Nada dan puisi datang dan
pergi menghampirimu
Tiada yang mampu merengkuh
arti dan isi hati
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Atau hewan kecil yang luput
dari pandanganmu
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Berbahagia dengan satu impian
Dan satu kejujuranku
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Hanya suara dan tatapku
menemanimu
Dan ku menyadari tanganku
Dan ku menyadari tanganku
Tak kan mampu meraihmu
Walau cinta katanya tak kan
lelah memberi
ku lepas engkau ombak hatiku
ku lepas engkau ombak hatiku
Percikmu abadi menyegarkanku
Namun biarlah kini... Kuingin
jadi cicak
S'perti cicak di dindingmu
S'perti cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu...
Cicak di dindingmu
Melekat,
menemani, membelai dinding jiwamu...
Pagi ini dengan tubuh yang masih remuk redam, tiba-tiba
aku kangen, kangen dengan suara Dewi Lestari. Kucari kasetnya dan kuputar,
meresapi setiap lirik lagunya. Hingga tiba pada lagu yang berjudul “Cicak di
Dinding”. Kuresapi setiap detil liriknya, tak terasa air mata ini mengalir. Ya
mungkin lirik lagu itu benar, sudah saatnya aku berserah dalam ketakberdayaan.
Karena seharusnya aku sudah menyadari bahwa tanganku takkan mampu meraihmu,
juga seharusnya aku melepasmu ombak hatiku.
Mungkin ini
maksud hujan semalam yang turun tanpa henti hingga pagi ini, alam pun
mengajakku untuk membasuh hati ini, melarutkan setiap detil kenangan bersamamu
ke muara yang aku tak perlu tahu di mana ujungnya. Dan kudapati pagi ini aku
baik-baik saja, hatiku baik-baik saja. Kulihat terang gunung di depan sana yang
menunggu untuk kugapai puncaknya, ya gunung tinggi itu mengijinkanku menggapai
puncaknya. Kusadari aku sudah terlalu lama berjalan, kini kudapati diriku telah
mulai berlari, berlari dan berlari. Berlari menggapai puncak gunung itu.
Kutinggalkan semua isi hatiku tentangmu di lereng gunung itu dan aku mendaki
gunung itu tanpa beban apapun. Selamat tinggal, aku takkan kembali lagi ke
lereng gunung ini, aku akan tetap menggapai puncak dan akan tetap berlari
menggapai puncak yang lain tanpa menoleh lagi.
Kini
ku harap dimengerti, tiada yang tersembunyi, rasa sakitku, tiada alasan, inilah
kejujuran, perih namun ini jawabnya, lepaskan dengan segenap jiwa tanpa harus
berdusta karena kau tak layak didera. Inilah adanya, cinta yang tak lagi sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar