“Jangan
pernah menjaminkan rasa pada waktu, karena ia punya masa kadaluarsanya”, begitu
ucap Windy Ariestanty dalam bukunya “Life Traveler”. Saya merenung beberapa
saat karena kalimat ini. Hmmm... ada benarnya juga. Segala sesuatu di dunia ini
memiliki masa kadaluarsanya, begitu juga rasa. Ibarat makanan, yang ketika “fresh
from the oven” berasa enak bila sudah beberapa saat bisa saja berubah rasa,
basi. Mungkin ini juga yang berlaku pada rasa di hati.
Saya
duduk di dalam Bus Trans Yogya, di pojok, jadi saya bisa mengamati keadaan sekitar
saya. Ada pasangan yang baru naik dari shelter ring road utara, bergandengan
tangan. Saya teringat masa lalu. Dulu, saya pun pernah melakukan perjalanan
bersamanya, naik dari shelter yang sama, shelter ring road, mengantarnya
memperbaiki alat laboratorium di bengkel di areal ring road. Buat saya, dia
pasangan yang menyenangkan, selalu menjaga saya terutama bila kami sedang
traveling bersama. Dia selalu menggandeng tangan saya.
Sampai
kemudian kami saling menjauh. Kami saling diam. Namun meragu memang sifat
manusia. Saya bisa luluh bila ia muncul di hadapan saya. Saya bisa saja
melupakan semua dan menganggap kami baik-baik saja. Selama dua tahun, saya
membuka semua opsi untuk hubungan ini. Mungkin ini yang membuat saya tak
bersikap. Saya memilih bungkam. Saya anggap kami hanya butuh jeda dan nanti
kalau sudah bertemu waktu yang pas, kami bisa membicarakannya baik-baik. Setelah
itu, mungkin saja kami memutuskan tinggal. Yang pasti, saya tidak akan
memintanya tinggal bila dia ingin pergi. Namun mungkin masa kadaluarsa ini saya
mengalaminya juga.
Butuh
waktu setahun untuk menyadari bahwa saya tidak baik-baik saja selama ini. Dan hanya
butuh sendiri selama tiga puluh menit untuk merenung dan memahami perasaan itu
telah menepi. Diam-diam pergi tanpa permisi. Meninggalkan saya dan dia sendiri.
Lalu waktu lah yang menyadarkan saya, ya... semua punya masa kadaluarsa,
termasuk rasa.
Akhirnya saya simpulkan, semuanya
telah selesai. Hubungan kami expired.
Kami benar-benar selesai. Yes, it’s done
already. Full stop. No coma no space. There is no option but done itself.
Ya,
pada akhirnya semua harus memilih. Mana bisa kita terus berada di area abu-abu
dan meminta waktu yang memutuskan? Tidak. Waktu tak pernah memutuskan apapun
untuk kita. Kita yang harus bersikap.
Saya
sakit. I am not fine. I am definitely in
pain. Dan ternyata, mengakui bahwa saya tidak baik-baik saja justru membuat
saya merasa lebih baik. It’s not worth
waiting for. I have to move on. Sometimes, we have to spend so much time coming
up with a conclusion that we already know. Like me.
Bila
saat ini ia datang lagi, menawarkan kejelasan kembali atas hubungan kami, saya
tak dapat kembali lagi. Saya menganggap ini sudah kadaluarsa. Ia hanya bagian
dari masa lalu saya. Dan saya berprinsip, masa lalu ya masa lalu, letakkan ia
di masa lalu, jangan letakkan ia di masa depan. Namun jangan lupakan, saya
mencintainya, namun dengan cara yang berbeda. Saya mencintainya dengan cara
saya sendiri, yang mungkin hanya saya (dan dia) yang dapat mengerti. Saya mencintainya
sebagai sahabat saya. Sahabat terbaik, karena ia punya makna khusus dalam hidup
saya dan sedikit banyak jauh lebih mengerti tentang saya daripada kebanyakan
teman atau sahabat lainnya.
I decided to consider him as one
of my best friends. Thank you for being nice
Rachel Fitria
Yogyakarta, April 2015
(sebagian
disadur dari “Life Traveler” karya Windy Ariestanty)