Minggu, 21 Juni 2015

Caraku Mencintaimu



Aku mencintaimu, sungguh!
Cinta itu membebaskan, tepat!
Cinta itu harus memiliki, sebagian berkata “itu benar!”, sebagian lagi berkata “itu omong kosong”
Kesimpulan tentang aku mencintaimu,
Aku mencintaimu dengan membebaskanmu, dan aku memilikimu dengan caraku, yang hanya aku dapat mengerti
Ya, aku mencintaimu dengan caraku.

My 24th Birthday Gift

https://mruhulessin.wordpress.com/2015/05/13/jeda/

Jumat, 19 Juni 2015

Penyesalan



Saya sering mendengar orang berkata, “sudahlah, penyesalan itu gak ada gunanya!”. Ya, dulu saya juga beranggapan demikian, ngapain menyesal? Toh sudah terjadi, masa lalu gak bisa diubah lagi, yang uda berlalu tuh ya udah, gak bisa diapa-apain lagi.

Suatu hari, ketika saya duduk di ruang tunggu sebuah airport, ada dua wanita muda duduk di samping saya, mereka saling “curhat”. Sembari menunggu keberangkatan pesawat saya, saya mencuri dengar “curhatan” mereka. Inti dari curhatan mereka adalah tentang patah hati. Wanita yang satu berkata, telah menyesal pernah berpacaran dengan mantannya. Yang satunya lagi galau untuk memutuskan ingin putus atau tidak dengan pacarnya yang sekarang, karena katanya takut menyesal kalau putus tapi ternyata masih sayang. Penyesalan itu memang simpel sekaligus ruwet.

Saya juga sering menyesal. Menyesal karena tidak lulus tepat waktu dan akhirnya saya memilih untuk lulus di waktu yang tepat :). Menyesal karena menolak tawaran beasiswa dari kampus di luar negeri karena terlanjur menandatangani kontrak beasiswa dari pemerintah. Namun, dari semua yang pernah saya alami, saya berani menyimpulkan bahwa saya tidak menyesal pernah menyesal. Karena bagi saya penyesalan itu ADA GUNAnya. Coba kalau tidak ada rasa menyesal, saya tidak akan tiba pada tahap ini. Saya merasa lebih matang dalam mengambil keputusan. Saya lebih kreatif dalam menyusun “time table” saya. Saya berpikir bahwa rasa menyesal itu perlu supaya tidak mengulang kesalahan yang sama. Istilahnya tuh gini, “tidak ada yang lebih bodoh daripada orang yang jatuh ke kesalahan yang sama berkali-kali. Keledai aja cuma mau dua kali”.


Masih ingat gak kasus Bom Bali? Dalam suatu berita kala itu, si Amrozi tersenyum menghadap kamera dan diberitakan rame-rame saat itu bahwa Amrozi dkk ini sama sekali tidak menyesal dengan perbuatannya. Nah, gegara ini, publik marah-marah, bilang kalau mereka tidak berperikemanusiaan (memang benar) karena tidak merasa menyesal. Nah dari kejadian ini, bisa dilihat kan kalau publik itu juga butuh pengakuan penyesalan dari Amrozi cs. Ini artinya penyesalan itu perlu. Penyesalan itu untuk introspeksi. Oke, tidak perlu terpaku dengan kasus Amrozi cs, mari fokus pada konteks penyesalan.
 
Saya merenung tentang orang-orang (dulu saya juga) yang berkata kalau penyesalan itu tak ada gunanya. Apa mungkin ini tergantung sudut pandang juga ya? Toh kalau menyesal dan terpuruk dan tak berbuat apa-apa, itu baru namanya gak ada guna. Lha kalau menyesal, kemudian terpecut untuk memperbaiki, ini berarti rasa menyesal itu penting dong. Lagipula, kalau tidak ada penyesalan, apakah pernah ada kata “maaf”?

Tapi cukuplah tulisan ngawur saya. Hanya pengen nulis ajah karena sedang bosan dengan curhatan temen-temen yang topiknya melulu soal penyesalan.

Perpustakaan Pusat Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga, 19 Juni 2015