Senin, 18 Maret 2013

Andai mereka tahu….


Malam ini aku merenungkan banyak hal, tidak tidur karenanya.. Memang benar yang orang katakan, kasih ibu akan selalu melimpah bagi anaknya, mulai dari dalam kandungan hingga anaknya dewasa dan kembali pada Sang empunya kehidupan. Cinta kasihnya begitu murni, hingga sulit untuk dirasionalkan. Cinta kasihnya tulus, tanpa alasan.
Satu lagi yang disebut cinta (mungkin), cinta pada pasangan. Masa ini aku melihat, ada seorang perempuan yang tegar (kelihatannya) namun ternyata menyimpan segudang masalah di benaknya. Tak seorang pun dibiarkannya tahu apa yang sedang digumulkannya, dia hanya berprinsip “cukup aku yang tahu dan mengalaminya”. Sekian lama ia tidak peduli dengan lawan jenisnya, dia selalu merasa bahwa dia mampu, padahal banyak yang bilang dia kesepian, namun dia tak peduli.
Hidup perempuan ini “terlihat” baik-baik saja memang, yah tapi semua orang punya cerita (kata kawanku). Aku diijinkan melihat seluruh kehidupannya dan dia berkata, “biar jangan ada lagi yang sepertiku”. Dia terlahir atas perjuangan ibunya (ya, hanya ibunya sendiri), banyak yang tidak mengharapkan kelahirannya. Perjuangan ibunya sendiri selama 14 semester. Tanpa banyak yang tahu bahwa ayahnya sendiri awalnya tak menginginkannya. Apa hendak dikata, dia terlahir ke dunia, tanpa didampingi ayahnya, bahkan ayahnya pergi bersama wanita lain yang lebih dulu dinikahinya tanpa ibunya ketahui. Sang ayah kembali dan menjalani kehidupan seperti biasa, siapa duga sang ayah perlahan-lahan mulai menyayangi anaknya dan menutupi kenyataan untuk melindunginya (mungkin).
Sang anak menjalani kehidupannya dengan baik, selalu meraih prestasi di sekolahnya, bahkan saat tingkat menengah pertama, dia berada di puncak prestasinya sampai ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan membahagiakan keluarga yang telah menyayanginya dengan prestasi-prestasinya. Lomba-lomba debat, cerdas-cermat, sepak terjangnya di OSIS sungguh mencengangkan, hingga akhirnya nilai UANnya mendapat juara umum. Dia bahagia sekali melihat orangtuanya memperoleh piagam penghargaan atas prestasinya. Ya… ia bahagia sekali hari itu, senyum selalu terlontar dari bibirnya, teman-temannya menjulukinya si wajah senyum karena memang dia selalu tertawa renyah, menghibur kawan-kawannya.
Malam itu, ya dia pulang malam setelah bermain dengan kawan-kawannya karena siangnya baru saja mendapat kabar ia diterima di salah satu sekolah menengah umum favorit di kotanya. Apa yang ia dapati di rumah? Rumahnya, istananya, berantakan, beberapa barang pecah, ia melihat ayahnya duduk dengan wajah kaku di kursi meja makan, ia bertanya namun ayahnya diam saja. Ia berlari ke kamar ibunya, ia mendapati ibunya menangis sambil mengepak barang-barang, kembali ia bertanya, namun ibunya hanya bilang, cepat bereskan barang-barangmu! Ia terlonjak kaget dan mundur, berlari ke kamarnya dan yang ia dapati adalah boneka-boneka kesayangannya sudah digeletakkan di lantai, lemarinya terbuka, ia bingung, benar-benar bingung, ada apa ini?
Ia menangis tanpa tahu apa sebabnya, mengurung diri di kamarnya seharian, hingga ibunya menggedor pintunya dengan keras namun ia tak peduli, akhirnya sang ayah, orang yang amat disayanginya karena tidak pernah memukulnya bahkan selalu memeluknya penuh kasih mengetuk dengan halus dan memintanya keluar. Ia akhirnya keluar, memeluk ayahnya dan kembali bertanya, “kenapa”. Sang ayah melepas pelukannya, menyusun kembali boneka-bonekanya dalam diam, merapikan kamar putrinya dalam diam. Sang ibu menarik tangannya dan menceritakan hal yang telah disembunyikan ayahnya selama bertahun-tahun. Anak perempuan itu terdiam, air matanya mengalir, ia tak percaya apa yang baru saja didengar. Orang yang paling disayanginya, tanpa ia tahu ternyata membohonginya bertahun-tahun, berhari-hari ia tak bicara, diam seperti mayat berjalan, duduk dengan tatapan kosong. Ya, ternyata sang ayah sudah menikah sebelum dengan ibunya. Ibunya dijadikan istri kedua. Dengan istri sebelumnya , sang ayah sudah memiliki lima anak, hal inilah yang menyebabkan kelahirannya dulu tak diinginkan.
Kegoncangan mentalnya menggugah orang tuanya untuk rujuk, membantunya untuk bangkit, namun memang sulit. Kehidupannya sungguh berbalik, ia yang juara umum nilai UAN, untuk naik tingkat saja hampir tak sampai, dia yang dulu ceria, kini berubah menjadi pendiam dan pemurung. Untunglah dia memiliki sepupu yang selalu menopangnya, perlahan ia bangkit, mulai kembali aktif dalam setiap kegiatan ekskul sekolahnya, ia mendapatkan lagi kawan-kawannya namun luka itu tetap membekas, tak pernah pulih seperti dulu lagi keceriaannya. Tetap saja dalam satu waktu sepupunya menemukannya sedang melamun.
Ia terus menjalani hidupnya, hingga tak didengarnya lagi kabar dari sepupunya. Ia mencari dan terus mencari namun tak satupun menjawabnya. Ia masih ingat janji sepupunya untuk mengunjunginya pada lebaran saat itu, namun sepupunya tak kunjung muncul, ia kembali kecewa, orang yang disayanginya tak menepati janjinya, meninggalkannya. Ia mengurung diri lagi di kamarnya. Sang ayah mengetuk pintu kamarnya, masuk dan duduk di samping putrinya yang meringkuk di sudut kamar. Sang ayah akhirnya bercerita bahwa sepupu yang disayanginya itu telah meninggalkannya selamanya. Ya, sang sepupu itu telah pulang ke rumah Bapa, karena…. bunuh diri. Ya, “bunuh diri”. Itulah yang ia dengar dari keluarganya. Dari media surat kabar dia mendapat berita bahwa sepupu kesayangannya bunuh diri karena ditinggal oleh pacarnya. Pacar?? Ia tahu bahwa saat itu sepupunya tak punya pacar. Jadi apa sebenarnya penyebabnya? Ya, sampai detik ini, bertahun-tahun, ia sama sekali tak tahu kebenarannya. Kebenaran tak pernah berpihak padanya, selalu bersembunyi darinya, hingga ia tidak tahu bagaimana wujud kebenaran itu. Ia ingin mengejar kebenarannya, namun tak tahu harus bertanya pada siapa. Bertanya pada sepupunya langsung mungkin? Perempuan ini memacu motornya sekencang mungkin, berharap dia dapat menemukan di mana kebenaran yang ia cari. Sapa sangka, ia membawa motornya dalam lamunan, ya lamunan yang menghantarnya ke IGD sebuah rumah sakit karena kecelakaan dan harus rela menghampiri ICU selama 1 minggu. Cedera tulang belakang membuatnya tidak dapat berjalan selama dua minggu, bahkan sempat koma dua hari. Hal yang paling diingatnya ketika sadar adalah wajah ibunya dalam tangisan, sakit lagi yang ia rasakan, bukan fisiknya tapi hatinya. Berkali-kali hatinya terus menerus tersakiti, mungkin benar pepatah bilang, “hati adalah bagian tubuh yang terkuat namun juga paling lembut, makanya ia tetap mampu bertahan walau berkali-kali disakiti, lembut karena sebenarnya ia paling sensitif”.
Kali ini ia tak sendiri, ia memiliki sahabat, sahabat sejak sekolah dasar, bermusuhan dua tahun karena keegoisannya (lucu memang), dan kembali bersahabat. Sahabatnya selalu mendengarkannya, saling mendengarkan. Tiap hari sahabatnya selalu menjemputnya, mengajaknya melihat sisi lain pergaulan. Ya sahabatnya seorang wanita perokok, tukang minum minuman keras, pemakai narkotik juga, namun sahabatnya menyayanginya. Sekalipun sahabatnya begitu, ia selalu menjaga sahabatnya. Tak sekalipun diperbolehkannya sahabatnya untuk mencoba barang-barang itu, ya ia begitu melindunginya. Sahabatnya berkata, “ini supaya kamu tahu dan tak terjebak di dalamnya”. Dengan polosnya perempuan itu mengangguk dan sejak saat itu tak pernah lepas dari sahabatnya, ia tergantung dengan sahabatnya, kemana-mana selalu bersama sahabatnya, hingga mereka dijuluki pasangan homoseksual. Tapi mereka tak pernah peduli, karena mereka pikir cuma mereka yang tahu seperti apa mereka.
Pagi ini hasil kelulusan diumumkan, dua sahabat tadi sama-sama lulus, mereka bergembira bersama. Perempuan ini ingin melanjutkan studinya, menggapai cita-citanya, mengikuti test perguruan tinggi. Ayahnya ingin putrinya tidak jauh darinya. Hingga hasil test perguruan tinggi itu diumumkan, ya perempuan ini diterima di fakultas kedokteran salah satu universitas swasta di Ibukota. Ya, cita-citanya memang dokter. Namun masa lalu menghantuinya, Ibukota? Bukankah itu kota tempat istri pertama ayahnya tinggal bersama kelima anak-anaknya? Langsung ia merobek surat dari perguruan tinggi itu. Ayahnya sungguh marah dan tak mengijinkannya kuliah keluar dari kota tempat lahirnya. Perempuan ini tak habis akal, ia mendaftar di salah satu perguruan tinggi di kota yang asri (pikirnya saat itu), jauh dari hiruk pikuk. Ia menguras tabungannya, membayar registrasi dan mengurus semuanya sendiri. Ya untung sang ibu selalu mengajarkannya mandiri.
Ayahnya kewalahan, ibunya pun sudah putus asa untuk membujuknya, ya keinginannya sudah bulat untuk keluar dari rumah itu. Ia ingin bernafas lega sejenak dari kebelitannya selama ini. Kekerasan hati dan keras kepalanya mengalahkan orangtuanya, ya mereka mengijinkan putrinya untuk pergi. Perempuan ini lega sekaligus takut. Lega karena ia boleh bebas namun ia akan menginjak tempat yang benar-benar baru, tanpa seorang pun tempat ia dapat bergantung. Bermodalkan kenekatan lah ia berangkat dan memulai hidup barunya. Berusaha keras untuk mendapat pengakuan, bekerja keras hingga mendapat kepercayaan.
Hidupnya selalu dipenuhi dengan kegiatan. Perkuliahan, organisasi ekstra maupun intra kampusnya. Ia tak membiarkan waktunya terbuang percuma dengan menganggur. Tanpa pernah dipikirkannya masalah tetek bengek pacaran seperti yang kawan-kawannya lakukan, karena yang ia lihat adalah kawan-kawannya kebanyakan ditinggalkan. Ya, ia terlalu takut untuk ditinggalkan, ia sudah tahu rasanya dan tak ingin mengulanginya lagi. Ia pernah menyukai orang, 2,5 tahun lamanya, tapi ia tak pernah bergeming, karena ia tidak ingin terluka lagi. Jadilah ia, hanya memfokuskan hidupnya untuk berkuliah karena ia bersumpah akan menyelesaikan studinya TEPAT WAKTU, ia ingin membuktikan pada saudara-saudara tirinya yang tidak becus kuliah itu bahwa ia lah yang layak dan terbaik dari anak-anak ayahnya. Ia fokus juga pada organisasinya karena ia sadar harus membangun relasinya, bersosialisasi. Akhirnya ia dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, ia amat bangga, bangga pada dirinya sendiri, ia berhasil membuktikan.
Semua hal memang diijinkan terjadi, kekerasan hatinya dapat juga luluh ternyata. Ada saja pria yang mendekatinya, mungkin memperhatikannya. Yah, itulah kelemahannya, selama ini ia tidak pernah merasa diperhatikan, namun kali ini…..
Ia memaksa menepis segala egonya, menekan akal sehatnya untuk menyayangi pria itu. Dari waktu ke waktu, proses itu berjalan, ia mulai terus menyayangi pria itu, terus dan terus tumbuh. Ia rela memberikan segalanya saat ia tau bahwa pria itu butuh. Terasa indah memang saat itu.
Siapa yang dapat menyangka, suatu saat pria itu berkata, “hatiku bukan lagi milikku”. Perempuan ini terdiam, merenung berhari-hari, bingung, bayangan masa lalunya akan ditinggalkan muncul lagi. Walau berkali-kali pria itu berkata tidak akan meninggalkannya, namun ia takut, sangat takut. Ia ingin berusaha membenci pria itu, siapa tahu dapat meringankan perasaannya, namun ternyata ia tidak bisa, ya ia terlalu sayang pada pria itu.
Siapa sangka, suatu hari perempuan ini mendapati dirinya mengandung. Ia bingung, bingung sekali, tak tahu harus berbuat apa. Ia melihat si pria sedang sakit, ia tak tega menambah beban pikirannya. Ia memilih bungkam, dan menanggung semuanya sendiri. Benarlah teori yang berkata bahwa perempuan yang sedang mengandung tidak akan dapat berpikir secara optimal karena ia sudah mulai berbagi nutrisi dengan anak yang dikandungnya. Ia bertindak di luar akal sehat, menutupi kebenaran atau apalah itu namanya.
Namun ia tak dapat menutupinya dengan baik memang, si pria itu tahu dan menangis bersamanya, mengatakan ketidaksiapannya, hingga diputuskan untuk menggugurkan anak yang dikandung. Malam itu adalah malam terberat yang dilaluinya, mendapati kenyataan bahwa si pria tak sanggup lagi bila ia mengubah keputusannya. Ia merasa kacau, bingung, dan terlebih takut untuk berbicara lagi dengan pria itu.
            Perempuan itu memilih untuk pergi sejenak melepas kepenatan pikirannya, bertemu kawan-kawannya dan menyusun rencana pengguguran itu. Dalam perjalanan itu ia termenung, ia mencoba mengenyahkan pikirannya dengan menonton film, pas sekali, film itu bercerita mengenai, perjuangan seorang calon ibu yang mempertahankan anaknya walau anak itu sudah mengancam jiwanya. Selama menonton, ia tak henti mengeluarkan air matanya, padahal sudah berkali-kali ia menonton film itu dan tak pernah sekalipun ia menangis sebelumnya. Ia mengelus perutnya dan mencoba untuk mempertahankan kandungannya. Alasannya mempertahankan? Mungkinkah sudah muncul rasa cinta kasih itu, tumbuh seiring berkembangnya janin itu? Mungkin…..
            Kadang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan kan, sapa duga malam itu si perempuan mengalami pendarahan yang menyebabkan ia harus dirujuk ke rumah sakit dan kenyataan yang ia dapat adalah ia keguguran. Ia terdiam lagi, kembali lagi ia ditinggalkan, ditinggalkan anaknya sendiri.
Apa memang ini takdirnya? Takdir untuk selalu ditinggalkan… atau ia masih percaya takdir? Entahlah,.. aku rasa perempuan inipun sampai detik ini tak tahu jawabnya.

8 komentar:

  1. -_- ....... T_T ........

    Ini kisah nyata kah?
    Semoga semua akan indah pada waktuNya.
    Amin

    BalasHapus
  2. sangat nyata damar :)
    namun dia tetap tegar :)

    BalasHapus
  3. mari kita masuk ke dunianya....pasti berat....ya tp tiap orang punya cerita n pglaman masing2 yg blm tentu orang lain alami n bisa alami.......
    sip....lanjutkan.....
    wkwkwkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
  4. damar sampai nangis baca cerita itu kelihatannya....wkwkwkwkwkwk
    bgmna kalo itu terjd kpd fitri....pasti damar shyock berat.....mengurung diri di kamar kost...tak keluar sampai kelar s2 (=> temen2nya, bukan damar.....gimana mau lulus kalo kerjaannya di kamar aja)
    peace bro dam n 3........

    BalasHapus
  5. kie sopo kie anonim gaje.... si mbk arumbi kah???
    wakwakkwka....
    koplaakkk wess..... wkakwakkwakwkawa

    BalasHapus
  6. iyo tah....sopo maneh.....wkwkwkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
  7. “cukup aku yang tahu dan mengalaminya”, “biar jangan ada lagi yang sepertiku”..aku rasa dia memang belom punya solusi untuk hidupnya.. karna sebenernya lewat kesaksian hidupnya, orang bisa banyak belajar loh dari dia :)tapi adakalanya juga sih, setiap orang punya cerita dan simpan cerita itu as his/her life secret...keep support her ka :D :D

    BalasHapus
  8. thanks revi :)
    semoga tetap memberi pelajaran bagi sesama :)

    BalasHapus