Minggu, 04 Oktober 2015

Tukang Pijat di Gunung itu Memang Ada

       Gunung Kendil namanya, tingginya pun hanya 1305 mdpl. Di gunung Kendil pula saya pertama kali belajar mendaki. Sekilas bila melihat ketinggiannya, orang akan berpikir, “ah gunung pendek segitu”, namun coba deh mendaki gunung Kendil ini, dijamin kaki bakal ketar-ketir.

       3 oktober 2009, saya pertama kali mendaki Gunung Kendil, berlima kami mendaki, saya, kak Dwi, kak Dia, Andre, Lia dan Eyang Narto, mendaki melalui jalur Desa Sepakung. Kami berjalan menelusuri desa, menumpang minta air minum di rumah warga desa sampai diberi seplastik buah-buahan oleh warga yang mungkin tak tega melihat kami berjalan dari stand ojek sampai desa. Padahal warga biasanya menggunakan motor atau mobil untuk transportasinya. Ya itulah, eyang Narto mengajarkan kami “kesederhanaan” sekaligus melatih otot kaki. Saat mendaki itu juga, saya hampir saja menyerah di tengah jalan. Maklum saya ini dari kota seribu sungai, Banjarmasin, tak terbiasa mendaki gunung. Namun hari itu saya menggapai puncak walaupun harus “ngesot” dan kelelahan.
Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2009

       3 Oktober 2015, saya mendaki Gunung Kendil, kali ini ceritanya tentu berbeda. Saya mendaki kembali Gunung ini setelah 6 tahun untuk mengikuti acara ulang tahun Balano yang ke-41, kelompok mahasiswa peduli lingkungan, tempat saya dulu sewaktu bermahasiswa aktif. Kami berlima belas yang mendaki. Saya tentu saja tertinggal di belakang sewaktu mendaki karena keadaan fisik yang tak terlalu prima, saya bergadang beberapa hari sebelum pendakian. Kali ini di belakang, saya ditemani kak Dwi, Novi, dan Eyang Narto. Baru 200 meter dari basecamp, saya merasa pusing dan mual. Saya pikir mungkin rasa pusing ini akan berlangsung sebentar saja, eh malah semakin hebat rasa pusingnya, tambah berkunang-kunang dan mual. Saya secara refleks bersandar di punggung eyang Narto karena tak sanggup lagi mengangkat kepala. Eyang yang melihat keadaan saya semakin pucat dan suhu tubuh saya semakin turun, langsung menyarankan saya untuk berbaring dan seketika itu juga eyang memijat punggung, kepala, dan kaki saya. Kak Dwi dan Novi kebagian jatah memijat tangan kanan dan kiri saya. Hampir satu jam saya dipijat dan beristirahat. Setelah dipijat, keadaan saya membaik, saya disuruh istirahat sesaat sambil ngobrol. Tetiba eyang nyeletuk, lha ini yang dimaksud, ada tukang pijat di gunung! Eh iya juga, dulu kapanpun dan dimanapun mendaki bersama eyang Narto, pasti eyang selalu mengiming-imingi kalau ada tukang pijat di gunung, saya bersama teman-teman sih tidak terlalu menggubris dan hanya menganggap itu bercandaan ala eyang. Lha setelah saya mengalami mountain sickness pertama kalinya ini, baru saya memahami maksud eyang tentang tukang pijat di Gunung! Ah eyang ada benarnya juga J.
 Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2015

     Gegara saya yang semaput, kami ber-4 terlambat sampai di lokasi kemping dan harus rela berteduh dengan MMT bekas dipinggir jalur pendakian akibat hujan. Sambil berteduh, eyang nyeletuk, “suasana kehujanan, kedinginan di gunung begini kok ya selalu dirindukan”. Haha... iya juga. Saya baru kali ini mendaki setelah satu tahun tak mendaki. Pas kehujanan sambil menghirup aroma petrichor, saya bernostalgia bersama eyang Narto. Sampai kami tiba di tenda dan tidur pun saya dan eyang Narto terus bernostalgia. Ya, saya ingin sekali dekat dengan eyang Narto sebelum saya pergi jauh bertugas mengajar di pelosok negeri selama satu tahun nanti. Saya termasuk beruntung bertemu sosok Eyang Narto, saya banyak belajar dari beliau. Saya belajar tentang kesederhanaan, ketulusan, rendah hati dan yang paling seru, saya belajar “menulis dengan baik dan benar” dari eyang Narto. Beliau tidak pelit membagikan ilmunya, walau beliau dijuluki ahli taksonomi tumbuhan, tak pernah sekalipun beliau menunjukkan keangkuhannya, malah mengajak kami mahasiswanya untuk belajar bersama.
 Di Puncak Gunung Kendil 3 Oktober 2015


       Ah tidak terasa, 6 tahun terasa cepat sekali berlalu. Gunung Kendil punya tempat istimewa di hati saya. Dua kali saya mendaki gunung yang katanya “pendek” ini, saya selalu saja hampir menyerah, tapi selalu saja ada Eyang Narto yang memberi semangat hingga saya mampu menggapai puncak. Saya juga bersyukur sekaligus jadi pelajaran berharga bagi saya untuk selalu menjaga kondisi tubuh tetap prima saat mendaki agar tak tepar selama perjalanan pendakian dan saya akhirnya memahami istilah “tukang pijat di gunung” yang sering disebut Eyang Narto. Ah saya beruntung mengalami semua proses ini. Ya, saya beruntung.

Eyang Narto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar