Sabtu, 28 Mei 2011

Kontrak Kerjaku di Dunia Berkurang lagi….

      Hmmm… hari ini tanggal 7 April lagi, bedanya kali ini sudah tahun 2011, berarti umurku genap 20 tahun, wow sudah angka dua yang bertengger di depan haha…. Pagi hari ini tepat pukul 5 pagi sudah bangun untuk berjogging ria dengan seorang teman. Sambil jalan menuju Lapangan Pancasila tempat kami biasa jogging, tangan saya tak terlepas dari telepon genggam karena banyak sekali sms yang masuk mengucapkan selamat ulang tahun tapi aku tak mampu membalasnya satu persatu. Langkahku terasa ringan di pagi itu, karena ternyata banyak yang peduli padaku. Selain melalui sms, tidak lupa juga membuka account jejaring social (FB) yang kumiliki, wow, sederet ucapan selamat aku dapatkan, terutama dari 1 orang itu hahahaha….
     Walau banyak yang sms atau menulis di wall FB, tetap ada hal yang kurang rasanya. Papa dan mama kok belum ada respon apa-apa ya? Eh.. tak lama handphone bordering tanda panggilan masuk, “Mama Darling is calling”, bibirku langsung mengukir senyum. “Halo mam” ujarku saat itu. “Halo Lia, hari ini ulang tahun ya, selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, kuliahnya lancar, cepat dapat pacar, nanti angpaonya di awal bulan aja ya sekalian” kata mama. Huahahhaha…. Kata-kata terakhir yang indah, tahun ini masih dapat angpao! Walau uda berkepala dua umurku. Pembicaraan panjang lebar pun usai, sekarang menunggu telpon dari papa, mengingat saat ini papa dan mama memang sedang berada di dua kota yang berbeda.
     Pulang dari aktivitas jogging, segera mandi dan pergi ke kampus untuk membantu mengurus persiapan pemilihan ketua badan perwakilan mahasiswa di fakultasku mengingat aku adalah salah satu yang mendaftar sebagai anggota. Sambil bolak balik mengantar proposal organisasi dan undangan, tidak lupa selalu berhati-hati dan agak sedikit menghilang dari Ruang Senat Mahasiswa Universitas (SMU), tempat saya berorganisasi. Tujuan menghilang ini, tak lain dan tak bukan adalah menghindari todongan untuk mentraktir orang sekampung dan dikerjain oleh mereka. Tepat pukul 12.00 saat makan siang, makan dengan beberapa kakak angkatan karena ingin bersama-sama menuju galeri pameran photo. Telepon genggamku berdering, langsung melihat layar “Papa Darling is calling”, senyum pun langsung terukir lagi. Ucapannya tak jauh beda dengan yang disampaikan mama tadi pagi. Tapi perasaanku jadi plong, orang-orang yang sangat kucintai sudah mengisi ruang-ruang di batinku hari ini.
    Sore harinya mendapat kejutan dari teman-teman sebuah kado buku tentang kepemimpinan dan sebuah novel beserta kertas ucapan yang terlampir di dalam kado tersebut. Jujur yang membuatku tertarik justru kata-kata mereka dalam kertas ucapan itu, aku tidak menyangka mereka memperhatikanku sampai sejauh itu. Kertas ucapan yang satu memuat tentang short story tentang aku di matanya, isinya secara garis besar menceritakan tentang sepak terjangku selama 3 tahun dia mengenalku dan menjulukiku “Unpredictable girl”. Wow, julukan yang justru membuatku terkejut, ternyata aku selama ini agak misterius di matanya dan menginspirasinya. Kertas ucapan yang satunya lagi dari teman-teman SMU, satu kalimat terakhir membuatku tertegun sejenak, “terus asah badmintonnya, terus bergerak di organisasinya…terus-terusin yang baik pokoknya”, bagi orang lain mungkin terlihat biasa tapi kalimat sederhana ini justru membuatku terdiam dan tertegun cukup lama sambil membaca berulang-ulang kalimat tersebut. Pada saat itu di mataku, teman-teman SMU hanya memperdulikan urusan organisasiku dan studiku, tapi tak disangka mereka ingat yang pernah aku ucapkan dulu sekali waktu awal periode kalau aku suka badminton, itu salah satu hobiku, tapi aku nyaris tak ada waktu dan tenaga lagi untuk main badminton karena ritme kerja di SMU dan perkuliahan serta praktikumku sangat menyita waktu dan tenaga. Ya, mereka ingat hobiku sampai sekarang dan mereka peduli itu! Bahkan kata-kata itu diucapkan lebih dulu ketimbang organisasinya. Aku sungguh tak menyangka semua memperhatikanku sejauh itu dan aku baru menyadarinya sekarang. Terima kasih Tuhan, terima kasih Engkau sudah mempertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa.
        Satu minggu berlalu setelah hari ulang tahunku, hari itu adalah sidang pemilihan ketua dan sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultasku (BPMF). Hasilnya temanku terpilih menjadi ketua dan semua bersepakat menceburkan dia ke kolam Gedung C. Kolam ini memang penuh sejarah, mahasiswa(i) gedung C kalau ulang tahun, pengumuman kelulusan atau hari istimewa lainnya pasti diceburkan ke kolam ini. Ketua BPMF kami kemudian diceburkan, basah kuyup, dan aku menertawakannya dari lantai dua gedung ini melihat keadaannya yang basah seperti itu. Kemudian aku kembali ke dalam ruang sidang, salah satu teman angkatanku tiba-tiba nyeletuk, “eh kemaren yang ulang tahun belum sempat mencicipi kolam gedung C, ayoh kita ceburkan bareng-bareng aja sekalian”, perasaanku langsung tak enak, tiba-tiba dua tangan kokoh memegang lenganku di kiri dan kanan, mulai menyeretku turun ke lantai bawah, mengambil semua barang tak tahan air dari tubuhku, jam tangan, handphone, bahkan sandalku pun dilepas. Semakin mendekati kolam, aku semakin berontak dan ternyata malah ada tenaga tambahan untuk menyeretku masuk ke dalam kolam dan Byuuuurrrrr…………..!!! aku dengan sangat suksesnya masuk ke dalam kolam yang gak tau uda berapa tahun gak dikuras, kakiku menapak batu-batu tajam di dasar kolam, baju basah total, baru saja ingin naik ke pinggir kolam, tiba-tiba ada kucuran air dari atas yang ditumpahkan teman-teman dengan ember, jadilah tubuh saya benar-benar basah dari ujung atas sampai ujung bawah. Oh terima kasih kawan, berkat kalian saya harus pulang dalam keadaan basah karena tidak membawa baju ganti padahal 1 jam ke depan saya harus menghadiri rapat pleno SMU. Lagipula cuaca saat itu pas hujan lebat, dinginnya minta ampun pula. Beruntung ada teman dari SMU yang bersedia membantu membawakan tas ranselku sampai kost karena tak mungkin aku membawa tas itu mengingat isinya laptop, handphone, jam tangan, dompet, buku-buku kuliah dan tubuh saya sekarang sedang basah total. Pulang berjalan kaki sambil menggigil dan kaki lecet-lecet karena menginjak batu-batu tajam di dasar kolam tadi. Yak, sampai kost langsung mandi, ganti baju, bersiap kembali ke kampus untuk mengikuti rapat, pulang rapat malam harinya langsung tertidur pulas.
         Bangun keesokan paginya dengan keadaan tubuh yang tak keruan, telapak kaki perih dan ow…ow..ow… saya terserang flu!!! Hahahahha….. tapi tetap bangun, duduk untuk refleksi. Mengingat kejadian sebelumnya sambil tersenyum-senyum sendiri dan tak lupa bersyukur untuk flu yang hari ini saya dapat.
      Terima kasih Tuhan, Engkau memberiku kesempatan menikmati semua ciptaanMu sampai hari ini, terima kasih teman-teman semua, atas segala perhatian, kepedulian kalian, dan perlakuan kalian terhadapku. Tak pernah terlupa apa yang terjadi dan kualami bersama-sama kalian, selalu terngiang lagu project pop di telingaku,, “Ingatlah hari ini” haha… tak lupa juga untuk kolam gedung C, dalam keheninganmu, kau adalah sejarah bagiku. Setiap tahun aku selalu menghampirimu, menyapamu dan merasakan dinginnya airmu. Saat masih mahasiswa baru dalam program pengenalan fakultas aku menyapamu, saat ulang tahun ke-18 dan ke-19 tahun aku juga menyapamu dan sekarang aku kembali menyapamu. Thanks semua, kalian sungguh berarti bagi hidupku, kalian mengisi ruang dalam hatiku, melengkapi rangkaian perjalanan hidupku dan membantuku menyelesaikan tugasku di dunia ini satu persatu, sekali lagi terima kasih semua.

By. Rachel Fitria
Kamar Kost tercinta

Jumat, 27 Mei 2011

Borneoku Indah: Lagi….. lagi… dan lagi… sampai bosan….!!!!

Borneoku Indah: Lagi….. lagi… dan lagi… sampai bosan….!!!!: "Kutipan judul di atas benar-benar menggambarkan perasaanku saat itu. Ya, Sembilan bulan aku berada da..."

Lagi….. lagi… dan lagi… sampai bosan….!!!!


Kutipan judul di atas benar-benar menggambarkan perasaanku saat itu. Ya, Sembilan bulan aku berada dalam oraganisasi ini, pemegang peranan penting dalam lingkup internal yaitu sekretaris umum (sekum), sudah 2 orang yang mengundurkan diri. Sampai suatu kali ada salah seorang anggota yang menyebut bahwa kursi sekum itu adalah “kursi panas”. Tertawa saja rasanya mendengar istilah itu. Hmm… sepertinya kurang tegar, tidak bertahan dalam tekanan, ya saya menggunakan istilah “kurang militan”.
Kemudian untuk kedua kalinya pula aku disuguhi tawaran yang sangat “menggoda” yakni menduduki “kursi panas” tersebut. Hanya ingin curhat sembari bercerita kronologis dari tragedi ini. Tepat pada bulan Februari, sekretaris umum organisasi tempatku bernaung memasukkan surat pengunduran diri dengan berbagai alasan dan tetek bengeknya. Malam harinya kami berapat pleno ria mengagendakan pengunduran dirinya pada jam-jam terakhir rapat. Terlihat adegan penuh air mata dari beberapa orang dan jujur saya tersenyum sinis saat itu. Jika orang mengatakan saya picik, ya saya memang orang yang sangat picik. Saya adalah anggota yang sama sekali tidak menyukai sekum ini. Dalam penilaian saya, dia hanya orang yang selalu menuntut namun tak pernah mengingat porsi, mengerjakan segala sesuatu dengan ngawur, bagi saya dia juga tidak mengerti makna berorganisasi, sikapnya ngebos sekali, hufffttt walau tak lupa tetap ada kontribusinya dalam organisasi ini.. bahkan saya pernah bertengkar dengan dia lewat sms, dan saya benar-benar jengkel ketika dia membawa embel-embel “kasih”. Ya ampun! Dia menelpon saya saat sedang praktikum hanya saya belum ngecek proposal di bawah bidang saya dan menegur saya karena belum ke kantor, ya iyalah, lha gue praktikum dari pagi, gak bisa ditinggal, sampai belum sempat ke kantor, dan memang berencana ke kantor kalo praktikum uda kelar, dan proposal itu tidak mendesak pula. Padahal saya sudah berulang-ulang berbicara via telpon itu kalau saya sedang praktikum dan akan ke kantor sore! Dan dia masih ngeyel seakan tak mendengar alasan saya dan langsung menutup telponnya. Saya benar-benar jengkel dan tambah jengkel menyadari pulsa sedang sekarat, akhirnya saya sms orang unik satu ini dengan tanda seru yang banyak dan tambah unik lagi dia membalasnya dengan kata-kata yang kontan membuat saya melongo sampai-sampai media cair tempat saya ingin menumbuhkan Eschericia coli terbalik dan membasahi kapas yang menjadi tutupnya ketika saya ingin memasukkannya ke dalam oven, karena dia bilang seharusnya saya menegurnya dengan kasih. Lha padahal dia nelpon gue barusan pake kasih-kasih segala apa! Gile, yang ada di depan saya saat itu adalah seperangkat tabung reaksi sejumlah 40 biji beserta rak-raknya rasanya pengen ta’ lempar ke ini orang, untung saya ingat kalo harga tabung reaksi itu per satuannya sekitar Rp. 3.000,- kalo dikali 40 tabung berarti jadi Rp. 120.000,- plus harga tiga (3) rak tempat menaruh tabung-tabung reaksi tersebut, bisa jadi habis Rp. 150.000,- untuk mengganti itu semua dan mengingat itu tanggal tua, lebih baik saya mengefisienkan pengeluaran, jadi saya mengurungkan niat untuk melakukan tindakan gila itu.
Selesai praktikum, langsung ke kantor untuk ngecek proposal yang dimaksud tadi, ya ampun, astaga, bujubuneng, ini proposal gak mendesak gitu loh, seandainya saya liat besoknya pun kagak ngaruh kali. Sampai-sampai proposal tak berdosa tersebut akhirnya saya lempar ke dalam loker, kemudian menemui ketua dan ngomel-ngomel tak jelas di depannya mencurahkan emosi sesaat tersebut serta membiarkan ketua itu menderita mendengarkan omelan-omelan dan curhatan tersebut sampai saya lega melepaskan emosi tersebut. Barusan lega itu muncul, tiba-tiba datang anak bidang saya dengan wajah cemberut dan marah-marah melempar segepok surat pengantar sponsor yang salah dibuat oleh sekretaris itu di depan saya dan parahnya lagi sekretaris itu sudah duluan pulang, serta tidak mau memperbaiki hari itu juga padahal surat itu mendesak. Kelegaan yang muncul tadi benar-benar hanya bertahan sesaat, emosi itu muncul lagi. Seketika itu juga, saya membangun “tembok beton” setinggi-tingginya dengan orang ini, kalo berpapasan di kantor layaknya seperti orang tidak kenal, lama kelamaan sepertinya dia lelah juga karena ada beberapa teman juga memperlakukan dia seperti itu, dan salah satunya anak bidang saya juga. Sehingga akhirnya dia  mengajukan surat pengunduran diri, malam itu air mata bercucuran, sepertinya cuma saya yang tersenyum sinis, satu persatu memeluknya termasuk saya dan itupun karena dipaksa oleh teman.
Pengunduran diri si sekretaris tersebut membuat ketua kami mencari-cari penggantinya, saya masih ingat beberapa pimpinan datang untuk melobi dan saya bingung saat itu, mau atau tidak? Tidak tahu dari mana sumbernya tiba-tiba anak-anak bidang saya mengetahui lobi-lobi yang terjadi tersebut dan mulai marah-marah serta menyindir-nyindir saya, lha padahal saya belum memutuskan, kok ini sudah pada ngomel-ngomel gak jelas (melongo.com). kemudian berbincang-bincang lagi dengan teman-teman pimpinan untuk tidak menerima tawaran tersebut dan memutuskan satu nama dan bersepakat untuk rapat pleno membicarakan pengganti sekretaris ini. Niat jahil muncul, tepat 15 menit sebelum rapat pleno dimulai, saya menyebarkan sms kepada beberapa pimpinan mengenai niat jahil tersebut. Yah memang pada dasarnya semua bersifat jahil, maka rencana jahil tersebut disetujui. Rapat dimulai, ketua memegang kendali rapat, sikap-sikap jahil mulai dikeluarkan, dan mulai terlihat emosi-emosi peserta rapat, ngedumel-ngedumel gak jelas, kami setengah mati nahan ketawa bahkan senyum sekalipun agar semua berjalan lancar. Akhirnya sudah lelah, pimpinan mengaku dosa, dan menjelaskan kebenaran, untung semuanya berterima dengan tertawa semua (untung gak ada yang berinisiatif untuk mengeroyok kami huftt).
Kembali pada rutinitas semula dengan sekretaris baru, pada awalnya semua terasa biasa-biasa saja, eitz baru satu bulan setengah berjalan, kembali lagi sekretaris kami mulai menghilang-menghilang tak tahu juntrungannya. Akhirnya ketahuan karena masalah privasinya yang dia sendiri sulit untuk mengkompromikannya. Tepat bulan April, kembali lagi sekretaris kami mengundurkan diri, waw maknyoss…. Ketua kembali stress mencari pengganti wakakkakakakk…..
Lobi-lobi kembali terjadi, muncul dua nama, salah satunya saya (lagi). Pas dilobi, hanya tertawa karena bosan, yang bikin energi terkuras dalam organisasi ini ternyata masalah-masalah yang kayak begini toh, masalah konsistensi dan komitmen ternyata. Karena komitmen yang gak tahu juntrungannya akhirnya tidak bisa berterima dengan konsekuensi logis yang muncul.
Dua bulan lagi organisasi akan berganti pengurus, dan tak mungkin posisi strategis selevel sekretaris dibiarkan kosong begitu saja. Dengan segala pertimbangan, akhirnya saya mencoba untuk menjalani sisa-sisa periode dengan menjadi sekretaris. Hmmm… lumayan lelah juga, tapi selalu ingat kata-kata Opa Haryono Semangun, “segala sesuatu yang kamu kerjakan kalo dilakukan dengan perasaan senang pasti kamu akan nyaman menjalaninya”, diperkuat dengan kata-kata dari papi Ferry Karwur, “Memang melelahkan tapi menyenangkan kalau kamu mencintai pekerjaan itu”. Mencoba menemukan rule of this game dan menjalankannya. Selalu ada batu-batu kerikil tajam yang dilewati namun selalu ada jalan keluar bagi itu semua. Berada dalam posisi ini membuat peluang konflik saya menjadi besar dan nyaris tak terkendali. Sampai detik ini pun saya masih mencoba menemukan titik kendali itu sambil tetap terus jalan tabrak sana tabrak sini. Mencoba menjalani semua rel organisasi ini dengan perasaan sayang dan cinta saya kepada organisasi ini beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi tetap tak lupa akan esensi berorganisasi itu sendiri walau tetap menganjurkan rasa kekeluargaan dalam atap ini. Berusaha menyelesaikan pekerjaan sendiri dulu secepatnya kemudian mencoba membantu teman yang lain karena akan menjadi lucu dan aneh ketika membantu teman lebih dahulu tapi pekerjaan kita sendiri belum selesai, padahal kerjaan kita itu sama penting dan urgentnya. Mencoba menilik peraturan dalam penerbangan, ketika tekanan oksigen dalam kabin pesawat menurun, akan ada masker oksigen yang diturunkan dari atas kabin masing-masing penumpang, orang tua yang membawa anak kecil harus mengenakan terlebih dahulu masker oksigennya baru menolong anaknya. Jangan sampai niat baik untuk menolong malah berbalik harus ditolong, nah kan bisa gawat tuh. Setiap orang punya porsinya masing-masing. Teringat kalimat yang dipublikasikan oleh ahli fisika yang menyebutkan bahwa “semua makhluk di Bumi ini diatur oleh hukum-hukum/ peraturan Fisika yang sangat ketat, namun alam ini tetap memberi suatu ruang kecil untuk berkreativitas dan enjoy your life”, diperkuat kalimat dari Broto Semedi dalam bukunya (saya lupa judulnya, kalau tidak salah “Bergumul di Bumi”), yang menyebutkan bahwa kita punya ruang terbuka di dunia ini, makanya manusia memang sengaja diciptakan tidak selesai/ sempurna karena agar manusia itu yang berusaha untuk menyempurnakan sendiri dan oleh hak istimewa inilah manusia itu sebenarnya adalah Tuhan-Tuhan kecil di Bumi ini karena dia punya kehendak bebas ingin sempurna sesuai keinginannya.
And the last but not least, setiap orang kita tahu gak ada yang sempurna kan, nah menyadari kita tidak sempurna itu, maka berusahalah untuk menuju ke sana dan tidak lupa buatlah ketidaksempurnaan itu dapat ditoleransi oleh orang-orang sekitar kita. Banyak orang berkata pada saya toleransi itu tak ada batasnya maka muncullah kalimat, “terima dia apa adanya”, dari satu sisi terasa ada benarnya juga, namun tidak semua orang berpendapat begitu. Kalo memang benar toleransi itu tak ada batasnya, mengapa banyak terjadi pertengkaran? Nah itu kan karena dia gak mau terima apa adanya. Mungkin setiap orang punya pendapat yang berbeda-beda mengenai hal ini dan dapat disesuaikan dengan konteksnya. Tapi jujur, saya memilih toleransi yang limited yaitu ada batasnya, karena saya memang terkotak dengan toleransi-toleransi pribadi saya dan saya memang sengaja memilih itu (saya punya kehendak bebas untuk memilih kan). Serta saya yakin dan percaya bahwa setiap orang itu memiliki batas-batas tersendiri dalam dirinya termasuk toleransi itu sendiri. Mungkin cuma Allah yang kekal lah yang punya toleransi unlimited.
Sekian curhatan saya yang tidak seberapa ini wakakkakakakk, mohon maaf bila ada salah kata, silahkan dikoreksi, dihajar, dibantai, dicaci maki, saya akan terima dengan toleransi yang saya miliki huahahahha…. :D


Kamar Kost, 27 Mei 2011
Pukul 11.05 AM
Ngetik dalam keadaan belum mandi dan sikat gigi padahal matahari uda terik haha… :)

Senin, 09 Mei 2011

Mengapa harus dia??

          Betapa o’onnya, itu yang kurasakan sekarang, aku benci harus suka padanya, aku benci harus melihat apa adanya dia dan betapa bodohnya lagi aku mulai mencari celah supaya menerima dia apa adanya. Aku benci dengan perasaan yang melandaku sekarang, walau banyak orang berkata aku harus tetap bersyukur, tetapi tetap saja aku benci dengan keadaan ini.
          Mengapa harus dia? Bahkan aku sendiri tak mampu menjawabnya. Aku bingung dengan segala yang terjadi, tiba-tiba detik ini aku bersamanya, merasa nyaman berada di dekatnya, walau terkadang sebal dengan tingkah lakunya, namun tetap saja aku benci perasaan ini.
          Mengapa harus ada dia dalam hidupku? Mengapa dia mampu menggeser perasaanku terhadap seseorang yang aku suka selama dua tahun lamanya?!! Sekali lagi aku bertanya mengapa harus dia?