Belanda lagi-lagi
berinovasi, tak heran negara ini dijuluki sebagai negara paling inovatif. Kali
ini inovasi dilakukan oleh seorang professor berkebangsaan Belanda, Erik
Schlangen namanya. Beliau merupakan peneliti di Delft University of Technology.
Penelitian mutakhirnya bertema “self healing” dengan material aspal. Terdengar
rumit memang, bagaimana mungkin benda mati semacam aspal dapat menyembuhkan
dirinya sendiri bila mengalami kerusakan/retak? Tapi penelitian ini membuatnya
mungkin!
Erik mengembangkan
aspal yang memiliki kemampuan untuk “menyembuhkan” dirinya sendiri pada bagian
yang mengalami keretakan disebabkan pembebanan. Aspal yang dikembangkan ini
meniru proses penyembuhan tulang ketika mengalami patah/ retak. Struktur tulang
terdiri dari dua bagian, bagian luar sifatnya keras dan bagian dalam bersifat
lunak dan berpori layaknya spons. Pada bagian dalam tulang inilah tersusun jaringan
dengan kemampuan menyembuhkan. Jadi ketika tulang mengalami keretakan, di
daerah sekitar keretakan darah akan membeku dan membentuk jaringan baru yang
menyambung bagian yang patah.
Prinsip penyembuhan
tulang ini pula yang terjadi pada aspal buatan erik. Erik melakukan pendekatan
penelitian dengan mengaktifkan proses “penyembuhan” aspal melalui pemanasan
induksi untuk meningkatkan daya tahan aspal. Untuk itu erik menambahkan materi
khusus, serat baja. Jadi proses penyembuhan aspal ini, ketika aspal retak maka
serat baja akan meleleh melalui pemanasan dan langsung menutup keretakan. Suhu
pemanasan yang optimal adalah 850C, pemanasan yang terjadi berulang
kali tidak akan menurunkan kualitas aspal, jadi berkali-kali dipanaskan pun,
aspal ini akan tetap melakukan “penyembuhan” sendiri bila retak. Penambahan
materi khusus seperti serat baja memiliki alasan yang sangat masuk akal, karena
material ini dapat dijadikan penghantar elektrik dan panas dalam proses
pemanasan. Setelah proses pemanasan dan aspal mulai mendingin, maka aspal akan
kembali ke bentuk semula sebelum retak dan akan membuat pori-pori aspal menjadi
lebih kecil dan membuat aspal memiliki daya tahan lebih lama. Pengecilan
pori-pori ini sangat berdampak bagi ketahanan aspal, karena semakin besar
pori-pori akibat oksidasi, maka pori-pori tersebut dapat dimasuki kerikil dan
membesar sehingga membentuk lubang dan retak.
Aspal merupakan
material yang paling banyak digunakan hingga mencapai delapan milyar meter
kubik dan setiap 100 kilogramnya mengeluarkan 20 kilogram emisi CO2.
Dengan self-healing
concrete lingkungan dan sumber daya alam dapat terjaga
kelestariannya dan juga menghemat biaya. Erik sudah menguji coba material ini
di jalan tol A58 pada bulan Desember 2010 yang hasilnya sangat memuaskan, jalan
ini bertahan hingga dua musim. Dengan aspal ini maka pemerintah tidak perlu
mengeluarkan banyak biaya untuk perbaikan jalan. Aspal buatan Erik ini diyakini lebih efisien dari segi waktu,
biaya, dan juga lebih aman dinilai dari faktor lingkungan. Karena metode self-healing concrete diyakini
dapat memperpanjang usia jalan hingga 30 tahun dibandingkan dengan metode recycling.
Dari hasil pengamatan
lapangan, aspal menunjukkan ketahanan yang baik, dengan kapasitas “penyembuhan”
yang tinggi. Di sini dapat disimpulkan bahwa penyembuhan dengan metode
pemanasan induksi ini sangat baik untuk meningkatkan daya tahan aspal. Bukan
tidak mungkin, Indonesia bisa menerapkan teknologi ini, lihat saja jalanan
aspal kita yang berlubang-lubang. Berapa rupiah yang harus digelontorkan untuk
menambal kembali aspal-aspal berlubang tersebut? Bukankah dengan kemajuan
teknologi ini, negara kita bisa berhemat untuk masalah infrastruktur yang
sekarang didengungkan oleh pemerintah.
Referensi: