Rabu, 17 September 2014

Pernikahan

“Bapa, aku mencintai bukan karena fisiknya, bukan karena parasnya, aku mencintai karena waktuMu mempertemukan kami. Bapa, seandainya hal terburuk pun harus terjadi padanya dan Engkau mengembalikan dia padaku saat tubuhnya tak sempurna lagi, aku pasti menyambutnya dengan sukacita. Yang ku mau bersamanya dalam keadaan apapun, dalam keadaan sempurna ataupun tidak, dalam kekurangan atau berkecukupan. Amin.”
Saya termangu membaca status seorang sahabat saya di salah satu jejaring sosial. Saya tahu dia tidak sedang bermain-main dengan statusnya, saya tahu itu isi hatinya. Silakan sebut saya orang yang sok tahu, tapi itulah kenyataannya. Saya mengenalnya, saya sedikit mengerti apa yang dirasakannya. Saya menjadi saksi ketika dengan sabarnya dia masih menunggu, dia masih tetap bersukacita dalam segala keadaannya, dia dengan tegar menghadapi segalanya. Dia masih sama, ekspresif, spontan, ceria, ya sama seperti sepuluh tahun lalu.
Ketika orang-orang di sekitarnya mencibirnya, meremehkannya, bahkan mengatainya bodoh karena setia pada yang tak setia, bodoh karena umur yang masih muda namun memilih tetap di satu hati, namun dengan tersenyum dia menjawab, saya cinta suami saya, gak akan saya tinggalin dia, bagaimanapun dia pilihan hidup saya.
Saya merenung panjang, ya inilah pernikahan. Ingat sumpah yang diucapkan di hadapan Tuhan kan? Setia hingga maut memisahkan, tetap bersama dalam keadaan apapun! Saya sadar saya belum menikah dan terkesan tak pantas untuk berkomentar soal pernikahan, tapi saya mau belajar, belajar memahami sebelum saya masuk ke dalamnya. Saya melihat setiap perceraian, ada sahabat, saudara yang mengalami ini, jujur saya sedih. Saya berpikir sumpah di hadapan Tuhan bukan hal main-main, menerima pasangan apa adanya dan ada apanya. Tapi dalam setiap kasus perceraian ada masalah perselingkuhan, tidak se-visi lagi, tidak ada kecocokan lagi, yah waktu memang kadang mengubah sesuatu. Jujur saya tidak terlalu paham alasan personal mereka, namun saya sedikit mengerti ketika kita tak mampu lagi “mengendalikan” seseorang yang kita cintai. Ketika kita setia namun dia tak setia dan memilih pergi, ketika kita tak mampu menahan langkahnya dan dia tak ingin bernegosiasi lagi. Yah hubungan itu kan soal kedua belah pihak. Dengan segala keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, saya cuma bisa bilang, “please, dua-duanya ingat lagi sumpahnya di hadapan Allah”. Gak ada masalah yang gak bisa diselesaikan, dan perceraian bukanlah pilihan.
Saya pernah berada dalam tahap meragu, untuk apa menikah, untuk apa bersumpah di hadapan Tuhan kalau dikemudian hari untuk bercerai? Kan kita gak tau apa yang akan terjadi di depan sana, orang yang paling kita cintai bisa saja berubah menjadi orang yang paling kita benci dikemudian hari. Tapi justru dari seorang yang pernah meninggalkan saya lah yang mengajarkan bahwa, “segala sesuatu itu diijinkan terjadi”. Dari situlah saya berpendapat bahwa Tuhan mempertemukan dengan segala rencanaNya yang baik. Tuhan ingin kita bersama dengan yang dipilihkanNya, itu yang terbaik. Tuhan menunjukkan segala kebaikan dan keburukan sekaligus hingga kita sanggup bersumpah di hadapanNya. Tuhan selalu mendampingi kehidupan kita bersamanya, Tuhan selalu memberi pengujian agar kita tetap saling mendukung dan kita tahan uji. Dan saya yakin bahwa perceraian bukanlah hal yang diijinkan terjadi, sama halnya dengan analogi bunuh diri, ini tidak diijinkan, tapi manusialah yang semena-mena membuat itu terjadi, inilah yang disebut kehendak bebas. Tuhan mengasihi dan mencintai kita dengan membebaskan, tanpa paksaan, bahkan mengijinkan kita meninggalkanNya namun Ia tetap menunggu kita untuk kembali juga sering meminta kita untuk kembali.
Inilah terbatasnya pemahaman saya, tapi saya yakin bahwa perjuangan sahabat saya menunggu pasti ada hal baik akan terjadi. Pintu maaf selalu terbuka, pelukan hangat selalu menunggu, kecupan manis selalu dilontarkan walau dari jauh. Pulanglah ke rumah orang yang menunggumu, yang menunggumu dengan kasih penuh dan menerimamu apapun keadaanmu :). Selamat berbahagia dan pulanglah ke tempat yang disebut “rumah” :).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar