Kujejakkan kaki di tepi pantaimu
Angin bertiup terlalu kencang menurutku
Tubuhku terasa didorong kuat oleh angin
Kuistirahatkan tubuhku dengan duduk di dermaga itu
Kulihat di sekitar dermaga banyak nelayan
melemparkan jalanya
Namun tak satupun ikan yang terjerat
Nelayan itu tidak putus asa, dia terus menerus
melemparkan jalanya
Berharap akan ada ikan yang terperangkap
Aku mengubah posisi dudukku agar leluasa untuk
menunggu terbenamnya matahari
Namun sial bagiku
Awan hitam tiba-tiba melingkupi langit
Tak lama hujan turun perlahan, lalu kemudian
menjadi deras diiringi badai
Aku berlari menjauhi pantai, menuju asrama spooky itu
Aku berhenti sejenak di beranda asrama
Kubalikkan badan dan kulihat matahari yang hampir
terbenam itu sudah tak terlihat lagi
Dia disembunyikan oleh awan hitam itu
Aku putuskan untuk masuk ke kamar
Aku buka jendela kamar dan kembali merenung sambil
bertopang dagu di pinggir jendela
Senja yang diiringi hujan badai
Aku merasa inilah tempat yang cocok untukku saat ini
Tempat yang cocok untukku yang sedang jenuh dengan
segala aktivitas kampus
Tempat yang cocok untuk melupakanmu dan mereka
sementara ini
Tempat yang cocok untukku merenung panjang
Tempat yang cocok untukku menarik diri sementara
dari kemelut dan kenyataan hidupku
Tak lama eyang yang selama ini mendampingiku
memanggil
Aku bangkit dari pinggir jendela itu dan berjalan
ke arahnya
Eyang menyambutku dengan senyum hangatnya
Seakan memaklumi keresahan hatiku
Senyuman hangat eyang seketika menentramkan hatiku
Membuatku merasa aman
Membuatku merasa tidak sendiri di sini, di dunia
ini
Hai Teluk Awur.. Terima kasih untuk senja yang kau
sajikan
Walau diselingi hujan badai, seakan kau tahu rasa
di hatiku
Kau mengerti aku Teluk Awur
Terima kasih kau dan eyang juga menyadarkanku
bahwa aku tak sendiri
Kalian selalu bersamaku disaat tersulit sekalipun
Hehehe ceritanya jadi menarik. Sangat imajinatif. Tapi kayaknya masih ada kisah yang belum terungkap kan?
BalasHapus