“Hari
Pertama Sekolah”
Yeiyyy….
Hari ini, 4 Januari 2016 adalah hari pertama sekolah! Anak-anak terlihat
bersemangat menghadapi hari ini. Saat saya menginjakkan kaki di halaman sekolah
pagi ini, anak-anak terlihat penasaran melihat saya. Saya pun melempar senyum
pada mereka sambil terus berjalan ke kantor karena tak sabar ingin bertemu
dengan guru-guru yang lain. Saya pun bersalaman dengan para guru dan langsung
ikut menyesuaikan diri bersama-sama menyiapkan anak-anak untuk mengikuti
upacara bendera di sekolah. Upacara berjalan lancar dengan pak Kepala Sekolah
sebagai Pembina Upacara dan dalam amanatnya beliau menyempatkan untuk
mengenalkan saya sebagai pengajar muda dan akan mengajar selama 1 tahun di SDN
011 Trans II Gunung Putri untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika.
Anak-anak
langsung menatap saya dengan mata –yang saya artikan- “berbinar”. Upacara pun
selesai, anak-anak diinstruksikan untuk masuk ke kelas dan para guru pun bersiap
untuk rapat perdana di semester baru ini. Agenda rapat pertama pagi ini adalah perkenalan
dan penempatan saya sebagai guru bahasa inggris semua kelas dan matematika
kelas 6.
Banyak
aktivitas yang saya lakukan pada hari pertama ini, antara lain “pedekate”
dengan para siswa dan guru, melihat-lihat seluruh fasilitas sekolah, seperti
perpustakaan yang lebih mirip gudang dan jadi sarang kelelawar, satu ruangan
kosong yang nyaris dipenuhi kelelawar juga, dan melihat-lihat beberapa alat
peraga yang masih terbungkus rapi dan banyak juga yang rusak karena rayap dan
tidak pernah digunakan.
Hari
itu juga saya putuskan untuk mengajak seluruh warga sekolah membenahi
perpustakaan terlebih dahulu. Ya, minat membaca di desa penempatan saya rendah,
jadi saya berpikir untuk membenahi ini dulu dengan memanfaatkan dan memperbaiki
fasilitas yang ada.
PR
pertama kami untuk perpustakaan ya mengusir kelelawar, membersihkan kotoran
kelelawar dan mengklasifikasikan buku-buku yang ada. Sepertinya ini akan
membutuhkan waktu yang tidak sebentar, melihat jumlah kelelawar yang nangkring di plafon. #sigh
Untuk masalah alat peraga yang tak
pernah digunakan, ternyata para guru tidak mengetahui cara penggunaannya,
padahal manual booknya ada #Lol. Saya
langsung memisahkan alat peraga yang masih layak digunakan dan membawanya ke
ruang majelis guru (saya berencana belajar bersama para guru lainnya untuk
menggunakan alat peraga itu supaya tidak “nganggur” lagi di gudang).
Tetap
semangat untuk menghadapi tantangan selanjutnya J