Rabu, 07 Agustus 2013

Setiap Perjalanan Pasti Punya Cerita (3) – Gunung Andong

Setiap tahun, saya selalu mengagihkan waktu traveling pada bulan Juli-Agustus, entah traveling antar kota antar provinsi atau mendaki gunung dan menyusuri pantai. Tahun 2013 ini mungkin merupakan tahun “berat” yang harus dilalui, mulai dari permasalahan studi, hati, keluarga, pertemanan, semuanya tumplek blek pada tahun ini. Namun selalu bersyukur bahwa saya punya Allah yang luar biasa, Dia selalu menopang saya dan membantu saya bangkit dari segala keterpurukan. Oke, back to the point, tahun ini saya mengagihkan tema traveling saya kali ini yaitu “ketinggian”, pikiran saya mengawang ingin melihat sunrise dan sunset dari ketinggian, menghirup udara segar pegunungan, merasakan dinginnya hawa malam gunung, menatap kabut dan menggapai puncak yang tinggi.
Untuk mempersiapkan perjalanan kali ini, saya memilih untuk melatih fisik saya terlebih dahulu, jogging, pemanasan bolak balik lereng gunung, dan memperbanyak jalan kaki. Para sahabat yang ingin join, juga saya beritahu untuk melakukan persiapan fisik terlebih dahulu karena hampir semuanya tidak pernah mendaki gunung. Pilihan mendaki kali ini jatuh pada gunung Andong, cukup relevan bagi pemula. Gunung Andong memiliki ketinggian 1736 mdpl dan saya rasa cukup pantas bagi kami yang semuanya pemula. Persiapan dilakukan, mulai dari peralatan dan logistik. Perjalanan kali ini saya akan ditemani oleh para kakak saya yaitu kak Dika, kak Ventry, kak Ulhin, kak Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing peliharaan kak Ian).
2 Agustus 2013 pukul 15.30 WIB, meeting point kami di belakang kampus UKSW. Menumpang minibus menuju Pasar Sapi. Dari Pasar Sapi, kami menumpang minibus lagi untuk menuju Pasar Ngablak. Sedikit kejadian di Pasar Sapi cukup membuat mood saya agak jelek, berawal dari kami yang berjumlah 9 orang dengan masing-masing membawa tas besar dan seekor anjing, kernet mengarahkan kami pada minibus kosong, namun setelah kami sudah duduk santai dan menata tas dalam minibus, tiba-tiba kernet itu meminta kami untuk pindah, sontak saya merasa kesal karena barang bawaan kami yang banyak jadi cukup merepotkan bila harus berpindah-pindah, terjadi perdebatan antara kak Sammy dan kernet, maka kami memutuskan untuk pindah ke minibus yang lain. Pukul 16.50 WIB, kami telah tiba di Pasar Ngablak (walau saya hampir saja tidak menyadari kalo sudah tiba karena saya sedang melamun sambil makan coklat dan duduk paling belakang).
Dari pasar Ngablak, kami berjalan kaki menuju Dusun Sawit, Desa Girirejo karena dusun ini terletak persis di kaki Gunung Andong. Dari pasar sebenarnya ada ojek untuk menuju dusun tersebut, namun karena niat kami memang ingin berjalan kaki, maka kami terus berjalan menyapa aspal sambil menikmati pemandangan di kiri-kanan jalan yang banyak terdapat tempat pembibitan juga kebun sayur.
Di kebun warga di kaki Gunung Andong, kami sempat terpisah karena saya bersama kak Dika, James, kak Ulhin dan jily berjalan duluan, di pertigaan menuju pintu jalan masuk Gunung Andong, kami memilih jalan yang membelok ke kanan. Sedangkan kak Sammy, kak Ian, Damar dan kak Ventry serta si pupi mengambil jalan belok ke kiri. 15 menit saya menunggu namun mereka masih tak terlihat, feeling saya mengatakan mereka tersesat dan saya berlari kembali ke pertigaan, bersyukur masih ada signal dan terus mencoba menghubungi mereka untuk berjalan balik. Setelah bertemu, mereka mengatakan tidak melihat ada jalan berbelok ke kanan bahkan tidak menyadari kalo itu merupakan jalan pertigaan, oke fain! Kami kemudian mulai melewati kebun-kebun warga, lalu mulai mendaki (awalnya nyasar >.<). Jalur yang dilalui cukup nyaman karena tidak terlalu curam dan sudah ada undak-undaknya. Kami terus mendaki sambil sesekali beristirahat dan saya akui sepanjang perjalanan ini kami cukup ribut. Rute awal kami melalui pepohonan pinus yang cukup teduh. Nyasar di areal pinus terjadi, mulai dari saya yang melihat bayangan putih di bawah pohon besar, SB yang jatuh ke arah jurang, hingga akhirnya bertemu dengan sepasang pendaki yang “menyelamatkan” kami haha…. Dalam tengah perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa orang tua yang juga mendaki tanpa senter dan menuju ke puncak pertama yang notabene terdapat kuburan di sana.
Akhirnya sampai juga di Puncak Gunung Andong, saya mulai mendirikan tenda dan memasak air. Kawan-kawan yang lain sudah mulai kedinginan memilih untuk masuk ke dalam tenda. Saya dan kak Ventry serta kak Sammy berinisiatif untuk memasak bagi semuanya, porsi untuk 9 orang plus si pupi. Apa daya, semuanya memilih untuk tidur, akhirnya daripada mubajir, kami bertiga memilih menghabiskan makanan dengan porsi 9 orang tadi haha…. Kami bertiga memilih untuk tidak tidur karena 6 orang lainnya mendominasi tenda, SB maupun selimut. Sambil menunggu matahari terbit kami bercerita mengenai pengalaman perjalanan mendaki tadi serta pengalaman bila masuk hutan di Papua, Ambon maupun Kalimantan, dan kearifan lokal daerah masing-masing. Bersamaan dengan itu, beberapa orang tua yang dari kuburan di puncak pertama tadi mengadakan tirakat di puncak tertinggi Andong, yah saat mereka bertirakat, suasana jadi agak-agak menyeramkan, selain mereka berteriak-teriak histeris, mereka bergelap-gelapan ria. Ah tapi begitulah indahnya kearifan lokal.
            Tidak lupa sepasang pendaki yang juga membangun tenda di sebelah kami, cukup banyak kami bercerita mengenai tirakat-tirakat yang warga sekitar lakukan di Gunung Andong ini. Mereka sendiri memang sering mendaki bila weekend karena mereka menjalani Long Distance Relationship getoo, jadi malmingnya di gunung. Aduh jadi mupeng, pengen juga pacaran di gunung hahahahha…..
            Matahari mulai terbit, kawan-kawan sudah bangun untuk menunggu, para magifo (mahasiswa gila foto) mulai menjalankan aksinya, berfoto-foto ria. Ah indahnya matahari terbit, menggambarkan harapan baru, janji dan pertolonganNya yang tak pernah terlambat. Thanks God boleh melihat ciptaanMu yang begitu luar biasa. Pukul 07.30 WIB, saya mulai membereskan barang-barang untuk turun, yang cewek membereskan peralatan memasak dan peralatan tidur serta tas-tas kecil.

            Kami mulai menyusuri jalan untuk untuk turun dan pada beberapa titik ada jalan yang langsung menghadap jurang, kak Ventry yang agak fobia pada ketinggian tentu memilih melipir menjauhi jurang, dan tasnya dibawa oleh seorang teman, yah toleransi. Pada saat-saat naik gununglah, saya melihat sejauh mana toleransi masing-masing pribadi haha…. Tiba di desa, kami memilih untuk menggunakan jasa ojek karena teman-teman yang lain sudah sangat kelelahan. Tiba di Pasar Ngablak, kami sarapan dan menaiki minibus untuk kembali ke Salatiga. Perjalanan yang cukup melelahkan karena saya juga ikut tertidur dalam perjalanan.
Perjalanan yang bermakna bagi saya, ketika ada orang-orang yang meremehkan sahabatmu dan mengatakan ia tak mampu, tugasmu lah yang berusaha memampukan dia, ketika sahabatmu memiliki keinginan untuk mematahkan persepsi orang yang meremehkan dia, tugasmu lah yang memberikan dia semangat dan harapan. Tidak ada kesombongan apalagi mementingkan diri sendiri dalam perjalanan ini, toleransi dan kebersamaan lah yang ingin saya dapatkan dalam perjalanan ini dan itu boleh tercapai. Terima kasih buat kak Dika, semangatmu luar biasa kak, orang-orang yang bilang kau tak mampu adalah orang yang berpemikiran sempit dan tidak tahu siapa dirimu, buat kak Ventry, ayo fobia ketinggiannya harus di challenge! Haha….. harus sering-sering dolan di ketinggian thuuu, buat kak Ulhin, ayo kita bikin body sexy wakakkakakakakk….. buat Jily, jadi inget waktu kita di Merbabu gak sih? Yang pake acara nyasar di kebun orang plus ada acara kabut pula, ternyata lama banget kita udah gak mendaki gunung bareng. Buat kak Ian, widih baru kali ini kak akuh naik gunung bareng anjing, jadi seru-seruan ama pupi di jalan, semangat terus kak, kata kak Sammy mari kita ke Gedong Songo dan Telomoyo. Buat kak Sammy, terima kasih yak kak buat bantuan membawa segala tetek bengek perlengkapan naek gunung dan kesabarannya serta bantuannya dalam membangun dan beres-beres tenda, bakal ribet deh kalau gak ada kakak haha… buat James, terima kasih buat setiap toleransimu ya bro, peduli terhadap sesama dan perhatianmu buat semua terutama kak Dika, dan thanks untuk selalu mengingatkanku untuk tidak terlalu cepat berjalan hehe… buat Damar, jangan pernah meremehkan sesuatu, akhirnya kedinginan kan jadinya dan thanks buat segala usahanya bersama james untuk menghidupkan kompor gas manisho ituh. Dan yang paling utama adalah special thanks to our God, Jesus Christ, luar biasa pertolonganMu Tuhan, tak pernah terlambat segala pertolonganMu, kasihMu sungguh luar biasa melingkupi kami semua anak-anakMu. Mohon ampun Bapa atas segala dosa dan kesalahan, ampuni segala keegoisan kami, ajarkan kami selalu untuk terus peduli terhadap sesama dan saling mengasihi.
Oke terima kasih buat semua, seperti kalimat yang sering saya ucapkan dalam episode pertama perjalanan kita, “You’re rock guys!!!” tanpa kalian, perjalanan ini tak akan berwarna seperti ini, tanpa kalian perjalanan ini tak akan seseru ini. Mumpung masih bulan Agustus, aku masih berpikir untuk mendaki nih, sesegera mungkin pulang Salatiga dan kembali mendaki. Dimana ya tempat selanjutnya??? J

#Thanks to Jesus Christ (tanpaMU, we are nothing, Engkaulah pertolongan kami yang selalu ada dan tak pernah meninggalkan kami dalam situasi apapun), kak Dika, kak Ventry, kak Ulhin, kak Ian, kak Sammy, Jily, Damar dan James serta Pupi (anjing peliharaan kak Ian).

By. Rachel Fitria

7 Agustus 2013, pukul 08.43 WIB di Taman Cimanggu, Bogor

4 komentar:

  1. Besok lagi pokoknya bawa kaos tangan, jaket tebal, SB, dan kaos kaki dobel2...(#wajib) hahahahaha
    aseemm,,,,

    BalasHapus
  2. Boleh kah bawa anjing ke andong?? Saya mau bawa tapi takut udh sampek diusir gk boleh mendaki

    BalasHapus
  3. Boleh kah bawa anjing ke andong?? Saya mau bawa tapi takut udh sampek diusir gk boleh mendaki

    BalasHapus
  4. dulu sih kami bisa bawa kak Ester Dani :)

    BalasHapus