Selasa, 25 Juni 2013

Ketidakmungkinan

Hai mentari pagi, boleh aku minta padamu? Tolong sinari hatiku yang sedang mendung. Aku merasa lelah sekali pagi ini wahai mentari, lelah akan kehadirannya dan menari-nari dalam benakku. Sudah hampir selusin bulan kalender aku dipermainkan oleh hatiku sendiri, tanpa dapat kukendalikan. Aku lelah sekali mentari, lelah sekali.
Bapa, bolehkah anakMu ini pada pagi ini meragukan kekuasaanMU? Kau selalu bilang padaku bahwa tidak ada yang tak mungkin. Namun pada pagi ini, aku mendapati ada sesuatu yang sama sekali tak mungkin kugapai lagi. Hatinya Bapa, aku tak dapat menggapainya, tak mungkin. Bolehkah aku membuat permohonan untukMu Bapa? Aku mau terpisah jauh darinya, aku ingin berjuta-juta kilometer jauhnya. Aku selalu meminta padaMu untuk memulihkan hatiku, namun Kau terus mengujinya Bapa, aku lelah Bapa, lelah sekali. Hari ini kudapati diriku hancur Bapa, apakah permintaanku supaya Kau memulihkan hatiku itu salah? Pagi ini aku tersadar ketika mendapati firmanMu berkata, “Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk”, mungkin seharusnya aku meminta Engkau tidak hanya memulihkan hatiku Bapa, namun aku juga seharusnya meminta Engkau menganugerahkan hati yang tangguh Bapa, benarkah begitu?
Hatiku rapuh Bapa, rapuh tanpaMu. Bolehkah aku dijauhkan darinya Bapa? Aku ingin mengikisnya dari hatiku perlahan untuk selamanya Bapa. Aku tidak ingin lagi melihatnya Bapa, please Bapa. Aku merasa seperti anak kecil yang merengek padaMu Bapa, aku ingin lepas dariNya Bapa.
Biar pelukan itu menjadi yang terakhir bagi kami Bapa, pelukan yang kurindukan selusin bulan itu, Kau kabulkan Bapa, aku dapat memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak mengingkari rasa sakitku padanya Bapa. Perih sekali kejujuran itu Bapa, ternyata ini mungkin jawaban bagi kami Bapa. Dia dan aku tak layak lagi didera Bapa. Karena kami boleh disadarkan Bapa, tak ada artinya bila bersama namun hanya semu semata. Aku tak ingin lagi memaksakan Bapa, mungkin ini Bapa, cinta kami tak lagi sama.

Topang aku Bapa, topang hatiku. Aku berharap dimengerti kali ini Bapa. Aku ingin bersamaMu saja Bapa, aku hanya ingin berdiam dalam rumahMu, bangkitkan aku Bapa, tegakkan kepalaku Bapa.

Minggu, 16 Juni 2013

Cicak di Dinding

Nada dan puisi datang dan pergi menghampirimu
Tiada yang mampu merengkuh arti dan isi hati
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Berbahagia dengan satu impian
Dan satu kejujuranku
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Hanya suara dan tatapku menemanimu
Dan ku menyadari tanganku
Tak kan mampu meraihmu
Walau cinta katanya tak kan lelah memberi
ku lepas engkau ombak hatiku
Percikmu abadi menyegarkanku
Namun biarlah kini... Kuingin jadi cicak
S'perti cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu... Cicak di dindingmu
Melekat, menemani, membelai dinding jiwamu...
Pagi ini dengan tubuh yang masih remuk redam, tiba-tiba aku kangen, kangen dengan suara Dewi Lestari. Kucari kasetnya dan kuputar, meresapi setiap lirik lagunya. Hingga tiba pada lagu yang berjudul “Cicak di Dinding”. Kuresapi setiap detil liriknya, tak terasa air mata ini mengalir. Ya mungkin lirik lagu itu benar, sudah saatnya aku berserah dalam ketakberdayaan. Karena seharusnya aku sudah menyadari bahwa tanganku takkan mampu meraihmu, juga seharusnya aku melepasmu ombak hatiku.
Mungkin ini maksud hujan semalam yang turun tanpa henti hingga pagi ini, alam pun mengajakku untuk membasuh hati ini, melarutkan setiap detil kenangan bersamamu ke muara yang aku tak perlu tahu di mana ujungnya. Dan kudapati pagi ini aku baik-baik saja, hatiku baik-baik saja. Kulihat terang gunung Fuji di depan sana yang menunggu untuk kugapai puncaknya, ya gunung tinggi itu mengijinkanku menggapai puncaknya. Kusadari aku sudah terlalu lama berjalan, kini kudapati diriku telah mulai berlari, berlari dan berlari. Berlari menggapai puncak gunung itu. Kutinggalkan semua isi hatiku tentangmu di lereng gunung itu dan aku mendaki gunung itu tanpa beban apapun. Selamat tinggal, aku takkan kembali lagi ke lereng gunung ini, aku akan tetap menggapai puncak dan akan tetap berlari menggapai puncak yang lain tanpa menoleh lagi.

Kini ku harap dimengerti, tiada yang tersembunyi, rasa sakitku, tiada alasan, inilah kejujuran, perih namun ini jawabnya, lepaskan dengan segenap jiwa tanpa harus berdusta karena kau tak layak didera. Inilah adanya, cinta yang tak lagi sama.

Sabtu, 15 Juni 2013

Kamu

Tak pernah kubayangkan sebelumnya, aku berada dalam kondisi seperti ini, Salmonella typhii yang merajai tubuh disertai dengan kerinduanku padamu. Dalam kondisi terbaring, aku mengenang kembali kebersamaan kita dulu. Pelukan hangatmu yang selalu kurindukan, kejutan-kejutan kecil yang selalu kau implementasikan dalam bentuk muncul tiba-tiba di hadapanku, aku merindukan kejutan kecil itu, karena aku pasti langsung melompat ke dalam pelukanmu dengan tawa lepasku.
Tak ada yang pasti dan tak akan yang pernah tahu akan masa depan, ya inilah kalimat rasional yang akhirnya aku amini. Siapa yang menduga kita akan seperti ini? kita seperti orang yang tak pernah saling mengenal bila berjumpa. Hanya sebatas keprofesionalan pekerjaan saja yang membuat kita tetap berkomunikasi walau jarang. Dulu aku selalu gelisah bila dirimu tak ada, namun sekarang aku sudah terbiasa dengan ketiadaanmu, bahkan menikmati nyilunya kesendirian. Begitu banyak yang datang dan memintaku untuk melunakkan dan menghangatkan hati, namun tak ada satupun yang mampu membujukku.

Di tengah kesibukan yang padat, mungkin inilah kesempatanku untuk merenung, merenung tentang kita. Apakah sudah ada kata “tidak mungkin” di antara kita? Sudah lama sekali rasanya aku tidak menikmati harum tubuhmu, bahkan aku hampir lupa bagaimana hangatnya pelukanmu. Dulu duniaku hanya ada kamu dan studiku, dalam duniamu mungkin aku tidak ada. Mungkinkah kita dapat bersama lagi? Bercengkerama tanpa ada luka, tertawa lepas seperti dulu, menangis dalam pelukanmu, serta kembali menyusun mimpi? Aku tak tahu, tak lagi tahu. Kau jauh sekali, aku kesulitan menggapaimu. Apa kusudahi saja sampai di sini? Tetap tenggelam dalam kesendirianku, karena sekarang hanya kaulah yang mampu meluluhkanku. Maaf untuk semua kesalahan, aku sudah memaafkanmu, aku selalu mengingatmu, dan sekali lagi maaf untuk rasa ini.

Kamis, 06 Juni 2013

Welcome Seven!!!

        Terbangun pagi hari ini dengan kenangan satu tahun lalu. Teringat pada 7 Juni  tahun 2012 lalu, persis aku mengalami ujian skripsi. Pagi-pagi yang mendebarkan saat itu, membayangkan duduk di antara penguji dan dibantai membuat mual pagi itu. Pagi itu juga pembimbing saya mengirim sebuah pesasn singkat yang isinya untuk memberi support, tapi sama sekali tak berpengaruh bagiku, tetap saja rasanya grogi setengah mati! Pagi-pagi sudah berjalan ke kampus untuk persiapan ujian, namun apa daya saking gugupnya catatan untuk ujian tertinggal, akhirnya harus kembali lagi ke kost.
Tak lupa untuk dia yang memberiku semangat di pagi hari itu, terima kasih yaa... terima kasih buat rosario yang kau berikan, terima kasih buat tanda salib yang kau ukir di keningku pagi itu. Semua yang kau lakukan pagi itulah yang menenangkanku. Sepanjang ujian skripsi, segala pertanyaan terlontar, kugenggam erat-erat rosario pemberianmu. Ujian yang akhirnya berakhir dengan kita berdua di meja makan J. Thank’s berat buat semua itu haha.....
Sudah satu tahun berlalu, rosariomu masih menggantung rapi, pagi ini tersenyum lagi mengingat kejadian dulu itu. Sekarang aku masih menjadi mahasiswa dengan strata yang berbeda, thank’s God buat anugerahMu J. Terima kasih boleh melalui segala ujian, ujian studi maupun ujian kehidupan. Thank’s buat dia juga yang sudah entah berada dimana dan sedang apa, pasti dia baik-baik saja dengan pilihan hidupnya J. Cerah sekali pagi ini, mengukir lagi harapan baru, melanjutkan asa yang tertunda, meninggalkan segala kenangan yang meninggalkan luka, menghadapi kejutan-kejutan yang Tuhan sediakan.
#ngetik sambil ditemani keheningan dan secangkir white coffee panas serta hidung mampet karena flu berat J