ARTI SEORANG PEMIMPIN
Menjadi seorang pemimpin bukan perkara yang gampang. Kegamangan di tingkat leader bisa saja muncul setiap saat dan dalam berbagai kejadian, dengan atau tanpa adanya tekanan. Satu hal yang pasti, lepas dari perdebatan mengenai model dan karakter kepemimpinan itu sendiri, saya yakin bahwa maju mundurnya suatu organisasi akan sangat dipengaruhi oleh apa yang dilakukan dan diputuskan pemimpinnya.
Pemimpin adalah representasi organisasi, sebesar apapun organisasinya, berapa pun jumlah anggotanya dan siapa pun orang yang bernaung di dalamnya, seorang pemimpinlah yang memutuskan ke arah mana organisasi akan dibawa, dan bagaimana cara membawanya. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan kompetensi manajemen dan teknis, tetapi lebih dari itu, dibutuhkan juga wibawa dan kharisma yang mampu mengangkat nama organisasinya di mata publik.
BUKAN SEKEDAR MENGEJAR TARGET
Organisasi pasti memiliki target dan tujuan. Pemimpin yang baik tidak akan meninggalkan anggota timnya (saya menggunakan kata “anggota” bukan “anak buah” karena hubungan kerja kita adalah koordinasi bukan komando, jadi saya menyebut hubungan semua anggota dan pemimpin organisasi adalah partner/ rekan kerja). Pemimpin yang baik juga tidak akan menganggap kemajuan organisasi adalah berkat dirinya seorang. Saya pikir, ciri organisasi “modern” adalah kepemimpinan yang mampu mengerahkan anggota-anggotanya menjadi satu tim kerja yang solid. Pada point inilah saya tidak sekedar bicara bagaimana mengejar target atau bagaimana mengelola organisasi. Lebih dari itu adalah bagaimana menjalin “human relations” serta nilai-nilai dengan anggota. Saya mencoba untuk berbagi mengenai filosofi hujan, dimana air hujan yang turun ke bumi akan membasahi segala rupa benda, menyegarkan dan menyuburkan. Seperti seorang pemimpin sejati adalah siapa saja yang mampu membawa organisasinya mencapai target, namun juga mampu menjadi panutan dan melindungi anggotanya, serta menaburkan kebaikan kepada orang-orang di sekelilingnya.
KARAKTER YANG HARUS DIMILIKI SEBAGAI SEORANG PEMIMPIN
Dalam sebuah buku yang berjudul “Untuk Sebuah Nama”, disana tertulis berbagai macam karakter seorang pemimpin yaitu percaya diri namun tidak mengandalkan diri sendiri, energik namun tidak memikirkan diri sendiri, teguh namun tidak keras kepala, bijaksana namun tidak pemalu, serius namun tidak kecut hati, setia namun tidak picik, tak tergoyahkan namun tidak kaku, lembut namun tidak hipersensitif, berhati lembut namun tidak mudah sedih, berhati nurani namun tidak perfeksionis, disiplin namun tidak menuntut, murah hati namun tidak mudah ditipu, baik namun tidak lemah, humoris namun tidak menggelikan, ramah namun tidak sok kenal, kudus namun tidak sok suci, pemikir namun tidak mudah mengkritik, progresif namun tidak berpura-pura, berotoritas namun kekuasaanya terbatas. Karakter-karakter yang tertulis dibuku tersebut sangatlah perfeksionis, tapi bukan berarti hal itu tidak mungkin diwujudkan.
MAKNA BER-LK DAN IMPLEMENTASI HIDUP YANG SATYA WACANA
Apa sih makna LK? Pertanyaan yang selalu muncul sampai saya bosan mendengarnya, setiap pengumpulan berkas untuk mengikuti LMKM dari tahun ke tahun selalu diminta untuk menulis tentang apa sih makna LK itu, pada saat pencalonan menjadi Ketua Senat pun pasti ditanya juga tentang apa sih makna LK itu, sampai-sampai saya pernah berpikir satu hal konyol mengenai penanya ini. Yang bertanya ini sebenarnya sudah tahu tapi hanya mau nge-test saja atau dia memang benar-benar tidak tahu lalu dia bertanya? Pernah baru-baru ini saya ber-sms-an dengan seorang kakak angkatan saya sekaligus senior LK, dia merupakan mantan ketua BPM Fakultas Biologi, iseng saya bertanya padanya mengenai kata “makna” itu sendiri dan dia menjawab, “dalam kamus besar bahasa Indonesia, makna itu adalah pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan”, dan jujur saya tambah tidak mengerti :), kemudian kembali saya bertanya lagi dengan lebih spesifik padanya mengenai apa sih makna ber-LK menurut dia dan jawabannya adalah “PENDIDIKAN WAJIB DI LUAR KURIKULUM”. Jawaban yang praktis membuat saya melongo dan tertawa sambil membaca smsnya :), dan dia bilang dari jaman dia ber-LK, pertanyaan tersebut juga muncul dan dia bilang, bukan berarti dia bosen ditanya seperti itu tapi saya bilang kalo saya bosan lalu dia menyuruh saya untuk coba tanya yang nanya, kenapa gak bosen nanya getuan :). Cukup “refleksi” saya di atas, nah saya sekarang mencoba menghubungkan antara LK dan hidup yang Satya Wacana mengingat tema LMKM saat ini adalah “Aku Untuk Satya Wacanaku”. Lembaga Kemahasiswaan merupakan suatu wadah aspirasi dan Satya Wacana sendiri berarti Setia pada Firman. Maka LK UKSW merupakan wadah aspirasi yang tetap setia pada firman Tuhan. Lembaga Kemahasiswaan dapat dijadikan suatu tempat belajar mengenai organisasi terlebih untuk memahami dan mendalami makna Satya Wacana, dari tema LMKM kali ini, saya mencoba menyoroti kata “Satya Wacanaku” kata tersebut benar-benar menggambarkan kepemilikan. Ya, Satya Wacanaku, berarti Satya Wacana ini milik kita! Setiap orang secara logis akan menjaga, mencintai dan memperjuangkan miliknya, begitu juga yang seharusnya terjadi, kita harus menjaga, mencintai dan memperjuangkan Lembaga Satya Wacana ini. LK merupakan salah satu corong untuk kita mengekspresikan kreativitas kita dalam menyatakan cinta kita pada Satya Wacana. Hiduplah Garba Ilmiah kita :).
Last but not least, saya ingin mengungkapkan bahwa pemimpin harus memilih dan memutuskan serta berani menanggung segala resiko yang terjadi (risk taking), memilih untuk menyelaraskan nilai diri dengan nilai organisasi. Membangun kepercayaan merupakan modal terbesar seorang pemimpin, dari trust ini maka akan muncul komitmen. Trust dan commitment, keduanya merupakan barang mewah dan penting bagi seorang pemimpin.
Tulisannya bagus. Apa anak-anak LK juga baca ya? Mestinya ya/
BalasHapus