Pagi ini di awal bulan November 2011 kembali bangun pagi-pagi untuk menyusuri Gunung Telomoyo yang memiliki tinggi 1894 mdpl, terletak di sebelah barat laut Gunung Merbabu. Namun tujuan penyusuran kali ini bukanlah puncak gunung Telomoyo, melainkan ingin mencoba jalur balik kami biasa berjalan dari Muncul-Kopeng. Kebiasaan kami melakukan perjalanan dari Muncul - Desa Pager Gedog - Menyusuri pinggang Telomoyo - finish di Blancir, Ngablak, kali ini rute dibalik. Pukul 07.00 WIB bertemu di kampus dengan kawan-kawan Balanophora untuk berangkat bersama, menumpang mini bus ke arah Pasar Sapi kemudian lanjut dengan menggunakan mini bus lagi ke arah Blancir, kecamatan Ngablak. Dari Blancir terus berjalan kaki menuju pintu gerbang Telomoyo, terus berjalan di jalan aspal berkelok-kelok, sambil bercanda dan menikmati pemandangan sekitar. Sesekali menyapa warga yang kebetulan lewat sambil mengendong rumput gajah untuk makanan ternak mereka. Kabut menyapa, menambah keeksotisan pemandangan gunung ini. Sampai pada jalan berbelok ke bawah menuju Desa Pager Gedog, saya sempat tersasar sendiri karena terus berjalan mendaki, untung kawan-kawan memanggil agar kembali dan berbelok.
Sambil berjalan menurun, mengingat saat ini memasuki penghujung musim kemarau, tanah yang kering setelah dipijak berpotensi menghasilkan debu yang menyesakkan. Mengingatkan kawan-kawan yang berjalan di depan untuk berhati-hati dalam melangkah agar debu yang beterbangan dapat diminimalisir. Setelah berkutat beberapa saat dengan debu, tibalah kami di Desa Pager Gedog. Berjalan menyusuri desa ini sambil tetap bercanda, cuaca yang terik membuat lapar dan haus, setelah melewati desa kami singgah di sebuah pondok untuk membuka bekal, dan menikmatinya.
Setelah beristirahat sejenak sambil menyantap bekal, kami kembali bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan. Perjalana di bawah terik matahari menurut saya sungguh menyiksa, selain kaki yang sudah mulai gempor karena turunan yang cukup ekstrim, ditambah lagi keterikan matahari siang itu. Tetap terus berjalan dipinggir berharap mendapat perlindungan dari pohon-pohon di samping jalan yang semakin sedikit. Sampailah kami di pinggir jalan Salatiga – Ambarawa, menunggu minibus, dan pulang dengan membawa kenangan penyusuran kali ini.
Tidak lupa ucapan salut untuk Masya Ruhulessin dan Ambhu Taranau, yang tidak terbiasa trekking namun dapat menyelesaikan perjalanan kali ini dengan baik walau kekhawatiran asma kak Masya yang dapat kambuh sewaktu-waktu dan kak Ambhu yang tidak terbiasa berjalan jauh. Kalian sungguh luar biasa, dapat melampaui itu semua dan tiba di garis finish dengan baik. Thanks jua buat alumni yang menemani perjalanan kali ini, kami tau kalian tidak akan meninggalkan kami hahaha….
Warm Regards.......
By. Rachel Fitria 05.10 WIB
Diiringi hembusan angin kencang
By. Rachel Fitria 05.10 WIB
Diiringi hembusan angin kencang