberapa waktu terakhir ini, Tuhan betul-betul menguji saya, memperkuat saya. Ya kehilangan seseorang yang dikasihi itu benar-benar menguras emosi saya, saya percaya padanya, saya mengasihi dia, saya berusaha semaksimal mungkin untuk tetap memilikinya, namun dia tidak ingin saya miliki, dia memilih menghilang dari hati saya. Sakit sekali, bahkan butuh waktu lebih dari setahun untuk benar-benar rela melepaskannya, rela menerima kehilangan dirinya. Saya marah pada Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali? Saya benar-benar tidak suka rasa sakitnya. Namun saya teringat permintaan saya pada Tuhan waktu dulu, ya saya yang meminta ini, yang saya lakukan hanya dapat mengucap syukur bahwa Tuhan ternyata mendengar saya dan bahkan mengabulkannya serta diberikan solusinya. Saya harus bangkit dan menjadi lebih kuat lagi.
Baru saja bangkit dari rasa sakit kehilangan, saya kembali harus kehilangan lagi. Ya seorang yang saya anggap sebagai kekasih, sahabat, kakak saya, kembali meninggalkan saya, tidak tanggung-tanggung, dia meninggalkan saya selamanya. Saya kehilangan dia untuk selamanya, sakit? Banget!! Namun saya bersyukur pernah merasakan kehilangan sebelumnya, sehingga saya menjadi lebih kuat ketika menghadapinya. Dengan tegar saya dapat mengucapkan di nisan salibnya, “selamat jalan ko, pasti tempatmu lebih baik bersama Bapa di Surga”. Saya kembali merenung dan terus mengucap syukur, terima kasih Bapa, saya telah menjadi lebih kuat. Namun Tuhan ingin menjadikan saya lebih kuat lagi.
21 Januari 2014, ketika masih berkutat dengan kerjaan di tempat kerja, sebuah telpon dari ibu saya benar-benar mengagetkan saya, beliau mengatakan bahwa ayah saya baru saja dipanggil yang Maha Kuasa. Saya shock, terdiam beberapa saat, bahkan tidak setetespun air mata saya mengalir. Saya langsung menutup telpon dan berpikir serta bertanya pada Tuhan, apakah kali ini Dia menguji saya lagi? Menginginkan saya lebih kuat lagi? Tapi kenapa harus ayah saya? Saya benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa, selain terdiam dan bersyukur bahwa saya punya teman-teman yang luar biasa, mereka menolong saya dengan maksimal, mencarikan saya tiket bahkan menghibur serta mengantar saya sampai ke airport. 22 Januari 2014, saya tiba di airport Jakarta, om saya menunggu saya dengan tatapan yang tidak dapat saya mengerti. Sepanjang perjalanan dari airport menuju rumah duka, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut saya, bahkan om serta ibu saya tidak berani menanyakan apapun kepada saya. Tiba di halaman rumah duka, saya terdiam sesaat, berdiri dengan tatapan kosong, kemudian melihat sekeliling halaman rumah duka, saya terpekur melihat banyak karangan bunga dengan nama ayah saya tercantum di sana. Lantas saya melangkahkan kaki ke lantai 2 rumah duka, tempat ayah saya disemayamkan, dari pintu depan saya melihat peti putih itu, saya berjalan perlahan masuk dan mendapati ayah saya sudah tertidur dengan damai untuk selamanya. Saya benar-benar tidak sanggup lagi membendung air mata saya, saya menangis sejadi-jadinya di samping ayah saya dan berkata, “pah, Lia belum siap ditinggalin, kenapa secepat ini?” tangis keluarga saya pecah seketika, semuanya meminta maaf kepada ayah saya. Kemudian saya bertanya-tanya pada Tuhan, inikah caraMu untuk menjadikan saya lebih kuat dan lebih kuat lagi Bapa? Saya memandang ibu saya yang terisak dan mulai berfikir, ya saya lah yang sekarang berkewajiban menjaga ibu saya dan bertanggung jawab menjaga keluarga besar saya, karena ayah saya merupakan anak pertama dari 8 bersaudara. Saya duduk dipojok ruang kamar duka sambil merenung, ya Bapa, saya tahu tidak ada yang lebih indah dibandingkan rencanaMu, saya yakin ada banyak hal yang dapat saya terima dari segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya. Selama 3 hari ayah saya disemayamkan di rumah duka, para keluarga dan sahabat terus memberi dukungan dan penghiburan, dan di sini saya belajar bahwa apa yang kita tuai itulah yang kita tabur, saya belajar dari papa untuk hidup jujur dan menuai kepercayaan orang banyak. 25 Januari 2014, kami keluarga dan para sahabat mengantar papa ke krematorium di Marunda, Bekasi. Setelah abu papa ditabur di laut, entah mengapa ada perasaan lega di hati saya, ya setelah berhari-hari saya merenung, inilah mungkin yang terbaik buat ayah saya. Melepaskan rasa sakitnya. Ayah saya menghilangkan rasa sakitnya ketika di dunia. Mungkin papa sudah lelah dengan sakitnya, pasti dia ingin melepaskannya, dan dia cukup yakin saya mampu menghadapi segala yang ada di depan saya.

Terima kasih Ar, ko En, papa, kalian mengajarkan aku untuk menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi. Khususnya bagi Tuhan Yesus, terima kasih sudah mendengar setiap permintaan anakMu ini bahkan mengabulkannya dan memberi solusi serta penghiburan sekaligus. Tuhan, boleh Lia minta istirahat sejenak? kehilangan bertubi-tubi ternyata melelahkan juga. Ajar juga agar Lia tetap selalu mengucap syukur ya Bapa J

Kamu

Tak pernah kubayangkan sebelumnya, aku berada dalam kondisi seperti ini, Salmonella typhii yang merajai tubuh disertai dengan kerinduanku padamu. Dalam kondisi terbaring, aku mengenang kembali kebersamaan kita dulu. Pelukan hangatmu yang selalu kurindukan, kejutan-kejutan kecil yang selalu kau implementasikan dalam bentuk muncul tiba-tiba di hadapanku, aku merindukan kejutan kecil itu, karena aku pasti langsung melompat ke dalam pelukanmu dengan tawa lepasku.
Tak ada yang pasti dan tak akan yang pernah tahu akan masa depan, ya inilah kalimat rasional yang akhirnya aku amini. Siapa yang menduga kita akan seperti ini? kita seperti orang yang tak pernah saling mengenal bila berjumpa. Hanya sebatas keprofesionalan pekerjaan saja yang membuat kita tetap berkomunikasi walau jarang. Dulu aku selalu gelisah bila dirimu tak ada, namun sekarang aku sudah terbiasa dengan ketiadaanmu, bahkan menikmati nyilunya kesendirian. Begitu banyak yang datang dan memintaku untuk melunakkan dan menghangatkan hati, namun tak ada satupun yang mampu membujukku.

Di tengah kesibukan yang padat, mungkin inilah kesempatanku untuk merenung, merenung tentang kita. Apakah sudah ada kata “tidak mungkin” di antara kita? Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati harum tubuhmu, bahkan aku hampir lupa bagaimana hangatnya pelukanmu. Dulu duniaku hanya ada kamu dan studiku, dalam duniamu mungkin aku tidak ada. Mungkinkah kita dapat bersama lagi? Bercengkerama tanpa ada luka, tertawa lepas seperti dulu, menangis dalam pelukanmu, serta kembali menyusun mimpi? Aku tak tahu, tak lagi tahu. Kau jauh sekali, aku kesulitan menggapaimu. Apa kusudahi saja sampai di sini? Tetap tenggelam dalam kesendirianku, karena sekarang hanya kaulah yang mampu meluluhkanku. Maaf untuk semua kesalahan, aku sudah memaafkanmu, aku selalu mengingatmu, dan sekali lagi maaf untuk rasa ini.

Cicak di Dinding

Nada dan puisi datang dan pergi menghampirimu
Tiada yang mampu merengkuh arti dan isi hati
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Berbahagia dengan satu impian
Dan satu kejujuranku
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Hanya suara dan tatapku menemanimu
Dan ku menyadari tanganku
Tak kan mampu meraihmu
Walau cinta katanya tak kan lelah memberi
ku lepas engkau ombak hatiku
Percikmu abadi menyegarkanku
Namun biarlah kini... Kuingin jadi cicak
S'perti cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu... Cicak di dindingmu
Melekat, menemani, membelai dinding jiwamu...

Pagi ini dengan tubuh yang masih remuk redam, tiba-tiba aku kangen, kangen dengan suara Dewi Lestari. Kucari kasetnya dan kuputar, meresapi setiap lirik lagunya. Hingga tiba pada lagu yang berjudul “Cicak di Dinding”. Kuresapi setiap detil liriknya, tak terasa air mata ini mengalir. Ya mungkin lirik lagu itu benar, sudah saatnya aku berserah dalam ketakberdayaan. Karena seharusnya aku sudah menyadari bahwa tanganku takkan mampu meraihmu, juga seharusnya aku melepasmu ombak hatiku.
Mungkin ini maksud hujan semalam yang turun tanpa henti hingga pagi ini, alam pun mengajakku untuk membasuh hati ini, melarutkan setiap detil kenangan bersamamu ke muara yang aku tak perlu tahu di mana ujungnya. Dan kudapati pagi ini aku baik-baik saja, hatiku baik-baik saja. Kulihat terang gunung di depan sana yang menunggu untuk kugapai puncaknya, ya gunung tinggi itu mengijinkanku menggapai puncaknya. Kusadari aku sudah terlalu lama berjalan, kini kudapati diriku telah mulai berlari, berlari dan berlari. Berlari menggapai puncak gunung itu. Kutinggalkan semua isi hatiku tentangmu di lereng gunung itu dan aku mendaki gunung itu tanpa beban apapun. Selamat tinggal, aku takkan kembali lagi ke lereng gunung ini, aku akan tetap menggapai puncak dan akan tetap berlari menggapai puncak yang lain tanpa menoleh lagi.

Kini ku harap dimengerti, tiada yang tersembunyi, rasa sakitku, tiada alasan, inilah kejujuran, perih namun ini jawabnya, lepaskan dengan segenap jiwa tanpa harus berdusta karena kau tak layak didera. Inilah adanya, cinta yang tak lagi sama.