Setiap perjalanan pasti punya cerita, termasuk perjalanan
saya kali ini bersama para sahabat yang sudah saya anggap keluarga sendiri.
Berawal dari kejenuhan kegiatan perkuliahan dan rencana thesis, kami bersepakat
memerlukan refreshing sejenak.
Setelah rapat angkatan, maka diputuskan untuk memilih Pantai Sundak dan
beberapa lokasi wisata di Yogyakarta. Persiapan dimulai, hunting belanjaan, transport, dan perlengkapan lainnya.
Sabtu, 9 Maret 2013 pukul 06.00 WIB bersama-sama berangkat
ke Pasar Kota Salatiga untuk berbelanja perlengkapan logistik, kemudian mulai
mengolah beberapa makanan untuk dijadikan bekal selama perjalanan nanti. Ada
beberapa kejadian lucu selama persiapan ini, mulai dari perdebatan menu sampai
tragedi api yang menjulang tinggi hampir mencapai plafon ketika menggoreng ikan. Sayangnya tidak ada dokumentasi saat
itu karena kejadian yang begitu cepat saking shocknya.
Kira-kira
beginilah ilustrasinya
Saat
kejadian pun, ada kak Ventry yang sedang membuat sambel di sebelah dan ada dua
sahabat lagi (Damar dan James) yang datang dan berdiri tepat di belakang saya,
ketika api menjulang tinggi, saya sontak mundur dengan kedua tangan memegang
peralatan memasak, berharap penuh agar dua orang sahabat saya itu berinisiatif
untuk mematikan kompor, namun apa daya mereka malah seolah berdecak kagum serta
berteriak “wow...wow...wow... keren.. masterchef... masterchef...”. yak ampun,
padahal jantung saya sudah hampir mau pindah dari tempatnya, sumpah shock setengah mati (#untung gak jadi
pindah ini jantung).
Persiapan logistik sudah, pulang ke
tempat masing-masing untuk mempersiapkan diri. Pukul 14.00 WIB, perjalanan
dimulai, sepanjang perjalanan di mobil diisi dengan cerita-cerita seru. Pukul
16.00 WIB kami sudah memasuki kota Yogyakarta. Mulai meraba jalanan ke
Wonosari, karena semua penumpang mobil belum ada yang pernah ke Pantai Sundak
ini. Perjalanan berhenti sebentar untuk makan sambil beristirahat sejenak, yah
sebelum singgah ke tempat makan, perdebatan kembali terjadi untuk memilih
tempat makan (bayangkan saja, ada 10 orang dengan daerah asal yang beragam
(Papua, Kalimantan, Tobelo, Minahasa, Ambon, Kupang, Semarang, Ambarawa),
dengan selera yang berbeda-beda pula, semuanya berdebat untuk memilih mau makan
apa -__-). Akhirnya diputuskan, kita semua makan Mie Ayam Baso saja
hahahahhaa.....
Perjalanan
dilanjutkan, melalui Bukit Bintang, lalu memasuki kawasan Kota Wonosari,
ternyata ada pasar malam yang tempat parkirnya menggunakan badan jalan, singgah
sebentar untuk membeli “Arum Manis” yang begitu menggoda di pinggir jalan.
Arum Manis yang begitu menggoda J
Perjalanan
jauh sambil melewati beberapa pepohonan yang sepi membuat kak Noni cukup takut
dengan perjalanan ini, akhirnya diputuskan untuk bertanya dengan warga agar
lebih meyakinkan. Dalam beberapa kali bertanya dengan warga, ada kejadian
konyol lagi, kak Dika yang notabene duduk di depan mendampingi Damar yang
menyetir mobil, bertugas untuk bertanya pada warga, dalam satu kesempatan, Kak
Dika dengan gaya superhero melompat keluar mobil untuk bertanya, tiba-tiba saja
kembali masuk ke dalam mobil dengan wajah memelas. Kami tentu saja kaget dan
khawatir serta bertanya-tanya, kekagetan kami terjawab ketika kak Dika bilang,
“Ada anjing besar sekali, pas liat kak Dika langsung berdiri dan mendekat, kak
Dika takutttt.....”. Gubrakkk, sontak kami semua tertawa hahahhaha.....
perjalanan terus berlanjut hingga memasuki Pantai Sundak, hal konyol lagi
terjadi ketika dengan polosnya kak Dika bertanya pada penjaga parkir di pantai,
“pak, ini Pantai Sundak satu-satunya kan? Gak ada pantai Sundak yang lain?”.
Pak penjaga parkir tersebut menjawab dengan meyakinkan sambil tersenyum-senyum.
Tiba di pantai, langsung menggelar
tikar dan mulai memasak. Kejadian konyol kembali terjadi. Kompor yang digunakan
memasak adalah kompor yang sering digunakan untuk kegiatan outdoor sehingga ukurannya kecil dan menggunakan tabung gas butane
yang kecil pula, ketika angin datang, nyala api sedikit tidak stabil dan hampir
mengenai tabung, kak Dika yang memasak menggunakan kompor tersebut sontak kaget
karena takut tabung meledak memutuskan untuk berbalik badan mencoba berlari
menghindar (padahal kami semua terdiam terpaku menunggu stabilnya nyala api,
hanya kak Dika yang bereaksi). Kak Dika yang panik, mencoba bangkit untuk
menghindar, namun karena pasir yang diinjak, beliau jadi agak sulit untuk
bergerak cepat alhasil tersungkur dan menindih arum manis yang diletakkan di
belakang kak Dika, seketika bunyi meletus membahana, kami semua terpaku pada
kompor karena mengira bunyi berasal dari kompor, namun kompor baik-baik saja,
akhirnya kami menyadari suara itu berasal dari kemasan arum manis yang ditindih
kak Dika. Sebenarnya kami semua ingin tertawa melihat kekonyolan ini, namun
melihat wajah kak Dika yang cemas serta bercucuran keringat, kami mengendalikan
diri untuk tertawa, cuma memang ada satu orang atas nama James yang tidak dapat
mengendalikan diri, beliau tertawa terbahak-bahak tanpa henti, langsung saja
beliau dimaki-maki kak Dika, kami yang lain pura-pura sibuk ketika James
dimaki, saya dan Jil pura-pura fokus memasak, Kak Ventry dan Damar seketika
fokus memanggang ikan, Pak Pieter dan Mas Rumbi fokus membuat perapian, kak
Noni dan Mbak Iqna tiba-tiba sibuk bersih-bersih tikar (dalam hati tertawa
karena kejadian barusan dan bersyukur karena James dimaki-maki wakakkakakakak
#peace mbak bro hoho).
Masak dulu... J
Buat api unggun... J
Alam
memang berpihak pada kami, langit sangat cerah, bintang bertaburan di langit,
sahabat-sahabat bermain di pantai yang airnya sudah surut dan mulai mengamati
rumput laut serta hewan-hewan laut. Bertukar cerita sambil menikmati kudapan
dan langit yang indah, hmmm nikmatnya hidup ini J. Malam kian larut, saya memilih masuk ke dalam tenda untuk
beristirahat, beberapa memilih untuk masuk ke mobil dan beberapa lainnya
memilih untuk tidur beralaskan pasir pantai dan beratapkan langit berbintang.
Ada beberapa kejadian konyol lagi (menurut beberapa sahabat) namun saya tidak
menyaksikan karena sudah terlanjur masuk ke alam lain.
Saya terbangun pagi-pagi dan segera
keluar dari tenda untuk menunggu matahari terbit dan melukis langit dalam dunia
digital, namun kenarsisan para sahabat memang tak dapat terbendung, akhirnya
kamera saya lebih banyak Homo sapiens
nya daripada landscape nya hahaha....
Tidak lupa saya menyaksikan teman-teman dari tenda sebelah sholat subuh berjamaah
di pinggir pantai, ah indahnya pagi ini, dapat menyaksikan cara masing-masing
individu menikmati alam ciptaanNya, thanks God, You are rock!!!! Setelah puas
menikmati pagi, mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.
Sholat subuh berjamaah....
Pecel di areal depan Pasar Beringharjo, Malioboro, Yogyakarta
Es Dawet......
Es Durian, yummy....J
Makan Sate di depan Museum Benteng Vredeburg....
10 Maret pukul 13.30 WIB, kami mulai
meninggalkan kota Yogyakarta dengan sejuta cerita di benak masing-masing.
Sampai di kota Salatiga, pekerjaan sudah menanti, tidak lupa rencana untuk trip selanjutnya. Thank’s guys buat
pengalaman seru kali ini. Besok-besok kemana lagi ya? Hahahahha....
# Thank’s to Jesus Christ (You are my
savior), Damar, Ka Dika, Ka Noni, Mbak Iqna, Ka Ventry, Jily, James, Mas Rumbi,
Pak Pit (you all rock guys!!!!) J

seru seru ceritanya. hohohohohoho..
BalasHapusAku tak terbayang ada di situ - OMG- tertawa sampe rahang sakii.. hahaha
Baru Fit, ngana foto dgn mba sapa yang pake kaca mata itam tuh? salam e.. hahaha
huahahhahaha... ancor perjalanan kali ini, amtih perut and rahang sakiii hahaha....
Hapusitu artis kota wonosari kak haha....
yaahhh kamu sihhh masya nda ikutaannn... wakwkakwkakw.... asllii perjalanan yang mengasikkan dan ketawa terus bikin perut sakiitt... hahahahahaha.... wakwkakwkakkakwka
BalasHapusbesok bawa pregio, biar banyak yang ikut, ngakak bareng hahhahaa....
Hapus