Jumat, 09 Juli 2010

Status Facebook

Pada beberapa kesempatan, aku selalu melihat status2 facebook yang muncul di beranda....
sungguh bagus dan bijak sekali status2nya, sampai tersenyum-senyum sendiri ku melihatnya, tapi yang membuatku tak mengerti, ada saja yang menulis status2 indah nan bijak pada FBnya tapi tak pernah ia aplikasikan dalam kehidaupan sehari-harinya, bertolak belakang malah, duh bagaimana sih.....

Aku tau aku juga kagak sempurna, tapi buatlah ketidaksempurnaan itu tetap dapat ditoleransi oleh orang2 sekitarmu, Semua orang gak sempurna, tapi bolehlah kita berusaha menuju kesempurnaan kan...

Menulis status di FB memang hak asasi setiap orang, asal tidak mengandung unsur SARA dan merugikan orang lain....

Akan lebih bijak lagi bila Status2 bijak yang tertulis di FB dapat teraplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari....

Senin, 05 Juli 2010

Mandi Angin yang tak lagi Sejuk

Tepat pada tanggal 9 Juni saya pulang ke kampung halaman di Kalimantan Selatan. Kepulangan saya dalam rangka pemulihan pasca sakit setelah di opname di sebuah rumah sakit yang terletak di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Rindu sekali dengan kampung halaman ini, rindu akan hutannya, rindu akan sungainya, rindu akan suara2 burungnya, dan rindu keluarga pastinya :)

Terbangun pagi hari pukul 06.00 WITA, langsung menuju keluar rumah dan jalan2 di sekitar komplek rumah. Singgah ke rumah Tante dan biasanya untuk menuju rumah tante harus melewati kawasan pohon karet yang cukup lebat. Sewaktu berjalan saya heran sekali, "kok rasanya jauh banget ya? Pohon karetnya mana?". Tak lama kemudian terlihat rumah tante (saya mengenalinya dari warna cat rumah), tapi kok perasaan saya ga lewat pohon karet, malah kawasan perumahan yang baru dibangun.

Sampai di rumah tante, duduk sebentar sambil membaca koran. Pada Kolom Utama terdapat sebuah judul berita yang tercetak besar dan di bold pula, "Beruang Madu serang warga di Mandi Angin". Wedew, teringat sekitar 10 tahun lalu saya pernah berkunjung ke sana dalam rangka liburan sekolah. Orang tua mengajak saya ke sana karena suasana yang teduh, tenang,asri, banyak pepohonan,suara merdu burung berkicau sambil bersahutan terdengar, dan keharmonisan alam sungguh terasa waktu itu.

Kembali pada koran yang saya baca tadi, di koran tersebut tertulis bahwa beruang madu tersebut menyerang warga yang sedang berjalan-jalan di kawasan mandi angin tersebut. Warga tersebut selamat dari maut namun mengalami luka cakar dan gigitan yang cukup parah di bagian wajah dan lengannya. Kejadian terkaman beruang ini merupakan sebuah alarm, karena bertambahnya jumlah penduduk, keinginan memperkaya diri sendiri dengan harta duniawi,serta ketidakpedulian terhadap alam telah membuat kehidupan di bumi sudah tidak balance lagi. Kawasan pohon karet yang kini sudah tiada karena adanya pembangunan perumahan, warga yang diserang beruang madu karena tempat tinggalnya diusik oleh manusia sehingga beruang tersebut kehilangan tempat tinggal dan sumber makanannya.

Melihat hasil sensus penduduk Indonesia yang mengalami peningkatan cukup signifikan sungguh sangat mengejutkan, padahal sudah ada program KB, namun tak mampu menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Pertambahan jumlah penduduk ini mau tidak mau memerlukan luas lahan lagi, pembukaan lahan terjadi dimana-mana untuk proyek pembangunan. Disadari atau tidak, laju pertumbuhan penduduk ini telah mengancam kelangsungan makhluk hidup lainnya. Penebangan pohon untuk pembukaan lahan telah memusnahkan tempat tinggal ratusan bahkan ribuan flora dan fauna. sumber makanan bagi satwa-satwa ini pun sudah sulit dicari.

Sungguh miris ketika berkunjung ke sebuah penangkaran Orang Utan di Kalimantan Timur. Saya melihat ada benjolan di kepala salah satu orang utan, maka saya bertanya pada "pengasuhnya", ada apa dengan kepala orang utan yang satu ini?. Menurut penjelasan yang didapat, kepala orang utan tersebut tertimpa pohon, rumah tempat tinggal orang utan itu sendiri. Adapun penyebab tumbangnya pohon tersebut karena penebangan liar yang marak terjadi di kawasan hutan Kalimantan.

Sungguh sebuah dilema melihat peristiwa - peristiwa ini. Di satu sisi kita melihat bahwa manusia layak mendapat kesejahteraan dengan tempat tinggal yang layak. Sulit untuk menepis anggapan "banyak anak banyak rejeki". Di sisi lain, untuk memperoleh lahan pembangunan, harus merebut tempat tinggal makhluk hidup lain.

Lama kelamaan lahan akan habis bila dieksploitasi terus menerus, ancaman global warming terus merongrong. Apa lagi yang dapat kita wariskan pada anak cucu kita kelak? Apa mungkin kita harus mencari tempat tinggal lain selain Planet Bumi, karena Planet ini sudah sesak??

Kawasan Mandi Angin kini telah berubah total sejak dari 10 tahun yang lalu. Lalu bagaimana keberlangsungan hidup Beruang madu di sana?? Akankah kita biarkan beruang2 itu punah begitu saja?

Mari kita galakkan kembali penggunaan KB, Penanaman dan pemeliharaan pohon, Hentikan Pembalakkan liar, serta jalankan gaya hidup sehat dan GREEN hehe...

Maaf bila ada salah kata, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan YME. Semoga Berkenan.


By. Rachel Fitria
Rumahku tercinta, Banjarbaru
5 Juli 2010

Sabtu, 03 Juli 2010

Jalan-jalan ke mata air Tajuk yukkk.....

Setelah sekian lama membicarakan permasalahan yang terjadi di mata air tajuk akhirnya tiba juga saatnya untuk melihat langsung keadaan di mata air ini. Schedule kegiatan untuk hari istimewa tersebut seketika dibatalkan hanya untuk melihat keadaan mata air.

Adalah dua cewek yang menyanggupi untuk mengunjungi mata air tersebut, dengan dibekali petunjuk jalan yang diberikan oleh seorang dosen (Eyang Narto) maka berangkkaatttttt......... Yang satu sedang pusing dan stress dengan masalah perkuliahan dan organisasinya yang njelimet sedang yang satunya sedang merayakan hari istimewanya dengan cara yang berbeda.

Janjian jam 7 pagi bertemu di kost saya tapi apa daya si kak Dwi ini bangun kesiangan karena malamnya bermimpi aneh katanya... Akhirnya berangkat jua jam 8 pagi itu berjalan kaki menuju pasar sapi lalu naek ke bus yang ngetemnya lama euy... Setelah bertanya pada kernet bus terkait dengan menyampaikan tujuan kami ke desa Tajuk, akhirnya kami diturunkan di perempatan Jampelan. Waduh bingung dah ne kaki mau melangkah kemana, ada beberapa tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke tujuan. Tapi dengan pedenya kami menolak semua tawaran tersebut sambil memperhatikan petunjuk yang diberi eyang “pokoknya kalau perempatan belok kiri ke arah Samirono”. Mulai melangkahkan kaki ke arah yang dimaksud sambil lirak-lirik sapa tau ada yang bisa ditanya ne desa letaknya dimana. Eitzz ada ibu-ibu yang sedang nongkrong di pinggir jalan sambil membawa sayur di bakulnya, maka bertanyalah si kak Dwi pada ibu tersebut menggunakan bahasa jawa (maklum saya kagak ngerti bahasa jawa).

Setelah mendapat petunjuk dari si ibu tadi, kami melanjutkan perjalanan kembali. Sampailah kami diperempatan. Waduh belok mana lagi neh, bertanya kembali pada bapak-bapak yang sedang bekerja di kebunnya. “Oke-oke belok kiri ya pak, matur nuwun pak”. Lanjut jalan lagi, kak Dwi kali ini sambil jalan sambil memberi kursus bahasa jawa pada saya yang selalu bengong ketika berbicara dengan warga di sana. Sampai akhirnya saya ngerti apaan tuh “tindak pundi”, jadi kalo ada warga yang tanya gitu, saya dengan pede dapat menjawab “Tajuk pak.....”.

Satu setengah jam berjalan akhirnya sampai juga di desa Tajuk, mencari-cari ketua paguyuban Taman Nasional Merapi Merbabu, pak Samingan. Setelah tanya sana sini, sampailah kami di rumah pak Samingan, eehhh bapaknya lagi ga ada dirumah. Lalu anak pak Samingan yaitu Susilo menawarkan untuk mengantar kami sampai ke mata air. Berjalan bertiga menuju mata air, susilo bercerita banyak tentang berbagai masalah yang terjadi di mata air ini, mulai pohonnya yang sudah berkurang karena penebangan liar, dan ada yang baru saja tertangkap karena kasus pembalakkan liar ini. Ironis memang setelah melihat keadaan disana, pohonnya sedikit dan mata air yang semakin kecil. Puas melihat keadaan sekitar, cacing-cacing diperut uda dangdutan. Susilo pamit untuk melaksanakan ibadah sholat jum’atnya. Tinggallah kami berdua yang uda bawa perkakas masak. Menggelar jas hujan untuk alas duduk, mengeluarkan beberapa peralatan, lalu masak dimulai.

Saya lebih memilih jalan-jalan sambil ngambil gambar daerah sekitar pake hp. Yah memang lebih baik kak Dwi yang masak daripada saya, secara saya cuma bisa makannya doank. Wah kabut mulai turun dan tiba-tiba air menetes dari langit. “Fit, ayok beres-beres, ujan neh”. Eh dengan entengnya saya jawab “tenang aja kak, lanjutin aja masaknya paling ujannya bentar doank”. Dan betapa lugunya kak Dwi mengiyakan jua haha... Buka payung, jas hujan digunakan untuk melindungi tas sambil kembali masak. Nah akhirnya masak jua, eh tiba-tiba hujannya tambah deres seketika. Dua buah payung digunakan untuk melindungi peralatan masak, jas hujan melindungi tas dan jas hujan yang satunya lagi dipake berdua sambil jongkok di depan makanan untuk dimakan, kami makan sambil tertawa, menertawakan kekonyolan kami. Hujan tambah deres, sampai makanan kami juga kemasukkan air hujan, tapi tetep lah kami makan, lapar euy.

Selesai makan langsung beres-beres dan mulai turun ke arah desa menuju rumah pak Samingan untuk berjumpa dengan beliau. Sampai di rumah pak Samingan, mulai membicarakan rencana-rencana penanaman di lokasi mata air tersebut sampai pemeliharaan dsb. “fit, uda jam berapa??”, “jam 2 kak” jawab saya. “nyok pulang kan kata om din, bus terakhir jam 4an”. Pamitan dengan si bapak dan melanjutkan perjalanan kembali.

Di tengah perjalanan, Kak Dwi melihat sebuah pohon beringin besar dengan mata air di bawah dekat akarnya. Maka mendekatlah kak Dwi ke pohon tersebut, melongok melihat ke dalam air. “Fit, ada belut tuh”, dengan excited-nya saya mendekat sambil bertanya, “mana??mana?? liat...”. kak Dwi menunjuk ke satu arah, eh si belut itu uda hilang entah kemana, eh malah muncul binatang melata lagi, “nah tu fit, liat gak?? Eh! Tapi kayaknya itu ular deh, ada 2 ekor!”. Saya mulai mencari-cari arah yang ditunjuk dengan mata yang silinder ini, “oh ntu yach, wow!!! Ular ya... wahaha Kabuuuurrrrrr” jawab saya, dengan sekejap saya balik badan dan lari sambil ketawa, kak Dwi akhirnya ikut lari juga. Lanjut lagi jalan ampe perempatan jampelan, cari minibus ke arah pasar sapi. Pulang ke kost masing-masing dengan bawa tugas baru, nanam!!!Pelihara!! Haha....















By. Rachel Fitria
Ngetik sambil pegel-pegel, 22 Januari 2010
Kamar Kost Salatiga, Jawa Tengah