“Bapa, aku mencintai
bukan karena fisiknya, bukan karena parasnya, aku mencintai karena waktuMu
mempertemukan kami. Bapa, seandainya hal terburuk pun harus terjadi padanya dan
Engkau mengembalikan dia padaku saat tubuhnya tak sempurna lagi, aku pasti
menyambutnya dengan sukacita. Yang ku mau bersamanya dalam keadaan apapun,
dalam keadaan sempurna ataupun tidak, dalam kekurangan atau berkecukupan. Amin.”
Saya termangu membaca
status seorang sahabat saya di salah satu jejaring sosial. Saya tahu dia tidak
sedang bermain-main dengan statusnya, saya tahu itu isi hatinya. Silakan sebut
saya orang yang sok tahu, tapi itulah kenyataannya. Saya mengenalnya, saya
sedikit mengerti apa yang dirasakannya. Saya menjadi saksi ketika dengan
sabarnya dia masih menunggu, dia masih tetap bersukacita dalam segala
keadaannya, dia dengan tegar menghadapi segalanya. Dia masih sama, ekspresif,
spontan, ceria, ya sama seperti sepuluh tahun lalu.
Ketika orang-orang di
sekitarnya mencibirnya, meremehkannya, bahkan mengatainya bodoh karena setia
pada yang tak setia, bodoh karena umur yang masih muda namun memilih tetap di
satu hati, namun dengan tersenyum dia menjawab, saya cinta suami saya, gak akan
saya tinggalin dia, bagaimanapun dia pilihan hidup saya.
Saya merenung panjang,
ya inilah pernikahan. Ingat sumpah yang diucapkan di hadapan Tuhan kan? Setia
hingga maut memisahkan, tetap bersama dalam keadaan apapun! Saya sadar saya
belum menikah dan terkesan tak pantas untuk berkomentar soal pernikahan, tapi
saya mau belajar, belajar memahami sebelum saya masuk ke dalamnya. Saya melihat
setiap perceraian, ada sahabat, saudara yang mengalami ini, jujur saya sedih.
Saya berpikir sumpah di hadapan Tuhan bukan hal main-main, menerima pasangan
apa adanya dan ada apanya. Tapi dalam setiap kasus perceraian ada masalah
perselingkuhan, tidak se-visi lagi, tidak ada kecocokan lagi, yah waktu memang
kadang mengubah sesuatu. Jujur saya tidak terlalu paham alasan personal mereka,
namun saya sedikit mengerti ketika kita tak mampu lagi “mengendalikan”
seseorang yang kita cintai. Ketika kita setia namun dia tak setia dan memilih
pergi, ketika kita tak mampu menahan langkahnya dan dia tak ingin bernegosiasi
lagi. Yah hubungan itu kan soal kedua belah pihak. Dengan segala keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman, saya cuma bisa bilang, “please, dua-duanya ingat
lagi sumpahnya di hadapan Allah”. Gak ada masalah yang gak bisa diselesaikan,
dan perceraian bukanlah pilihan.
Saya pernah berada
dalam tahap meragu, untuk apa menikah, untuk apa bersumpah di hadapan Tuhan
kalau dikemudian hari untuk bercerai? Kan kita gak tau apa yang akan terjadi di
depan sana, orang yang paling kita cintai bisa saja berubah menjadi orang yang
paling kita benci dikemudian hari. Tapi justru dari seorang yang pernah
meninggalkan saya lah yang mengajarkan bahwa, “segala sesuatu itu diijinkan
terjadi”. Dari situlah saya berpendapat bahwa Tuhan mempertemukan dengan segala
rencanaNya yang baik. Tuhan ingin kita bersama dengan yang dipilihkanNya, itu
yang terbaik. Tuhan menunjukkan segala kebaikan dan keburukan sekaligus hingga
kita sanggup bersumpah di hadapanNya. Tuhan selalu mendampingi kehidupan kita
bersamanya, Tuhan selalu memberi pengujian agar kita tetap saling mendukung dan
kita tahan uji. Dan saya yakin bahwa perceraian bukanlah hal yang diijinkan
terjadi, sama halnya dengan analogi bunuh diri, ini tidak diijinkan, tapi
manusialah yang semena-mena membuat itu terjadi, inilah yang disebut kehendak
bebas. Tuhan mengasihi dan mencintai kita dengan membebaskan, tanpa paksaan, bahkan
mengijinkan kita meninggalkanNya namun Ia tetap menunggu kita untuk kembali
juga sering meminta kita untuk kembali.
Inilah terbatasnya
pemahaman saya, tapi saya yakin bahwa perjuangan sahabat saya menunggu pasti
ada hal baik akan terjadi. Pintu maaf selalu terbuka, pelukan hangat selalu
menunggu, kecupan manis selalu dilontarkan walau dari jauh. Pulanglah ke rumah
orang yang menunggumu, yang menunggumu dengan kasih penuh dan menerimamu apapun
keadaanmu :).
Selamat berbahagia dan pulanglah ke tempat yang disebut “rumah” :).
