Raja
ampat, sebuah kabupaten yang terletak di Timur Indonesia memang sudah tak asing
lagi di telinga kita. Mendunianya nama Raja Ampat berawal ketika majalah National Geographic yang terbit pada
September 2007 mengulas tentang Raja Ampat. Majalah ini begitu apik
menceritakan tentang keindahan Raja Ampat beserta dokumentasi gambar yang
menawan. Kabupaten Raja Ampat terdiri atas daerah kepulauan di bagian kepala
“burung” Papua, seperti Pulau Misool, Batanta, Salawati, Wayag, Waigeo, Saonek,
Saonek Mondie (Saonek Kecil), Kofiau, Fafanlap, serta masih banyak lagi pulau
yang masuk dalam area Raja Ampat yang jumlah pulaunya 610. Ibukota kabupaten
Raja Ampat terletak di Pulau Waigeo, tepatnya di Waisai Distrik Waigeo Selatan.
Kekayaan
Raja Ampat tidak sebatas pada kekayaan bawah lautnya saja, tetapi juga di
daratannya yang begitu kaya, lihat saja begitu banyak jenis burung yang
terdapat di Raja Ampat. Sebut saja burung Cenderawasih yang terkenal endemik di
Papua, di Raja Ampat sendiri terdapat 39 spesies jenis burung ini. Kemudian
kekayaan floranya yang melimpah. Di antara keanekaragaman flora ini, terdapat
banyak tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk pengobatan
tradisional. Sebagai contoh ada tanaman Pulai (Alstonia scholaris) dan Ketepeng (Cassia tora) yang memiliki manfaat untuk mengobati penyakit
Malaria. Dan kita tahu bersama bahwa penyakit Malaria merupakan epidemi
penyakit di kawasan Papua termasuk di dalamnya Kabupaten Raja Ampat ini
sendiri. Bila berbicara mengenai kekayaan laut Raja Ampat, tidak perlu
diragukan lagi bahwa kabupaten yang 85% daerahnya berupa perairan ini sangat
kaya. Terdapat sekitar 559 spesies karang keras, 699 moluska, 1346 jenis ikan
dengan 828 jenis merupakan spesies ikan karang serta lamun dan rumput laut yang
belum terlalu dieksplorasi. Terumbu karangnya pun dalam keadaan baik sehingga
tak heran bila kawasan Raja Ampat ini masuk dalam coral triangle.
Baliho
di tepi Pantai WTC (Waisai Torang Cinta) (dok.pri)
Masyarakat Raja Ampat mengenal budaya
“Sasi”. Budaya Sasi ini sebenarnya
berasal dari Maluku dan turun temurun sampai ke berbagai daerah di Indonesia
termasuk Raja Ampat. Sasi ini
merupakan suatu cara konservasi tradisional untuk melindungi keanekaragaman
hayati. Keberhasilan konservasi di Raja Ampat tidak lepas dari peran dan
pengaruh sasi yang cukup kuat di
kawasan ini. Sasi menjadi bagian yang
sangat penting dalam peningkatan populasi sumberdaya alam hayati, dan sangat
membantu masyarakat Raja Ampat dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam
yang ada sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Sasi berpatokan pada pengelolaan sumberdaya alam secara
tradisional serta larangan panen pada sumberdaya darat maupun laut. Peraturan sasi melarang pemanenan hasil hutan atau
hasil laut yang belum waktunya dipanen, akan tetapi peraturan itu juga berlaku
di dalam kehidupan masyarakat (Sasi
regulations prohibit the premature harvesting of forest and marine products,
but are also applied on social behavior).
Terdapat
2 jenis sasi yaitu sasi darat dan
sasi laut. Jenis-jenis sasi tersebut
di antaranya; sasi kelapa, sasi lola, sasi teripang, dan lain-lain. Mengacu pada sistem kepercayaan yang
mendasari sasi dan pemimpin
ritualnya, dikenal sasi negeri, sasi gereja, dan sasi masjid. Masing-masing nama ini secara berturut-turut mengacu
kepada sistem kepercayaan Kristen, pastor atau pendeta sebagai pemimpin dan
gereja sebagai tempat ritualnya, serta Islam, imam dan masjid. Kekuatan hukum aturan sasi diakui secara adat maupun agama.
Pelaksanaan dan pengawasan aturan sasi dilakukan
oleh lembaga Kewang (semacam polisi
hutan) yang diangkat dengan upacara adat yang sakral. Pelaksanaan sasi juga mendapat dukungan doa dan
berkat dari upacara keagamaan di gereja atau masjid.
Tidak
hanya sasi, dikenal juga “Balobe”,
cara unik masyarakat di Distrik Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat dalam
menangkap ikan kembung jantan. Balobe
dapat dilakukan saat bulan gelap, dengan mengandalkan cahaya petromaks yang
diletakkan di ”kepala” sampan untuk menstimulus ikan naik ke permukaan dan mengikuti
arah sampan, sampan diarahkan ke tepian pantai yang telah dibuatkan tanggul
menggunakan batu.
Masih
banyak lagi kekayaan alam dan budaya Raja Ampat yang belum tereksplor. Dari
sekian banyak kekayaan yang tereksplor, siapa yang tidak ingin langsung
menyelam dan menyaksikan sendiri kekayaan bawah laut Raja Ampat? Siapa yang
tidak ingin melihat langsung pelaksanaan Balobe di teluk Mayalibit yang katanya
indah itu? Siapa yang tidak ingin langsung menjelajah hutan dan melihat dengan
mata kita sendiri burung cenderawasih dengan beragam spesies itu? Ah, Raja
Ampat, Berlian di ujung timur Indonesia yang harus terus dijaga kelestariannya.
Inilah Indonesia, dengan kekayaannya yang mendunia. http://indonesia.travel/id/destination/248/raja-ampat
Waiwo
(dok.pri)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar