Malam ini aku memilih
tempat makan favoritku, duduk di pojokan favoritku juga sambil menghadap
jendela di sebelah, aku melihat ke jalan dan merasa…. kosong…. Pramusaji datang
dengan senyum manisnya mengantar pesananku, namun aku hanya menatap lurus
pesananku diletakkan di meja dalam diam dan tanpa senyum sedikitpun.
Perasaan ini muncul
lagi, perasaan dikhianati, aku mendongak semata-mata untuk menahan air mataku
keluar. Aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa dulu aku mengambil keputusan
ini? Mungkin yang seseorang katakan padaku itu benar, aku mengambil keputusan
dengan emosi dan kurang sabar. Aku berpikir egois saat itu, sebelas triwulan
bukan lagi waktu yang sebentar untuk bersabar, aku lelah. Beginilah jadinya,
keputusan yang aku ambil tanpa melibatkan akal sehat dan kerasionalan menjadi
pedang bermata dua yang melukai tidak hanya satu bagian saja.
Aku sesap cokelat
panas itu sambil menghirup aromanya dalam-dalam dan kembali merenung. Hampir delapan
semester aku mengenalmu, percaya sepenuhnya padamu, tanpa pernah sekalipun
tebersit rasa kecewa padamu. Tapi sekarang aku tidak tahu lagi harus percaya
kepada siapa, aku masih meragu apa iya kau setega itu? Apa memang keadaan yang
memaksamu harus begini atau juga ada yang sengaja mengaburkan kepercayaan itu? Entahlah,
aku tidak tau jawabannya hingga detik ini. Terlalu banyak persepsi berkelebat
di kepalaku. Hmmmm……
Kembali aku bersandar
sambil memegang ponsel yang menyimpan memori kita, kulihat tawa renyahmu,
kulihat kita berangkulan bersama tanpa beban, tanpa prasangka, polos tanpa rasa
ragu satu sama lain. Aku mendongak lagi, memastikan air mata ini tidak
meluncur. Saat itu, tidak pernah tebersit sedikit pun kita akan berada dalam
posisi ini, jalan bersisian tanpa menoleh sedikitpun, tidak ada lagi tawa
renyah tanpa prasangka itu, yang ada sekarang hanyalah rasa….terkhianati…..
Kamu, kenapa harus
kamu? Tahukah kau, aku sudah melawan logikaku habis-habisan, menentang
nasihat-nasihat orang yang kusayangi, menahan sakitnya dipandang aneh, hanya
untuk bersamamu. Mungkin yang seseorang padaku itu benar, ini hanya soal “penasaran”
saja dan sakitnya aku terjerumus serta terperdaya di dalamnya. Logikaku
berontak agar aku cepat keluar namun hatiku berkata lain, aku harus membuktikan
sesuatu, bayang-bayangnya selalu tidak tahu diri menghantui.
Aku tak ingin sebut
ini cinta, terlalu sakral dan tinggi. Namun yang kusyukuri, benteng rasionalisasiku
tentang cinta masih berdiri kokoh menantang berbagai aliran dan arus. Buat kau
yang mengajariku, terima kasih kau sudah membangun pondasi hingga kokoh sampai
detik ini, terima kasih untuk sebelas triwulan dalam pembangunan pondasi kokoh
ini.
Hari ini aku kangen,
aku tak tau apa yang kau rasa. Apa iya yang orang-orang katakan itu tentangmu
dan aku? Tapi aku harus kembali dalam ranah logikaku, “tak mungkin”, itu
jawabnya. Benar yang seorang katakan padaku pada malam itu, love is not meant to be…… ah sudahlah
tidak perlu diteruskan.
Aku
merasa kacau, semuanya tercampur aduk tak jelas, kembali kusesap cokelat panas
itu, mencoba menenangkan diri, ya terlalu banyak yang ikut campur. Aku kembali
menatap jendela, memperhatikan orang yang lalu lalang, mulai bangkit dan
kembali menegarkan diri. Aku tidak ingin terlalu dalam terjerumus dalam
kekacauan ini, dengan kesombongan aku bertahan, persetan dengan perasaan sinting
dan terkhianati, persetan dengan bayangan tak tahu diri, aku mengambil sikap
tidak peduli. Aku nyaris lupa, “cuek” itu karakterku.
Salatiga, 1 Agustus 2012, 23.59 WIB
Di bawah bulan Purnama
semangat2...
BalasHapus:-)
hehe... tengkyu mas rani :)
BalasHapusgamang
BalasHapusgamang, marah, sakit hati, nyampur semua hahahaha.....
BalasHapus