Minggu, 24 April 2011

Kepuasan yang Kudapat Dalam Diskusi


Hari Jumat, merupakan hari yang “agak” sedikit berbeda. Hujan turun dengan derasnya siang itu, membuatku yang sedang dalam pelarian menatap ke luar beranda tempatku berada, ya aku berada di lantai 3 salah satu gedung di Kampus UKSW, kulihat gunung Merbabu tertutup kabut tebal dan dingin menyelimuti. Mencoba sambil terus menulis dalam kehangatan yang dapat kurasakan dalam ruangan itu walau terlihat dingin di luar, ya menulis blog sekarang menjadi salah satu kegemaranku sekarang (walau beberapa tidak kupublikasikan).
Handphone yang terletak di samping laptopku berdering tanda sms masuk, sms itu tertulis, “Hari ini tolong fungsionaris SMU turut hadir dalam Forum Diskusi dengan Tema Kecenderungan Kurangnya Minat Mahasiswa Dalam Membaca dan Menulis yang diadakan di F110 pukul 18.00 WIB dengan pembawa materi Pak Yakub Adi Krisanto”. Hmmm…aku jadi tertarik untuk turut hadir, karena pembicaranya Pak Yakub, orang yang aku tidak pernah liat secara langsung dan hanya tahu tentangnya lewat Facebook.
Pukul 18.00, aku berangkat dari kost menuju ruang diskusi, masuk kemudian duduk. Pak Yakub mulai membagikan kertas berisi tulisannya mengenai topic yang akan dia bawakan sore itu. Hal pertama yang pak Yakub tanyakan saat itu ialah “Siapa orang di sini yang membaca Koran tiap hari?”. Suasana langsung hening dan tidak ada satupun yang mengangkat tangan. Lalu pak Yakub bertanya lagi, korannya dalam bentuk apa aja deh, yang paper atau e-paper, tetap hening. Oke kalo begitu yang baca apa aja deh, majalah atau apapun, kemudian satu persatu mahasiswa yang hadir dalam diskusi tersebut mengangkat tangan, ada yang komik, ada yang membaca majalah namun ternyata hanya melihat gambar-gambarnya saja. Oke , kalo begitu yang sering membaca diktat kuliah, ruangan terus rame, akhirnya pak Yakub bertanya ke beberapa mahasiswa, ada yang menjawab, “membaca diktat kuliah saat akan test”, dan ada juga yang menjawab, “membaca diktat kuliah kalo ada tugas saja”. Hmmm nampak sekali kalau minat membaca mahasiswa agak kurang.
Kemudian pak Yakub kembali mengambil contoh kasus yang terjadi di perpustakaan kampus sekarang. Perpustakaan kampus dulu sepi dengan pembaca tidak seperti jaman dulu sekali saat informasi yang dikemas dalam internet tidak marak, perpustakaan menjadi wadah untuk berlomba mencari ilmu. Tapi sekarang, perpustakaan ramai bukan karena ingin membaca buku, namun sekedar menikmati fasilitas wi-fi yang tersedia. Walaupun ada juga mahasiswa yang menggunakan fasilitas wi-fi perpustakaan kampus untuk menjelajah dunia luar dalam hal keilmuan dengan area jelajah mbah Google, eyang Wikipedia, om Kompas dan lain sebagainya, namun kebanyakan mahasiswa malah membuka Mas Facebook dan berkutat untuk mengganti status, ngegame atau upload photo.
Diskusi berlangsung seru saat itu, sehingga pak Yakub menantang setiap orang yang ada dalam ruangan itu untuk menulis dalam waktu 2 minggu dihitung dari hari itu dan salah satu satgas penyelenggara diskusi tersebut diminta untuk memantau tulisan yang dibuat oleh orang yang hadir dalam diskusi tersebut dan saya tidak tahu perkembangan selanjutnya mengenai tantangan itu, karena saya sendiri tidak menjawab tantangan itu dan hanya membuat tulisan 1 bulan setelah diskusi tersebut berlangsung, benar-benar lepas target :(
Pak Yakub berpendapat bahwa mahasiswa yang kritis adalah mahasiswa yang suka menulis dan mahasiswa yang suka menulis pastilah mahasiswa yang suka membaca. Membaca merupakan suatu alat alternatif dalam mencari referensi bagi mahasiswa yang ingin menulis. Dengan menulis, seseorang akan terlatih untuk berfikir secara terstruktur sehingga budaya kritis konstruktif dapat terbangun dan berkembang. So, banyaklah membaca, tulislah apa yang kau pikirkan dan kritis konstruktif lah kawan :) dan tidak lupa untuk mengucap terima kasih pada teman-teman satgas yang menyelenggarakan kegiatan ini, sehingga sore itu terasa bermakna dalam diskusi yang konstruktif.

Catatan Selama Kabur dari Tugas Organisasi

Tak terasa sudah beberapa minggu aku melarikan diri dari tanggung jawab di organisasi. Aku sangat menyadari bahwa banyak yang akhirnya tidak menyukai apa yang kulakukan. Yah, tetap dengan angkuh saya dapat bicara bahwa panas setahun dihapus hujan sehari. Semua selalu menginginkan aku tetap berperilaku perfect dan professional dalam berorganisasi, tapi satu hal yang pasti, aku juga manusia dengan berbagai macam kompleksitas masalah dan sekarang aku benar-benar seorang diri bergumul dengan masalah itu. Dan sekarang yang terjadi ialah aku di forsir habis-habisan dengan sikap cuek mereka terhadapku.
Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari organisasi ini dan itu sudah lama terjadi dan tidak pernah ada niat untuk memperbaiki itu. Cukup lelah tapi mencoba untuk terus bertahan dan mulai membantu membenahi. Hmm… teringat nasehat yang disampaikan seorang kakak angkatan yang menyebut bahwa “kalo lelah jangan berhenti, tapi berhentilah kalo sudah sampai, ya jalan ditempat ga papa, santai juga ga papa, pasti ada hikmahnya”. Kalimat yang cukup membuat tenang dan berhasil membuat saya kabur untuk “ngadem”.
Selama kabur, banyak hal yang kudapat, kabur bukan sembarang kabur tapi kabur menemui para senior untuk berefleksi bersama. Kejenuhan pasti terjadi dalam suatu organisasi, selalu ingin dimengerti padahal tidak berusaha mengerti orang lain. Hal-hal seperti inilah yang sangat mudah memunculkan konflik internal.
Orang yang pertama dihubungi adalah senior LK yang membimbing saya secara organisasi saat menjadi Ketum SEMA FB dulu, dia sekarang sedang melanjutkan study nya di Amsterdam, jadi kami berkomunikasi lewat chatting di Facebook, sekedar curhat tentang keadaan organisasi yang saya berkecimpung di dalamnya dan meminta pendapatnya. Dia menjawab dengan gaya bahasanya yang filsafat itu sehingga membuat otakku bekerja keras untuk berpikir dan mencerna maksud dari setiap kata-katanya. Secara garis besar, saya menceritakan mengenai permasalahan yang saya dan teman-teman hadapi dalam organisasi dan satu kata yang dia kemukakan membuat saya berpikir cukup lama, “kalian harus tegar hahahaha….” Dan pada akhir diskusi, saya bilang kalo sedang kabur dan rehat sejenak dan kalimat yang dia keluarkan sungguh membuat saya bingung, “kalo begitu kamu sedang tidak berpikir”, kemudian saya bertanya kembali, “kok tidak berpikir pak? Kan saya tetap memikirkan mereka serta tugas-tugas saya dan mencoba menghubungi teman-teman yang lain untuk membantu” dan kembali dijawab dengan gaya bahasa santainya, “haha…. Kamu tidak mengerti bahasa filsafatku”. Hmmmm…. saya sampai sekarang pun tidak memahami maksud beliau, sudah berusaha bertanya pada beberapa teman dan mereka pun tidak dapat menjawab, adapun yang menjawab, tapi sama sekali tidak memuaskan hehe .
Tempat saya “ngadem” selama ini tidak jauh dari kantor organisasi itu sendiri, bertempat di lantai 3 sebuah gedung yang terletak di areal kampus UKSW, dari tempat ini saya dapat menikmati fasilitas wi-fi gratisan sekalian memandang puncak gunung Merbabu yang saat itu selalu berkabut bila di atas pukul 12.00 WIB. Dalam ruangan itu saya sungguh mendapat ketenangan, tak ada yang mengejar-ngejar tanda tangan layaknya artis hahaha…. tidak ada yang mengganggu saya untuk minta dicarikan proposalnya, dan tidak ada yang mengajak saya ngopi untuk diskusi tentang organisasi. Di tempat itu, saya bisa duduk tenang, menjelajah dunia lewat internet, facebook-an, email-emailan, chatting, nulis untuk blog, serasa surga karena sampai lupa akan tugas organisasi, tugas kuliah, pokoknya lupa segalanya kecuali lupa diri :).
Genap 1 bulan saya muncul dan menghilang, saya pikir sudah saatnya saya kembali fokus, kembali berkumpul dengan teman-teman, karena saya sudah mendapat kesadaran dan disadarkan kembali oleh diri saya sendiri bahwa sebuah organisasi perlu komunikasi dan koordinasi. Hal yang paling krusial yang tidak sengaja saya lupa yaitu pemimpin yang baik tidak akan meninggalkan anggota timnya, padahal saya memiliki anggota-anggota yang membutuhkan bantuan. Maaf teman-teman karena keangkuhan dan kesombongan pribadiku aku memilih rehat sejenak mencari ketenangan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membayang di kepalaku tentang organisasi dan sekarang saya mencoba kembali mencari point kebersamaan itu lagi, perjuangan bersama-sama pasti akan terasa lebih ringan menyongsongnya :)

Leadership itu bukan sekedar urusan mengejar target gan!!!


ARTI SEORANG PEMIMPIN
Menjadi seorang pemimpin bukan perkara yang gampang. Kegamangan di tingkat leader  bisa saja muncul setiap saat dan dalam berbagai kejadian, dengan atau tanpa adanya tekanan. Satu hal yang pasti, lepas dari perdebatan mengenai model dan karakter kepemimpinan itu sendiri, saya yakin bahwa maju mundurnya suatu organisasi akan sangat dipengaruhi oleh apa yang dilakukan dan diputuskan pemimpinnya.
Pemimpin adalah representasi organisasi, sebesar apapun organisasinya, berapa pun jumlah anggotanya dan siapa pun orang yang bernaung di dalamnya, seorang pemimpinlah yang memutuskan ke arah mana organisasi akan dibawa, dan bagaimana cara membawanya. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan kompetensi manajemen dan teknis, tetapi lebih dari itu, dibutuhkan juga wibawa dan kharisma yang mampu mengangkat nama organisasinya di mata publik.
BUKAN SEKEDAR MENGEJAR TARGET
Organisasi pasti memiliki target dan tujuan. Pemimpin yang baik tidak akan meninggalkan anggota timnya (saya menggunakan kata “anggota” bukan “anak buah” karena hubungan kerja kita adalah koordinasi bukan komando, jadi saya menyebut hubungan semua anggota dan pemimpin organisasi adalah partner/ rekan kerja). Pemimpin yang baik juga tidak akan menganggap kemajuan organisasi adalah berkat dirinya seorang. Saya pikir, ciri organisasi “modern” adalah kepemimpinan yang mampu mengerahkan anggota-anggotanya menjadi satu tim kerja yang solid. Pada point inilah saya tidak sekedar bicara bagaimana mengejar target atau bagaimana mengelola organisasi. Lebih dari itu adalah bagaimana menjalin “human relations” serta nilai-nilai dengan anggota. Saya mencoba untuk berbagi mengenai filosofi hujan, dimana air hujan yang turun ke bumi akan membasahi segala rupa benda, menyegarkan dan menyuburkan. Seperti seorang pemimpin sejati adalah siapa saja yang mampu membawa organisasinya mencapai target, namun juga mampu menjadi panutan dan melindungi anggotanya, serta menaburkan kebaikan kepada orang-orang di sekelilingnya.
KARAKTER YANG HARUS DIMILIKI SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN
         Dalam sebuah buku yang berjudul “Untuk Sebuah Nama”, disana tertulis berbagai macam karakter seorang pemimpin yaitu percaya diri namun tidak mengandalkan diri sendiri, energik namun tidak memikirkan diri sendiri, teguh namun tidak keras kepala, bijaksana namun tidak pemalu, serius namun tidak kecut hati, setia namun tidak picik, tak tergoyahkan namun tidak kaku, lembut namun tidak hipersensitif, berhati lembut namun tidak mudah sedih, berhati nurani namun tidak perfeksionis, disiplin namun tidak menuntut, murah hati namun tidak mudah ditipu, baik namun tidak lemah, humoris namun tidak menggelikan, ramah namun tidak sok kenal, kudus namun tidak sok suci, pemikir namun tidak mudah mengkritik, progresif namun tidak berpura-pura, berotoritas namun kekuasaanya terbatas. Karakter-karakter yang tertulis dibuku tersebut sangatlah perfeksionis, tapi bukan berarti hal itu tidak mungkin diwujudkan.
MAKNA BER-LK DAN IMPLEMENTASI HIDUP YANG SATYA WACANA
         Apa sih makna LK? Pertanyaan yang selalu muncul sampai saya bosan mendengarnya, setiap pengumpulan berkas untuk mengikuti LMKM dari tahun ke tahun selalu diminta untuk menulis tentang apa sih makna LK itu, pada saat pencalonan menjadi Ketua Senat pun pasti ditanya juga tentang apa sih makna LK itu, sampai-sampai saya pernah berpikir satu hal konyol mengenai penanya ini. Yang bertanya ini sebenarnya sudah tahu tapi hanya mau nge-test saja atau dia memang benar-benar tidak tahu lalu dia bertanya? Pernah baru-baru ini saya ber-sms-an dengan seorang kakak angkatan saya sekaligus senior LK, dia merupakan mantan ketua BPM Fakultas Biologi, iseng saya bertanya padanya mengenai kata “makna” itu sendiri dan dia menjawab, “dalam kamus besar bahasa Indonesia, makna itu adalah pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan”, dan jujur saya tambah tidak mengerti :), kemudian kembali saya bertanya lagi dengan lebih spesifik padanya mengenai apa sih makna ber-LK menurut dia dan jawabannya adalah “PENDIDIKAN WAJIB DI LUAR KURIKULUM”. Jawaban yang praktis membuat saya melongo dan tertawa sambil membaca smsnya :), dan dia bilang dari jaman dia ber-LK, pertanyaan tersebut juga muncul dan dia bilang, bukan berarti dia bosen ditanya seperti itu tapi saya bilang kalo saya bosan lalu dia menyuruh saya untuk coba tanya yang nanya, kenapa gak bosen nanya getuan :). Cukup “refleksi” saya di atas, nah saya sekarang mencoba menghubungkan antara LK dan hidup yang Satya Wacana mengingat tema LMKM saat ini adalah “Aku Untuk Satya Wacanaku”. Lembaga Kemahasiswaan merupakan suatu wadah aspirasi dan Satya Wacana sendiri berarti Setia pada Firman. Maka LK UKSW merupakan wadah aspirasi yang tetap setia pada firman Tuhan. Lembaga Kemahasiswaan dapat dijadikan suatu tempat belajar mengenai organisasi terlebih untuk memahami dan mendalami makna Satya Wacana, dari tema LMKM kali ini, saya mencoba menyoroti kata “Satya Wacanaku” kata tersebut benar-benar menggambarkan kepemilikan. Ya, Satya Wacanaku, berarti Satya Wacana ini milik kita! Setiap orang secara logis akan menjaga, mencintai dan memperjuangkan miliknya, begitu juga yang seharusnya terjadi, kita harus menjaga, mencintai dan memperjuangkan Lembaga Satya Wacana ini. LK merupakan salah satu corong untuk kita mengekspresikan kreativitas kita dalam menyatakan cinta kita pada Satya Wacana. Hiduplah Garba Ilmiah kita :).
         Last but not least, saya ingin mengungkapkan bahwa pemimpin harus memilih dan memutuskan serta berani menanggung segala resiko yang terjadi (risk taking), memilih untuk menyelaraskan nilai diri dengan nilai organisasi. Membangun kepercayaan merupakan modal terbesar seorang pemimpin, dari trust ini maka akan muncul komitmen. Trust dan commitment, keduanya merupakan barang mewah dan penting bagi seorang pemimpin.