Jumat, 07 Agustus 2015

Direct Assesment Indonesia Mengajar



Minggu lalu, 31 Juli 2015, saya menjalani dirrect assesment (DA) Indonesia Mengajar (IM) di Yogyakarta. Saya dapat memasuki tahap ini setelah lolos tahap pertama, penilaian data diri, pengalaman komprehensif dan penilaian terhadap esai yang dibuat. Yeah, saya bahagia pake banget karena bisa jadi bagian dari 195 orang yang lolos dari 8249 aplikasi yang masuk. Perjuangan membuat esai sebanyak 11 paper terbayar sudah dengan pengumuman yang masuk ke email saya 9 Juni 2015 lalu. Beberapa hari kemudian email dari IM dateng lagi, menerangkan apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi DA dan hal-hal yang menyangkut teknis. DA IM itu ada beberapa tahapan, self presentation, focus group discussion, wawancara (dua kali dengan assesor berbeda), simulasi mengajar, dan tes psikologi.

            Self presentation, saya menghadapi bagian ini dengan amat santai, gimana enggak, lha cuma jelasin saya apa adanya, pengalaman berorganisasi dan mengajar, dan motivasi kenapa mendaftar IM. Saya merasa free saja menjelaskan tentang diri saya, apa adanya, like said this is my self! #sokconfident #sigh. Lagipula pendengarnya cuma peserta kelompok 6 orang plus tiga orang assesor. Kemudian focus group disscusion, memasuki tahap ini, kita diberi sebuah bendel yang di dalamnya menceritakan sebuah polemik yang terjadi di suatu daerah, seperti kesadaran masyarakat daerah tersebut tentang pendidikan dan keadaan ekonomi serta sekolah di daerah itu. Kita diminta untuk memilih salah satu opsi problem solving dari enam opsi yang ditawarkan. Masing-masing mengerjakannya, diberi waktu 25 menit. Setelah itu kita membentuk sebuah kelompok, masing-masing mengutarakan opsi yang dipilih dan alasan kuatnya apa, pertimbangan-pertimbangan pentingnya seperti apa. Sesi ini kita diawasi oleh tiga orang assesor. Di akhir diskusi, kita harus membuat keputusan, tiga opsi terbaik menurut kelompok diajukan. Setelah diskusi alot, akhirnya kami bisa menentukan tiga opsi terbaik versi kami. Dan ingat, keputusan yang diambil tidak boleh hasil voting! Tahap berikutnya adalah wawancara. Saya di wawancarai oleh dua orang assesor, assesor pertama selama satu jam, di assesor kedua cuma setengah jam. Tahap ini nyantai kok, palingan ditanyain seputar essai yang kita buat, pengalaman komprehensif kita, dan selama kita gak bohong waktu ngisi aplikasi online, tahap ini bakal berasa enteng deh. Kemudian yang paling mendebarkan bagi saya adalah tahap Simulasi Mengajar. Bagaimana tidak, saya orang yang berkutat dengan sains bertahun-tahun, namun tema mengajar saya hari itu adalah IPS, "Menceritakan Peristiwa Penting Dalam Keluarga Secara Kronologis". Waduh, saya sampai ngubek-ngubek RPP di internet sebelumnya. Tahap simulasi mengajar ini kita ditemani oleh empat orang alumni pengajar muda (PM). Karena mereka telah berpengalaman mengajar di pelosok sebagai pengajar muda, maka suasana kelas di tahap simulasi ini dibuat betul-betul seperti kelas sesungguhnya di daerah penempatan. Setiap satu peserta mengajar, peserta yang lain dan alumni PM akan menjadi siswanya dan setiap peserta diberi skenario berbeda-beda. Ada yang kelasnya berisi siswa manja hingga menimbulkan ke-iri-an siswa lain, kelas pun gaduh, ada juga yang tetiba orang tua siswa datang ke sekolah mengajak paksa anaknya pulang untuk membantu di ladang, lalu siswa yang tetiba semuanya keluar kelas ditengah-tengah jam belajar gegara abang bakso lewat, saya sendiri dapet skenario dimana siswa berebutan pergi ke toilet karena ikut-ikutan teman yang lain ke toilet, praktis kelas saya gaduh, materi yang sudah saya persiapkan menguap entah kemana karena sibuk mengondusifkan suasana kelas. Tahap simulasi mengajar ini gak jadi mendebarkan, tapi jadi kocak banget #LOL. Tahap terakhir adalah test psikologi. Simpel ajah testnya, walau mungkin artinya dalem.

            DA kami di Yogyakarta mulai dari jam setengah delapan pagi hingga jam setengah enam sore. Lelah juga, tapi asik. Saya bertemu teman-teman baru di sini. Mereka orang-orang hebat pastinya, berkancah di dunia organisasi intra-kampus maupun ekstra-kampus, berprestasi pula dalam dunia akademik, bahkan ada yang sudah bekerja di perusahaan multinasional namun mengikuti panggilan hatinya untuk mengajar anak-anak di pelosok negeri. Ah saya bangga bisa bertukar cerita dengan mereka di sela-sela sesi dan setelah selesai DA. Anyway, apapun hasilnya, berhak lanjut ke tahap selanjutnya atau tidak, saya tidak ingin memusingkannya, yang penting saya memberikan yang terbaik saat tahap DA ini. Dan memang benar apa yang dikatakan orang-orang kalau di IM itu yang tidak terlupakan adalah tahap Direct assesment-nya, gokil abis, dan saya beruntung pernah mengalaminya.
 
            Untuk yang belom lolos Seleksi CPM angkatan XI ini, ditunggu tuh untuk angkatan XII, lebih besar kuotanya. Angkatan ganjil biasanya hanya dipilih 50-52 orang sedangkan angkatan ganjil akan dipilih 70 hingga 75 orang. Jadi tetap semangat!

Pulang



Saya baru saja bengong dengan pernyataan seseorang yang bilang, kamu harus mengabdi di sini, di almamatermu. Waduh! Saya terganggu sekali sebenarnya. Ya setiap orang punya pilihan masing-masing yah, Tuhan ajah ngasih free will. Bagi saya, anak daerah yang belajar jauh-jauh keluar dari daerahnya itu sebaiknya pulang, bangun daerahnya, katanya pengen pemerataan. Kalau mau daerahnya maju, ya harus ada yang memajukannya, salah satu orangnya itu, ya kamu, yang sudah dapet cukup ilmu untuk diaplikasikan.

Lalu ada lagi yang bilang, ya memajukan daerah itu kan gak harus kitanya ada di daerah. Tuing...tuing..tuing... dilema dengan pernyataan ini deh. Tapi bagi saya, rekan-rekan kita di daerah itu butuh kehadiran nyata kita. Kita terjun langsung membangun, dan bagi saya ini tidak bisa dilakukan dari jarak jauh, gak akan maksimal. Ya ada juga cara lain membangun dari jarak jauh, misalnya dengan menjadi pengajar di instansi tertentu di kota besar yang siswanya dari daerah. Tapi kalau semuanya stay di luar daerah, lha sapa yang pulang dan terjun langsung?

Tapi sekali lagi, setiap orang punya kebebasan untuk memilih, tapi kalau saya, saya akan pulang, kapanpun saya selesai belajar. Saya mencintai Kalimantan sebagai bagian dari Negara Indonesia, oleh karena itu saya ingin pulang, membangunnya sebisa saya untuk Republik ini.

Under Thirty



Dini hari ini saya merenung. Renungan ini muncul akibat pertemuan saya dengan seorang Programme officer di Indonesia Mengajar. Saya mengenalnya karena mengikuti proses Direct Assesment di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Tetiba rasa jealous merasuki saya saat dia mengatakan kalo dia seorang Ph.D lulusan NTUTS Taiwan. Bukan Ph.D nya yang bikin iri setengah mati, tapi usia dia mencapai gelarnya itu loh, 26 tahun, twenty six years uda doktor, okeh fine! Under thirty.

Dulu itu mimpi saya, doktor sebelum berusia tiga puluh. Namun proses yang saya alami rasanya berat haha, yah mungkin saya kurang mempersiapkannya dengan baik. Saya masih di tengah perjuangan saya. saya merefleksikannya dini hari ini. Tiga tahun sembilan bulan saya tempuh dengan sekuat tenaga menyelesaikan sarjana, dan konyolnya butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan master. Saya masih dalam proses menyelesaikan master saya yang hampir menginjak tiga tahun, lama banget yak, rasa-rasanya tidak ada yang menyelesaikan masternya se-lama saya #sigh. Saya menghitung mundur waktu saya, hanya tersisa enam tahun sebelum saya tiga puluh. Saya masih harus banyak berjuang! Mengejar ketertinggalan saya. yah walau gak bisa kayak di Programme officer tadi, doktor saat 26 tahun, seenggaknya target saya masih dibawah tiga puluh doktor, mungkin gak ya? Hahaha..

Dan untuk mengejar segala ketertinggalan saya, kayaknya saya harus menjadi seorang “nerd” untuk beberapa tahun ke depan. Huftt... Fighting!!!