Rabu, 26 Desember 2012

Cinta Tak Mudah Berubah Jadi Benci


Aduh Fitri! Kamu tu lho galau terus, ngomongnya cinta terus, sudahlah, galau tu gak usah dipelihara! Itu tuh kalimat yang sering singgah di telinga saya beberapa bulan terakhir. Ya memang diakui, saya memang galau! Banyak banget hal yang membuat saya galau, jadi ketua angkatan di Magister Biologi itu selalu membuat saya galau, dosen-dosen saya itu orang-orang sibuk tingkat internasional! Jadi banyak banget jadwal kuliah yang harus di make up. Bukan cuma masalah nyari jadwal, tapi juga nyari ruang kuliah, belum lagi harus nyocokin jam ama jadwal teman-teman yang lain karena mahasiswa Master itu juga ada yang kerja. Terus tambah lagi satu kegalauan, ada aja dosen yang suka ngegodain, sms aneh-aneh, manggil dengan panggilan aneh pula, ini maksudnya apa??!!! Kemudian rencana thesis juga, ini yang paling bikin galau, topik thesis ini juga harus berkaitan dan mendukung untuk 4 publikasi sebagai syarat jadi M.Si. wow...!!!(#sambil.koprol) Nah tambah lagi urusan asmara, galaunya dikit tapi, namun bisa jadi pelampiasan. Kemudian tugas-tugas yang menggunung ibarat Mount Everest hahahaha.... Lalu tambah kerjaan sebagai consultant juga sedikit kerjaan di Lembaga Kemahasiswaan, bikin galau juga. Yah, tapi saudara-saudara di balik itu semua, ada hikmahnya, saya jadi gak kesepian karena selalu sibuk tingkat internasional (pengen nandingin dosen-dosen saya itu -.-“), ditemanin sesama manusia galau (a.k.a. Ruben Wicaksono/ adek kesayangan gue yang rada ‘bego’ juga kak Itin yang selalu jaga batas kebrutalan kita di tempat umum hahaha), nambah pengalaman juga (pengalaman berdebat (kadang debat kusir -.-“)) serta nambah inspirasi buat blog karena banyaknya pengalaman ‘gila’ yang saya alami.
Ditemanin sesama manusia galau, khususnya yang bernama Ruben Wicaksono thu sesuatu banget, bisa jadi segila-gilanya. Untung masih ada kak Itin yang jagain dan ngingetin tentang kebrutalan kita yang harus dikendalikan apalagi di tempat umum. Minum wine jadi menu sehari-hari, topik pembicaraan ‘maksiat’ juga jadi hobi, makan gila-gilaan sampai ‘hamil’. Gak lupa juga ada kak Acha, yang jadi tempat curhat sampai nangis-nangis hahahaha. Kakak-kakak cowok di Lab (a.k.a. kak Dany “Jepang”, Kak Dhanang “cumi”, Kak Yafet “kelassss”, dll) yang selalu ngece (oke baiklah, silakan saja panggil saya “SIPITri”). Yah dengan adanya kalian sewaktu galau, minimal saya gak bunuh diri atau pindah agama lah #ngomong.apa.sih? Hahahaha (kidding J)
Di balik semua kesibukan itu, saya jadi teringat ada seorang kakak yang dulu pernah menyindir saya sewaktu masih aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas dulu, “Fit, kamu itu lho, diperbudak oleh kesibukan! (a.k.a. William M. Alfons)” hahahha... ya memang saat itu saya agak kelewatan sih, sudah jadi salah satu pimpinan di BPMU, ngurus skripsi, PKMP yang saya ajukan ke DIKTI didanai lagi, masih ngurus Balanophora juga, sempet-sempetnya naek gunung tiap weekend karena kejenuhan kerjaan yang menumpuk, dan akhirnya saya pingsan lalu disuruh istirahat total, tapi lagi-lagi kebandelan saya muncul, bersibuk-sibuk ria mah teteup. Istirahat total itu ngebosenin, masa disuruh tiduran seharian, punggung saya pegel atuh dok! Akhirnya nonton film korea dah ama anak-anak kost (Annyeong Haseyo J).
Begitulah saudara-saudara yang beriman dan berbudi luhur, saya benar-benar amat sangat (#lebay.mode.on) mencintai pekerjaan saya. Saya menikmati pekerjaan saya sebagai mahasiswa master (yah gak semua orang bisa kuliah master GRATIS kayak saya), jadi ketua angkatan juga not bad (jadi terkenal di se-antero gedung pascasarjana), jadi consultant juga dapet duit, kerjaan di Lembaga Kemahasiswaan juga cukup menyenangkan (sekalian nostalgia karena dulu pernah berkecimpung di dalamnya). Ya, saya benar-benar menikmati kesibukan saya, walau kadang tetangga protes, saya pergi pagi-pagi dan pulangnya kadang nyaris pagi lagi hahahaha, tapi thank’s buat pengertiannya my neighbours J
Lha fit, trus apa hubungannya “Cinta Tak Mudah Berubah Jadi Benci” yang elo jadiin judul tulisan dengan cerita kesibukan elo?? Yah begini saudara-saudara yang beriman dan berbudi luhur, saya benar-benar menyukai, mencintai dan menikmati pekerjaan/ kesibukan saya. Saya menikmati berjam-jam di Laboratorium (bahkan pernah 20 jam on seharian di Lab), saya menikmati tugas-tugas yang mengharuskan membaca setumpuk jurnal-jurnal berbahasa inggris, saya menikmati kuliah dari pagi sampai malam, rapat-rapat organisasi yang saya ikuti, memutar otak sebagai consultant, semua pekerjaan yang saya lakukan, saya mencintainya! Namun bayangkan saja, pekerjaan-pekerjaan itu selalu membuat saya lelah, jenuh, jengkel, pokoknya fisik dan psikis teruji lah. Kadang nyaris meneteskan air mata, karena deadline tugas sudah mencekik leher namun masih belum selesai dan kadang belum mengerti, seringkali jengkel dengan teman-teman organisasi yang kurang berkomitmen. Kalau membaca novel, komik, majalah bertumpuk sekalipun tak jabanin dah, lha ini yang kudu dibaca adalah setumpuk jurnal-jurnal berbahasa inggris yang menggunakan istilah-istilah dari planet antah berantah, otak saya langsung galau maksimal. Meminjam istilah dari teman-teman Ambon saya “MEMANG PALING COBAAN SEKALI E” hahaha... betul, semua pekerjaan yang saya cintai itu selalu mencobai saya -.-“. Namun hal itu tak serta merta membuat saya membenci hal ini kemudian. Benci itu gak keren! Gak serta merta bikin masalah bisa selesai, malah mungkin nambah-nambahin kerjaan. Yah, semua tergantung pilihan masing-masing sih, mau tetap cinta atau merubahnya jadi benci. Kalo saya, lebih memilih untuk tetap cinta, karena ada gift yang bakal saya dapetin atas semua kerja keras melawan rasa benci itu.
Ada sebuah lagu yang saya suka, liriknya menarik bila dihayati. Namun sekali lagi, semua itu tergantung persepsi, ingin melihat lirik lagu ini dari sudut pandang yang mana (yang cerdas pasti mengerti maksud saya J). Judulnya “Cinta Tak Mungkin Berhenti” yang dinyanyikan oleh Tangga. Bila berkenan, download aja dan berikut liriknya.
Cinta Tak Mungkin Berhenti
Tak ada kisah tentang cinta
Yang bisa terhindar dari air mata
Namun ku coba menerima, hatiku membuka
Siap untuk terluka
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar
Dari pahitnya cinta
Namun ku pilih begini, biar ku terima
Sakit demi jalani cinta (cinta)
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga (sehingga) hidupku (hidupku) pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Hanya kamu yang bisa (…)
Bisa membuatku rela (rela menjalani segalanya)
Rela menangis karenamu (ku rela ku rela …)
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti (cinta tak mungkin berhenti)
Tak mudah berganti jadi benci (tak mudah untuk berganti)
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Biar ku pergi sembuhkan hati
Seperti pada kalimat “Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti”, dalam konteks tadi, jatuhkan hatimu pada kerjaan/ kesibukanmu sehingga hidupmu lebih berarti. Setiap kerja keras yang positif pasti menghasilkan hal yang baik pula. “Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati”, ya, setiap kerjaan/ kesibukan pasti akan menimbulkan suatu kejenuhan, pergilah untuk menyembuhkan hati alias refreshing. Refreshing itu perlu guys J. Jadi selamat diperbudak kesibukan dan mencinta J

#di kungkungan dinding putih tinggi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar