Rabu, 10 September 2014

Wonderful Indonesia : Kekayaan Alam dan Budaya Raja Ampat



Raja ampat, sebuah kabupaten yang terletak di Timur Indonesia memang sudah tak asing lagi di telinga kita. Mendunianya nama Raja Ampat berawal ketika majalah National Geographic yang terbit pada September 2007 mengulas tentang Raja Ampat. Majalah ini begitu apik menceritakan tentang keindahan Raja Ampat beserta dokumentasi gambar yang menawan. Kabupaten Raja Ampat terdiri atas daerah kepulauan di bagian kepala “burung” Papua, seperti Pulau Misool, Batanta, Salawati, Wayag, Waigeo, Saonek, Saonek Mondie (Saonek Kecil), Kofiau, Fafanlap, serta masih banyak lagi pulau yang masuk dalam area Raja Ampat yang jumlah pulaunya 610. Ibukota kabupaten Raja Ampat terletak di Pulau Waigeo, tepatnya di Waisai Distrik Waigeo Selatan.
Kekayaan Raja Ampat tidak sebatas pada kekayaan bawah lautnya saja, tetapi juga di daratannya yang begitu kaya, lihat saja begitu banyak jenis burung yang terdapat di Raja Ampat. Sebut saja burung Cenderawasih yang terkenal endemik di Papua, di Raja Ampat sendiri terdapat 39 spesies jenis burung ini. Kemudian kekayaan floranya yang melimpah. Di antara keanekaragaman flora ini, terdapat banyak tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk pengobatan tradisional. Sebagai contoh ada tanaman Pulai (Alstonia scholaris) dan Ketepeng (Cassia tora) yang memiliki manfaat untuk mengobati penyakit Malaria. Dan kita tahu bersama bahwa penyakit Malaria merupakan epidemi penyakit di kawasan Papua termasuk di dalamnya Kabupaten Raja Ampat ini sendiri. Bila berbicara mengenai kekayaan laut Raja Ampat, tidak perlu diragukan lagi bahwa kabupaten yang 85% daerahnya berupa perairan ini sangat kaya. Terdapat sekitar 559 spesies karang keras, 699 moluska, 1346 jenis ikan dengan 828 jenis merupakan spesies ikan karang serta lamun dan rumput laut yang belum terlalu dieksplorasi. Terumbu karangnya pun dalam keadaan baik sehingga tak heran bila kawasan Raja Ampat ini masuk dalam coral triangle.



Baliho di tepi Pantai WTC (Waisai Torang Cinta) (dok.pri)


Masyarakat Raja Ampat mengenal budaya “Sasi”. Budaya Sasi ini sebenarnya berasal dari Maluku dan turun temurun sampai ke berbagai daerah di Indonesia termasuk Raja Ampat. Sasi ini merupakan suatu cara konservasi tradisional untuk melindungi keanekaragaman hayati. Keberhasilan konservasi di Raja Ampat tidak lepas dari peran dan pengaruh sasi yang cukup kuat di kawasan ini. Sasi menjadi bagian yang sangat penting dalam peningkatan populasi sumberdaya alam hayati, dan sangat membantu masyarakat Raja Ampat dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Sasi berpatokan pada pengelolaan sumberdaya alam secara tradisional serta larangan panen pada sumberdaya darat maupun laut. Peraturan sasi melarang pemanenan hasil hutan atau hasil laut yang belum waktunya dipanen, akan tetapi peraturan itu juga berlaku di dalam kehidupan masyarakat (Sasi regulations prohibit the premature harvesting of forest and marine products, but are also applied on social behavior). Terdapat 2 jenis sasi yaitu sasi darat dan sasi laut. Jenis-jenis sasi tersebut di antaranya; sasi kelapa, sasi lola, sasi teripang, dan lain-lain. Mengacu pada sistem kepercayaan yang mendasari sasi dan pemimpin ritualnya, dikenal sasi negeri, sasi gereja, dan sasi masjid. Masing-masing nama ini secara berturut-turut mengacu kepada sistem kepercayaan Kristen, pastor atau pendeta sebagai pemimpin dan gereja sebagai tempat ritualnya, serta Islam, imam dan masjid. Kekuatan hukum aturan sasi diakui secara adat maupun agama. Pelaksanaan dan pengawasan aturan sasi dilakukan oleh lembaga Kewang (semacam polisi hutan) yang diangkat dengan upacara adat yang sakral. Pelaksanaan sasi juga mendapat dukungan doa dan berkat dari upacara keagamaan di gereja atau masjid.
Tidak hanya sasi, dikenal juga “Balobe”, cara unik masyarakat di Distrik Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat dalam menangkap ikan kembung jantan. Balobe dapat dilakukan saat bulan gelap, dengan mengandalkan cahaya petromaks yang diletakkan di ”kepala” sampan untuk menstimulus ikan naik ke permukaan dan mengikuti arah sampan, sampan diarahkan ke tepian pantai yang telah dibuatkan tanggul menggunakan batu.
Masih banyak lagi kekayaan alam dan budaya Raja Ampat yang belum tereksplor. Dari sekian banyak kekayaan yang tereksplor, siapa yang tidak ingin langsung menyelam dan menyaksikan sendiri kekayaan bawah laut Raja Ampat? Siapa yang tidak ingin melihat langsung pelaksanaan Balobe di teluk Mayalibit yang katanya indah itu? Siapa yang tidak ingin langsung menjelajah hutan dan melihat dengan mata kita sendiri burung cenderawasih dengan beragam spesies itu? Ah, Raja Ampat, Berlian di ujung timur Indonesia yang harus terus dijaga kelestariannya. Inilah Indonesia, dengan kekayaannya yang mendunia. http://indonesia.travel/id/destination/248/raja-ampat
 

Waiwo (dok.pri)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar