Sabtu, 02 Mei 2015

Rasa yang kadaluarsa



“Jangan pernah menjaminkan rasa pada waktu, karena ia punya masa kadaluarsanya”, begitu ucap Windy Ariestanty dalam bukunya “Life Traveler”. Saya merenung beberapa saat karena kalimat ini. Hmmm... ada benarnya juga. Segala sesuatu di dunia ini memiliki masa kadaluarsanya, begitu juga rasa. Ibarat makanan, yang ketika “fresh from the oven” berasa enak bila sudah beberapa saat bisa saja berubah rasa, basi. Mungkin ini juga yang berlaku pada rasa di hati.

Saya duduk di dalam Bus Trans Yogya, di pojok, jadi saya bisa mengamati keadaan sekitar saya. Ada pasangan yang baru naik dari shelter ring road utara, bergandengan tangan. Saya teringat masa lalu. Dulu, saya pun pernah melakukan perjalanan bersamanya, naik dari shelter yang sama, shelter ring road, mengantarnya memperbaiki alat laboratorium di bengkel di areal ring road. Buat saya, dia pasangan yang menyenangkan, selalu menjaga saya terutama bila kami sedang traveling bersama. Dia selalu menggandeng tangan saya.

Sampai kemudian kami saling menjauh. Kami saling diam. Namun meragu memang sifat manusia. Saya bisa luluh bila ia muncul di hadapan saya. Saya bisa saja melupakan semua dan menganggap kami baik-baik saja. Selama dua tahun, saya membuka semua opsi untuk hubungan ini. Mungkin ini yang membuat saya tak bersikap. Saya memilih bungkam. Saya anggap kami hanya butuh jeda dan nanti kalau sudah bertemu waktu yang pas, kami bisa membicarakannya baik-baik. Setelah itu, mungkin saja kami memutuskan tinggal. Yang pasti, saya tidak akan memintanya tinggal bila dia ingin pergi. Namun mungkin masa kadaluarsa ini saya mengalaminya juga.

Butuh waktu setahun untuk menyadari bahwa saya tidak baik-baik saja selama ini. Dan hanya butuh sendiri selama tiga puluh menit untuk merenung dan memahami perasaan itu telah menepi. Diam-diam pergi tanpa permisi. Meninggalkan saya dan dia sendiri. Lalu waktu lah yang menyadarkan saya, ya... semua punya masa kadaluarsa, termasuk rasa.

Akhirnya saya simpulkan, semuanya telah selesai. Hubungan kami expired. Kami benar-benar selesai. Yes, it’s done already. Full stop. No coma no space. There is no option but done itself.
Ya, pada akhirnya semua harus memilih. Mana bisa kita terus berada di area abu-abu dan meminta waktu yang memutuskan? Tidak. Waktu tak pernah memutuskan apapun untuk kita. Kita yang harus bersikap.

Saya sakit. I am not fine. I am definitely in pain. Dan ternyata, mengakui bahwa saya tidak baik-baik saja justru membuat saya merasa lebih baik. It’s not worth waiting for. I have to move on. Sometimes, we have to spend so much time coming up with a conclusion that we already know. Like me.

Bila saat ini ia datang lagi, menawarkan kejelasan kembali atas hubungan kami, saya tak dapat kembali lagi. Saya menganggap ini sudah kadaluarsa. Ia hanya bagian dari masa lalu saya. Dan saya berprinsip, masa lalu ya masa lalu, letakkan ia di masa lalu, jangan letakkan ia di masa depan. Namun jangan lupakan, saya mencintainya, namun dengan cara yang berbeda. Saya mencintainya dengan cara saya sendiri, yang mungkin hanya saya (dan dia) yang dapat mengerti. Saya mencintainya sebagai sahabat saya. Sahabat terbaik, karena ia punya makna khusus dalam hidup saya dan sedikit banyak jauh lebih mengerti tentang saya daripada kebanyakan teman atau sahabat lainnya.

I decided to consider him as one of my best friends. Thank you for being nice

Rachel Fitria
Yogyakarta, April 2015
(sebagian disadur dari “Life Traveler” karya Windy Ariestanty)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar