Malam ini aku pulang ke kost dengan langkah gontai, selain karena seharian ini bolak-balik kantor walikota sampai 4 kali, bolak balik kantor Biro Kemahasiswaan 2 kali karena mengurus beasiswa, kemudian juga bolak balik Bank 2 kali untuk mengurus pembayaran kuliah dan kursus bahasa, ditambah lagi mengikuti kursus bahasa, lalu harus rapat pimpinan BPMU yang cukup menguras otakku, aku sedang dalam masa recovery pasca gejala tifus yang melanda tubuhku.
Sebelum pulang dan setelah rapat pimpinan, aku beserta teman-teman berkunjung ke rumah seorang kakak yang jaraknya cukup “lumayan”. Mencoba menghibur diri bersama teman dan kakak-kakak di sana. Sulit bagiku menceritakan detail isi pikiranku saat itu ketika ada seorang kakak berbalasan sms dengan dia. Entah apakah ini hanya interpretasiku saja atau bagaimana aku juga bingung, atau mungkin juga aku terlalu lelah untuk berpikir jernih, secara tersirat aku ada merasakan aura kemarahan/ tersinggung/ merasa tidak dihargai atau apapun lah itu namanya. Namun coba kubuang jauh-jauh perasaan itu dan menikmati saja gelak tawa yang terjadi saat itu.
Dalam perjalanan pulang, pada belokan menuju kost aku berjalan sendirian dan pikiranku mulai dipenuhi kejadian sms tadi, aku berjalan tertunduk sampai hampir saja tidak mendengar mantan Ketum SMU menyapaku di perempatan lampu lalu lintas, aku balas menyapa dan melanjutkan perjalananku dengan kepala tertunduk lagi sampai melewati sebuah kios buah, aku membeli 2 kilogram Mangga yang wanginya sungguh menggoda. Dengan tangan kanan menenteng plastik berisikan mangga aku melanjutkan perjalanan menuju kost dan kembali terus berpikir. Sampai di kost, aku mencuci kaki dan muka kemudian berbaring di kasur empukku, namun kantuk tak kunjung datang, yah inilah kelemahanku, bila ada pikiran yang belum terselesaikan dan masih membuatku penasaran, semua akan berdampak pada keseluruhan sistem tubuhku, yah insomnia again.
Akhirnya aku bangkit dan mengambil pisau, kemudian mulai mengupas mangga sambil melamun dan secara tak sadar aku telah mengupas kulit seluruh mangga yang kubeli tadi. Mau tak mau aku menghabiskan mangga-mangga itu mengingat tak ada kulkas di kost. Aku menghabiskan mangga pun dalam “ketidaksadaran”, aku terus berpikir dan mencoba flash back mulai dari 2 tahun lalu sampai detik ini. Handphone ku berdering, aku mulai mengumpat, “siapa yang menelpon tengah malam begini?”, hmm, sahabatku dari seberang sana ternyata, mentang-mentang Negara tempat dia berada sekarang sedang siang, halah. Dia mulai bercerita ngalor ngidul, hingga pada akhir pembicaran dia mengungkapkan, ”Fit, kita tuh gak bisa nentuin kapan dan pada siapa kita jatuh cinta”, nah lho… aku yang masih melongo ria serta speechless, belum sempat menjawab dia langsung memotong, “hai, udah ya, nelpon lu mahal, I love you neng, byee”, klikk. Hah, ne orang lagi sedeng kali yak uda nelpon-nelpon tengah malam, curhat-curhat gak jelas, eh tiba-tiba nutup telepon seenak jidat hahahaha. Back to…..
Dua tahun lalu, aku pertama kali melihatnya, mulai menyukai karyanya, mulai mengaguminya dan stagnan walau tidak mengenalnya secara mendalam. Spend my time to like orang yang “dingin”. Mengapa yah aku sampai bisa segitunya?? Ga jelas banget kan hux…hux…hux…. Tapi mungkin ini salah satu “kekeliruan” yang kulakukan, aku mengagumi orang yang sama sekali tak ku kenal dengan baik, hanya lewat tulisan-tulisannya saja. Dulu ada abang yang pernah bilang, kita bisa menilai orang apalagi cara dan struktur gaya berpikirnya dari tulisannya (satu sisi doank). Lha akhirnya aku terjebak dalam pemikiran itu, tulisan-tulisan serta karya-karyanya menurutku keren, luar biasa menarik, aku lalu kagum padanya, teman-teman mulai menggosip, aku akhirnya pasrah saja dengan semua gossip-gosip itu, sampai pada akhirnya aku dihadapkan pada realita yang sesungguhnya.
Ya, memang benar kita tidak dapat menilai orang dari satu sisi saja, terlalu abstrak bila begitu. Aku akhirnya mulai mencari dan meraba informasi, dia orang yang sangat baik memang ternyata namun nobody is perfect khan….. Dia sangat mudah mengata-ngatai orang lain dan bila orang tersinggung kembali lagi dia menyindir ketersinggungan orang itu dengan tulisan-tulisannya. Positifnya orang dapat instropeksi dan melakukan perbaikan-perbaikan bila memang salah. Namun anehnya bila ada orang yang mengata-ngatai, lha dianya kok ya marah, buset dah. Marahnya pun gak tanggung-tanggung pula, dengan kata-kata yang menyakitkan pula, aku melihat orang-orang di sekitarku yang diperlakukan seperti itu hanya tertegun dan tak dapat berkomentar apa-apa, hanya diam sambil sedikit merenung tentangnya.
Mungkin terlalu dini bila menyimpulkan karena selama ini dia berucap kasar sekalipun, aku tetap anteng-anteng aja, cuek, walau sesekali sebal jua. Apa mungkin juga orang-orang dan dia saat kejadian sedang dalam kondisi kurang baik sehingga emosi sedang labil, yah mungkin saja. Tapi di balik itu semua, mungkin dapat diambil hikmah bahwa setiap pribadi diciptakan dengan keunikan-keunikan dan salah satunya adalah sikap yang juga unik. Maka toleransilah yang harus semakin ditingkatkan menghadapi keunikan-keunikan tersebut. Mungkin juga sulit diaplikasikan, aku pun sulit mengaplikasikannya hahaha…. Dalam satu pribadi tidak mungkin dia jahat seutuhnya, pasti tetap ada sisi kebaikannya juga, begitu juga sebaliknya. Tetap rendah hati dan bijaksana saja menjalani hidup ini :)
Salam dari keheningan Laboratorium Mikrobiologi
Rachel Fitria, 28 Oktober 2011, 14.09 WIB
