Rabu, 01 Agustus 2012

Feeling……faithlessness??


Malam ini aku memilih tempat makan favoritku, duduk di pojokan favoritku juga sambil menghadap jendela di sebelah, aku melihat ke jalan dan merasa…. kosong…. Pramusaji datang dengan senyum manisnya mengantar pesananku, namun aku hanya menatap lurus pesananku diletakkan di meja dalam diam dan tanpa senyum sedikitpun.
Perasaan ini muncul lagi, perasaan dikhianati, aku mendongak semata-mata untuk menahan air mataku keluar. Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa dulu aku mengambil keputusan ini? Mungkin yang seseorang katakan padaku itu benar, aku mengambil keputusan dengan emosi dan kurang sabar. Aku berpikir egois saat itu, sebelas triwulan bukan lagi waktu yang sebentar untuk bersabar, aku lelah. Beginilah jadinya, keputusan yang aku ambil tanpa melibatkan akal sehat dan kerasionalan menjadi pedang bermata dua yang melukai tidak hanya satu bagian saja.
Aku sesap cokelat panas itu sambil menghirup aromanya dalam-dalam dan kembali merenung. Hampir delapan semester aku mengenalmu, percaya sepenuhnya padamu, tanpa pernah sekalipun tebersit rasa kecewa padamu. Tapi sekarang aku tidak tahu lagi harus percaya kepada siapa, aku masih meragu apa iya kau setega itu? Apa memang keadaan yang memaksamu harus begini atau juga ada yang sengaja mengaburkan kepercayaan itu? Entahlah, aku tidak tau jawabannya hingga detik ini. Terlalu banyak persepsi berkelebat di kepalaku. Hmmmm……
Kembali aku bersandar sambil memegang ponsel yang menyimpan memori kita, kulihat tawa renyahmu, kulihat kita berangkulan bersama tanpa beban, tanpa prasangka, polos tanpa rasa ragu satu sama lain. Aku mendongak lagi, memastikan air mata ini tidak meluncur. Saat itu, tidak pernah tebersit sedikit pun kita akan berada dalam posisi ini, jalan bersisian tanpa menoleh sedikitpun, tidak ada lagi tawa renyah tanpa prasangka itu, yang ada sekarang hanyalah rasa….terkhianati…..
Kamu, kenapa harus kamu? Tahukah kau, aku sudah melawan logikaku habis-habisan, menentang nasihat-nasihat orang yang kusayangi, menahan sakitnya dipandang aneh, hanya untuk bersamamu. Mungkin yang seseorang padaku itu benar, ini hanya soal “penasaran” saja dan sakitnya aku terjerumus serta terperdaya di dalamnya. Logikaku berontak agar aku cepat keluar namun hatiku berkata lain, aku harus membuktikan sesuatu, bayang-bayangnya selalu tidak tahu diri menghantui.
Aku tak ingin sebut ini cinta, terlalu sakral dan tinggi. Namun yang kusyukuri, benteng rasionalisasiku tentang cinta masih berdiri kokoh menantang berbagai aliran dan arus. Buat kau yang mengajariku, terima kasih kau sudah membangun pondasi hingga kokoh sampai detik ini, terima kasih untuk sebelas triwulan dalam pembangunan pondasi kokoh ini.
Hari ini aku kangen, aku tak tau apa yang kau rasa. Apa iya yang orang-orang katakan itu tentangmu dan aku? Tapi aku harus kembali dalam ranah logikaku, “tak mungkin”, itu jawabnya. Benar yang seorang katakan padaku pada malam itu, love is not meant to be…… ah sudahlah tidak perlu diteruskan.
Aku merasa kacau, semuanya tercampur aduk tak jelas, kembali kusesap cokelat panas itu, mencoba menenangkan diri, ya terlalu banyak yang ikut campur. Aku kembali menatap jendela, memperhatikan orang yang lalu lalang, mulai bangkit dan kembali menegarkan diri. Aku tidak ingin terlalu dalam terjerumus dalam kekacauan ini, dengan kesombongan aku bertahan, persetan dengan perasaan sinting dan terkhianati, persetan dengan bayangan tak tahu diri, aku mengambil sikap tidak peduli. Aku nyaris lupa, “cuek” itu karakterku.
Salatiga, 1 Agustus 2012, 23.59 WIB
Di bawah bulan Purnama

4 komentar: