Jumat, 09 Agustus 2013

Kita Pernah Bersama

Hai kau yang berada di surga sana, bagaimana kabarmu? Pasti berbahagia ya, karena kau sudah berada di keabadian, ya keabadian, satu hal yang tidak ada di dunia ini. Kemarin aku menyusuri kota Jakarta lho, tempat kenangan kita. Masih ingat kegilaan kita di Bundaran HI? Atau kekaguman pada menara Monas? Aku juga menyusuri kota tua Jakarta lho, tempat yang selalu kita bicarakan untuk dikunjungi, namun belum kesampaian kita berdua kunjungi hingga akhir hayatmu. Masih ingat sajian kerak telor yang kita nikmati berdua di pinggiran pagar luar Monas? Aku kemarin makan siang dengan kerak telor lho di Kota tua Jakarta. Waktu itu aku teringat dirimu, apa di surga sana ada kerak telor juga ya?
Penjual kerak telor di Kota Tua Jakarta
Adik perempuanmu selalu memintaku untuk berkunjung ke rumahmu, namun aku belum bisa. Aku belum mampu menatap frame wajahmu tergantung di dinding dengan kalungan bunga. Aku juga belum mampu bertemu buah kasihmu, aku tak ingin melihat air matanya, aku pasti belum mampu. Kemarin aku juga melalui kawasan Menteng, daerah rumahmu, namun kakiku belum mau dan mampu beranjak menuju rumahmu, maaf ya, aku minta waktu sebentar saja untuk menata perasaanku.
Bolehkah hari ini aku mengenangmu? Mengenang 3 tahun kebersamaan kita. Relasi kita selama 3 tahun itu sungguh bermakna untukku, sekaligus memberikan pelajaran yang amat berharga. Aku bangga dapat membawamu keluar dari lembah kecanduan narkotik, tentu juga dengan usaha dan keinginanmu. Aku bangga dapat menemanimu selama 3 tahun itu, melalui suka dan duka bersama, disakiti dan tersakiti, membahagiakan dan dibahagiakan, terima kasih untuk setiap surprise yang selalu kau suguhkan, kau memang paling tahu kalau aku suka kejutan J. Berpisah setelah 3 tahun kebersamaan kita itu sulit untukku, hingga aku memutuskan untuk menenangkan diri ke kota kecil di kaki Gunung yang sejuk, hanya untuk menghindarimu. Empat tahun waktu yang harus kuhabiskan untuk bangkit dari kesakitanku. Aku menyayangi buah kasihmu, ya karena dia adalah bagian dari dirimu. Setiap kutatap wajahnya, selalu mengingatkanku padamu, wajah kalian mirip sekali, dia memiliki matamu, rona matanya persis seperti kepunyaanmu.
Memang tidak ada yang tak mungkin dan memang tidak ada yang pernah tahu akan masa depan, karena itu adalah rahasiaNya. Siapa duga 3 bulan yang lalu kita kembali bersama, setelah hampir 5 tahun kita berpisah. Setelah 2 tahun kau merongrongku, setelah perpisahanmu dengan dia, setelah penolakanku yang bertubi-tubi, kita akhirnya dapat bersama lagi. Kau tau alasanku kembali? Aku mengasihimu dan terharu dengan tulisan di wall facebook itu. Aku masih ingat dengan jelas yang kau tulis itu, “Hai Aling, aku tahu mungkin kita tak dapat bersama lagi, cuma aku pengen bilang bahwa aku selalu ada untukmu, apapun keadaanmu aku selalu ada untukmu, sedih ataupun senang aku ingin selalu ada untukmu. Aku ingin menjadi kakak sekaligus sahabatmu”. Aku tak mampu membalas tulisan itu, aku termenung panjang setelah membacanya, ya kaulah yang mengerti aku. Inginku sederhana saja, seseorang yang selalu ada untukku, tak perlu fisik, namun selalu ada dalam bentuk apapun, memperdulikanku dengan caramu, itu yang aku perlu.
Handphoneku bordering malam itu, dari nomor yang tak kukenal, ternyata itu kamu, menelponku jauh dari negara tetangga, Singapura. Kalimatmu amat sederhana memintaku kembali, “Aku duda beranak satu, sangat tak sempurna sekarang, namun aku yakin kalo bersamamu hidupku akan disempurnakan, maukah kau terlibat dalam penyempurnaan itu?”. Terdiam dan akhirnya tertawa, itu responku yang sontak terjadi. Aku hanya menyebutmu lebay dan alay sambil bercanda berkata, “yo oloh elo itu dari kasta brahmana, lha gue? Gue dari kasta sudra bos, ntar raden kian santang bakal ngeluarkan ilmu-ilmu gaibnya mengirimkan air untuk memadamkan api cinta kita, trus ada angling darma dengan naganya menyemburkan api untuk menewaskan kita berdua hahahaa…..”, namun tak sekalipun kau balas dengan tertawa, membuatku sadar bahwa kau berbicara serius. Aku terdiam sesaat dan akhirnya berkata, “eh loe marah ya? Kok diem aja gue ajak bercandaan?” kau akhirnya menjawab, “sebelum raden kian santang mengirimkan air dengan ilmu gaibnya untuk memadamkan cinta kita, gue bakal siapin bensin banyak-banyak, walau di Indonesia BBM mahal, gue kan dari kasta brahmana yang kaya raya jadi bisa dengan mudah beli bensin, trus ketika angling darma datang dengan naganya menyemburkan api, gue bakal lebih dulu nyiapin truk pemadam kebakaran dengan tangki yang penuh dengan air untuk melawan semburan api naga itu, apalagi yang kurang untuk gue persiapkan?”. Terdiam, hanya itu yang kulakukan, sehingga kaupun berkata, “eh loe masih idup kan? Jadi gimana? Apa lagi yang kurang? Gue cuma butuh lu ada buat gue dalam bentuk apapun itu terserah loe, gue gak peduli masa lalu loe, karena masa lalu gue juga ancur, tapi masa depan itu masih suci dan kita berhak menyongsongnya”. Oke, memang dasar wanita, cuma bisa terbang ke langit ke tujuh sambil berasa ada ribuan kupu-kupu menari di perut trus menggelitiki hati hahahha…. Dan akhirnya menjawab, “oke, kita jalani dulu saja ya”. Pembicaraan malam itu diakhiri dengan kesepakatan pertemuan pada pertengahan Agustus di kota tua Jakarta.
31 Juli 2013 pukul 03.07 WIB, handphoneku kembali berdering, nomer handphone yang tak asing, nomer handphone adik perempuanmu, mengabarkan kecelakaan yang kau alami di negeri Singa. Sesaat aku menyesali diri, menyangka kecelakaan itu, akulah penyebabnya, pertengkaran kita tadi malam itu penyebabnya, mencoba mengendalikan diri dan meminta untuk memastikan kabar itu. Satu setengah jam kemudian, muncul kabar kepastian bahwa kau sudah ada di Surga, terpukul? Itu yang kurasakan, juga sakit dan air mata yang tak tertahan lagi mengucur deras. Mencoba berpikir jernih dan menerima keadaan. Kuputuskan untuk packing sebentar dan mendaki gunung Telomoyo itu pagi-pagi, menangis sepuasnya di puncak, menikmati kesendirianku mengenangmu, mencoba menerima segala keadaan dan kembali turun dengan keadaan yang lebih baik.
Tidak ada kata lain lagi yang mampu terucap selain maaf dan terima kasih. Terima kasih untuk kebersamaan kita, terima kasih karena kau selalu ada untukku dengan caramu. Maaf aku belum mampu bertemu dengan mereka bahkan dengan buah kasihmu, maaf ya… berbahagialah di keabadian, kelak pasti dapat bertemu, berbahagialah Endy J.

#Janji kita bertemu di kota tua Jakarta mungkin sudah terlaksana, mungkin kau ada di sana ketika aku berkunjung kemarin, kau juga lihat atraksi anak-anak di depan museum itu kan J
By. Rachel Fitria

Pukul 13.07 WIB di Taman Cimanggu, Bogor

1 komentar: