Hai mentari pagi, boleh
aku minta padamu? Tolong sinari hatiku yang sedang mendung. Aku merasa lelah
sekali pagi ini wahai mentari, lelah akan kehadirannya dan menari-nari dalam
benakku. Sudah hampir selusin bulan kalender aku dipermainkan oleh hatiku
sendiri, tanpa dapat kukendalikan. Aku lelah sekali mentari, lelah sekali.
Bapa, bolehkah anakMu
ini pada pagi ini meragukan kekuasaanMU? Kau selalu bilang padaku bahwa tidak
ada yang tak mungkin. Namun pada pagi ini, aku mendapati ada sesuatu yang sama
sekali tak mungkin kugapai lagi. Hatinya Bapa, aku tak dapat menggapainya, tak
mungkin. Bolehkah aku membuat permohonan untukMu Bapa? Aku mau terpisah jauh
darinya, aku ingin berjuta-juta kilometer jauhnya. Aku selalu meminta padaMu
untuk memulihkan hatiku, namun Kau terus mengujinya Bapa, aku lelah Bapa, lelah
sekali. Hari ini kudapati diriku hancur Bapa, apakah permintaanku supaya Kau
memulihkan hatiku itu salah? Pagi ini aku tersadar ketika mendapati firmanMu
berkata, “Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua
orang yang tertunduk”, mungkin seharusnya aku meminta Engkau tidak hanya
memulihkan hatiku Bapa, namun aku juga seharusnya meminta Engkau
menganugerahkan hati yang tangguh Bapa, benarkah begitu?
Hatiku rapuh Bapa,
rapuh tanpaMu. Bolehkah aku dijauhkan darinya Bapa? Aku ingin mengikisnya dari
hatiku perlahan untuk selamanya Bapa. Aku tidak ingin lagi melihatnya Bapa,
please Bapa. Aku merasa seperti anak kecil yang merengek padaMu Bapa, aku ingin
lepas dariNya Bapa.
Biar pelukan itu
menjadi yang terakhir bagi kami Bapa, pelukan yang kurindukan selusin bulan
itu, Kau kabulkan Bapa, aku dapat memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Aku
tidak mengingkari rasa sakitku padanya Bapa. Perih sekali kejujuran itu Bapa,
ternyata ini mungkin jawaban bagi kami Bapa. Dia dan aku tak layak lagi didera
Bapa. Karena kami boleh disadarkan Bapa, tak ada artinya bila bersama namun
hanya semu semata. Aku tak ingin lagi memaksakan Bapa, mungkin ini Bapa, cinta
kami tak lagi sama.
Topang
aku Bapa, topang hatiku. Aku berharap dimengerti kali ini Bapa. Aku ingin
bersamaMu saja Bapa, aku hanya ingin berdiam dalam rumahMu, bangkitkan aku
Bapa, tegakkan kepalaku Bapa.
weww..masih galau toh..hahahaha
BalasHapus