Setelah sekian lama membicarakan permasalahan yang terjadi di mata air tajuk akhirnya tiba juga saatnya untuk melihat langsung keadaan di mata air ini. Schedule kegiatan untuk hari istimewa tersebut seketika dibatalkan hanya untuk melihat keadaan mata air.
Adalah dua cewek yang menyanggupi untuk mengunjungi mata air tersebut, dengan dibekali petunjuk jalan yang diberikan oleh seorang dosen (Eyang Narto) maka berangkkaatttttt......... Yang satu sedang pusing dan stress dengan masalah perkuliahan dan organisasinya yang njelimet sedang yang satunya sedang merayakan hari istimewanya dengan cara yang berbeda.
Janjian jam 7 pagi bertemu di kost saya tapi apa daya si kak Dwi ini bangun kesiangan karena malamnya bermimpi aneh katanya... Akhirnya berangkat jua jam 8 pagi itu berjalan kaki menuju pasar sapi lalu naek ke bus yang ngetemnya lama euy... Setelah bertanya pada kernet bus terkait dengan menyampaikan tujuan kami ke desa Tajuk, akhirnya kami diturunkan di perempatan Jampelan. Waduh bingung dah ne kaki mau melangkah kemana, ada beberapa tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami ke tujuan. Tapi dengan pedenya kami menolak semua tawaran tersebut sambil memperhatikan petunjuk yang diberi eyang “pokoknya kalau perempatan belok kiri ke arah Samirono”. Mulai melangkahkan kaki ke arah yang dimaksud sambil lirak-lirik sapa tau ada yang bisa ditanya ne desa letaknya dimana. Eitzz ada ibu-ibu yang sedang nongkrong di pinggir jalan sambil membawa sayur di bakulnya, maka bertanyalah si kak Dwi pada ibu tersebut menggunakan bahasa jawa (maklum saya kagak ngerti bahasa jawa).
Setelah mendapat petunjuk dari si ibu tadi, kami melanjutkan perjalanan kembali. Sampailah kami diperempatan. Waduh belok mana lagi neh, bertanya kembali pada bapak-bapak yang sedang bekerja di kebunnya. “Oke-oke belok kiri ya pak, matur nuwun pak”. Lanjut jalan lagi, kak Dwi kali ini sambil jalan sambil memberi kursus bahasa jawa pada saya yang selalu bengong ketika berbicara dengan warga di sana. Sampai akhirnya saya ngerti apaan tuh “tindak pundi”, jadi kalo ada warga yang tanya gitu, saya dengan pede dapat menjawab “Tajuk pak.....”.
Satu setengah jam berjalan akhirnya sampai juga di desa Tajuk, mencari-cari ketua paguyuban Taman Nasional Merapi Merbabu, pak Samingan. Setelah tanya sana sini, sampailah kami di rumah pak Samingan, eehhh bapaknya lagi ga ada dirumah. Lalu anak pak Samingan yaitu Susilo menawarkan untuk mengantar kami sampai ke mata air. Berjalan bertiga menuju mata air, susilo bercerita banyak tentang berbagai masalah yang terjadi di mata air ini, mulai pohonnya yang sudah berkurang karena penebangan liar, dan ada yang baru saja tertangkap karena kasus pembalakkan liar ini. Ironis memang setelah melihat keadaan disana, pohonnya sedikit dan mata air yang semakin kecil. Puas melihat keadaan sekitar, cacing-cacing diperut uda dangdutan. Susilo pamit untuk melaksanakan ibadah sholat jum’atnya. Tinggallah kami berdua yang uda bawa perkakas masak. Menggelar jas hujan untuk alas duduk, mengeluarkan beberapa peralatan, lalu masak dimulai.
Saya lebih memilih jalan-jalan sambil ngambil gambar daerah sekitar pake hp. Yah memang lebih baik kak Dwi yang masak daripada saya, secara saya cuma bisa makannya doank. Wah kabut mulai turun dan tiba-tiba air menetes dari langit. “Fit, ayok beres-beres, ujan neh”. Eh dengan entengnya saya jawab “tenang aja kak, lanjutin aja masaknya paling ujannya bentar doank”. Dan betapa lugunya kak Dwi mengiyakan jua haha... Buka payung, jas hujan digunakan untuk melindungi tas sambil kembali masak. Nah akhirnya masak jua, eh tiba-tiba hujannya tambah deres seketika. Dua buah payung digunakan untuk melindungi peralatan masak, jas hujan melindungi tas dan jas hujan yang satunya lagi dipake berdua sambil jongkok di depan makanan untuk dimakan, kami makan sambil tertawa, menertawakan kekonyolan kami. Hujan tambah deres, sampai makanan kami juga kemasukkan air hujan, tapi tetep lah kami makan, lapar euy.
Selesai makan langsung beres-beres dan mulai turun ke arah desa menuju rumah pak Samingan untuk berjumpa dengan beliau. Sampai di rumah pak Samingan, mulai membicarakan rencana-rencana penanaman di lokasi mata air tersebut sampai pemeliharaan dsb. “fit, uda jam berapa??”, “jam 2 kak” jawab saya. “nyok pulang kan kata om din, bus terakhir jam 4an”. Pamitan dengan si bapak dan melanjutkan perjalanan kembali.
Di tengah perjalanan, Kak Dwi melihat sebuah pohon beringin besar dengan mata air di bawah dekat akarnya. Maka mendekatlah kak Dwi ke pohon tersebut, melongok melihat ke dalam air. “Fit, ada belut tuh”, dengan excited-nya saya mendekat sambil bertanya, “mana??mana?? liat...”. kak Dwi menunjuk ke satu arah, eh si belut itu uda hilang entah kemana, eh malah muncul binatang melata lagi, “nah tu fit, liat gak?? Eh! Tapi kayaknya itu ular deh, ada 2 ekor!”. Saya mulai mencari-cari arah yang ditunjuk dengan mata yang silinder ini, “oh ntu yach, wow!!! Ular ya... wahaha Kabuuuurrrrrr” jawab saya, dengan sekejap saya balik badan dan lari sambil ketawa, kak Dwi akhirnya ikut lari juga. Lanjut lagi jalan ampe perempatan jampelan, cari minibus ke arah pasar sapi. Pulang ke kost masing-masing dengan bawa tugas baru, nanam!!!Pelihara!! Haha....
By. Rachel Fitria
Ngetik sambil pegel-pegel, 22 Januari 2010
Kamar Kost Salatiga, Jawa Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar