Kutipan judul di atas benar-benar menggambarkan perasaanku saat itu. Ya, Sembilan bulan aku berada dalam oraganisasi ini, pemegang peranan penting dalam lingkup internal yaitu sekretaris umum (sekum), sudah 2 orang yang mengundurkan diri. Sampai suatu kali ada salah seorang anggota yang menyebut bahwa kursi sekum itu adalah “kursi panas”. Tertawa saja rasanya mendengar istilah itu. Hmm… sepertinya kurang tegar, tidak bertahan dalam tekanan, ya saya menggunakan istilah “kurang militan”.
Kemudian untuk kedua kalinya pula aku disuguhi tawaran yang sangat “menggoda” yakni menduduki “kursi panas” tersebut. Hanya ingin curhat sembari bercerita kronologis dari tragedi ini. Tepat pada bulan Februari, sekretaris umum organisasi tempatku bernaung memasukkan surat pengunduran diri dengan berbagai alasan dan tetek bengeknya. Malam harinya kami berapat pleno ria mengagendakan pengunduran dirinya pada jam-jam terakhir rapat. Terlihat adegan penuh air mata dari beberapa orang dan jujur saya tersenyum sinis saat itu. Jika orang mengatakan saya picik, ya saya memang orang yang sangat picik. Saya adalah anggota yang sama sekali tidak menyukai sekum ini. Dalam penilaian saya, dia hanya orang yang selalu menuntut namun tak pernah mengingat porsi, mengerjakan segala sesuatu dengan ngawur, bagi saya dia juga tidak mengerti makna berorganisasi, sikapnya ngebos sekali, hufffttt walau tak lupa tetap ada kontribusinya dalam organisasi ini.. bahkan saya pernah bertengkar dengan dia lewat sms, dan saya benar-benar jengkel ketika dia membawa embel-embel “kasih”. Ya ampun! Dia menelpon saya saat sedang praktikum hanya saya belum ngecek proposal di bawah bidang saya dan menegur saya karena belum ke kantor, ya iyalah, lha gue praktikum dari pagi, gak bisa ditinggal, sampai belum sempat ke kantor, dan memang berencana ke kantor kalo praktikum uda kelar, dan proposal itu tidak mendesak pula. Padahal saya sudah berulang-ulang berbicara via telpon itu kalau saya sedang praktikum dan akan ke kantor sore! Dan dia masih ngeyel seakan tak mendengar alasan saya dan langsung menutup telponnya. Saya benar-benar jengkel dan tambah jengkel menyadari pulsa sedang sekarat, akhirnya saya sms orang unik satu ini dengan tanda seru yang banyak dan tambah unik lagi dia membalasnya dengan kata-kata yang kontan membuat saya melongo sampai-sampai media cair tempat saya ingin menumbuhkan Eschericia coli terbalik dan membasahi kapas yang menjadi tutupnya ketika saya ingin memasukkannya ke dalam oven, karena dia bilang seharusnya saya menegurnya dengan kasih. Lha padahal dia nelpon gue barusan pake kasih-kasih segala apa! Gile, yang ada di depan saya saat itu adalah seperangkat tabung reaksi sejumlah 40 biji beserta rak-raknya rasanya pengen ta’ lempar ke ini orang, untung saya ingat kalo harga tabung reaksi itu per satuannya sekitar Rp. 3.000,- kalo dikali 40 tabung berarti jadi Rp. 120.000,- plus harga tiga (3) rak tempat menaruh tabung-tabung reaksi tersebut, bisa jadi habis Rp. 150.000,- untuk mengganti itu semua dan mengingat itu tanggal tua, lebih baik saya mengefisienkan pengeluaran, jadi saya mengurungkan niat untuk melakukan tindakan gila itu.
Selesai praktikum, langsung ke kantor untuk ngecek proposal yang dimaksud tadi, ya ampun, astaga, bujubuneng, ini proposal gak mendesak gitu loh, seandainya saya liat besoknya pun kagak ngaruh kali. Sampai-sampai proposal tak berdosa tersebut akhirnya saya lempar ke dalam loker, kemudian menemui ketua dan ngomel-ngomel tak jelas di depannya mencurahkan emosi sesaat tersebut serta membiarkan ketua itu menderita mendengarkan omelan-omelan dan curhatan tersebut sampai saya lega melepaskan emosi tersebut. Barusan lega itu muncul, tiba-tiba datang anak bidang saya dengan wajah cemberut dan marah-marah melempar segepok surat pengantar sponsor yang salah dibuat oleh sekretaris itu di depan saya dan parahnya lagi sekretaris itu sudah duluan pulang, serta tidak mau memperbaiki hari itu juga padahal surat itu mendesak. Kelegaan yang muncul tadi benar-benar hanya bertahan sesaat, emosi itu muncul lagi. Seketika itu juga, saya membangun “tembok beton” setinggi-tingginya dengan orang ini, kalo berpapasan di kantor layaknya seperti orang tidak kenal, lama kelamaan sepertinya dia lelah juga karena ada beberapa teman juga memperlakukan dia seperti itu, dan salah satunya anak bidang saya juga. Sehingga akhirnya dia mengajukan surat pengunduran diri, malam itu air mata bercucuran, sepertinya cuma saya yang tersenyum sinis, satu persatu memeluknya termasuk saya dan itupun karena dipaksa oleh teman.
Pengunduran diri si sekretaris tersebut membuat ketua kami mencari-cari penggantinya, saya masih ingat beberapa pimpinan datang untuk melobi dan saya bingung saat itu, mau atau tidak? Tidak tahu dari mana sumbernya tiba-tiba anak-anak bidang saya mengetahui lobi-lobi yang terjadi tersebut dan mulai marah-marah serta menyindir-nyindir saya, lha padahal saya belum memutuskan, kok ini sudah pada ngomel-ngomel gak jelas (melongo.com). kemudian berbincang-bincang lagi dengan teman-teman pimpinan untuk tidak menerima tawaran tersebut dan memutuskan satu nama dan bersepakat untuk rapat pleno membicarakan pengganti sekretaris ini. Niat jahil muncul, tepat 15 menit sebelum rapat pleno dimulai, saya menyebarkan sms kepada beberapa pimpinan mengenai niat jahil tersebut. Yah memang pada dasarnya semua bersifat jahil, maka rencana jahil tersebut disetujui. Rapat dimulai, ketua memegang kendali rapat, sikap-sikap jahil mulai dikeluarkan, dan mulai terlihat emosi-emosi peserta rapat, ngedumel-ngedumel gak jelas, kami setengah mati nahan ketawa bahkan senyum sekalipun agar semua berjalan lancar. Akhirnya sudah lelah, pimpinan mengaku dosa, dan menjelaskan kebenaran, untung semuanya berterima dengan tertawa semua (untung gak ada yang berinisiatif untuk mengeroyok kami huftt).
Kembali pada rutinitas semula dengan sekretaris baru, pada awalnya semua terasa biasa-biasa saja, eitz baru satu bulan setengah berjalan, kembali lagi sekretaris kami mulai menghilang-menghilang tak tahu juntrungannya. Akhirnya ketahuan karena masalah privasinya yang dia sendiri sulit untuk mengkompromikannya. Tepat bulan April, kembali lagi sekretaris kami mengundurkan diri, waw maknyoss…. Ketua kembali stress mencari pengganti wakakkakakakk…..
Lobi-lobi kembali terjadi, muncul dua nama, salah satunya saya (lagi). Pas dilobi, hanya tertawa karena bosan, yang bikin energi terkuras dalam organisasi ini ternyata masalah-masalah yang kayak begini toh, masalah konsistensi dan komitmen ternyata. Karena komitmen yang gak tahu juntrungannya akhirnya tidak bisa berterima dengan konsekuensi logis yang muncul.
Dua bulan lagi organisasi akan berganti pengurus, dan tak mungkin posisi strategis selevel sekretaris dibiarkan kosong begitu saja. Dengan segala pertimbangan, akhirnya saya mencoba untuk menjalani sisa-sisa periode dengan menjadi sekretaris. Hmmm… lumayan lelah juga, tapi selalu ingat kata-kata Opa Haryono Semangun, “segala sesuatu yang kamu kerjakan kalo dilakukan dengan perasaan senang pasti kamu akan nyaman menjalaninya”, diperkuat dengan kata-kata dari papi Ferry Karwur, “Memang melelahkan tapi menyenangkan kalau kamu mencintai pekerjaan itu”. Mencoba menemukan rule of this game dan menjalankannya. Selalu ada batu-batu kerikil tajam yang dilewati namun selalu ada jalan keluar bagi itu semua. Berada dalam posisi ini membuat peluang konflik saya menjadi besar dan nyaris tak terkendali. Sampai detik ini pun saya masih mencoba menemukan titik kendali itu sambil tetap terus jalan tabrak sana tabrak sini. Mencoba menjalani semua rel organisasi ini dengan perasaan sayang dan cinta saya kepada organisasi ini beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi tetap tak lupa akan esensi berorganisasi itu sendiri walau tetap menganjurkan rasa kekeluargaan dalam atap ini. Berusaha menyelesaikan pekerjaan sendiri dulu secepatnya kemudian mencoba membantu teman yang lain karena akan menjadi lucu dan aneh ketika membantu teman lebih dahulu tapi pekerjaan kita sendiri belum selesai, padahal kerjaan kita itu sama penting dan urgentnya. Mencoba menilik peraturan dalam penerbangan, ketika tekanan oksigen dalam kabin pesawat menurun, akan ada masker oksigen yang diturunkan dari atas kabin masing-masing penumpang, orang tua yang membawa anak kecil harus mengenakan terlebih dahulu masker oksigennya baru menolong anaknya. Jangan sampai niat baik untuk menolong malah berbalik harus ditolong, nah kan bisa gawat tuh. Setiap orang punya porsinya masing-masing. Teringat kalimat yang dipublikasikan oleh ahli fisika yang menyebutkan bahwa “semua makhluk di Bumi ini diatur oleh hukum-hukum/ peraturan Fisika yang sangat ketat, namun alam ini tetap memberi suatu ruang kecil untuk berkreativitas dan enjoy your life”, diperkuat kalimat dari Broto Semedi dalam bukunya (saya lupa judulnya, kalau tidak salah “Bergumul di Bumi”), yang menyebutkan bahwa kita punya ruang terbuka di dunia ini, makanya manusia memang sengaja diciptakan tidak selesai/ sempurna karena agar manusia itu yang berusaha untuk menyempurnakan sendiri dan oleh hak istimewa inilah manusia itu sebenarnya adalah Tuhan-Tuhan kecil di Bumi ini karena dia punya kehendak bebas ingin sempurna sesuai keinginannya.
And the last but not least, setiap orang kita tahu gak ada yang sempurna kan, nah menyadari kita tidak sempurna itu, maka berusahalah untuk menuju ke sana dan tidak lupa buatlah ketidaksempurnaan itu dapat ditoleransi oleh orang-orang sekitar kita. Banyak orang berkata pada saya toleransi itu tak ada batasnya maka muncullah kalimat, “terima dia apa adanya”, dari satu sisi terasa ada benarnya juga, namun tidak semua orang berpendapat begitu. Kalo memang benar toleransi itu tak ada batasnya, mengapa banyak terjadi pertengkaran? Nah itu kan karena dia gak mau terima apa adanya. Mungkin setiap orang punya pendapat yang berbeda-beda mengenai hal ini dan dapat disesuaikan dengan konteksnya. Tapi jujur, saya memilih toleransi yang limited yaitu ada batasnya, karena saya memang terkotak dengan toleransi-toleransi pribadi saya dan saya memang sengaja memilih itu (saya punya kehendak bebas untuk memilih kan). Serta saya yakin dan percaya bahwa setiap orang itu memiliki batas-batas tersendiri dalam dirinya termasuk toleransi itu sendiri. Mungkin cuma Allah yang kekal lah yang punya toleransi unlimited.
Sekian curhatan saya yang tidak seberapa ini wakakkakakakk, mohon maaf bila ada salah kata, silahkan dikoreksi, dihajar, dibantai, dicaci maki, saya akan terima dengan toleransi yang saya miliki huahahahha…. :D
Kamar Kost, 27 Mei 2011
Pukul 11.05 AM
Ngetik dalam keadaan belum mandi dan sikat gigi padahal matahari uda terik haha… :)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar