Minggu
lalu, 31 Juli 2015, saya menjalani dirrect assesment (DA) Indonesia Mengajar (IM)
di Yogyakarta. Saya dapat memasuki tahap ini setelah lolos tahap pertama,
penilaian data diri, pengalaman komprehensif dan penilaian terhadap esai yang
dibuat. Yeah, saya bahagia pake banget karena bisa jadi bagian dari 195 orang
yang lolos dari 8249 aplikasi yang masuk. Perjuangan membuat esai sebanyak 11
paper terbayar sudah dengan pengumuman yang masuk ke email saya 9 Juni 2015
lalu. Beberapa hari kemudian email dari IM dateng lagi, menerangkan apa yang
harus dipersiapkan untuk menghadapi DA dan hal-hal yang menyangkut teknis. DA
IM itu ada beberapa tahapan, self
presentation, focus group discussion, wawancara (dua kali dengan assesor
berbeda), simulasi mengajar, dan tes psikologi.
Self
presentation, saya menghadapi bagian ini dengan amat santai, gimana enggak,
lha cuma jelasin saya apa adanya, pengalaman berorganisasi dan mengajar, dan
motivasi kenapa mendaftar IM. Saya merasa free
saja menjelaskan tentang diri saya, apa adanya, like said this is my self! #sokconfident #sigh. Lagipula pendengarnya cuma
peserta kelompok 6 orang plus tiga orang assesor. Kemudian focus group disscusion, memasuki tahap ini, kita diberi sebuah
bendel yang di dalamnya menceritakan sebuah polemik yang terjadi di suatu
daerah, seperti kesadaran masyarakat daerah tersebut tentang pendidikan dan
keadaan ekonomi serta sekolah di daerah itu. Kita diminta untuk memilih salah
satu opsi problem solving dari enam
opsi yang ditawarkan. Masing-masing mengerjakannya, diberi waktu 25 menit. Setelah
itu kita membentuk sebuah kelompok, masing-masing mengutarakan opsi yang
dipilih dan alasan kuatnya apa, pertimbangan-pertimbangan pentingnya seperti
apa. Sesi ini kita diawasi oleh tiga orang assesor. Di akhir diskusi, kita
harus membuat keputusan, tiga opsi terbaik menurut kelompok diajukan. Setelah diskusi
alot, akhirnya kami bisa menentukan tiga opsi terbaik versi kami. Dan ingat,
keputusan yang diambil tidak boleh hasil voting!
Tahap berikutnya adalah wawancara. Saya di wawancarai oleh dua orang assesor,
assesor pertama selama satu jam, di assesor kedua cuma setengah jam. Tahap ini nyantai kok, palingan ditanyain seputar
essai yang kita buat, pengalaman komprehensif kita, dan selama kita gak bohong
waktu ngisi aplikasi online, tahap
ini bakal berasa enteng deh. Kemudian yang paling mendebarkan bagi saya adalah
tahap Simulasi Mengajar. Bagaimana tidak, saya orang yang berkutat dengan sains
bertahun-tahun, namun tema mengajar saya hari itu adalah IPS, "Menceritakan Peristiwa Penting Dalam Keluarga Secara Kronologis". Waduh, saya sampai ngubek-ngubek RPP di internet sebelumnya.
Tahap simulasi mengajar ini kita ditemani oleh empat orang alumni pengajar muda
(PM). Karena mereka telah berpengalaman mengajar di pelosok sebagai pengajar
muda, maka suasana kelas di tahap simulasi ini dibuat betul-betul seperti kelas
sesungguhnya di daerah penempatan. Setiap satu peserta mengajar, peserta yang lain dan alumni PM
akan menjadi siswanya dan setiap peserta diberi skenario berbeda-beda. Ada yang
kelasnya berisi siswa manja hingga menimbulkan ke-iri-an siswa lain, kelas pun
gaduh, ada juga yang tetiba orang tua siswa datang ke sekolah mengajak paksa
anaknya pulang untuk membantu di ladang, lalu siswa yang tetiba semuanya keluar
kelas ditengah-tengah jam belajar gegara abang bakso lewat, saya sendiri dapet
skenario dimana siswa berebutan pergi ke toilet karena ikut-ikutan teman yang
lain ke toilet, praktis kelas saya gaduh, materi yang sudah saya persiapkan menguap entah kemana karena sibuk
mengondusifkan suasana kelas. Tahap simulasi mengajar ini gak jadi mendebarkan,
tapi jadi kocak banget #LOL. Tahap terakhir
adalah test psikologi. Simpel ajah testnya, walau mungkin artinya dalem.
DA kami di Yogyakarta mulai dari jam
setengah delapan pagi hingga jam setengah enam sore. Lelah juga, tapi asik. Saya
bertemu teman-teman baru di sini. Mereka orang-orang hebat pastinya, berkancah
di dunia organisasi intra-kampus maupun ekstra-kampus, berprestasi pula dalam
dunia akademik, bahkan ada yang sudah bekerja di perusahaan multinasional namun
mengikuti panggilan hatinya untuk mengajar anak-anak di pelosok negeri. Ah saya
bangga bisa bertukar cerita dengan mereka di sela-sela sesi dan setelah selesai
DA. Anyway, apapun hasilnya, berhak
lanjut ke tahap selanjutnya atau tidak, saya tidak ingin memusingkannya, yang
penting saya memberikan yang terbaik saat tahap DA ini. Dan memang benar apa
yang dikatakan orang-orang kalau di IM itu yang tidak terlupakan adalah tahap
Direct assesment-nya, gokil abis, dan saya beruntung pernah mengalaminya.
Untuk yang belom lolos Seleksi CPM
angkatan XI ini, ditunggu tuh untuk angkatan XII, lebih besar kuotanya. Angkatan
ganjil biasanya hanya dipilih 50-52 orang sedangkan angkatan ganjil akan
dipilih 70 hingga 75 orang. Jadi tetap semangat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar