Rabu, 27 Februari 2013

Selamat Senja Teluk Awur


Kujejakkan kaki di tepi pantaimu
Angin bertiup terlalu kencang menurutku
Tubuhku terasa didorong kuat oleh angin
Kuistirahatkan tubuhku dengan duduk di dermaga itu
Kulihat di sekitar dermaga banyak nelayan melemparkan jalanya
Namun tak satupun ikan yang terjerat
Nelayan itu tidak putus asa, dia terus menerus melemparkan jalanya
Berharap akan ada ikan yang terperangkap
Aku mengubah posisi dudukku agar leluasa untuk menunggu terbenamnya matahari
Namun sial bagiku
Awan hitam tiba-tiba melingkupi langit
Tak lama hujan turun perlahan, lalu kemudian menjadi deras diiringi badai
Aku berlari menjauhi pantai, menuju asrama spooky itu
Aku berhenti sejenak di beranda asrama
Kubalikkan badan dan kulihat matahari yang hampir terbenam itu sudah tak terlihat lagi
Dia disembunyikan oleh awan hitam itu
Aku putuskan untuk masuk ke kamar
Aku buka jendela kamar dan kembali merenung sambil bertopang dagu di pinggir jendela
Senja yang diiringi hujan badai
Aku merasa  inilah tempat yang cocok untukku saat ini
Tempat yang cocok untukku yang sedang jenuh dengan segala aktivitas kampus
Tempat yang cocok untuk melupakanmu dan mereka sementara ini
Tempat yang cocok untukku merenung panjang
Tempat yang cocok untukku menarik diri sementara dari kemelut dan kenyataan hidupku
Tak lama eyang yang selama ini mendampingiku memanggil
Aku bangkit dari pinggir jendela itu dan berjalan ke arahnya
Eyang menyambutku dengan senyum hangatnya
Seakan memaklumi keresahan hatiku
Senyuman hangat eyang seketika menentramkan hatiku
Membuatku merasa aman
Membuatku merasa tidak sendiri di sini, di dunia ini
Hai Teluk Awur.. Terima kasih untuk senja yang kau sajikan
Walau diselingi hujan badai, seakan kau tahu rasa di hatiku
Kau mengerti aku Teluk Awur
Terima kasih kau dan eyang juga menyadarkanku bahwa aku tak sendiri
Kalian selalu bersamaku disaat tersulit sekalipun


Hujan turun lagi


Hai hujan, kenapa kamu turun lagi? Apakah kurang cukup basah tanah itu karenamu?
Apa memang kamu terpaksa turun karena terlalu penuh uap air di atas sana?
Namun aku tidak suka!
Tanah ini sudah terlalu basah, basah karenamu
Aku lelah berjalan untuk menghindari gelimangan air di tanah
Sepatuku jadi kotor!
Berhentilah hujan
Aku lelah
Aku tidak ingin basah lagi
Aku tidak mau sepatuku kotor lagi


Senin, 25 Februari 2013

Hai Pinguin




Hai pinguinku...
Malam ini mungkin aku terlalu melankolis dan sentimentil
Namun ketika melihat purnama malam ini, seketika aku rindu
Aku rindu pelukan hangatmu
Aku rindu senyummu yang menenangkan
Aku rindu tatapan mesramu
Aku rindu caramu menunjukkan sikap manja dan tegarmu
Aku rindu keseluruhan tentangmu

Oh ya pinguinku...
Aku juga rindu caramu marah padaku
Aku juga rindu caramu kecewa padaku
Aku rindu semuanya!
Bilang aku harus bagaimana?
Aku terlalu rindu padamu pinguinku



Rabu, 20 Februari 2013

Yang Paling Titik


Hai bintang inspirasiku....
Aku tahu kau baik-baik saja, aku yakin itu...
Sudah tiga setengah tahun ternyata...
Aku tak ingin lagi berbasa-basi denganmu...
Aku sudah berada pada penghujung jalan...
Perasaanku sudah di tempat yang paling titik...
Tidak akan ada lagi koma di antara kita...
Aku hanya manusia yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang termulia...
Namun aku punya batas...
Aku memutuskan untuk menyudahinya...
Aku sudah berada pada keyakinan tertinggi...
Takkan ada lagi kisah khusus tentang kita...
Aku pernah bermimpi... bermimpi memilikimu...
Namun sekarang, aku sudah mengubur mimpi itu...
Aku sudah sampai pada tahap rasionalitas, berpikir dengan akal sehat yang sesehat-sehatnya...
Aku sudah sampai pada pandangan yang sangat realistis...
Terima kasih untuk waktu bertahun-tahun itu...
Aku yakinkan bahwa sudah tidak ada lagi kupu-kupu yang menari di perutku...
Hatiku padamu sudah jadi uap wahai bintang inspirasiku...
Ia menjadi uap dan mengendap menjadi awan...
Angin sudah membawa awan itu pergi sejauh-jauhnya...
Dan aku pastikan tidak akan kembali...
Karena ia akan jatuh sebagai air hujan di tempat lain...
Aku pastikan tidak akan ada lagi... tidak akan ada lagi kisah kita...
Semuanya sudah sampai di akhir cerita... sampai pada yang paling titik...



#Terima kasih karena sudah menginspirasiku selama ini dan kau tak perlu lagi menyinariku dengan cahaya bintangmu itu.

Senin, 18 Februari 2013

Gak Semua Cerita Bisa Happy Ending


Aku cinta, selalu cinta, dan akan terus cinta
Perasaan ini gak bakal ada habisnya
Aku tahu, kamu tahu, hati ini juga tahu
Kalau kita memilih yang terbaik
Gak boleh lari-larian, gak boleh rahasia-rahasiaan lagi
Gak semua cerita bisa happy ending
Kamu bilang aku pasti bisa, bisa keluar dari bayangmu
Tapi kau tak tahu betapa sakitnya setiap kali aku mengingatmu
Hati itu dipilih, bukan memilih
Hatimu yang tahu
Lewat kamu aku banyak belajar
Bagaimana memaafkan kesalahan orang termasuk kesalahanku sendiri
Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk mengenalmu
Terima kasih sudah memberikan mereka, putra dan putri Khrisna
Karena lewat mereka, aku merasa bisa terhubung denganmu selamanya
Cari orang yang bisa memberimu segala-galanya, apapun itu, tanpa kamu harus minta
Aku menyayangimu
Aku melepasmu supaya kamu gak terus-terusan berusaha untuk membahagiakan aku
Karena hati kamu udah gak di sini



Sabtu, 16 Februari 2013

Hujan Bulan Juni


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono (1989)




#Juni mengingatkanku padamu

Kenangan Itu Datang Lagi


Hari ini diawali dengan kurang baik... yahhh.... memakan duren secara berlebihan itu memang gak baik. Berawal dari ajakan babe untuk menghabiskan seluruh duren yang beliau beli (walau akhirnya kami tak sanggup menghabiskannya). Esok paginya harus berkutat dengan obat sakit perut. Malam sebelumnya tak dapat tidur karena panas perut yang mendera. Pokoknya rasanya sungguh cetar membahana, melilit-lilit gak jelas.
Janji pagi ini terpaksa saya batalkan karena kondisi tubuh yang dinilai sudah tidak memungkinkan untuk aktifitas fisik di pagi hari. Akhirnya terpaksa berkutat dengan ramuan-ramuan penetralisir perut. Kemudian datang sms dari pembimbing yang mempertanyakan mengenai tugas review, segera setelah perut agak membaik, meluncur untuk bertapa di perpustakaan untuk memperoleh wangsit.
Hari semakin siang, laparrrrr..... menghubungi kakak cantik untuk menemani makan siang ini. Berakhir di kafe kampus untuk mengganjal perut. Sambil makan siang membicarakan agenda selanjutnya, akhirnya diputuskan untuk ke rumah eyang narto dalam rangka sungkeman. Ketiban berkat yang cetar membahana karena hujan deras mulai turun, akhirnya berteduh di Ramayana.
Sambil menunggu hujan agak reda, mulai berjalan melihat-lihat sambil ngobrol dengan kakak saya. Hmmm... tiba pada satu titik, yaaa aku ingat kamu lagi.... tiba-tiba bayanganmu muncul lagi, siluet wajahmu yang saat itu sedang menangis, menangisi kita. Aku bilang bahwa ku sudah tak punya apa-apa lagi, kau bilang juga kan tak punya apapun. Pelukan hangat sesudahnya yang tak pernah kulupa. Kenapa bayangan ini datang lagi? Aku lelah.... tapi seluruh organ dan perasaanku tak ingin diajak kompromi. Mereka semua berkoalisi untuk memusuhiku. Aku susah payah mengendalikannya, namun sulit sekali. Semua serempak dan bersepakat untuk selalu membawa bayangmu dalam pikiranku.
Aku lelah sayang, aku lelah.... Adakah yang dapat menarik semua memoriku tentangmu? Namun ada satu bagian kecil di diri ini yang sangat kuat mempertahankannya. Aku tak berdaya melawannya. Hujan reda dan mulai berjalan ke rumah eyang dengan kepala yang dipenuhi bayangmu. Hingga tiba pada suatu pernyataan eyang narto, “kapan menikah?” Pertanyaan yang membuatku terdiam sesaat, aku melirik ke kakak di sebelah yang nampaknya juga sempat terdiam mendengar pertanyaan itu. Aku teringat lagi semua ucapan-ucapanmu waktu dulu. Ah kenapa hari ini alam semesta mempermainkanku. Alam seakan mengejekku dan membawaku dalam suatu dimensi yang semuanya berisi tentang kamu. Ya, hanya kamu.
Aku sungguh tak tahu bagaimana mengendalikan ini semua, kakak berkata, waktu yang akan menyembuhkan dan mengajari caranya untuk merelakan. Tapi kapan? Aku lelah berkutat dengan diriku sendiri. Aku selalu kehabisan energi, energi untuk mengendalikan diriku sendiri. Biarlah malam ini aku sendiri lagi, aku tak ingin mengeluarkan energiku untuk mengendalikan diri. Aku biarkan tubuh, emosi dan perasaaanku malam ini untuk dikuasai oleh bayangan-bayanganmu. Biar kamu puas!!! Kamu menang malam ini, kamu menang!! Dan aku yang tak terkendali malam ini ingin berkata, aku itu mencintaimu, kamu tahu gak sih?! Aku tuh mencintaimu tanpa batas saat ini., bahkan aku mencintai kejelekanmu. Aku mencintaimu dengan amat sangat. Aku ingin bilang bahwa kamu itu buta huruf! Biar kamu puas bahwa malam ini aku tak ingin mengendalikan diri. Biar lepas semua begitu saja, apa adanya.



"It matters not who you love, where you love, why you love, when you love or how you love, it matters only that you love” (John Lennon)

#Hujan mengalirkan rinduku padamu, semoga kau mampu membaca perasaanku

Selasa, 12 Februari 2013

Just can say, “I need you”


Aku selalu membutuhkanmu, namun aku takut menjadi bebanmu
Aku selalu ingin dipelukmu, namun aku takut membuatmu gerah
Aku selalu ingin menangis di dadamu, namun aku takut mengganggumu
Aku terpaksa memilih untuk terlihat tegar, tegas dan mandiri
Namun sebenarnya aku rapuh dan manja
Bolehkah aku menjadi apa adanya?
Karena hanya denganmu lah aku dapat menunjukkan aku yang sebenarnya
Bolehkah aku terus manja denganmu?
Karena hanya kamu yang aku percaya
Bisakah kamu tidak bosan-bosan memanjakanku?
Karena aku membutuhkanmu..... ya.. aku benar-benar membutuhkanmu....


*Hangatnya mentari pagi mengingatkanku akan hangatnya pelukanmu
  Salatiga, satu hari menjelang valentine

Air Mata Untukmu


Tak terbendung lagi air mataku
Mengucur deras begitu saja
Aku menangis lagi untukmu
Mungkin kau takkan lagi peduli
Tapi aku tak bisa tak peduli padamu
Mungkin kau lelah karenaku
Namun aku tak ingin lelah untukmu
Mungkin cintamu padaku telah berubah
Namun cintaku padamu tak pernah berubah
Cintaku padamu tak pernah dapat tergerus jaman
Cintaku tulus untukmu
Tak terhitung berapa kali aku menangis untukmu
Tak terukur volume air mata yang tertumpah
Tak terkira sakit yang mendera dan energi yang terbuang
Namun aku tak bisa berpaling
Logikaku seakan lumpuh untukmu
Ranah irasional merajai tubuh dan perasaanku
Namun aku tak ingin terpuruk karenanya
Aku dengan sisa-sisa tenagaku tetap bertahan
Tetap berjuang
Tetap berjuang untukmu juga untukku dan mereka
Aku.....mencintaimu.... juga mereka


#dedicated for Alexa and Arsen, I love you more and more and more

Sabtu, 09 Februari 2013

Cepat Pulang, Please.....


“... Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, nafasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah ke mana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi”


Rabu, 06 Februari 2013

Tahu Diri


... Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya

Hai, selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialkulah kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri
Tak s’lamanya berhasil
‘Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Bye, selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan s’gala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah
Berkali-kali kau berkata
Kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali kau t’lah berjanji
Menyerah....
Dan upayaku tahu diri
Tak s’lamanya berhasil....
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi...


Sabtu, 02 Februari 2013

Warna-warni Kehidupanku Bermahasiswa


Kehidupan bermahasiswa saya benar-benar penuh warna. 3 tahun 9 bulan menyelesaikan strata 1 di Fakultas Biologi UKSW dengan susah payah dan berkesempatan berkecimpung dalam Lembaga Kemahasiswaan aras Fakultas dan Universitas. Saya bukan mahasiswa yang berprestasi “wow” dalam kegiatan akademik, lulus dengan IPK hanya 3,20 dan 4 mata kuliah yang mengulang dari total 40 mata kuliah yang diambil, terlibat dua kali dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian yang didanai oleh DIKTI dan dua kali diutus untuk ikut penelitian multidisiplin ke Universitas serta beruntung diberi kepercayaan jadi asisten dosen di Fakultas saya dan Fakultas tetangga (Fakultas Ilmu Kesehatan).
Setelah merenung dan refleksi, ya wajar kalau saya jadi mahasiswa yang biasa-biasa aja dalam akademik, lha wong kalo kuliah pagi aja, saya datang dalam keadaan ngantuk dan lupa nyisir rambut karena buru-buru pergi ke kampus (maklum bangun kesiangan). Saya masih ingat dalam suatu kuliah pagi jam 7 dengan dosen Prof. Haryono Semangun, ketika saya tiba dalam ruang kuliah, beliau pasti berkata “Mbak Fitri setiap masuk kuliah saya pasti sambil terengah-engah haha....”. ya iyalah, secara saya pergi ke ruang kuliah dalam keadaan setengah berlari karena hampir terlambat, dan beruntung beliau selalu menunggu saya tiba (saya termasuk mahasiswa rajin kuliah (ngisi absen doank) lho) baru kuliah dimulai. Mengerjakan tugas kuliah pun cenderung apa adanya karena baru dikerjakan tengah malamnya sebelum besok paginya dikumpulkan. Dalam kuliah pun, saya juga termasuk mahasiswa yang kalem alias diem aja lantaran di kepala saya terlalu banyak hal di luar kuliah yang dipikirkan. Apalagi kalau mata kuliah yang tidak disenangi seperti Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan, Fisiologi Tumbuhan, dijamin saya cuma jadi pendengar setia (masuk telinga kiri keluar telinga kanan tanpa satu pun yang nyangkut di otak). Kalau mata kuliah yang berkaitan dengan mikrobiologi dan Lingkungan pasti saya jabanin walaupun harus rela di laboratorium berjam-jam.
Ah Mikrobiologi, saya mencintainya, apalagi bakteri, terkhusus bakteri fermentatif. Pendamping hidup saya yang tak tergantikan itu, bakteri. Saya jatuh cinta tanpa batas dengan Lactobacillus dan Streptococcus. Saya rela mencari tahu apa yang disukainya, habitatnya, “gaya hidup”nya, semuanya saya cari tahu supaya saya dapat memeliharanya. Saya bisa bermain dengan mereka, kadang saya juga stress dan kecewa karena kelakuan mereka, namun saya juga sering dibahagiakan oleh mereka (saya bisa makan yoghurt dan tape kan karena mereka).
Lingkungan, mata kuliah yang berkaitan dengan topik ini sebisa mungkin saya ambil. Why? Karena saya suka jalan-jalan ke alam, simpel, itu aja alasannya. Jadi saya ingin menikmati alam saya dengan knowledge makanya rela mempelajarinya. Saya menikmati setiap keringat yang menetes, helaan nafas yang terengah-engah, lutut yang gemetar karena jauhnya berjalan, dan kulit yang semakin coklat karena dipanggang teriknya matahari.
Selain berkuliah, saya berkesempatan belajar mengenai kepemimpinan di kampus saya. Berawal dari sistem kredit point yang mengharuskan mahasiswa di kampus ini mengasah soft skill nya, maka saya terlibat dalam beberapa kepanitiaan dan organisasi di bawah senat mahasiswa pada tahun pertama saya berkuliah. Pada tahun kedua, saya ketiban berkat yang luar biasa, diberi kesempatan menjadi seorang ketua senat mahasiswa di Fakultas saya. Tak pernah terpikirkan dalam kepala saya untuk menjadi seorang ketua senat, dalam tahun kedua berkuliah pula, memimpin kakak-kakak angkatan, dan duduk setara dengan para pimpinan fakultas dalam rapat dinas fakultas. Awal mula pencalonan diri saja, saya dicalonkan oleh teman-teman dan parahnya lagi sebenarnya itu hanya untuk “meramaikan” suasana pemilihan supaya calonnya kelihatan banyak. Nah, teori “tidak ada makhluk hidup/ organisme yang mau mati konyol” itu benar adanya. Dalam sidang pemilihan ketua senat itu, para calon di”bantai” dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para senior (angkatan fosil juga ada dalam sidang kami saat itu), lha saya yang paling junior, mahasiswa “bau kencur” yang dianggap berani banget nyalon jadi ketua senat padahal baru memasuki tahun kedua berkuliah tentu di”hajar” habis-habisan dalam sidang. Saat itu ada 3 calon, saya dan 2 kakak angkatan saya, satunya satu tahun di atas saya pernah terlibat dalam kepengurusan badan perwakilan mahasiswa fakultas periode sebelumnya dan satunya lagi dua tahun di atas saya pernah terlibat dalam badan perwakilan mahasiswa aras universitas pada periode sebelumnya, jadi jelas banget saya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka (jomplang banget -.-“). Saat di”bantai” itulah, esensi saya sebagai salah satu makhluk hidup dipertaruhkan, yaitu mempertahankan diri hahahaha.... setiap pertanyaan saya jawab sebisanya plus ngotot-ngototan dan gak tau juga kerasukan setan apa, saya bisa jawab semua pertanyaan dengan memuaskan (menurut saya lho). Nah mungkin karena kerasukan itu juga, sekarang kalau ditanya hal yang sama mungkin saya sudah lupa dulu itu jawabnya apa hahahaha....
Selama satu periode berjalan dipenuhi dinamika, benturan/ konflik kerapkali mewarnai kepemimpinan saya namun bersyukur semua dapat terlewati. Satu hal yang tak pernah terlupa adalah konflik dengan fakultas, saya betul-betul tidak habis pikir dengan dekan saya saat itu. Pergi dari fakultas selama setengah tahun pada awal periode kepemimpinannya, meninggalkan amat banyak pekerjaan, kurikulum yang diganti (trimester menjadi dwimester), tidak ada rapat kerja fakultas, jadi saat itu benar-benar tidak jelas ini fakultas mau dibawa kemana dan programnya diarahkan kemana. Protes dari mahasiswa banyak sekali namun sayangnya para mahasiswa ini tak berani menyuarakan kegelisahan mereka, badan perwakilan mahasiswa fakultas juga tak mampu berbuat banyak. Beberapa dosen mulai ada yang mengundurkan diri, saya sudah mulai grasak grusuk di rapat dinas fakultas akhirnya hanya menjadi kesan dan saran yang ditampung (lha wong dekannya kagak ada). Prinsip saya saat itu “Kalau ada kesalahan maka suarakanlah. Bila anda tahu ada kesalahan dan tidak menyuarakannya maka anda ikut berdosa di dalamnya. Namun bila anda menyuarakannya dan tidak mendapat respon, setidaknya anda sudah lepas dari tanggung jawab itu”. Waktulah yang akhirnya menjawab, beliau akhirnya memiliki catatan yang tidak terlalu baik di mata orang banyak dan beruntung sebentar lagi masa kepemimpinannya akan berakhir. Dan saya sepertinya tetap akan tercatat sebagai mahasiswa bandel dan kurang ajar di kepala beliau hahahaha.... (#karepmu pak)
Tahun ketiga berkuliah, saya ketiban berkat lagi, karena konflik yang pernah saya alami, saya jadi dikenal dan akhirnya dapat tawaran untuk bergabung di Senat Mahasiswa Universitas. Tawaran bergabung dalam tubuh BPM fakultas saya juga ada namun saya tolak mentah-mentah, alasannya jelas, saya tidak mau bekerja dengan orang-orang yang menurut saya pecundang karena cuma berani ngomong di belakang padahal mereka punya peluang untuk bersuara. Akhirnya saya memilih belajar di SMU dengan segala resikonya. Perkembangan pesat terasa sekali saya alami, diberi tanggung jawab sebagai ketua bidang humanistik skill yang memiliki beban 65% dalam program tentu memiliki keasyikan tersendiri. Dua bulan terakhir di SMU dapet kesempatan jadi sekretaris umum, sendirian tanpa staff, tentu membuat saya kerja romusha hahahaa... Tau sendiri lah, menjelang akhir periode, segala macam laporan pertanggungjawaban dari seluruh fakultas ngantri minta dikoreksi, belum lagi dari SMU sendiri, mempersiapkan laporan pertanggungjawaban akhir periode juga, akhirnya suntuk di kantor sampai malam karena sibuk koreksi hahahaha....
Tahun keempat berkuliah diminta mencalonkan diri jadi ketua umum SMU, waduh.. setelah dipikir-pikir, saya lebih memilih studi saya karena saat itu sedang memasuki tahap tugas akhir alias skripsi. Alasan saya cukup logis, papi saya baru dioperasi jantungnya sehingga pembiayaan studi saya jelas jadi terbatas dan saya harus berhati-hati memperhitungkan biaya skripsi dan lain-lainnya, jadi intinya saya harus segera menyelesaikan studi saya, beruntung Tuhan menolong saya, Universitas melalui pembantu rektor 3 membantu menopang biaya studi saya. Kemudian saya memilih meneruskan pembelajaran soft skill saya di Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas, ketiban berkat lagi terpilih menjadi sekretaris umum melalui sidang yang panjang, masyaowoh.... (waktu itu calon sekum ada 7 orang!!).
Mungkin inilah dilema terbesar saya saat berada di BPMU, kehidupan personal saya dan profesionalitas saya teruji dan jujur saya merasa kalah di sini. Posisi sekum cukup sentral dalam roda organisasi ini, namun di sisi lain, papi saya kembali kolaps karena permasalahan di jantungnya terjadi lagi. Kejadian kolapsnya papi membuat saya harus mengambil keputusan untuk segera menyelesaikan skripsi, saya benar-benar fokus dan menuangkan seluruh waktu saya untuk skripsi, dari pagi hingga pagi lagi saya berada di laboratorium untuk riset bahkan bolak balik Yogya-Salatiga karena saya juga menggunakan Laboratorium di UGM agar riset saya segera selesai. Banyak yang bertanya-tanya bahkan memaki-maki saya karena ketidakaktifan saya di BPMU. Saya memilih mengundurkan diri namun keadaan menyulitkan sekali saat itu, saya harus diturunkan melalui sidang, sedangkan BPMU sedang sibuk-sibuknya, akhirnya dengan segala negosiasi, saya tetap bertahan dengan berbagai syarat. Pengalihan fokus yang ekstrim itu saya lakukan bukan semata karena biaya studi lagi, papi pernah janji akan menghadiri wisuda saya dan saya benar-benar ingin papi melihat saya menggunakan toga tanda saya sudah menyelesaikan studi S1. Saya takut sekali saat itu, takut kalau papi tak sempat lagi melihat saya wisuda, makanya saya ngebut gila-gilaan mengerjakan skripsi saya supaya segera wisuda. Tuhan memang memberikan yang terbaik bagi saya, skripsi saya dapat selesai dan tinggal tunggu wisuda, keadaan papi membaik dan bersiap meluncur ke Salatiga untuk menghadiri wisuda saya, dan saya tetap dapat berada di BPMU, mengerjakan Memorandum dan rangkaian evaluasi. Thanks God, You give me the best. Very beautiful moment in my life.
Akhirnya saya dapat menyelesaikan studi saya dengan baik, juga menamatkan studi soft skill. Kebahagiaan tersendiri ketika melihat transkrip keaktifan mahasiswa saya yang mencapai angka 6550 dari standarnya 1000 hohoho.... proses menyakitkan yang saya lalui membuahkan hal yang baik dan berguna dalam kehidupan saya. Dan semua proses itu menempa saya menjadi lebih baik lagi dan mengantar saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Begitu baik Tuhan bagi saya, begitu banyak yang Dia beri untuk saya, once again, Thanks God.
                                                                                                   
#ayo melawan dunia dan meraih mimpi bersama-sama sayang, aku menunggumu untuk sampai ke jenjang ini juga, trust me, aku menunggumu.

Bermental Tikus


Alkisah seorang nenek sihir dan seekor tikus. Suatu hari tikus berlari terbirit-birit, sang nenek sihir bertanya pada si tikus, “hei, kenapa kau berlari terbirit birit?” si tikus menjawab, “aku takut, aku dikejar-kejar kucing”. Nenek sihir tertawa dan berkata, “baiklah tikus, aku akan mengubahmu menjadi kucing supaya kucing tadi tidak mengejar-ngejarmu lagi”. Alhasil berubahlah tikus menjadi kucing. Keesokan harinya tikus yang diubah menjadi kucing itu berlari terbirit-birit. Nenek sihir dengan heran kembali bertanya, “hei, kenapa kau berlari terbirit birit?” si kucing jadi-jadian menjawab, “aku takut, aku dikejar-kejar anjing”. Nenek sihir tertawa dan berkata, “baiklah, aku akan mengubahmu menjadi anjing supaya anjing tadi tidak mengejar-ngejarmu lagi”. Alhasil berubahlah kucing jadi-jadian menjadi anjing jadi-jadian. Keesokan harinya lagi anjing jadi-jadian itu berlari terbirit-birit. Nenek sihir dengan terheran-heran kembali bertanya, “hei, kenapa kau berlari terbirit birit?” si anjing jadi-jadian menjawab, “aku takut, aku tadi melihat harimau”. Nenek sihir tertawa dan berkata, “baiklah, aku akan mengubahmu menjadi harimau”. Alhasil berubahlah anjing jadi-jadian menjadi harimau. Keesokan harinya harimau jadi-jadian tadi berlari terbirit-birit. Nenek sihir dengan sangat terheran-heran kembali bertanya, “hei, kenapa kau berlari terbirit birit?” si harimau jadi-jadian menjawab, “aku takut, aku tadi dikejar harimau yang asli”.
Alhasil nenek sihir mengubah harimau jadi-jadian tersebut kembali menjadi tikus dan berkata, “hai tikus, percuma aku mengubah wujudmu menjadi kucing, anjing juga harimau namun nyalimu tak kau ubah, nyalimu hanyalah nyali tikus. Aku hanya perantara untuk mengubah wujudmu namun tak dapat mengubah nyalimu, yang dapat mengubah nyalimu hanyalah dirimu sendiri. Selama nyalimu tetap nyali tikus, apapun wujudmu, tetap saja kau tidak dapat melakukan apa-apa karena mentalmu hanyalah mental tikus yang penakut.”
Jadi siapa yang mau bermental tikus? J

“Apapun yang dapat atau kau impikan dapat kau lakukan, maka lakukanlah itu! Keberanian itu punya kuasa, keajaiban serta kejeniusan di dalamnya” (Johann Goethe)

#untukmu yang bermental baja di hatiku, terjanglah segala penghalang di depanmu dan tetaplah tegak berjalan, raihlah mimpi-mimpimu, aku mengawasimu dari jauh