Kamis, 23 April 2015

Menuju Seperempat Abad



Tujuh April itu merupakan tanggal keramat buat saya, karena itu ulang tahun saya. Mungkin bagi beberapa orang momen ulang tahun itu biasa saja, tapi bagi saya itu luar biasa. Suatu kelahiran itu luar biasa, diinginkan atau tidak. Dan yang kelahirannya tidak diinginkan, tetap bagi saya itu luar biasa, karena kelahiran itu hukum alam, ada penciptanya. Contoh saja, sebuah kelahiran bayi manusia tidak akan terjadi bila tak ada pertemuan antara sperma dan sel telur. Kelahiran itu simpel sekaligus rumit, tergantung pemikiran masing-masing.
Tahun ini saya berulang tahun yang ke-24, wah sebentar lagi udah seperempat abad. Saya flash back dan merenung, apa saja yang saya lakukan untuk diri saya sendiri dulu. Hmm... saya sekolah hingga saat ini mencapai level master degree tanpa jeda, pernah pacaran sampai ngerti yang namanya jatuh cinta dan sakit hati, pernah kerja sampai paham capeknya ngumpulin rupiah demi rupiah, pernah terima beasiswa yang bikin ngerti kalo karya dan prestasi kita bisa dihargai orang lain, pernah kecelakaan parah sampai harus mengubur mimpi jadi pemain basket dan tidak bisa berolahraga berat, sisanya saya sudah lupa. Kalo untuk orang lain, mungkin gak banyak yang sudah saya lakukan, paling bikin bangga orang tua waktu wisuda Sarjana, pelukan hangat dari seorang mantan yang katanya saya sudah mengajarkan dia banyak hal, jadi senior yang baik untuk sebuah lembaga mahasiswa di kampus, sisanya saya juga sudah lupa.
Habis flash back, boleh dong punya harapan buat ke depan. Saya pengen banget studi lanjut ke luar negeri!! Yah, kalau bisa ke Finlandia atau Spanyol haha... terus pengen banget jalan-jalan ke Barcelona ama Machu Pichu. Pengen banget jadi pengajar muda di Indonesia Mengajar hoho... dan yang paling pengen adalah beliin rumah buat mama hehe....
Kata orang-orang sih, semakin bertambah umur, semakin bertambah pula tanggung jawabnya. Saya sendiri masih punya tanggung jawab besar untuk orang tua, saya harus segera lulus S2 dan pergi bekerja atau studi lagi dengan beasiswa jadi tidak membebani orang tua lagi. Tanggung jawab saya pada kota kelahiran saya, karena saya seorang sarjana biologi yang belajar ekologi dan saya merasa punya kewajiban untuk membagikan ilmu saya untuk kota saya di Kalimantan “Paru-paru dunia”.
Saya ingin menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar saya, seenggaknya saya mau mengubah sifat saya yang pemarah. Saya ingin lebih positif menghadapi masa depan. Dan oh ya satu lagi, semoga pendamping hidup yang sepadan dapat segera datang dan diresmikan di hadapan Allah , di depan altar :D

#Edisi telat posting

Tidak ada komentar:

Posting Komentar