Jumat, 04 Maret 2011

Perasaan yang Terpendam

Inilah sekarang lembaga tempatku bernaung, sebuah nama lembaga yang tidak asing di telinga bagi para mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana. Tak terasa sudah genap 8 bulan aku berada dalam lembaga ini. Begitu banyak dinamika dan pergolakan di dalam lembaga ini. Intrik-intrik organisasi, kebersamaan, dan masih banyak lagi hal yang ada dalam lembaga ini. Melihat banyaknya sifat dan sikap orang dari segi organisasi, melihat cara pembawaan mereka dalam memimpin rapat, berbicara di depan umum, gaya/ pola berfikir mereka dan sudut pandang mereka, sungguh hal yang menarik untuk kuamati dalam kelembagaan ini. Belajar akan sesuatu yang berbeda daripada hanya sekedar duduk berkuliah di dalam kelas, tapi dapat melihat Universitas ini dari sudut pandang yang berbeda, bukan hanya dari segi keilmuannya saja, tapi juga dari dinamika segi lain di dalamnya.
Nama lembaga itu adalah Lembaga Kemahasiswaan aras Universitas. Suatu kesempatan yang sangat berharga aku dapat belajar sesuatu dari lembaga ini. Kepemimpinan itu yang utama. Mendapat kesempatan sebagai Kepala Bidang Humanistik membuatku cukup bangga atas kepercayaan teman-teman, walau dengan segala pergolakan yang ada.
Satu hal yang tak dapat kulupa adalah peristiwa mundurnya sekretaris umum kami dengan segala macam alasannya. Membuat lembaga ini agak sedikit timpang dan ketua umum segera menambalnya dengan mencari sekum baru. Ya, aku diminta untuk dapat menjadi Sekum saat itu, dengan pertimbangan atas segala kinerjaku selama ini. Sungguh merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagiku, karena diberi kepercayaan sebegitu besar untuk sebuah posisi strategis dalam lembaga ini. Tetapi ternyata sungguh tak kusangka, begitu banyak penolakan yang diungkapkan oleh teman-teman dari intern lembaga ini sendiri. Tak mampu aku menjawab setiap pertanyaan mereka, padahal saat itu aku sedang bimbang apakah mau atau tidak. Begitu melihat begitu banyak penolakan, pertimbangan dan prioritas pribadiku, akhirnya aku tidak menerima tawaran itu, sungguh kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali, dan aku melewatkannya atas dasar meredam keegoisan pribadiku. Tak terhitung sudah berapa mimpiku untuk lembaga ini bila ada diposisi strategis itu, yang akhirnya aku pendam sendiri tanpa mampu mesharekannya kepada siapapun dari bibirku.
Ya, mereka hanya melihat aku tetap merasa nyaman karena mereka merasa nyaman, tapi tidakkah mereka tau apa yang kurasakan? Tapi, suatu hal naïf bila aku berkata baik-baik saja. Ya, aku sakit teman-teman, kekecewaan yang bertumpuk dalam hatiku tak pernah kalian tahu dan sadari, kalian hanya melihat saya sebagai orang yang kurang bertanggung jawab, bolos rapat panitia, kurang mengontrol segala sesuatu yang seharusnya memang tanggung jawabku……
Teman, tahukah kalian? Aku lelah, dengan segala komplain kalian, tidakkah pernah kalian berfikir bagaimana perasaan kalian bila ada di posisiku. aku memang manusia yang tak sempurna, aku pun kadang tidak memikirkan perasaan kalian, tapi aku selalu dan selalu berusaha, sampai tak tahu lagi harus berbuat apa. Selalu mencoba bertahan, walau luka itu semakin lama semakin pedih, hingga aku tak tahu lagi akan mampu bertahan sampai kapan.
Kalau aku tak salah melihat, kalian mempunyai keluarga yang luar biasa dengan segala kompleksitasnya, dan ketika kalian mengungkapkan ada masalah dalam keluarga atau harus pulang untuk urusan keluarga, hingga mengesampingkan tugas organisasi, aku tidak pernah komplain karena aku sadar itu masalah keluarga, yang kasihnya tak terelakkan. Tapi aku bukan orang yang dapat mengungkap segala masalah pribadiku apalagi masalah keluargaku pada siapapun, karena aku bukan orang yang mudah percaya pada orang lain walau sedekat apapun. Ada sisi negatifnya memang, sangat lelah mengangkat gelas yang penuh dengan air dengan hanya sebelah tangan saja, yang suatu saat dapat tumpah karena tanganmu sudah tak kuat lagi menanggungnya seorang diri dan airnya akan membasahi tubuhmu sendiri.
Teman, tahukah kalian? Masalah keluarga yang kuhadapi sekarang adalah masalah terberat sepanjang hidupku. Aku cukup lelah bergumul dengan masalah itu, tapi entah mengapa kalian malah menjauh, tak mau merangkulku, separah itukah aku di mata kalian? Kalian seakan meninggalkanku seorang diri dan hanya datang ketika kalian ada masalah dan menuntutku harus membantu menyelesaikannya sampai kalian harus menggebrak meja di depanku. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa, selain berusaha semampuku untuk membantu walau banyak kekurangan di sana-sini dan hati yang sakit walau tidak terungkapkan.
Satu hal yang kusadari, semua orang memiliki persoalannya masing-masing dan tetap kupercaya setiap orang juga pasti punya cara untuk menyelesaikannya. Tapi semua tak bisa lepas dari yang namanya waktu, ya proseslah yang menentukan segalanya, bagaimana mengelola proses itu sendiri. Seperti yang kualami, aku hanya butuh waktu teman, tolong beri aku tempat untuk lega bernafas sejenak dan tak menghimpitku hingga sesak seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar