Berawal dari
persiapan untuk mendaki Gunung Andong tanggal 2-3 Agustus 2012, maka saya
bersama teman-teman (kak Dika, kak Ventry, Damar dan James) melakukan pemanasan
terlebih dahulu. Kali Pancur dipilih karena selain memiliki Air Terjun yang
indah, rutenya pun cukup menguras energi dan undakan tangga-tangganya cukup
membuat kaki “gempor” haha…
ini kami :)
30 Juli 2013 pukul
06.30 WIB, meeting point kami di
perempatan Pasar Jetis, menumpang minibus ke arah Pasar Sapi, kemudian
dilanjutkan dengan minibus lagi ke arah Salaran. Tiba di Salaran, kami mulai
berjalan kaki ke arah Air Terjun Kali Pancur. Perjalanan ke arah air terjun
Kali Pancur, kami isi dengan bercerita sambil bercanda tawa. Di tengah
perjalanan kami melihat ada 2 ekor angsa jantan, 1 ekor angsa betina dengan 2
ekor anak angsa. Si angsa jantan terlihat sangat protektif, mereka melindungi
angsa betina dan anak-anaknya, maka ketika kami lewat, mereka memberikan sinyal
supaya kami tidak mengganggu mereka. Si angsa jantan menurunkan lehernya dan
menyurukkan paruhnya ke arah kami. Saya yang memiliki trauma dengan angsa,
memilih menyeberang jalan untuk menjauhi angsa, beberapa teman mengikuti
langkah saya menyeberang, namun teman kami si Damar, malah menyurukkan
tangannya ke arah angsa sehingga angsa jantan tersebut mulai menyerang kami,
Damar malah lari meninggalkan kami, saya sendiri memilih menaiki undakan di
pinggir jalan memanjat beranda rumah warga yang tinggi diikuti kak Ventry dan
kak Dika, James lah yang akhirnya melindungi kami satu persatu untuk berlari
dari tempat itu. Tak dinyana, keributan kami dengan angsa tersebut malah
menarik perhatian warga sekitar sehingga kami menjadi tontonan warga (kalau
tidak mau disebut hiburan bagi warga). Kami ditertawakan oleh warga desa
setempat, agak memalukan siy L.
Perjalanan
dilanjutkan, memasuki undakan menurun awal, terlihat Rawa Pening di kejauhan
dan puncak air terjun, teman-teman yang baru pertama kali ke sana,
melonjak-lonjak kegirangan dan semua berkata ingin segera sampai di bawah. Kami
mulai menuruni undakan tangga-tangga dan akhirnya sampai juga di bawah. Jujur,
saya cukup kaget, air terjunnya berwarna kehijauan dan mengeluarkan bau busuk
seperti kotoran ternak. Saya piker air ini tercemari kotoran ternak yang di
areal puncak air terjun ini terdapat peternakan babi >.<.
Airnya menghijau
Kecewa, itu gambaran
perasaan saya saat itu. Kali Pancur yang merupakan objek wisata malah tercemar
airnya oleh kotoran ternak yang membuatnya sama sekali tidak menarik kalau
tidak mau dibilang menjijikkan. Kesadaran warga untuk mengolah dan membuang
limbah bagi saya sangat minim. Yah, saya tidak berminat membahas ini terlalu
detail. Kami segera naik, tentu beberapa teman dengan susah payah naiknya
secara undakan tangganya sesuatu banget banyaknya.
Tiba di atas, saya
mencari warga yang memberikan kami tiket masuk tadi, namun tidak saya temukan.
Padahal saya ingin menanyakan serta mengajukan protes, mengapa kawasan wisata
ini menjadi tidak terkontrol begini. Akhirnya terus berjalan pulang, sambil
tetap waspada di tempat bertemu angsa tadi, hingga sampai di pertigaan salaran,
kami menunggu minibus yang akan mengantar kami sampai di Salatiga. Lelah dan
kecewa itu yang saya rasakan, saya berencana untuk menelusuri peternakan yang
terdapat di areal atas puncak air terjun tersebut, siapa yang mau ikut silakan
saja J.
Buat
kak Dika, ayo terus berjalan, pusing dan mual itu hal yang biasa hahaha…..
Damar, James dan kak Ventry, masih sudi menemaniku berjalan kan? Hehe…. Nikmati
saja matahari terik yang membakar kulit, keringat yang membasahi tubuh, nafas
yang tersengal serta kaki yang pegal sesudah berjalan. Thanks buat semua,
you’re rock guys J.
#Thanks
to Jesus Christ (buat segala pertolonganMu), Damar (lain kali harus lebih
peduli pada teman-teman yang lain), James (asah terus kepedulianmu bro
wakakkakak), Kak Dika (ayo terus berjalan, jangan terlalu ngandelin ayang Toto
lagi kalo cuman ke kampus doank), dan kak Ventry (mari sama-sama terus berjalan
dan mendengarkan keluhan teman-teman yang lain sepanjang perjalanan hahahaha J)

Saya pernah ke Air Terjun ini pada September 2012. Karena biasa jalan sih, turun-tanjak anak-anak tangga yang terkesan tak terawat itu tidak jadi masalah. Tapi bagi yang bertubuh subur he he, perjalanan kembali ke atas pasti membuat ngos-ngosan.
BalasHapus