Saya sering mendengar orang
berkata, “sudahlah, penyesalan itu gak ada gunanya!”. Ya, dulu saya juga
beranggapan demikian, ngapain menyesal? Toh sudah terjadi, masa lalu gak bisa
diubah lagi, yang uda berlalu tuh ya udah, gak bisa diapa-apain lagi.
Suatu hari, ketika saya duduk di
ruang tunggu sebuah airport, ada dua wanita muda duduk di samping saya, mereka
saling “curhat”. Sembari menunggu keberangkatan pesawat saya, saya mencuri
dengar “curhatan” mereka. Inti dari curhatan mereka adalah tentang patah hati.
Wanita yang satu berkata, telah menyesal pernah berpacaran dengan mantannya.
Yang satunya lagi galau untuk memutuskan ingin putus atau tidak dengan pacarnya
yang sekarang, karena katanya takut menyesal kalau putus tapi ternyata masih
sayang. Penyesalan itu memang simpel sekaligus ruwet.
Saya juga sering menyesal.
Menyesal karena tidak lulus tepat waktu dan akhirnya saya memilih untuk lulus
di waktu yang tepat :).
Menyesal karena menolak tawaran beasiswa dari kampus di luar negeri karena
terlanjur menandatangani kontrak beasiswa dari pemerintah. Namun, dari semua
yang pernah saya alami, saya berani menyimpulkan bahwa saya tidak menyesal
pernah menyesal. Karena bagi saya penyesalan itu ADA GUNAnya. Coba kalau tidak
ada rasa menyesal, saya tidak akan tiba pada tahap ini. Saya merasa lebih
matang dalam mengambil keputusan. Saya lebih kreatif dalam menyusun “time
table” saya. Saya berpikir bahwa rasa menyesal itu perlu supaya tidak mengulang
kesalahan yang sama. Istilahnya tuh gini, “tidak ada yang lebih bodoh daripada
orang yang jatuh ke kesalahan yang sama berkali-kali. Keledai aja cuma mau dua
kali”.

Masih ingat gak kasus Bom Bali?
Dalam suatu berita kala itu, si Amrozi tersenyum menghadap kamera dan
diberitakan rame-rame saat itu bahwa Amrozi dkk ini sama sekali tidak menyesal
dengan perbuatannya. Nah, gegara ini, publik marah-marah, bilang kalau mereka
tidak berperikemanusiaan (memang benar) karena tidak merasa menyesal. Nah dari
kejadian ini, bisa dilihat kan kalau publik itu juga butuh pengakuan penyesalan
dari Amrozi cs. Ini artinya penyesalan itu perlu. Penyesalan itu untuk
introspeksi. Oke, tidak perlu terpaku dengan kasus Amrozi cs, mari fokus pada
konteks penyesalan.
Saya merenung tentang orang-orang
(dulu saya juga) yang berkata kalau penyesalan itu tak ada gunanya. Apa mungkin
ini tergantung sudut pandang juga ya? Toh kalau menyesal dan terpuruk dan tak
berbuat apa-apa, itu baru namanya gak ada guna. Lha kalau menyesal, kemudian
terpecut untuk memperbaiki, ini berarti rasa menyesal itu penting dong.
Lagipula, kalau tidak ada penyesalan, apakah pernah ada kata “maaf”?
Tapi cukuplah tulisan ngawur
saya. Hanya pengen nulis ajah karena sedang bosan dengan curhatan temen-temen
yang topiknya melulu soal penyesalan.
Perpustakaan Pusat Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga, 19 Juni 2015