Kadang ada yang tak dapat terungkapkan lewat kata namun terlukis dalam goresan pena
Sabtu, 31 Desember 2011
Jumat, 23 Desember 2011
Liburan Akhir Tahun 2011 (Part 1)
Satu semester berlalu sudah dengan tugas yang bertumpuk di akhir semester ini. Selama kurang lebih 2 minggu saya berkutat dengan laporan praktikum, test akhir semester, tugas mandiri dan laporan kerja praktek. Tiap malam harus bergadang hingga subuh, sampai hafal azan subuh rasanya. Dengan segala kejenuhan yang ada, saya masih sempat-sempatnya mengatur trip saya untuk berlibur ke Yogyakarta dengan menghubungi teman yang tinggal di sana mengingat saya berencana untuk menginap beberapa hari di Yogya untuk mengeksplore sedikit tentang kota ini sehingga saya membutuhkan akomodasi lagipula saya mengadakan perjalanan dari Salatiga seorang diri.
Tibalah saatnya, hari Jumat pagi dengan setengah berlari saya menuju kampus untuk mengejar tanda tangan dosen saya untuk laporan kerja praktek, kemudian saya menuju rumah dosen saya untuk mengumpulkan tugas akhir semester. Akhirnyaaaaa….. tugas-tugas itu selesai juga semuanya, segera saya kembali ke kost dan mulai packing karena akan menginap kurang lebih 4 hari di Yogyakarta. Saya menggunakan jasa travel pagi itu, dengan alasan jujur bahwa saya takut sendirian naik bus salatiga-yogya karena takut copet, takut dikerjain orang, takut ketiduran, mengingat saya kurang tidur beberapa hari sebelumnya. Jadilah saya menggunakan jasa travel, dijemput di kost, kemudian dapat tidur sepuasnya dan diantar hingga tempat tujuan. Sesampai di rumah teman, saya langsung bersiap-siap untuk jeng-jeng. Tujuan hari pertama tidak terlalu jauh mengingat kondisi tubuh saya yang kurang prima karena kurang tidur dan jetlag, jadi hari pertama hanya kami habiskan dengan berkunjung ke salah satu mall (itupun karena mall tersebut tepat berada di seberang rumah teman) dan menonton film “Breaking dawn” di XXI, kemudian malamnya kami mencoba dinner di House of Raminten.
House of Raminten, tempat makan sekaligus nongkrong yang cukup unik. Tempat ini terletak di areal kotabaru dengan design tempat yang unik, diselingi dengan lagu-lagu khas Jawa dan aroma therapy alias menyan. Bunga-bunga dalam tempayan seperti sesajen terletak di setiap sudut tempat menambah aura kemistisan tempat makan ini apalagi bila malam hari. Makanan yang disuguhkan pun cukup terjangkau harganya dan menu angkringan ada di sini. Mulai dari Sego kucing hingga burger ada di sini dan jangan ditanya mengenai porsinya. Porsi makanan di sini cukup banyak, bayangkan untuk yang memesan double, doublenya itu saya nilai sungguh lebay. Bayangkan untuk minuman semacam es kelapa atau dawet dengan porsi double, banyaknya sama dengan porsi single tapi dikali tiga, gila kembung dah tuh minumnya. Malam itu saya dan teman cukup menikmati makan ditempat ini dengan diselimuti aura kemistisan dan saya tidak dapat berhenti untuk senyum-senyum sendiri walau nahan ngakak sebenarnya karena:
1. Waiter and waitress di sini kostumnya khas banget (cewek ala kemben Jawa, cowoknya juga ala Jawa gitu juga)
2. Ada beberapa waiter yang pake “kerincingan” ala kuda bepang di pergelangan kakinya, jadi setiap kali dia melangkah ya bunyi gemerincing-gemerincing gitu deh
3. Ada kuda deket dapur bo… bayangin…bayangin.. kuda bo, deket dapur pula…
4. Konon pemilik ne tempat agak-agak gimana gitu ya… pas masuk aja di depan uda ada postcard-postcard gitu yang bertuliskan, “Jangan panggil aku Raminto”, “Panggil aku Raminten”, atau “Call me Lady Raminten” dengan photo-photo yang aduhai mengundang selera humor saya.
5. Di beberapa sudut dinding gitu ada tulisan seperti ini, “Kami adalah lulusan SLB, jadi bila pesenan anda lama datangnya, harap maklum karena kami kenthir”.
Beberapa hal di atas hanya sebagian yang dapat saya tuliskan, untuk hal lainnya bisa anda buktikan sendiri dengan datang langsung dan menilai sesuai persepsi masing-masing.
Selesai makan, saya dan teman saya mulai berjalan kaki pulang menuju rumah setelah sebelumnya menggondol roti untuk mengganjal perut keesokan paginya sebelum traveling seharian. Begitu sampai rumah, mandi, buka facebook bentar, nonton film sebentar karena film belum selesai, saya juga udah ketiduran
Bangun keesokan paginya, perut lapar, langsung melahap roti untuk mengganjal perut, berleha-leha bentar sambil packing karena traveling hari ini akan berlangsung seharian, tas ransel saya isi dengan payung, buku agenda, kamera, dompet, Hp, bag cover, botol minum, baju kaos ganti, minyak kayu putih, gel anti memar, kacamata, dan tidak lupa Peta ahahahaha….
Setelah packing, bergantian dengan Revi (kawan saya) untuk mandi, kemudian mulai berangkat, pertama-tama yang kami pikirkan adalah sarapan hahahaha…. Berjalan kaki dari rumah teman yang terletak di seberang mall Galeria ke arah Keraton Yogyakarta memakan waktu sekitar ± 30 menit. Sampai di Keraton Yogya, kami membeli tiket seharga 5 ribu rupiah untuk wisatawan lokal. Masuk ke dalam tanpa pemandu mengingat revi sudah pernah ke sana sebelumnya, kami berjalan keliling, ambil photo sana sini (padahal kami tidak membayar tiket untuk ijin photo), nonton wayang yang menggunakan bahasa Jawa (Jujur saya gak ngerti tapi pede aja duduk di depan panggungnya, karena saya yakin para bule-bule yang nonton bareng saya saat itu pasti juga gak ngerti hahahaha).
Selama di dalam keraton, kami memang konyol lah, tanpa pemandu, bebas berpersepsi, as example, revi bertanya, “kenapa ya di sini tanahnya pasir-pasir gitu”, konon katanya dia pernah bertanya pada pemandu namun si pemandu pun kebingungan menjawabnya. Saya yang tidak tahu menahu tentang sejarah tempat ini, jadi ya mulai mengeluarkan persepsi-persepsi ngawur hahaa (dalam hati saya berjanji, pulang dari sini kudu baca sejarah ne tempat dah, nyesel ga cari tau lebih dulu). Setelah dari Keraton Yogyakarta, saya dan revi bergegas ke museum kereta, masuk dengan membayar tiket seharga 3 ribu rupiah dan ijin photo seribu rupiah. Berkeliling-keliling, hmm banyak juga keretanya. Kereta-kereta di sini masih aktif digunakan bila ada acara kekeratonan dan kebanyakan dibuat oleh Belanda dengan signature yang khas seperti detail-detail tahun pembuatan dan logo-logo Hamengku Buwono. Seorang bapak menghampiri kami dan membantu menjelaskan mengenai sejarah kereta, fungsinya dan disertai dengan mistis-mistis mengenai nyai Roro Kidul penguasa Laut Selatan. Ada sebuah kereta yang “wow” di sini karena mahkota di puncak kereta tersebut terbuat dari emas dan ada photo yang terpajang di dekat kereta tersebut. Dalam photo tersebut, terlihat Sultan sedang seorang diri dalam kereta di acara kekeratonan. Nah, bapak pemandu tadi meminta saya dan revi untuk memperhatikan sosok yang duduk di samping Sultan dalam photo tersebut. Saya memicingkan mata, memiring-miringkan kepala tetap aja tidak melihat sosok yang dimaksud, lalu giliran revi, revi juga cukup lama memandangi photo tersebut namun juga tidak melihat apa-apa. Kemudian ada sepasang kekasih gitu yang berdiri di belakang kami mencoba peruntungannya untuk melihat sosok yang dimaksud, dan si cowok bilang dia ngeliat sosok tersebut. Lha saya jadi penasaran, sosok apaan sih yang dimaksud, saya kembali mantengin lagi ntuh photo, tetep aja gak keliatan apa-apa. Nah itu bapak nepuk bahu saya, lalu berasa hangat gitu sekujur tubuh saya, lha tetep aja gak keliatan apa-apa hahaha, bapaknya putus asa kayaknya trus bilang, “mbaknya gak peka”, lha pak, saya emang gak peka untuk hal-hal begituan hehe, kemudian masih penasaran saya mantengin lagi ntuh photo, nah lho kok itu ada sosok cewek gitu gak jelas wajahnya tapi pake konde gitu dengan untaian melati di bahu kirinya duduk di samping Sultan, saya panggil revi dan tetep dia gak liat apa-apa, gue jadi merinding trus ngacirrr….. lalu bapaknya ngajak kita ngeliat satu kereta nyai gitu yang baru saja di”mandi”kan, kembang masih menjuntai di kepala kereta, si bapak meminta saya memotret trus dia nyuruh saya memperhatikan hasilnya, “lihat dek kembang merahnya, warnanya lebih cerah kan waktu mbaknya motret, coba deh mbak satunya yang motret”, kemudian si revi motret, emang bunganya gak semerah photo gue siy, trus bapaknya bilang photo itu tergantung orang yang memphoto. Lha pikiran saya saat itu, tergantung cahaya juga kali pak hehehe…. Mungkin ntu si revi sudut pengambilan photonya kurang cahaya makanya agak redup dikit haha (teori ngawur gue tapi sapa tau bener kan).
Berjalan lagi ke ruangan satunya ada sebuah kereta yang agak panjang dengan warna cat krem jadi keliatan bersahaja gitu, lha saya jadi nyeletuk, “wah rev, aku mau naek kereta yang ini, lebih gede, warnanya soft banget, elegan”, eh akhirnya gue mendekat, mengamati keadaan dalam kereta, gue lama terdiam berpikir, kok ada tonggak pendek berjumlah 4 di lantai kereta, perasaan gue langsung gak enak, dengan hati berdebar-debar melihat ke samping kereta, dan nama keretanya adalah jeng..,jeng…jeng… “Kereta kematian”…. Halah mampus gue, langsung aja gue nyari kayu trus gue ketok-ketok, buang bala, aduh ampun nyai saya gak jadi deh naek ini kereta, kereta jenazah booo….. LOL
Selesai dari museum kereta, kami kembali berjalan ke arah Malioboro, hari ternyata sudah siang, laper berat melanda kami, akhirnya diputuskan kami mendaki ke lantai 3 Mirota Batik untuk menyantap makan siang. Selesai makan siang, saya dan revi terpisah karena kelaparan mata masing-masing, saya berburu batik dkk, revi entah berburu apa (mungkinkah cowok?? haha). Jujur saja kami benar-benar lama berburu, tas belanjaan saya full, uang saya full juga habisnya, setelah smsan beberapa saat kami janjian untuk menentukan meeting point. Setelah bertemu, kami bersepakat untuk mengunjungi suatu store yang menjual gadget. Kebetulan kami berdua gadget mania yang suka lapar mata namun untung gak berduit hahaha…. Tapi hari itu, sungguh hari penghabisan duit kali ya, setelah negoisasi yang lama dan cukup a lot akhirnya gue ngeluarin duit juga untuk membeli sebuah gadget yang gue impi-impikan setahun lamanya LOL.
Hari telah menjelang malam, hujan mengguyur dengan derasnya, untung bawa payung, kami terus berjalan, singgah di tempat makan sebentar. Hal lucu terjadi lagi, di tempat makan ini saya banyak sekali melihat orang hamil yang makan, mungkin mereka ngidam daging bebek kali ya, secara rata-rata mereka melahap bebek di meja makannya dengan lahap (teori ngasal gue).
Selesai makan saya melipat celana panjang saya hingga selutut, lalu mulai berjalan di bawah payung sampai di rumah dengan badan lelah, basah, seneng juga. Langsung mandi, beres-beres barang belanjaan, trus langsung terkapar tidur kelelahan dan revi bilang malam itu saya mengigau haahahha….
Paginya bangun, tenggorokan saya terasa sakit, hidung saya meler, halah gawat saya terserang flu karena maen ujan-ujanan kemaren. Akhirnya hari itu saya habiskan dengan beristirahat dan nonton film di rumah karena kondisi tubuh yang down. Sore berangkat ke gereja, cukup unik dan menarik karena lagu-lagu rohani di gereja ini di aransemen jadi keroncong ala Jawa gitu. Malam harinya mencoba jalan-jalan ke Gramedia, mengobati penyakit saya yang rada gila pada buku, kemudian pulang dan beristirahat.
Keesokan paginya, kembali hunting. Sarapan sekaligus makan siang di House of Raminten, kemudian mulai berjalan ke arah tugu Yogya, mengambil barang pesanan di Malioboro, dan jam sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore, kami segera bergegas untuk pulang, mengingat travel saya hari ini dijadwalkan pukul 4 sore ke Salatiga.
Sampai di rumah segera packing, wow tas saya ternyata telah melahirkan 2 anak atas jadi total tas jadi 4 tas, mencoba membongkar lagi dan mengefisienkan barang bawaan ini sehingga jadilah 3 tas, hmm cukup menolong…. Sambil menunggu travel menjemput, saya dan revi saling curhat gak jelas (moment yang jarang terjadi di kost dulu, mengingat saya jarang di kost karena kesibukan di kampus), tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5.30 sore, travel sudah menjemput saya, saya segera naik, tidurrrrrrr, sampai di Salatiga dengan selamat sentosa, tapi apa yang terjadi di kost?? Kost saya jadi kerajaan tikus selama saya tidak ada, bingkai photo pecah karena jatuh tersenggol tubuh tikus sialan itu, lalu kertas memo BPMU gue digigit tikus juga, argghhh…. Kerja rodi malam-malam, membersihkan sisa-sisa kenakalan mereka, hmmmmffftthhh…….. selesai, mandi, tidurrrr……. Zzz…Zzzz…zzzzz…..
Minggu, 20 November 2011
Gak Usah dipaksakan!!!
Kadang gue bingung deh, kenapa sih orang kudu "mekso" merubah dirinya untuk sesuatu yang gak banget.... Misalnya nih ya, elo berubah gara-gara pacar baru loe itu pengen loe pake high heels nah padahal aslinya elo kagak suka bahkan ga "lihai" ngegunain ntuh heels, lha apa kagak elonya keblinger mekso make ntuh barang???!!
Trus ne ada 1 contoh lagi, apa elo kudu mekso juga kalo ngarep orang yang elo suka juga suka ama elo, jalani aja denga santaiiiiii coyyy, gak usah dipaksakan pake acara dandan berlebihan segala pula kan buat narik perhatian si do'i. mendingan santai, biasa aja, gak usah ribet lah...
Nah ada lagi neh, elo tuh kudu understand gitu lah intinya ama kapasitas diri, gak usah dipaksakan elo bisa ngelakuin semuanya (bahasa kasarnya gue bilang itu "serakah"). misalnya neh elo uda punya tanggung jawab dalam mengelola 1 pekerjaan atau bahkan 2 kegiatan dan itu aja uda menyita waktu serta pikiran elo, lha yo jangan elo terima lagi kerjaan yang dateng, ya di delegasikan aje nape.... Delegating coy delegating.....
Dibalik itu semua gue cuma mau bilang, "just be your self" guys..... Yang nyiptain elo tuh uda ngerancang dengan sedemikian rupa indahnya, jadi diri sendiri itu bikin hidup terasa lebih nyaman menghadapi segalanya (cobaan hidup sekalipun) hahahahha......
By. RFL
Kamar kost, ngetik sambil ngelantur gak jelas dan emosi tingkat tinggi pol....
Gue berharap my housemate ntuh segera nyadar gitu yah kalo dia uda bikin gue emosi gila2an pagi ini karena dia melanggar peraturan bahkan berkali-kali melanggarnya dan itu benar2 bikin gue gak nyaman (usir tuh pacar loe!!!!!!)
Jumat, 28 Oktober 2011
Sulit kubayangkan
Malam ini aku pulang ke kost dengan langkah gontai, selain karena seharian ini bolak-balik kantor walikota sampai 4 kali, bolak balik kantor Biro Kemahasiswaan 2 kali karena mengurus beasiswa, kemudian juga bolak balik Bank 2 kali untuk mengurus pembayaran kuliah dan kursus bahasa, ditambah lagi mengikuti kursus bahasa, lalu harus rapat pimpinan BPMU yang cukup menguras otakku, aku sedang dalam masa recovery pasca gejala tifus yang melanda tubuhku.
Sebelum pulang dan setelah rapat pimpinan, aku beserta teman-teman berkunjung ke rumah seorang kakak yang jaraknya cukup “lumayan”. Mencoba menghibur diri bersama teman dan kakak-kakak di sana. Sulit bagiku menceritakan detail isi pikiranku saat itu ketika ada seorang kakak berbalasan sms dengan dia. Entah apakah ini hanya interpretasiku saja atau bagaimana aku juga bingung, atau mungkin juga aku terlalu lelah untuk berpikir jernih, secara tersirat aku ada merasakan aura kemarahan/ tersinggung/ merasa tidak dihargai atau apapun lah itu namanya. Namun coba kubuang jauh-jauh perasaan itu dan menikmati saja gelak tawa yang terjadi saat itu.
Dalam perjalanan pulang, pada belokan menuju kost aku berjalan sendirian dan pikiranku mulai dipenuhi kejadian sms tadi, aku berjalan tertunduk sampai hampir saja tidak mendengar mantan Ketum SMU menyapaku di perempatan lampu lalu lintas, aku balas menyapa dan melanjutkan perjalananku dengan kepala tertunduk lagi sampai melewati sebuah kios buah, aku membeli 2 kilogram Mangga yang wanginya sungguh menggoda. Dengan tangan kanan menenteng plastik berisikan mangga aku melanjutkan perjalanan menuju kost dan kembali terus berpikir. Sampai di kost, aku mencuci kaki dan muka kemudian berbaring di kasur empukku, namun kantuk tak kunjung datang, yah inilah kelemahanku, bila ada pikiran yang belum terselesaikan dan masih membuatku penasaran, semua akan berdampak pada keseluruhan sistem tubuhku, yah insomnia again.
Akhirnya aku bangkit dan mengambil pisau, kemudian mulai mengupas mangga sambil melamun dan secara tak sadar aku telah mengupas kulit seluruh mangga yang kubeli tadi. Mau tak mau aku menghabiskan mangga-mangga itu mengingat tak ada kulkas di kost. Aku menghabiskan mangga pun dalam “ketidaksadaran”, aku terus berpikir dan mencoba flash back mulai dari 2 tahun lalu sampai detik ini. Handphone ku berdering, aku mulai mengumpat, “siapa yang menelpon tengah malam begini?”, hmm, sahabatku dari seberang sana ternyata, mentang-mentang Negara tempat dia berada sekarang sedang siang, halah. Dia mulai bercerita ngalor ngidul, hingga pada akhir pembicaran dia mengungkapkan, ”Fit, kita tuh gak bisa nentuin kapan dan pada siapa kita jatuh cinta”, nah lho… aku yang masih melongo ria serta speechless, belum sempat menjawab dia langsung memotong, “hai, udah ya, nelpon lu mahal, I love you neng, byee”, klikk. Hah, ne orang lagi sedeng kali yak uda nelpon-nelpon tengah malam, curhat-curhat gak jelas, eh tiba-tiba nutup telepon seenak jidat hahahaha. Back to…..
Dua tahun lalu, aku pertama kali melihatnya, mulai menyukai karyanya, mulai mengaguminya dan stagnan walau tidak mengenalnya secara mendalam. Spend my time to like orang yang “dingin”. Mengapa yah aku sampai bisa segitunya?? Ga jelas banget kan hux…hux…hux…. Tapi mungkin ini salah satu “kekeliruan” yang kulakukan, aku mengagumi orang yang sama sekali tak ku kenal dengan baik, hanya lewat tulisan-tulisannya saja. Dulu ada abang yang pernah bilang, kita bisa menilai orang apalagi cara dan struktur gaya berpikirnya dari tulisannya (satu sisi doank). Lha akhirnya aku terjebak dalam pemikiran itu, tulisan-tulisan serta karya-karyanya menurutku keren, luar biasa menarik, aku lalu kagum padanya, teman-teman mulai menggosip, aku akhirnya pasrah saja dengan semua gossip-gosip itu, sampai pada akhirnya aku dihadapkan pada realita yang sesungguhnya.
Ya, memang benar kita tidak dapat menilai orang dari satu sisi saja, terlalu abstrak bila begitu. Aku akhirnya mulai mencari dan meraba informasi, dia orang yang sangat baik memang ternyata namun nobody is perfect khan….. Dia sangat mudah mengata-ngatai orang lain dan bila orang tersinggung kembali lagi dia menyindir ketersinggungan orang itu dengan tulisan-tulisannya. Positifnya orang dapat instropeksi dan melakukan perbaikan-perbaikan bila memang salah. Namun anehnya bila ada orang yang mengata-ngatai, lha dianya kok ya marah, buset dah. Marahnya pun gak tanggung-tanggung pula, dengan kata-kata yang menyakitkan pula, aku melihat orang-orang di sekitarku yang diperlakukan seperti itu hanya tertegun dan tak dapat berkomentar apa-apa, hanya diam sambil sedikit merenung tentangnya.
Mungkin terlalu dini bila menyimpulkan karena selama ini dia berucap kasar sekalipun, aku tetap anteng-anteng aja, cuek, walau sesekali sebal jua. Apa mungkin juga orang-orang dan dia saat kejadian sedang dalam kondisi kurang baik sehingga emosi sedang labil, yah mungkin saja. Tapi di balik itu semua, mungkin dapat diambil hikmah bahwa setiap pribadi diciptakan dengan keunikan-keunikan dan salah satunya adalah sikap yang juga unik. Maka toleransilah yang harus semakin ditingkatkan menghadapi keunikan-keunikan tersebut. Mungkin juga sulit diaplikasikan, aku pun sulit mengaplikasikannya hahaha…. Dalam satu pribadi tidak mungkin dia jahat seutuhnya, pasti tetap ada sisi kebaikannya juga, begitu juga sebaliknya. Tetap rendah hati dan bijaksana saja menjalani hidup ini :)
Salam dari keheningan Laboratorium Mikrobiologi
Rachel Fitria, 28 Oktober 2011, 14.09 WIB
Selasa, 20 September 2011
Kebetulan kah???
Aku tidak bisa berhenti tertawa malam ini. Berawal janji untuk makan malam bareng dengan seorang kakak, pulangnya kami menggosip dan membicarakan orang. Mengingat jalan yang sepi, maka kami tanpa segan berbicara nyaring-nyaring dan tertawa sekeras-kerasnya. ketika melewati sebuah tikungan jalan, kami masih membicarakan seseorang sambil tertawa, tak dinyana ada beberapa orang berjalan berlawanan arah dengan kami, mataku tidak dapat melihat jelas karena lampu yang remang dan aku langsung terkejut ketika menyadari siluet tubuh orang-orang berjalan di depan kami ini ku kenali dengan jelas dan orang-orang itulah yang sedang kami bicarakan hahahaha......
Akhirnya dengan wajah sok elegan menyapa dan mengajak bicara sebentar, yak ampun setelah berpisah, aku tak henti-hentinya tertawa, orang yang dibicarakan malah muncul di depan mata, memang mulut itu punya gaya tarik bumi hahahahah............
Sabtu, 17 September 2011
Renungan Kekonyolan
Siang hari ini aku merenung sendiri, listrik di kost sedang error, jadilah kamarku gelap, baterai laptop habis, baterai handphone low nyaris tewas juga, sehingga aku bingung pengen ngapain. Jalan ke luar, hmm… rasa malas melanda lagipula cuaca mendung disertai gerimis. Jadilah aku duduk di lantai kamar, bersandar pada dinding kamar yang dingin, kaki berselonjor bebas, kupejamkan mata dan aku jadi teringat sesuatu dan aku mulai kembali ke kejadian itu dalam imajinasiku.
Pagi-pagi sambil menatap terbitnya matahari, eyang dan kakak perempuan menasihatiku. Nasihat yang diberikan sambil bercanda itu tak dinyana jadi renunganku jua haha…. Eyang bilang, “Fit, kamu itu sudah masuk dalam masa breeding, jadi kapan punya teman special?” aku langsung tertawa dan kakak menimpalinya, “iyo fit, rasanya beda kalo punya”. Dua lawan satu, akhirnya aku menjawab sambil sesekali tertawa, “saya kebanyakan kerjaan eyang, jadi ga mau nambah kerjaan lagi haha…”, eyang langsung menjawab, “lha yo cari yang bisa ngasih spirit tho”, aku menjawabnya hanya dengan tawa saja saat itu.
Hari ini 17 September 2011, hmmm…. Aku jadi teringat 2 tahun kurang 1 bulan yang lalu tepatnya 17 Oktober 2009, tanggal yang tak mungkin terlupa. Tepat hari itu aku pertama kali melihat sosoknya, tak ada yang special saat itu, cuma sedikit kejengkelan saja karena kelelahan saat itu. Selang beberapa bulan setelahnya aku baru mulai mengaguminya perlahan-lahan wakakakakkakakkkk…….. mungkin di mata orang-orang, dia biasa saja, tapi bagiku, hmmm gimana ya? Sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata hahay…..
Yup, ternyata bukan aku saja yang merasakan kagum padanya, kakak perempuan yang satu juga, wah jadilah aku merasa tak enak hati sendiri dan menguburnya dalam-dalam. Aku tahu dia lebih kenal duluan, aku juga tau si sosok itu has something pada seseorang, sulit lah rasanya. Cukup mengaguminya saja, itu sudah cukup. Ya, cukup itu saja sudah cukup. (lha kok jadinya ngomongin cukup-cukup terus?? hahaha)
Ya, melihat dia tersenyum saja, itu sudah cukup, melihat dia dengan wajah seriusnya, itu juga sudah cukup, semuanya cukup, aku kadang bisa berbagi cerita dengannya, itu sudah sangat-sangat cukup, benar begitu? Hahahahaha… mungkin begitu lah, aku juga tak tahu bagaimana….
Kembali lagi dengan percakapan di pagi hari bersama eyang, “hmmm… ya eyang, saya uda kagum dengan seseorang dari dua tahun lalu, tak terungkapkan, sulit dibayangkan, biar begitu saja, waktu yang menjawab, walau saya tahu itu tak mungkin hahahaha”. Kalo eyang minta saya untuk mencari, udah ada eyang tapi gak mungkin, itu masalahnya, hati saja udah mentok tok tok tok, ga bisa kagum orang lain selain dia dari 1,5 tahun lalu sampai sekarang, kalo eyang tanya mengapa, lha masalahnya saya juga tak tahu mengapa eyang hahaha……
“Tikk”, eitz lampu kamarku menyala, terasa silau, aku membuka mata, gerimis telah berhenti, matahari mulai terlihat menyinari langit siang ini, aku menatap handphone, mengetik sms…. tapi tak jadi ku kirim, aku memilih melempar handphone itu ke atas kasur dan aku berdiri, meregangkan otot sejenak, lalu berkutat depan laptop, membuka kembali photo-photo dua tahun kurang satu bulan itu sambil tersenyum-senyum sendiri layaknya orang sinting hahahahaha…….
By. Rachel Fitria
Kamar Kost, 17 September 2011, at 21.21 WIB
Nostalgila gila-gilaan
10 September 2011, hummm….. aku duduk di belakang sederet dengan teman-teman fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan. Yahhh… tidak terasa 2 tahun berlalu sejak aku jadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Biologi dulu dan ini sudah kedua kalinya aku datang ke Rapat Kerja Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Biologi dengan sebagai undangan, periode lalu aku sebagai undangan dari Senat Mahasiswa Universitas (SMU), kali aku datang sebagai undangan dari Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU).
Hari ini aku duduk paling belakang bersebelahan dengan partner kerjaku di BPMU, kak Carmen Matheis. Pertama kali masuk dalam ruangan tadi, aku langsung merasakan atmosfer yang dulu pernah kurasakan dua tahun lalu, bedanya dulu aku gugup setengah mati karena baru pertama kali ikut dalam rapat kerja sebagai penanggung jawab tertinggi pula, namun sekarang aku sangat ringan melangkahkan kakiku ke dalam ruangan karena selain kali ini aku yang mengkritisi bukan yang dikritisi, aku juga seperti merasa ini momenku, momen seperti dua tahun yang lalu.
10 Oktober 2009, aku melakukan rapat kerja LKFB bersama rekan-rekan sekerjaku. Masih terekam jelas diingatanku, ketua-ketua bidangku saat itu melakukan presentasi rencana program kerja, adapun ketua-ketua bidangku saat itu adalah Tri Kurnia Kristiani Waruwu (KaBid Humanistik Skill), Teodora Gloria Destiananda (KaBid Professional Skill), Jily Gavrila Sompie (KaBid Kesejahteraan Mahasiswa). Mempertanggungjawabkan rancangan program kerja, mempertahankan konsep dan menerima banyak kritik dan masukan, hmmm hal biasa dalam rapat kerja.
Selama periode berjalan, dinamika-dinamika terus terjadi, kekecewaan, kejengkelan, kemarahan, sukacita, duka-dukaan, aku lewati bersama rekan-rekan. Persahabatan yang akhirnya pecah karena perbedaan ideology juga terpaksa aku rasakan. Sakit? Ya jawabnya, tapi mau apa lagi, posisiku saat itu menuntutku untuk tetap maju dengan menanggung segala resiko, terberat sekalipun. Kehilangan? Ya juga jawabnya, kegagalanku adalah tidak mampu memperbaikinya. Sulit rasanya, manajemen konflik yang kuterapkan dalam organisasi sama sekali tidak mampu kuterapkan dalam pribadiku, hmmm sudahlah. Bersyukur pernah terjadi konflik besar, aku tidak pernah menyesali itu, karena lebih baik seperti itu daripada melihat orang-orang datang dengan bercucuran air mata. Walau banyak yang mencaci, menyesali perbuatan yang kulakukan, aku tidak menjawab mereka, aku punya jawabannya sendiri yang toh akhirnya mereka rasakan juga, ya aku tidak pernah lupa akan nasihat, “Jangan pernah marah/ kecewa pada orang yang tidak tahu/ mengerti”.
10 September 2011, kini aku sebagai Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas, hadir kembali dalam rapat kerja LKFB sebagai undangan, Jily sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Biologi, memimpin rapat kerja ini bersama Tri sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Biologi, dan tidak lupa Teodora sebagai Ketua Komisi Program BPMFB sekaligus Koordinator Satgas rapat kerja ini. Hmmm…. Bertemu dalam momen yang sama namun berbeda posisi, benar-benar mencampuradukkan perasaanku saat itu. Tahun lalu ketika Titon yang menjadi ketua senat, aku sama sekali tidak merasakan atmosfer ini. Ya periode seakan de javu gitu deh hahahahaha……….
11 September 2011, pagi ini aku ke gereja, duduk di tengah-tengah jemaat, terpaku dengan tema yang diangkat pendeta adalah tentang persahabatan. Dua kakakku di samping sudah tertawa cekikik, sedangkan aku terdiam terpaku sambil termangu, tambah lagi si pendeta menyanyikan lagu yang sering digunakan kakak-kakakku ini untuk meledekku seperti biasa, “Persahabatan bagai kepompong……..” pulang dari gereja pun, kakak-kakak tiada henti-hentinya meledekku, huffftttt….. kadang ada yang tidak bisa aku ungkapkan para kakak, nasihat papi DNA juga tak mampu menembus ketebalan dinding hatiku, sulit sekali God, aku tidak tahu harus bagaimana, aku perlu waktu, bila ada yang bertanya, “berapa lama lagi fit?”, tidak tahu jawabku pasti. Bila ada yang berkata, “mumpung masih ada kesempatan fit”, “biar saja apa adanya”, itu pasti jawabku. “Biar waktu yang menjawabnya, Tuhan pasti menyediakan moment itu kelak, dan aku yakin itu”
By. Rachel Fitria
11 September 2011, 09.50 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)

