Kamis, 23 April 2015

Guru



Saya tergelitik dengan tulisan seseorang yang mengatakan, “seorang guru merupakan murid yang sesungguhnya”. Setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga. Seorang guru harus terus menerus belajar layaknya seorang murid. Bila ia berhenti belajar maka ia tak layak disebut guru. Tugas guru selain belajar, ya mengajar. Selain mengajar, ya memberi motivasi belajar, supaya yang diajar mau terus belajar. Ribet ya jadi guru, ya itulah resikonya. Makanya guru diberi penghargaan sebagai pahlawan, bahkan dibuatkan lagunya oleh pak Sartono yang berjudul “Hymne Guru”.
Saya salut dengan para guru, terutama yang mengajar hingga pelosok, harus berjalan kaki puluhan kilometer dan mendaki serta menuruni bukit, yang gajinya hanya puluhan ribu per bulan bahkan ada yang tak digaji. Saya sedikit puas karena insentif guru sekarang mulai dinaikkan, walau belum merata. Guru tak hanya mengajar akademik namun juga moral, seperti yang saya sering dengar dari rekan yang guru, seorang teroris pencipta bom itu pintar, namun tak memiliki moral, maka disitu juga terselip dosa gurunya yang tak mengajarkannya moralitas.
Seorang guru bukan orang yang tahu segalanya, namun ia hanya lebih dulu tahu. Makanya ia perlu terus belajar dan rendah hati, karena bisa saja muridnya suatu saat lebih tahu maka ia akan belajar dari muridnya. Kembali lagi pada pernyataan di awal tulisan ini, “seorang guru merupakan murid yang sesungguhnya”.
Semoga para guru dimanapun berada, tetap berpegang teguh pada prinsipnya belajar dan mengajar. Tetap rendah hati, penuh dengan pengabdian, seperti gelar yang disematkan “pahlawan tanpa tanda jasa”.

2 komentar:

  1. Benar banget. Guru yang benar-benar menghayati keguruannya selalu belajar untuk dua hal. Belajar memampukan muridnya untuk belajar. Kedua, belajar untuk mengikuti perkembangan materi ajar sebagai sarana untuk hal pertama. Dalam dunia pendidikan hal ini dikenal dengan istilah life long education kadang juga disebut long life wducation. Kendati istilah yg digunakan beda tapi yang hendak ditonjolkan adalah pelaksanaan peinsip bahwa belajar bagi seorang guru wajib hukumnya. Sasaran akhirnya bukan sekedar transfer ilmu atau pengetahuan agar murid dapat nilai ujian setinggi-tingginya tetapi agar dalam diri murid terbentuk sikap dan keinginan belajar. Dengan terbentuknya sikap itu maka persoalan ilmu bukan hal mustahil bagi murid. Mereka bisa mendapatkannya sendiri bahkan bisa melebihi gurunya. Nah guru yang baik adalah mereka yg berhasil membangun sikap itu dalam siri murid.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu om, jadi guru itu simpel sekaligus rumit hahaha... membentuk sikap dan keingina belajar seorang murid itu yang kadang complicated..

      Hapus