Senin, 12 November 2012

Apa sakit itu salah?


Hei… sudah hampir 5 tahun rasa sakit itu berlalu ya J. Hampir 5 tahun juga aku menyimpannya dalam memoriku rapat – rapat. Hingga saat ini, kau yang memilih untuk membukanya, membuka untuknya. Membuka lagi kisah kita, kisah yang hmmm… entahlah hendak seperti apa kisah itu dapat dinilai.
Mengenalmu 8 tahun yang lalu, anak berandal, pemakai narkotik, disukai banyak cewek. Tiba – tiba datang, mengucap hal yang kupikir kau sedang meracau karena sakau. Kau menangkan bukan karena memamerkan kelebihan – kelebihanmu namun menuturkan kekurangan – kekuranganmu dan inginmu keluar dari lembah addictedmu. Aku hanya tahu kau butuh aku, itu saja, sederhana sekali.
Hampir 1,5 tahun aku mendampingimu hingga kau terlepas dari jerat addictedmu. Masa – masa berat namun sangat kunikmati. Kukubur mimpiku untuk menjadi pebasket, semua untukmu. Tak ku lupa, malam hujan itu, kau menghubungiku karena sakitmu akibat sakau, ku perjuangkan kau padahal suasana berduka akibat saudaraku pergi meninggalkanku selamanya masih meliputi saat itu. Dengan resah kubawa motor itu di tengah hujan, hingga kecelakaan itu tak terelakkan lagi. Aku orang yang susah mati katanya, koma dua hari tak menghentikan hidupku. Cedera tulang punggung yang kualami mengakibatkan ku harus rela ditopang kursi roda selama 2 minggu, fisiotherapy yang harus rutin ku lakukan, padahal saat itu karirku sebagai pebasket di DBL sedang pada puncaknya, sebagai point maker, play maker , ah indah sekali masa itu, namun harus rela kukubur karena cedera parah itu. Dengan segera aku bangkit dan terus mendampingimu kembali.
Aku percaya segala sesuatu diijinkan terjadi, tiga tahun bersama tak menjamin segala yang kita inginkan. Kau memilihnya, sahabatku sendiri, khilaf katamu, menghilang, kutanggung dan kutemani sahabatku, kutanggung buah cinta kalian. Sembilan bulan aku mendampingi sahabatku, menguras semua yang kupunya untuknya, karena rasa sayangku padanya jauh lebih besar menutupi sakit yang dia torehkan. Setelah buah cinta kalian boleh lihat dunia, kalian menghilang, kutanggung dia, karena aku sadar dia belum tau apa-apa dan tak pantas menerima perlakuan seperti ini. Aku rangkul dia, kutanggung dia dengan segala resiko dan konsekuensinya. Enam bulan lamanya. Kalian kembali, mengambilnya dari pelukanku, kurelakan lagi karena kalianlah yang lebih berhak dan pantas. Aku gendong dia ketika kalian ucap sumpah itu bahkan aku yang menjadi saksi. Aku rela itu karena apa? Karena aku sungguh mencintaimu.
Sakit sekali rasanya, sakit sekali, sungguh sakit. Aku memilih berhenti sejenak, bukan karena terlalu lelah, namun untuk mengumpulkan kekuatan, aku harus bangkit. Dengan sisa – sisa tenagaku, ku beranikan diri menantang arus itu, aku keluar dari zona nyamanku, memilih keluar dari kota yang mempertemukan kita itu. Rasaku tak pernah berkurang untukmu, sungguh. Biar begitu banyak luka yang kau beri, tak pernah ingin ku sesali semua itu. Rasaku tak pernah sedikitpun berkurang, selalu ada dan tetap sama seperti dulu. Aku tetap memilikimu dengan  caraku sendiri. Berbahagialah dengan caramu, berbahagialah…. Bila kali ini kau datang lagi, meminta ku kembali, aku kembali, tapi dengan cara yang berbeda. Jangan lagi kau sesali, hadapilah dan please, berbahagialah….. karena rasa sakit tak pernah salah, karena dia kita dapat mengerti arti kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar