Hei… sudah hampir 5
tahun rasa sakit itu berlalu ya J. Hampir 5 tahun
juga aku menyimpannya dalam memoriku rapat – rapat. Hingga saat ini, kau yang
memilih untuk membukanya, membuka untuknya. Membuka lagi kisah kita, kisah yang
hmmm… entahlah hendak seperti apa kisah itu dapat dinilai.
Mengenalmu 8 tahun yang
lalu, anak berandal, pemakai narkotik, disukai banyak cewek. Tiba – tiba
datang, mengucap hal yang kupikir kau sedang meracau karena sakau. Kau
menangkan bukan karena memamerkan kelebihan – kelebihanmu namun menuturkan
kekurangan – kekuranganmu dan inginmu keluar dari lembah addictedmu. Aku hanya tahu kau butuh aku, itu saja, sederhana
sekali.
Hampir 1,5 tahun aku
mendampingimu hingga kau terlepas dari jerat addictedmu. Masa – masa berat namun sangat kunikmati. Kukubur
mimpiku untuk menjadi pebasket, semua untukmu. Tak ku lupa, malam hujan itu,
kau menghubungiku karena sakitmu akibat sakau, ku perjuangkan kau padahal
suasana berduka akibat saudaraku pergi meninggalkanku selamanya masih meliputi
saat itu. Dengan resah kubawa motor itu di tengah hujan, hingga kecelakaan itu
tak terelakkan lagi. Aku orang yang susah mati katanya, koma dua hari tak
menghentikan hidupku. Cedera tulang punggung yang kualami mengakibatkan ku
harus rela ditopang kursi roda selama 2 minggu, fisiotherapy yang harus rutin
ku lakukan, padahal saat itu karirku sebagai pebasket di DBL sedang pada
puncaknya, sebagai point maker, play maker , ah indah sekali masa itu,
namun harus rela kukubur karena cedera parah itu. Dengan segera aku bangkit dan
terus mendampingimu kembali.
Aku percaya segala
sesuatu diijinkan terjadi, tiga tahun bersama tak menjamin segala yang kita
inginkan. Kau memilihnya, sahabatku sendiri, khilaf katamu, menghilang,
kutanggung dan kutemani sahabatku, kutanggung buah cinta kalian. Sembilan bulan
aku mendampingi sahabatku, menguras semua yang kupunya untuknya, karena rasa
sayangku padanya jauh lebih besar menutupi sakit yang dia torehkan. Setelah
buah cinta kalian boleh lihat dunia, kalian menghilang, kutanggung dia, karena
aku sadar dia belum tau apa-apa dan tak pantas menerima perlakuan seperti ini.
Aku rangkul dia, kutanggung dia dengan segala resiko dan konsekuensinya. Enam
bulan lamanya. Kalian kembali, mengambilnya dari pelukanku, kurelakan lagi
karena kalianlah yang lebih berhak dan pantas. Aku gendong dia ketika kalian
ucap sumpah itu bahkan aku yang menjadi saksi. Aku rela itu karena apa? Karena
aku sungguh mencintaimu.
Sakit
sekali rasanya, sakit sekali, sungguh sakit. Aku memilih berhenti sejenak,
bukan karena terlalu lelah, namun untuk mengumpulkan kekuatan, aku harus
bangkit. Dengan sisa – sisa tenagaku, ku beranikan diri menantang arus itu, aku
keluar dari zona nyamanku, memilih keluar dari kota yang mempertemukan kita
itu. Rasaku tak pernah berkurang untukmu, sungguh. Biar begitu banyak luka yang
kau beri, tak pernah ingin ku sesali semua itu. Rasaku tak pernah sedikitpun
berkurang, selalu ada dan tetap sama seperti dulu. Aku tetap memilikimu
dengan caraku sendiri. Berbahagialah
dengan caramu, berbahagialah…. Bila kali ini kau datang lagi, meminta ku
kembali, aku kembali, tapi dengan cara yang berbeda. Jangan lagi kau sesali,
hadapilah dan please, berbahagialah….. karena rasa sakit tak pernah salah,
karena dia kita dapat mengerti arti kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar