Senin, 02 Januari 2017

Catatan Seorang Pengajar Muda di Pulau Terdepan NKRI (6)


“Hari Pertama Sekolah”
Yeiyyy…. Hari ini, 4 Januari 2016 adalah hari pertama sekolah! Anak-anak terlihat bersemangat menghadapi hari ini. Saat saya menginjakkan kaki di halaman sekolah pagi ini, anak-anak terlihat penasaran melihat saya. Saya pun melempar senyum pada mereka sambil terus berjalan ke kantor karena tak sabar ingin bertemu dengan guru-guru yang lain. Saya pun bersalaman dengan para guru dan langsung ikut menyesuaikan diri bersama-sama menyiapkan anak-anak untuk mengikuti upacara bendera di sekolah. Upacara berjalan lancar dengan pak Kepala Sekolah sebagai Pembina Upacara dan dalam amanatnya beliau menyempatkan untuk mengenalkan saya sebagai pengajar muda dan akan mengajar selama 1 tahun di SDN 011 Trans II Gunung Putri untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika.
Anak-anak langsung menatap saya dengan mata –yang saya artikan- “berbinar”. Upacara pun selesai, anak-anak diinstruksikan untuk masuk ke kelas dan para guru pun bersiap untuk rapat perdana di semester baru ini. Agenda rapat pertama pagi ini adalah perkenalan dan penempatan saya sebagai guru bahasa inggris semua kelas dan matematika kelas 6.
Banyak aktivitas yang saya lakukan pada hari pertama ini, antara lain “pedekate” dengan para siswa dan guru, melihat-lihat seluruh fasilitas sekolah, seperti perpustakaan yang lebih mirip gudang dan jadi sarang kelelawar, satu ruangan kosong yang nyaris dipenuhi kelelawar juga, dan melihat-lihat beberapa alat peraga yang masih terbungkus rapi dan banyak juga yang rusak karena rayap dan tidak pernah digunakan.
Hari itu juga saya putuskan untuk mengajak seluruh warga sekolah membenahi perpustakaan terlebih dahulu. Ya, minat membaca di desa penempatan saya rendah, jadi saya berpikir untuk membenahi ini dulu dengan memanfaatkan dan memperbaiki fasilitas yang ada.
PR pertama kami untuk perpustakaan ya mengusir kelelawar, membersihkan kotoran kelelawar dan mengklasifikasikan buku-buku yang ada. Sepertinya ini akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, melihat jumlah kelelawar yang nangkring di plafon. #sigh
Untuk masalah alat peraga yang tak pernah digunakan, ternyata para guru tidak mengetahui cara penggunaannya, padahal manual booknya ada #Lol. Saya langsung memisahkan alat peraga yang masih layak digunakan dan membawanya ke ruang majelis guru (saya berencana belajar bersama para guru lainnya untuk menggunakan alat peraga itu supaya tidak “nganggur” lagi di gudang).
Tetap semangat untuk menghadapi tantangan selanjutnya J


Minggu, 04 Oktober 2015

Tukang Pijat di Gunung itu Memang Ada

       Gunung Kendil namanya, tingginya pun hanya 1305 mdpl. Di gunung Kendil pula saya pertama kali belajar mendaki. Sekilas bila melihat ketinggiannya, orang akan berpikir, “ah gunung pendek segitu”, namun coba deh mendaki gunung Kendil ini, dijamin kaki bakal ketar-ketir.

       3 oktober 2009, saya pertama kali mendaki Gunung Kendil, berlima kami mendaki, saya, kak Dwi, kak Dia, Andre, Lia dan Eyang Narto, mendaki melalui jalur Desa Sepakung. Kami berjalan menelusuri desa, menumpang minta air minum di rumah warga desa sampai diberi seplastik buah-buahan oleh warga yang mungkin tak tega melihat kami berjalan dari stand ojek sampai desa. Padahal warga biasanya menggunakan motor atau mobil untuk transportasinya. Ya itulah, eyang Narto mengajarkan kami “kesederhanaan” sekaligus melatih otot kaki. Saat mendaki itu juga, saya hampir saja menyerah di tengah jalan. Maklum saya ini dari kota seribu sungai, Banjarmasin, tak terbiasa mendaki gunung. Namun hari itu saya menggapai puncak walaupun harus “ngesot” dan kelelahan.
Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2009

       3 Oktober 2015, saya mendaki Gunung Kendil, kali ini ceritanya tentu berbeda. Saya mendaki kembali Gunung ini setelah 6 tahun untuk mengikuti acara ulang tahun Balano yang ke-41, kelompok mahasiswa peduli lingkungan, tempat saya dulu sewaktu bermahasiswa aktif. Kami berlima belas yang mendaki. Saya tentu saja tertinggal di belakang sewaktu mendaki karena keadaan fisik yang tak terlalu prima, saya bergadang beberapa hari sebelum pendakian. Kali ini di belakang, saya ditemani kak Dwi, Novi, dan Eyang Narto. Baru 200 meter dari basecamp, saya merasa pusing dan mual. Saya pikir mungkin rasa pusing ini akan berlangsung sebentar saja, eh malah semakin hebat rasa pusingnya, tambah berkunang-kunang dan mual. Saya secara refleks bersandar di punggung eyang Narto karena tak sanggup lagi mengangkat kepala. Eyang yang melihat keadaan saya semakin pucat dan suhu tubuh saya semakin turun, langsung menyarankan saya untuk berbaring dan seketika itu juga eyang memijat punggung, kepala, dan kaki saya. Kak Dwi dan Novi kebagian jatah memijat tangan kanan dan kiri saya. Hampir satu jam saya dipijat dan beristirahat. Setelah dipijat, keadaan saya membaik, saya disuruh istirahat sesaat sambil ngobrol. Tetiba eyang nyeletuk, lha ini yang dimaksud, ada tukang pijat di gunung! Eh iya juga, dulu kapanpun dan dimanapun mendaki bersama eyang Narto, pasti eyang selalu mengiming-imingi kalau ada tukang pijat di gunung, saya bersama teman-teman sih tidak terlalu menggubris dan hanya menganggap itu bercandaan ala eyang. Lha setelah saya mengalami mountain sickness pertama kalinya ini, baru saya memahami maksud eyang tentang tukang pijat di Gunung! Ah eyang ada benarnya juga J.
 Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2015

     Gegara saya yang semaput, kami ber-4 terlambat sampai di lokasi kemping dan harus rela berteduh dengan MMT bekas dipinggir jalur pendakian akibat hujan. Sambil berteduh, eyang nyeletuk, “suasana kehujanan, kedinginan di gunung begini kok ya selalu dirindukan”. Haha... iya juga. Saya baru kali ini mendaki setelah satu tahun tak mendaki. Pas kehujanan sambil menghirup aroma petrichor, saya bernostalgia bersama eyang Narto. Sampai kami tiba di tenda dan tidur pun saya dan eyang Narto terus bernostalgia. Ya, saya ingin sekali dekat dengan eyang Narto sebelum saya pergi jauh bertugas mengajar di pelosok negeri selama satu tahun nanti. Saya termasuk beruntung bertemu sosok Eyang Narto, saya banyak belajar dari beliau. Saya belajar tentang kesederhanaan, ketulusan, rendah hati dan yang paling seru, saya belajar “menulis dengan baik dan benar” dari eyang Narto. Beliau tidak pelit membagikan ilmunya, walau beliau dijuluki ahli taksonomi tumbuhan, tak pernah sekalipun beliau menunjukkan keangkuhannya, malah mengajak kami mahasiswanya untuk belajar bersama.
 Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2015


       Ah tidak terasa, 6 tahun terasa cepat sekali berlalu. Gunung Kendil punya tempat istimewa di hati saya. Dua kali saya mendaki gunung yang katanya “pendek” ini, saya selalu saja hampir menyerah, tapi selalu saja ada Eyang Narto yang memberi semangat hingga saya mampu menggapai puncak. Saya juga bersyukur sekaligus jadi pelajaran berharga bagi saya untuk selalu menjaga kondisi tubuh tetap prima saat mendaki agar tak tepar selama perjalanan pendakian dan saya akhirnya memahami istilah “tukang pijat di gunung” yang sering disebut Eyang Narto. Ah saya beruntung mengalami semua proses ini. Ya, saya beruntung.

Eyang Narto

Jumat, 07 Agustus 2015

Direct Assesment Indonesia Mengajar



Minggu lalu, 31 Juli 2015, saya menjalani dirrect assesment (DA) Indonesia Mengajar (IM) di Yogyakarta. Saya dapat memasuki tahap ini setelah lolos tahap pertama, penilaian data diri, pengalaman komprehensif dan penilaian terhadap esai yang dibuat. Yeah, saya bahagia pake banget karena bisa jadi bagian dari 195 orang yang lolos dari 8249 aplikasi yang masuk. Perjuangan membuat esai sebanyak 11 paper terbayar sudah dengan pengumuman yang masuk ke email saya 9 Juni 2015 lalu. Beberapa hari kemudian email dari IM dateng lagi, menerangkan apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi DA dan hal-hal yang menyangkut teknis. DA IM itu ada beberapa tahapan, self presentation, focus group discussion, wawancara (dua kali dengan assesor berbeda), simulasi mengajar, dan tes psikologi.

            Self presentation, saya menghadapi bagian ini dengan amat santai, gimana enggak, lha cuma jelasin saya apa adanya, pengalaman berorganisasi dan mengajar, dan motivasi kenapa mendaftar IM. Saya merasa free saja menjelaskan tentang diri saya, apa adanya, like said this is my self! #sokconfident #sigh. Lagipula pendengarnya cuma peserta kelompok 6 orang plus tiga orang assesor. Kemudian focus group disscusion, memasuki tahap ini, kita diberi sebuah bendel yang di dalamnya menceritakan sebuah polemik yang terjadi di suatu daerah, seperti kesadaran masyarakat daerah tersebut tentang pendidikan dan keadaan ekonomi serta sekolah di daerah itu. Kita diminta untuk memilih salah satu opsi problem solving dari enam opsi yang ditawarkan. Masing-masing mengerjakannya, diberi waktu 25 menit. Setelah itu kita membentuk sebuah kelompok, masing-masing mengutarakan opsi yang dipilih dan alasan kuatnya apa, pertimbangan-pertimbangan pentingnya seperti apa. Sesi ini kita diawasi oleh tiga orang assesor. Di akhir diskusi, kita harus membuat keputusan, tiga opsi terbaik menurut kelompok diajukan. Setelah diskusi alot, akhirnya kami bisa menentukan tiga opsi terbaik versi kami. Dan ingat, keputusan yang diambil tidak boleh hasil voting! Tahap berikutnya adalah wawancara. Saya di wawancarai oleh dua orang assesor, assesor pertama selama satu jam, di assesor kedua cuma setengah jam. Tahap ini nyantai kok, palingan ditanyain seputar essai yang kita buat, pengalaman komprehensif kita, dan selama kita gak bohong waktu ngisi aplikasi online, tahap ini bakal berasa enteng deh. Kemudian yang paling mendebarkan bagi saya adalah tahap Simulasi Mengajar. Bagaimana tidak, saya orang yang berkutat dengan sains bertahun-tahun, namun tema mengajar saya hari itu adalah IPS, "Menceritakan Peristiwa Penting Dalam Keluarga Secara Kronologis". Waduh, saya sampai ngubek-ngubek RPP di internet sebelumnya. Tahap simulasi mengajar ini kita ditemani oleh empat orang alumni pengajar muda (PM). Karena mereka telah berpengalaman mengajar di pelosok sebagai pengajar muda, maka suasana kelas di tahap simulasi ini dibuat betul-betul seperti kelas sesungguhnya di daerah penempatan. Setiap satu peserta mengajar, peserta yang lain dan alumni PM akan menjadi siswanya dan setiap peserta diberi skenario berbeda-beda. Ada yang kelasnya berisi siswa manja hingga menimbulkan ke-iri-an siswa lain, kelas pun gaduh, ada juga yang tetiba orang tua siswa datang ke sekolah mengajak paksa anaknya pulang untuk membantu di ladang, lalu siswa yang tetiba semuanya keluar kelas ditengah-tengah jam belajar gegara abang bakso lewat, saya sendiri dapet skenario dimana siswa berebutan pergi ke toilet karena ikut-ikutan teman yang lain ke toilet, praktis kelas saya gaduh, materi yang sudah saya persiapkan menguap entah kemana karena sibuk mengondusifkan suasana kelas. Tahap simulasi mengajar ini gak jadi mendebarkan, tapi jadi kocak banget #LOL. Tahap terakhir adalah test psikologi. Simpel ajah testnya, walau mungkin artinya dalem.

            DA kami di Yogyakarta mulai dari jam setengah delapan pagi hingga jam setengah enam sore. Lelah juga, tapi asik. Saya bertemu teman-teman baru di sini. Mereka orang-orang hebat pastinya, berkancah di dunia organisasi intra-kampus maupun ekstra-kampus, berprestasi pula dalam dunia akademik, bahkan ada yang sudah bekerja di perusahaan multinasional namun mengikuti panggilan hatinya untuk mengajar anak-anak di pelosok negeri. Ah saya bangga bisa bertukar cerita dengan mereka di sela-sela sesi dan setelah selesai DA. Anyway, apapun hasilnya, berhak lanjut ke tahap selanjutnya atau tidak, saya tidak ingin memusingkannya, yang penting saya memberikan yang terbaik saat tahap DA ini. Dan memang benar apa yang dikatakan orang-orang kalau di IM itu yang tidak terlupakan adalah tahap Direct assesment-nya, gokil abis, dan saya beruntung pernah mengalaminya.
 
            Untuk yang belom lolos Seleksi CPM angkatan XI ini, ditunggu tuh untuk angkatan XII, lebih besar kuotanya. Angkatan ganjil biasanya hanya dipilih 50-52 orang sedangkan angkatan ganjil akan dipilih 70 hingga 75 orang. Jadi tetap semangat!

Pulang



Saya baru saja bengong dengan pernyataan seseorang yang bilang, kamu harus mengabdi di sini, di almamatermu. Waduh! Saya terganggu sekali sebenarnya. Ya setiap orang punya pilihan masing-masing yah, Tuhan ajah ngasih free will. Bagi saya, anak daerah yang belajar jauh-jauh keluar dari daerahnya itu sebaiknya pulang, bangun daerahnya, katanya pengen pemerataan. Kalau mau daerahnya maju, ya harus ada yang memajukannya, salah satu orangnya itu, ya kamu, yang sudah dapet cukup ilmu untuk diaplikasikan.

Lalu ada lagi yang bilang, ya memajukan daerah itu kan gak harus kitanya ada di daerah. Tuing...tuing..tuing... dilema dengan pernyataan ini deh. Tapi bagi saya, rekan-rekan kita di daerah itu butuh kehadiran nyata kita. Kita terjun langsung membangun, dan bagi saya ini tidak bisa dilakukan dari jarak jauh, gak akan maksimal. Ya ada juga cara lain membangun dari jarak jauh, misalnya dengan menjadi pengajar di instansi tertentu di kota besar yang siswanya dari daerah. Tapi kalau semuanya stay di luar daerah, lha sapa yang pulang dan terjun langsung?

Tapi sekali lagi, setiap orang punya kebebasan untuk memilih, tapi kalau saya, saya akan pulang, kapanpun saya selesai belajar. Saya mencintai Kalimantan sebagai bagian dari Negara Indonesia, oleh karena itu saya ingin pulang, membangunnya sebisa saya untuk Republik ini.

Under Thirty



Dini hari ini saya merenung. Renungan ini muncul akibat pertemuan saya dengan seorang Programme officer di Indonesia Mengajar. Saya mengenalnya karena mengikuti proses Direct Assesment di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Tetiba rasa jealous merasuki saya saat dia mengatakan kalo dia seorang Ph.D lulusan NTUTS Taiwan. Bukan Ph.D nya yang bikin iri setengah mati, tapi usia dia mencapai gelarnya itu loh, 26 tahun, twenty six years uda doktor, okeh fine! Under thirty.

Dulu itu mimpi saya, doktor sebelum berusia tiga puluh. Namun proses yang saya alami rasanya berat haha, yah mungkin saya kurang mempersiapkannya dengan baik. Saya masih di tengah perjuangan saya. saya merefleksikannya dini hari ini. Tiga tahun sembilan bulan saya tempuh dengan sekuat tenaga menyelesaikan sarjana, dan konyolnya butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan master. Saya masih dalam proses menyelesaikan master saya yang hampir menginjak tiga tahun, lama banget yak, rasa-rasanya tidak ada yang menyelesaikan masternya se-lama saya #sigh. Saya menghitung mundur waktu saya, hanya tersisa enam tahun sebelum saya tiga puluh. Saya masih harus banyak berjuang! Mengejar ketertinggalan saya. yah walau gak bisa kayak di Programme officer tadi, doktor saat 26 tahun, seenggaknya target saya masih dibawah tiga puluh doktor, mungkin gak ya? Hahaha..

Dan untuk mengejar segala ketertinggalan saya, kayaknya saya harus menjadi seorang “nerd” untuk beberapa tahun ke depan. Huftt... Fighting!!!

Minggu, 21 Juni 2015

Caraku Mencintaimu



Aku mencintaimu, sungguh!
Cinta itu membebaskan, tepat!
Cinta itu harus memiliki, sebagian berkata “itu benar!”, sebagian lagi berkata “itu omong kosong”
Kesimpulan tentang aku mencintaimu,
Aku mencintaimu dengan membebaskanmu, dan aku memilikimu dengan caraku, yang hanya aku dapat mengerti
Ya, aku mencintaimu dengan caraku.