Tak pernah
kubayangkan sebelumnya, aku berada dalam kondisi seperti ini, Salmonella typhii yang merajai tubuh
disertai dengan kerinduanku padamu. Dalam kondisi terbaring, aku mengenang
kembali kebersamaan kita dulu. Pelukan hangatmu yang selalu kurindukan,
kejutan-kejutan kecil yang selalu kau implementasikan dalam bentuk muncul
tiba-tiba di hadapanku, aku merindukan kejutan kecil itu, karena aku pasti
langsung melompat ke dalam pelukanmu dengan tawa lepasku.
Tak ada yang pasti
dan tak akan yang pernah tahu akan masa depan, ya inilah kalimat rasional yang
akhirnya aku amini. Siapa yang menduga kita akan seperti ini? kita seperti
orang yang tak pernah saling mengenal bila berjumpa. Hanya sebatas
keprofesionalan pekerjaan saja yang membuat kita tetap berkomunikasi walau
jarang. Dulu aku selalu gelisah bila dirimu tak ada, namun sekarang aku sudah
terbiasa dengan ketiadaanmu, bahkan menikmati nyilunya kesendirian. Begitu banyak
yang datang dan memintaku untuk melunakkan dan menghangatkan hati, namun tak
ada satupun yang mampu membujukku.
Di
tengah kesibukan yang padat, mungkin inilah kesempatanku untuk merenung,
merenung tentang kita. Apakah sudah ada kata “tidak mungkin” di antara kita? Sudah
lama sekali rasanya aku tidak menikmati harum tubuhmu, bahkan aku hampir lupa
bagaimana hangatnya pelukanmu. Dulu duniaku hanya ada kamu dan studiku, dalam
duniamu mungkin aku tidak ada. Mungkinkah kita dapat bersama lagi? Bercengkerama
tanpa ada luka, tertawa lepas seperti dulu, menangis dalam pelukanmu, serta
kembali menyusun mimpi? Aku tak tahu, tak lagi tahu. Kau jauh sekali, aku
kesulitan menggapaimu. Apa kusudahi saja sampai di sini? Tetap tenggelam dalam
kesendirianku, karena sekarang hanya kaulah yang mampu meluluhkanku. Maaf untuk
semua kesalahan, aku sudah memaafkanmu, aku selalu mengingatmu, dan sekali lagi
maaf untuk rasa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar