Minggu, 18 Mei 2014

Cicak di Dinding

Nada dan puisi datang dan pergi menghampirimu
Tiada yang mampu merengkuh arti dan isi hati
Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu
Atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu
Ku berserah dalam ketakberdayaan
Berbahagia dengan satu impian
Dan satu kejujuranku
Ku ingin jadi cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu
Hanya suara dan tatapku menemanimu
Dan ku menyadari tanganku
Tak kan mampu meraihmu
Walau cinta katanya tak kan lelah memberi
ku lepas engkau ombak hatiku
Percikmu abadi menyegarkanku
Namun biarlah kini... Kuingin jadi cicak
S'perti cicak di dindingmu
Cicak di dindingmu... Cicak di dindingmu
Melekat, menemani, membelai dinding jiwamu...

Pagi ini dengan tubuh yang masih remuk redam, tiba-tiba aku kangen, kangen dengan suara Dewi Lestari. Kucari kasetnya dan kuputar, meresapi setiap lirik lagunya. Hingga tiba pada lagu yang berjudul “Cicak di Dinding”. Kuresapi setiap detil liriknya, tak terasa air mata ini mengalir. Ya mungkin lirik lagu itu benar, sudah saatnya aku berserah dalam ketakberdayaan. Karena seharusnya aku sudah menyadari bahwa tanganku takkan mampu meraihmu, juga seharusnya aku melepasmu ombak hatiku.
Mungkin ini maksud hujan semalam yang turun tanpa henti hingga pagi ini, alam pun mengajakku untuk membasuh hati ini, melarutkan setiap detil kenangan bersamamu ke muara yang aku tak perlu tahu di mana ujungnya. Dan kudapati pagi ini aku baik-baik saja, hatiku baik-baik saja. Kulihat terang gunung di depan sana yang menunggu untuk kugapai puncaknya, ya gunung tinggi itu mengijinkanku menggapai puncaknya. Kusadari aku sudah terlalu lama berjalan, kini kudapati diriku telah mulai berlari, berlari dan berlari. Berlari menggapai puncak gunung itu. Kutinggalkan semua isi hatiku tentangmu di lereng gunung itu dan aku mendaki gunung itu tanpa beban apapun. Selamat tinggal, aku takkan kembali lagi ke lereng gunung ini, aku akan tetap menggapai puncak dan akan tetap berlari menggapai puncak yang lain tanpa menoleh lagi.

Kini ku harap dimengerti, tiada yang tersembunyi, rasa sakitku, tiada alasan, inilah kejujuran, perih namun ini jawabnya, lepaskan dengan segenap jiwa tanpa harus berdusta karena kau tak layak didera. Inilah adanya, cinta yang tak lagi sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar