Hari Jumat, merupakan hari yang “agak” sedikit berbeda. Hujan turun dengan derasnya siang itu, membuatku yang sedang dalam pelarian menatap ke luar beranda tempatku berada, ya aku berada di lantai 3 salah satu gedung di Kampus UKSW, kulihat gunung Merbabu tertutup kabut tebal dan dingin menyelimuti. Mencoba sambil terus menulis dalam kehangatan yang dapat kurasakan dalam ruangan itu walau terlihat dingin di luar, ya menulis blog sekarang menjadi salah satu kegemaranku sekarang (walau beberapa tidak kupublikasikan).
Handphone yang terletak di samping laptopku berdering tanda sms masuk, sms itu tertulis, “Hari ini tolong fungsionaris SMU turut hadir dalam Forum Diskusi dengan Tema Kecenderungan Kurangnya Minat Mahasiswa Dalam Membaca dan Menulis yang diadakan di F110 pukul 18.00 WIB dengan pembawa materi Pak Yakub Adi Krisanto”. Hmmm…aku jadi tertarik untuk turut hadir, karena pembicaranya Pak Yakub, orang yang aku tidak pernah liat secara langsung dan hanya tahu tentangnya lewat Facebook.
Pukul 18.00, aku berangkat dari kost menuju ruang diskusi, masuk kemudian duduk. Pak Yakub mulai membagikan kertas berisi tulisannya mengenai topic yang akan dia bawakan sore itu. Hal pertama yang pak Yakub tanyakan saat itu ialah “Siapa orang di sini yang membaca Koran tiap hari?”. Suasana langsung hening dan tidak ada satupun yang mengangkat tangan. Lalu pak Yakub bertanya lagi, korannya dalam bentuk apa aja deh, yang paper atau e-paper, tetap hening. Oke kalo begitu yang baca apa aja deh, majalah atau apapun, kemudian satu persatu mahasiswa yang hadir dalam diskusi tersebut mengangkat tangan, ada yang komik, ada yang membaca majalah namun ternyata hanya melihat gambar-gambarnya saja. Oke , kalo begitu yang sering membaca diktat kuliah, ruangan terus rame, akhirnya pak Yakub bertanya ke beberapa mahasiswa, ada yang menjawab, “membaca diktat kuliah saat akan test”, dan ada juga yang menjawab, “membaca diktat kuliah kalo ada tugas saja”. Hmmm nampak sekali kalau minat membaca mahasiswa agak kurang.
Kemudian pak Yakub kembali mengambil contoh kasus yang terjadi di perpustakaan kampus sekarang. Perpustakaan kampus dulu sepi dengan pembaca tidak seperti jaman dulu sekali saat informasi yang dikemas dalam internet tidak marak, perpustakaan menjadi wadah untuk berlomba mencari ilmu. Tapi sekarang, perpustakaan ramai bukan karena ingin membaca buku, namun sekedar menikmati fasilitas wi-fi yang tersedia. Walaupun ada juga mahasiswa yang menggunakan fasilitas wi-fi perpustakaan kampus untuk menjelajah dunia luar dalam hal keilmuan dengan area jelajah mbah Google, eyang Wikipedia, om Kompas dan lain sebagainya, namun kebanyakan mahasiswa malah membuka Mas Facebook dan berkutat untuk mengganti status, ngegame atau upload photo.
Diskusi berlangsung seru saat itu, sehingga pak Yakub menantang setiap orang yang ada dalam ruangan itu untuk menulis dalam waktu 2 minggu dihitung dari hari itu dan salah satu satgas penyelenggara diskusi tersebut diminta untuk memantau tulisan yang dibuat oleh orang yang hadir dalam diskusi tersebut dan saya tidak tahu perkembangan selanjutnya mengenai tantangan itu, karena saya sendiri tidak menjawab tantangan itu dan hanya membuat tulisan 1 bulan setelah diskusi tersebut berlangsung, benar-benar lepas target :(
Pak Yakub berpendapat bahwa mahasiswa yang kritis adalah mahasiswa yang suka menulis dan mahasiswa yang suka menulis pastilah mahasiswa yang suka membaca. Membaca merupakan suatu alat alternatif dalam mencari referensi bagi mahasiswa yang ingin menulis. Dengan menulis, seseorang akan terlatih untuk berfikir secara terstruktur sehingga budaya kritis konstruktif dapat terbangun dan berkembang. So, banyaklah membaca, tulislah apa yang kau pikirkan dan kritis konstruktif lah kawan :) dan tidak lupa untuk mengucap terima kasih pada teman-teman satgas yang menyelenggarakan kegiatan ini, sehingga sore itu terasa bermakna dalam diskusi yang konstruktif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar