Senin, 12 November 2012

It’s only matter of time


Tiga tahun satu bulan, waktu yang tidak terlalu singkat memang rasanya. Aku menyukainya, tanpa syarat, tanpa berharap lebih, menikmati rasa ini. Menikmati setiap senyum dan tawa khasnya, menikmati setiap fragmen kebersamaan dengannya. Melihat wajah seriusnya, wajah gusarnya, merasakan kebahagiaan dengan celetukan – celetukannya untukku. Aku menikmati semuanya, pertengkaran dengannya, curhat dengannya, aku menikmatinya, sungguh!
Entah mengapa rasaku padanya sama sekali tak egois, aku tak berniat sedikitpun untuk memilikinya secara fisik, aku selalu merasa penuh, selalu merasa puas, selalu tak ingin ini – itu, rasanya ini cukup, eksistensiku untuk meminta lebih padanya tak ada sedikitpun. Dia selalu memuaskanku.
Begitu banyak dinamika yang kami lewati, hingga suatu saat dia bersama yang lain, aku bersama yang lain, namun lagi – lagi tak sedikitpun ada yang berkurang, rasaku tak pernah berkurang untuknya, waktu dan kondisi tak pernah menggerusnya. Hingga saat aku tak lagi bersama yang lain dan akhirnya aku tahu rasanya juga, aku juga tak ingin meminta lebih. Aku tetap menikmatinya. Rasaku terus bertambah, namun keegoisanku terus menurun dan tiada untuknya.
Dia yang ternyata selalu melindungiku tanpa kusadari, di saat ku letih dialah yang ada, bertahun – tahun ternyata dialah yang selalu ada dan hadir. Saat ku dalam keletihan yang luar biasa, tak kan ku lupa, teh hangat yang kau sodorkan itu, kemudian menemani dan menggantikan tugasku. Tak juga ku lupa, bagaimana kau marah karena pernah ku bilang kau tak menyayangi. Takkan ku lupa caramu menyayangi, caramu berbeda, dan bodohnya aku baru menyadarinya setelah bertahun – tahun ini.
Benar juga yang orang bilang, “indah dan tepat pada waktuNya”, juga yang David Cook bilang, “it’s only matter of time”. Waktulah yang membuktikan dan menjawabnya. Kau begitu tulus, aku pun begitu. Tak ada keegoisan di antara kita. Cinta itu memiliki, dengan caranya sendiri. Kita saling memiliki, dengan cara kita, tanpa syarat.
Kadang ku bertanya pada diri sendiri, mengapa aku begini? Tanpa beban, aku benar – benar menikmatinya. Akhirnya aku memilih berefleksi di pagi ini. Semoga tidak salah, aku merasa pintu hatiku terbuka untukmu, tanpa syarat, tanpa pandang bulu, cinta kasih yang mengalir bebas. Dan yang paling penting cinta kasihku padamu sama besarnya kepada diriku sendiri. Pengalaman masa laluku membuatku belajar mencintai diri sendiri yang aku sebut pemaafan. Aku memilih melangkah keluar dari rasa bersalah, berdamai dengan diri sendiri. Dan aku memiliki nyali untuk mengatakan, dengan sejujurnya, dari relung hati yang terdalam, aku akan menyongsong ke depan, bukannya mundur, untuk menemukan cinta kasih yang luhur, aku katakan dengan sejujurnya, bukan hanya main – main. Aku tak perlu menjadi sempurna terlebih dahulu, tanpa kesalahan, untuk memberikan cinta. Jika aku harus menunggu kesempurnaan, itu tidak akan tiba.
Konselorku bilang, cinta sejati itu langka. Ia tak mementingkan diri sendiri. Kita hanya peduli kepada orang lain. Kita berkata kepada mereka, “Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apa pun yang kamu lakukan”, dan kita bersungguh – sungguh dengan perkataan itu. Kita hanya ingin mereka bahagia. Bukankah kebahagiaannya adalah hal terpenting dalam cinta sejati ini? Mungkin inilah yang aku rasakan, aku menyayangimu tanpa beban, tanpa keegoisan, tanpa intervensi, tak ada sedikit pun tendensi di dalamnya.
Ingin sekali ku ucap, terima kasih untuk selama ini. Mari kita menyongsong masa depan, yang lalu biarlah berlalu, jangan lagi ada penyesalan, berdamai dengan masa lalu dan diri sendiri, menikmati setiap fragmen – fragmen yang akan kita lalui. Inilah saatnya, marilah kita berbahagia… ya, berbahagia J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar