Rabu, 29 April 2015

Self Healing Concrete : Pengembangan Proyek Materi Aspal yang Dapat Memperbaiki Diri Sendiri



Belanda lagi-lagi berinovasi, tak heran negara ini dijuluki sebagai negara paling inovatif. Kali ini inovasi dilakukan oleh seorang professor berkebangsaan Belanda, Erik Schlangen namanya. Beliau merupakan peneliti di Delft University of Technology. Penelitian mutakhirnya bertema “self healing” dengan material aspal. Terdengar rumit memang, bagaimana mungkin benda mati semacam aspal dapat menyembuhkan dirinya sendiri bila mengalami kerusakan/retak? Tapi penelitian ini membuatnya mungkin!

Erik mengembangkan aspal yang memiliki kemampuan untuk “menyembuhkan” dirinya sendiri pada bagian yang mengalami keretakan disebabkan pembebanan. Aspal yang dikembangkan ini meniru proses penyembuhan tulang ketika mengalami patah/ retak. Struktur tulang terdiri dari dua bagian, bagian luar sifatnya keras dan bagian dalam bersifat lunak dan berpori layaknya spons. Pada bagian dalam tulang inilah tersusun jaringan dengan kemampuan menyembuhkan. Jadi ketika tulang mengalami keretakan, di daerah sekitar keretakan darah akan membeku dan membentuk jaringan baru yang menyambung bagian yang patah.

Prinsip penyembuhan tulang ini pula yang terjadi pada aspal buatan erik. Erik melakukan pendekatan penelitian dengan mengaktifkan proses “penyembuhan” aspal melalui pemanasan induksi untuk meningkatkan daya tahan aspal. Untuk itu erik menambahkan materi khusus, serat baja. Jadi proses penyembuhan aspal ini, ketika aspal retak maka serat baja akan meleleh melalui pemanasan dan langsung menutup keretakan. Suhu pemanasan yang optimal adalah 850C, pemanasan yang terjadi berulang kali tidak akan menurunkan kualitas aspal, jadi berkali-kali dipanaskan pun, aspal ini akan tetap melakukan “penyembuhan” sendiri bila retak. Penambahan materi khusus seperti serat baja memiliki alasan yang sangat masuk akal, karena material ini dapat dijadikan penghantar elektrik dan panas dalam proses pemanasan. Setelah proses pemanasan dan aspal mulai mendingin, maka aspal akan kembali ke bentuk semula sebelum retak dan akan membuat pori-pori aspal menjadi lebih kecil dan membuat aspal memiliki daya tahan lebih lama. Pengecilan pori-pori ini sangat berdampak bagi ketahanan aspal, karena semakin besar pori-pori akibat oksidasi, maka pori-pori tersebut dapat dimasuki kerikil dan membesar sehingga membentuk lubang dan retak.

Aspal merupakan material yang paling banyak digunakan hingga mencapai delapan milyar meter kubik dan setiap 100 kilogramnya mengeluarkan 20 kilogram emisi CO2. Dengan self-healing concrete lingkungan dan sumber daya alam dapat terjaga kelestariannya dan juga menghemat biaya. Erik sudah menguji coba material ini di jalan tol A58 pada bulan Desember 2010 yang hasilnya sangat memuaskan, jalan ini bertahan hingga dua musim. Dengan aspal ini maka pemerintah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk perbaikan jalan. Aspal buatan Erik ini diyakini lebih efisien dari segi waktu, biaya, dan juga lebih aman dinilai dari faktor lingkungan. Karena metode self-healing concrete diyakini dapat memperpanjang usia jalan hingga 30 tahun dibandingkan dengan metode recycling

Dari hasil pengamatan lapangan, aspal menunjukkan ketahanan yang baik, dengan kapasitas “penyembuhan” yang tinggi. Di sini dapat disimpulkan bahwa penyembuhan dengan metode pemanasan induksi ini sangat baik untuk meningkatkan daya tahan aspal. Bukan tidak mungkin, Indonesia bisa menerapkan teknologi ini, lihat saja jalanan aspal kita yang berlubang-lubang. Berapa rupiah yang harus digelontorkan untuk menambal kembali aspal-aspal berlubang tersebut? Bukankah dengan kemajuan teknologi ini, negara kita bisa berhemat untuk masalah infrastruktur yang sekarang didengungkan oleh pemerintah.

Referensi:

Kamis, 23 April 2015

Guru



Saya tergelitik dengan tulisan seseorang yang mengatakan, “seorang guru merupakan murid yang sesungguhnya”. Setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga. Seorang guru harus terus menerus belajar layaknya seorang murid. Bila ia berhenti belajar maka ia tak layak disebut guru. Tugas guru selain belajar, ya mengajar. Selain mengajar, ya memberi motivasi belajar, supaya yang diajar mau terus belajar. Ribet ya jadi guru, ya itulah resikonya. Makanya guru diberi penghargaan sebagai pahlawan, bahkan dibuatkan lagunya oleh pak Sartono yang berjudul “Hymne Guru”.
Saya salut dengan para guru, terutama yang mengajar hingga pelosok, harus berjalan kaki puluhan kilometer dan mendaki serta menuruni bukit, yang gajinya hanya puluhan ribu per bulan bahkan ada yang tak digaji. Saya sedikit puas karena insentif guru sekarang mulai dinaikkan, walau belum merata. Guru tak hanya mengajar akademik namun juga moral, seperti yang saya sering dengar dari rekan yang guru, seorang teroris pencipta bom itu pintar, namun tak memiliki moral, maka disitu juga terselip dosa gurunya yang tak mengajarkannya moralitas.
Seorang guru bukan orang yang tahu segalanya, namun ia hanya lebih dulu tahu. Makanya ia perlu terus belajar dan rendah hati, karena bisa saja muridnya suatu saat lebih tahu maka ia akan belajar dari muridnya. Kembali lagi pada pernyataan di awal tulisan ini, “seorang guru merupakan murid yang sesungguhnya”.
Semoga para guru dimanapun berada, tetap berpegang teguh pada prinsipnya belajar dan mengajar. Tetap rendah hati, penuh dengan pengabdian, seperti gelar yang disematkan “pahlawan tanpa tanda jasa”.

Menuju Seperempat Abad



Tujuh April itu merupakan tanggal keramat buat saya, karena itu ulang tahun saya. Mungkin bagi beberapa orang momen ulang tahun itu biasa saja, tapi bagi saya itu luar biasa. Suatu kelahiran itu luar biasa, diinginkan atau tidak. Dan yang kelahirannya tidak diinginkan, tetap bagi saya itu luar biasa, karena kelahiran itu hukum alam, ada penciptanya. Contoh saja, sebuah kelahiran bayi manusia tidak akan terjadi bila tak ada pertemuan antara sperma dan sel telur. Kelahiran itu simpel sekaligus rumit, tergantung pemikiran masing-masing.
Tahun ini saya berulang tahun yang ke-24, wah sebentar lagi udah seperempat abad. Saya flash back dan merenung, apa saja yang saya lakukan untuk diri saya sendiri dulu. Hmm... saya sekolah hingga saat ini mencapai level master degree tanpa jeda, pernah pacaran sampai ngerti yang namanya jatuh cinta dan sakit hati, pernah kerja sampai paham capeknya ngumpulin rupiah demi rupiah, pernah terima beasiswa yang bikin ngerti kalo karya dan prestasi kita bisa dihargai orang lain, pernah kecelakaan parah sampai harus mengubur mimpi jadi pemain basket dan tidak bisa berolahraga berat, sisanya saya sudah lupa. Kalo untuk orang lain, mungkin gak banyak yang sudah saya lakukan, paling bikin bangga orang tua waktu wisuda Sarjana, pelukan hangat dari seorang mantan yang katanya saya sudah mengajarkan dia banyak hal, jadi senior yang baik untuk sebuah lembaga mahasiswa di kampus, sisanya saya juga sudah lupa.
Habis flash back, boleh dong punya harapan buat ke depan. Saya pengen banget studi lanjut ke luar negeri!! Yah, kalau bisa ke Finlandia atau Spanyol haha... terus pengen banget jalan-jalan ke Barcelona ama Machu Pichu. Pengen banget jadi pengajar muda di Indonesia Mengajar hoho... dan yang paling pengen adalah beliin rumah buat mama hehe....
Kata orang-orang sih, semakin bertambah umur, semakin bertambah pula tanggung jawabnya. Saya sendiri masih punya tanggung jawab besar untuk orang tua, saya harus segera lulus S2 dan pergi bekerja atau studi lagi dengan beasiswa jadi tidak membebani orang tua lagi. Tanggung jawab saya pada kota kelahiran saya, karena saya seorang sarjana biologi yang belajar ekologi dan saya merasa punya kewajiban untuk membagikan ilmu saya untuk kota saya di Kalimantan “Paru-paru dunia”.
Saya ingin menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar saya, seenggaknya saya mau mengubah sifat saya yang pemarah. Saya ingin lebih positif menghadapi masa depan. Dan oh ya satu lagi, semoga pendamping hidup yang sepadan dapat segera datang dan diresmikan di hadapan Allah , di depan altar :D

#Edisi telat posting